
"Bermainan? Amy tadi juga menyebutkan soal bermain. Memang permainan apa yang kalian maksud?" tanya Sara sangat penasaran.
"Amy? Apa dia datang kesini saat kami pergi?" tanya Hedrick balik meletakan barang bawaannya.
"Bocah itu pasti menakut-nakuti mu lagi. Dasar Amy, sepertinya begitu membencimu."
"Inilah rahasia busuk kedua pelayan itu. Mereka sengaja tidak memberitahu ku soal kehamilan Sara sampai aku mengetahuinya sendiri."
"Oh... Benarkah? Mereka bedua bisa saja membuat orang marah."
"Lantas kenapa kalian tidak menghukum mereka?!"
"Untuk apa? Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Aku sangat suka melihat Hedrick diselimuti kemarahan. Itu membuat permainan ini jauh lebih asik," lirik Veeno pada Hedrick.
"Kita mulai saja. Kau dari kiri dan aku dari kanan," kata Hedrick sudah bersiap dengan pisau di tangannya.
"Apa yang mau kau lakukan dengan pisau itu?" Sara seketika dibuat begidik ngeri melihat pisau yang tampak sangat tajam itu.
"Nanti. Untuk mencegah ia banyak bergerak aku akan memberikan suntikan terlebih dahulu," Veeno mengeluarkan suntikan yang telah ia siapkan sebelumnya lalu menyuntikannya ke peredaran darah Sara.
"Itu bukan anastesi, 'kan?" tanya Hedrick memastikan.
"Tidak, tidak. Ini sangat berbeda. Suntikan ini cuman berfungsi melemahkan otot tubuh tapi kesabarannya masih tetap utuh terjaga, dan lagi ia tetap bisa berteriak," jelas Veeno.
"Haha... Kau tahu apa yang aku suka. Ayok mulai."
Keduanya menyeringai, lalu tanpa peringatan Hedrick dan Veeno membuat goresan di kulit betis Sara menggunakan pisau yang telah diasah sebelumnya.
"AAHHH ! ! !"
Tak ayal Sara berteriak sejadi-jadinya mengisi setiap sudut kamar tersebut begitu sesuatu yang tajam menyentuh kulitnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak kencang sambil menahan sakit dan perih. Hedrick dan Veeno sama sekali tidak memperdulikan rintihan serta teriakan itu. Malah mendengarnya semakin membuat mereka bersemangat. Berkat suntikan yang Veeno berikan benar-benar mempermudah mereka menguliti tubuh Sara.
"AAHH......! Sakit! Tolong hentikan.... Aku mohon! Hiks... Hiks..."
"Luar biasa Veeno. Berkat suntikan yang kau berikan pada Sara, kita bisa menguliti tubuhnya dengan cepat dan rapih tanpa harus terganggu dengan gerakannya," ujar Hedrick.
Saat ini mereka telah selesai menguliti kaki Sara dan sekarang sudah menjalar menguliti bagian pahanya.
"Haha... Siapa dulu, Professor Veeno gitu," kata Veeno dengan sombongnya.
"Berdebah! Kalian manusia tanpa hati! Dasar orang-orang tak waras!" teriak Sara meluapkan emosinya.
Setelah perjuangan yang cukup lama akhirnya mereka selesai menguliti tubuh Sara seutuhnya. Kulit tersebut segera mereka bersihkan sampai darahnya benar-benar menghilang. Kemudian kulit tersebut ditempelkan pada tripleks dengan menggunakan paku. Sebagai sentuhan akhir untuk memperawet kulit tersebut ditaburi garam di atasnya. Namun saat Veeno hendak membawakan garam tersebut kakinya tiba-tiba tersandung. Akibatnya garam yang ia bawa malah tumpah mengenai tubuh Sara yang masih bernafas itu.
"ARGHHH ! ! !" teriakan Sara amat kencang sekali kali ini. Tubuhnya sontak menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Maaf, maafkan aku Sara. Aku sungguh tidak sengaja," kata Veeno sambil berusaha berdiri.
"Kau ini. Garam itu untuk mengawetkan kulitnya bukan ditaburi ke tubuhnya," Hedrick hanya bisa menggeleng dan menghela nafas panjang.
"Maaf. Aku sungguh tidak sengaja. Kakiku benar-benar tersandung dan secara kebetulan garam nya tumpah ke tubuhnya. Aduh... Kakiku saja masih terasa sakit karna terjatuh tadi," Veeno mengelus bagian tubuhnya yang sedikit sakit.
Teriakan Sara baru terhenti saat nyawanya telah melayang. Ia mati dengan keadaan mata terbuka dan mulut mengangah. Hedrick dan Veeno masih tetap membiarkannya. Mereka lebih fokus mengurus kulit Sara karna ini bagaikan terpenting dari seni mereka kali ini. Setelah bagian kulit tersebut selesai dipaku, barulah kemudian disinari dengan lampu pemanas agar kulit tersebut cepat kering. Sambil menunggu kulit itu kering, Hedrick dan Veeno kembali ke kamar mereka masing-masing hanya sekedar untuk mandi. Walau tubuh mereka tidak terkena darah Sara sama sekali selama pengulitan, karna mereka selalu memakai sarum tangan setiap kali bermain tapi tetap saja aroma anyir darah melekat ditubuh mereka. Mandi menjadi pilihan terbaik untuk menghilangkan bau tersebut. Selesai mandi Hedrick dan Veeno menikmati senja hari di atap vila sambil ditemani kopi dan kudapan manis. Rencananya malam ini mereka membawa tubuh Sara ke kota.
...⚛⚛⚛⚛...
Pagi-pagi kantor kepolisian telah dibuat sibuk dengan adanya laporan penemuan mayat di kompleks perumahan. Mayat tersebut ditemukan depan sebuah teras salah satu rumah disana. Pemilik rumah amat dibuat terkejut mendapati seongok tubuh manusia berlumuran darah tanpa kulit di depan pintu rumah mereka. Dengan cepat mereka segera melaporkan hal ini pada polisi. Para polisi yang mendapat laporan tersebut bergegas menuju lokasi kejadian. Olah TKP dan investigasi langsung dilakukan. Beberapa pertanyaan juga diajukan pada pemilik rumah sebagai bagian dari laporan.
Pihak polisi meminta izin memeriksa rekaman cctv rumah tersebut. Seperti dugaan mereka kalau ternyata kasus pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama. Terlihat jelas dua orang pria berpakaian hitam dan mengenakan topeng meletakan mayat tersebut di teras rumah. Yang menjengkelkan, salah satu pelaku tersebut masih sempat-sempatnya mengejek ke arah kamera pengawas. Itu pasti Veeno. Dugaan ini diperkuat dengan penemuan kertas berisi kode di samping tubuh korban.
Mayat tersebut tersebut lekas dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalankan proses otopsi. Karna tubuh korban dikuliti terutama dibagian wajah serta sidik jarinya membuat pengidentifikasian identitas korban menjadi sulit. Dan juga tidak ditemukan barang-barang apapun disekitar korban selain secarik kertas. Tes DNA menjadi pilihan terbaik untuk mengetahui identitas korban. Tes DNA dilakukan pada daftar orang yang dilaporkan hilang beberapa minggu terakhir ini yang sampai sekarang masih belum ditemukan.
Baru kemarin detektif Jordan melaporkan hasil deduksinya ke atasannya mengenai kemungkinan besar korban selanjutnya memiliki tato mawar merah mudah berduri. Tidak sempat mereka memikirkan rencana bagaimana mencegah jatuhnya korban lagi dengan mengandalkan kode dari si pelaku, hari ini malah mendapat laporan penemuan mayat tanpa kulit. Bagaimana mereka bisa tahu mayat tersebut memiliki tato atau tidak jika kulitnya saja tidak ada? Sambil menunggu hasil otopsi dari rumah sakit, detektif Jordan mencoba mengartikan kode kedelapan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε