The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Si pengancam misterius



"Hehe... Maafkan saya. Kalian tentu terkejut dan merasa bingung dengan apa yang saya lakukan barusan. Tapi sebenarnya itu ada makna tersendiri yang mewakili produk terbaru minuman kami. Suara ayam berkokok melambangkan waktu pagi dan awal dimulainya hari. Sama halnya dengan minuman kami yang mewakilkan pagi yang cerah dan kesejukan disetiap tegukannya seperti embun pagi di musim panas. Iya, itulah yang mau saya sampaikan dari maksud menirukan suara ayam berkokok," jelas Mr. Hatcher mencari alasan sebisa mungkin.


Semua tamu undangan mulai mengerti tujuan Mr. Hatcher yang tiba-tiba mengeluarkan suara itu. Tidak sedikit dari mereka bahkan memuji pikiran unik Mr. Hatcher yang berbeda dari pada yang lain.


"Lumayan juga. Dalam kondisi seperti ini Mr. Hatcher mampu mengendalikan situasi dan kembalikan keadaan," batin Hedrick.


"Hebat sekali Mr. Hatcher. Pemikiran yang cepat," ujar si pengancam itu.


"Tck! Kau mungkin bisa memerintah ku seenaknya tapi kau tidak melarangku untuk mencari solusi agar tujuanmu gagal," walau hanya berbisik tapi ada penekanan yang kuat di setiap kata-kata Mr. Hatcher.


"Itu benar. Tapi jangan senang dulu karna ini masih belum berakhir."


Pesta perjamuan berlanjut ke acara selanjutnya yaitu pengenalan minuman beralkohol terbaru. Mr. Hatcher telah kembali ke mejanya dan sedikit berbincang dengan orang penting yang duduk bersebelahan dengan mejanya. Tidak ada percakapan yang terlalu berarti selain mengenai pembahasan tentang produk minuman tersebut. Ditengah-tengah perbincangan Mr. Hatcher kembali mendapat perintah dari orang yang mengancamnya. Senyum yang sempat terukir di wajah Mr. Hatcher kembali menghilang.


"Siram minumanmu ke orang yang ada di sebelahmu!"


Mr. Hatcher tidak segera menuruti perintah tersebut. Ia melirik ke sebelah kiri dan kanannya. Yang duduk di sisi kirinya adalah istrinya dan yang duduk di sisi kanan di meja berbeda adalah salah satu pemegang saham perusahaannya. Orang yang mana dimaksud si pengancam ini?


"Yang disebelah kiri atau kanan?" tanya Mr. Hatcher berbisik.


"Sebelah kanan."


"Mr. Bush? Sial! Dia merupakan salah satu pemegang saham utama perusahaan. Ini sangat beresiko terhadap masa depan perusahaan ku jika menyinggungnya, tapi apa boleh buat. Lebih baik kehilangan uang dari pada nyawa."


Setelah menarik nafas Mr. Hatcher berdiri lalu membuat drama seolah-olah tersandung dan berakhir terjatuh dengan minuman yang ia bawa sengaja ditumpahkan di pakaian Mr. Bush.


"Oh, maafkan saya Mr. Bush. Saya benar-benar tidak sengaja. Maaf," Mr. Hatcher mengambil beberapa lembar tisu dan membantu membersihkan bekas minuman yang tumpah.


"Mr. Hatcher, kenapa malam ini anda ceroboh sekali?" nada bicara Mr. Bush tidaklah terdengar marah namun dari raut wajahnya jelas ia tidak senang sama sekali.


"Saya sungguh minta maaf. Saya akan bertanggung jawab karna telah mengotori pakaian anda."


"Hm, sudah seharusnya Mr. Hatcher."


"Fiuh... Untuk untungnya watak Mr. Bush tidak mudah terpancing emosi," batin Mr. Hatcher.


"Sepertinya aku harus mencoba sesuatu yang lebih berani lagi," pikir si pengancam itu. "Pergilah ke toilet wanita!"


"Apa tujuanmu menyuruhku pergi kesana? Jangan bilang kau ingin aku mengintip?!"


"Dasar tua bangka mesum! Aku cuman memintamu untuk cuci muka disana. Jika berurusan dengan wanita kau langsung bersemangat, ya."


"Baguslah jika kau tidak memitaku melakukan yang aneh-aneh. Cuci muka ya cuci muka!" Mr. Hatcher lekas meninggalkan mejanya dan pergi menuju toilet wanita.


"Ngomong saja tidak, tapi kau langsung pergi tanpa membantah sedikitpun," gerutu si pengancam tersebut dalam hati.


Sampai di depan pintu toilet Mr. Hatcher melirik ke kesana kemari, takutnya ada yang melihatnya. Harga dirinya bisa anjlok jika ada yang tahu ia masuk ke toilet wanita dengan sengaja. Dan untuk masalah wanita yang ada di dalam, Mr. Hatcher sudah terpikiran untuk menjelaskan situasi yang dialaminya. Ia harap mereka bisa mengerti dan tidak salah paham. Begitu pintu dibuka Mr. Hatcher tidak lekas masuk. Ia mengintip terlebih situasi di dalam. Namun ia sedikit kaget karna tidak menemukan siapa-siapa. Toilet itu kosong. Ia melangkah masuk dan dengan cepat menutup pintu.


"Kau tampak kecewa," kata si pengancam tersebut.


"Tch! Apa kau juga memasang kamera tersembunyi di toilet wanita?!"


"Wajahmu terlihat jelas sebelum kau masuk. Tidak ada kamera sama sekali di toilet itu."


"Mr. Hatcher, apa yang anda lakukan di..." salah satu pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya tertuju pada simbol di depan toilet.


"Jangan salah paham! Saya cuman salah masuk toilet!"


Dengan rasa malu yang seketika menyelimuti Mr. Hatcher langsung masuk ke toilet pria lalu membanting pintu. Suara pintu yang dibanting cukup membuat kedua pria tersebut kaget.


"Ada apa dengan Mr. Hatcher?"


"Mungkin dia sedang banyak masalah belakangan ini. Sebaiknya kita tidak mengungkit kejadian tadi jika tidak mau mendapat masalah."


"Aku rasa begitu."


Cukup lama Mr. Hatcher berada di toilet untuk menenangkan dirinya. Pesta perjamuan yang seharusnya menjadi malam pengenalan produk terbaru mereka malah berubah menjadi malam dimana ia mempermalukan diri sendiri. Rasanya Mr. Hatcher ingin cepat-cepat pulang dan tak mau bertemu siapapun yang hadir malan ini untuk beberapa hari ke depan. Setelah cukup tenang Mr. Hatcher keluar dari toilet lalu kembali ke pesta.


"Dari mana saja kau?" tanya Mrs. Hatcher saat melihat suaminya yang baru kembali.


"Hah... Malam ini benar-benar kacau."


"Apa maksudmu? Semuanya terlihat berjalan dengan baik."


"Kau tidak, sebenarnya..."


"Ajak satu pria naik ke atas panggung dan berdansalah!" potong si pengancam sebelum Mr. Hatcher menyelesaikan kalimatnya.


"Apa?!" Mr. Hatcher tersentak kaget. "Jangan keterlaluan! Aku sudah mengikuti semua perintah konyolmu!! Kesabaranku ada batasnya!" bentak nya namun ia masih berusaha menahan nada suaranya.


"Ada apa sayang? Kau berbicara dengan siapa?" tanya Mrs. Hatcher kebingungan.


"Aku tidak memberimu waktu banyak untuk berpikir. Lakukan atau mati."


Ingin sekali berteriak sejadi-jadinya dan memukul sesuatu itu meluapkan emosinya yang meluap-luap. Karna masih memikirkan keselamatan semua orang, Mr. Hatcher melirik ke sekelilinya mencari siapa yang bisa ia ajak kerja sama. Belum sempat matanya jatuh pada pilihan, si pengancam itu kembali berkata.


"Harus dari tamu undangan. Bukan dari anak buahmu. Kuberi waktu lima detik. Segera seret dia naik ke atas panggung."


Mendengar itu hanya ada satu orang yang ia harap bisa membantunya. Tanpa pikir panjang lagi Mr. Hatcher segera menghampiri Hadrick dan menariknya menuju panggung.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε