The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Dua pelayan



"Jangan takut. Tuan muda tidak akan melakukan itu. Si Sara itu cuman tawanan biasa disini. Aku saja dimarahi sewaktu memanggilnya “Miss. Sara“," ujar Tina sambil terus menikmati camilan nya.


"Benarkah?"


"Aku tidak mungkin bohong."


"Kenapa kau tidak memberitahu ku dari awal? Susah payah aku bersikap baik padanya belakangan ini tapi nyatanya ia cuman tahanan biasa," Amy mendengus kesal dengan wajah cemberut.


"Maaf, aku lupa memberitahu mu."


"Hm! Kebiasaan mu. Tapi jika Sara cuman tawanan biasa itu berarti... Hihihi... Kita bisa melakukan apapun padanya, iya 'kan?"


"Tuan muda sudah mengizinkan. Tapi ingat, jangan sampai mati."


"Asik... Aku akan siapkan makanan dulu untuknya agar ia tidak pingsan nanti," dengan penuh kegirangan Amy berlalu pergi.


"Hah.... Ia semakin tertular penyakitnya tuan muda."


15 menit kemudian Amy dan Tina pergi menuju kamar Sara. Tina segera mengeluarkan kunci lalu membuka pintu kamar tersebut. Di dalam mereka tidak mendapati Sara ada disana. Tapi mereka tidak panik sama sekali karna mereka yakin kalau Sara tidak akan bisa keluar dari kamar tersebut. Amy meletakan nampan yang berisi makanan di atas meja. Tak berselang lama Sara keluar dari kamar mandi. Akibat keseringan minum ia berulang kali harus pergi ke toilet. Ia cukup terkejut melihat Amy dan Tina ada di kamar.


"Kalian?! Kapan kalian datang?" tanya Sara.


"Baru saja."


"Maaf kami sedikit terlambat mengantarkan makanan untukmu. Banyak pekerjaan di vila ini dan cuman kami mengurusnya," jelas Amy mencari alasan.


Tina dan Amy masih berpura-pura baik pada Sara sebelum melancarkan aksi mereka. Sara yang tidak menaruh curiga berjalan dengan santai mendekati kedua pelayan itu. Selama kenal dengan Amy dan Tina, Sara menganggap mereka sebagai orang baik. Perlakuan mereka padanya sangat ramah dan sopan. Tidak tampak ada niat jahat diantara mereka berdua. Namun itu karna Tina dan Amy sama sekali belum mengetahui kalau Sara hanya tawanan biasa. Awalnya mereka beranggap Sara itu sama dengan Felicia tapi nyatanya tidak. Setelah mengetahui hal ini tentunya mereka tidak perlu lagi menyembunyikan taring dan cakar mereka pada Sara.


"Ayok dimakan Miss. Sara. Kau pasti lapar," ujar Tina dengan senyum polosnya.


"Iya, aku memang sudah lapar. Tapi aku maklumi pekerjaan kalian."


Sara memakan makanan yang dibawakan Amy. Ia makan dengan cukup tergesa-gesa tapi tetap menjaga penampilannya di depan Amy dan Tina.


"Mengurus vila sebesar ini dan hanya kalian berdua pasti merepotkan," kata Sara setelah meneguk minumannya.


"Tidak juga. Kami sudah terbiasa."


"Em... Bagaimana kalau aku membantu pekerjaan kalian? Aku bosan duduk disini terus tanpa melakukan apa-apa," dengan wajah memelas, Sara memulai rencananya.


"Maaf tapi kami tidak bisa. Tanpa persetujuan dari Mr. Hedrick atau Mr. Veeno kami tidak bisa membiarkan mu keluar dari kamar ini," jawab Amy.


"Ayoklah. Tidak apa-apa. Mereka saat ini sedang liburan. Mereka tidak akan tahu," pinta Sara sambil memohon.


"Tetap tidak bisa!" jawab Tina kali ini dengan nada tegas.


Namun hal itu tidak membuat Sara berhenti memohon agar Amy dan Tina memperbolehkan ia membantu mengurus vila ini. Tapi mau seberapa besar ia memohon jawaban Tina dan Amy tetap sama. Mereka tidak mengizinkan Sara keluar dari kamar tersebut. Ini membuat Sara menjadi heran. Kenapa bisa Tina dan Amy begitu setia pada Hedrick dan Veeno? Apa yang Hedrick dan Veeno berikan pada kedua pelayan ini? Tahukah mereka kalau sebenarnya majikan mereka itu merupakan pembunuh berdarah dingin? Lucu sekali Sara bertanya seperti itu. Ia saja tidak tahu kalau dua pria yang telah menyekapnya ini adalah seorang pembunuh.


"Em... Apa boleh aku bertanya sedikit?" tanya Sara mengalikan percakapan.


"Tanyakan saja."


"Iblis? Maksudmu Mr. Hedrick dan Mr. Veeno?" tanya Tina memastikan.


"Siapa lagi? Mereka berdua tidak pantas disebut sebagai manusia," dari tatapan Sara, ia sepertinya menaruh benci yang besar pada keduanya.


"Apa yang perlu ditanyakan? Tentu saja karna gaji yang kami peroleh sangat besar dari gaji pelayan pada umumnya. Terlebih lagi mereka memperlakukan kami dengan baik."


"Iya. Selain mengurus vila ini, kami diperbolehkan menggunakan fasilitas yang ada. Mr. Hedrick dan Mr. Veeno benar-benar majikan terbaik. Jika di tempat lain mana mungkin pelayan seperti kami bisa menggunakan fasilitas vila seperti milik sendiri."


"Apa?!" Sara dibuat tercengang mendengar hal itu.


"Kau benar Tina. Lebih baik berkerja sebagai pelayan dari pada memanfaatkan seorang pria untuk membeli barang-barang mewah," sindir Amy.


"Apa kalian tahu kalau sebenarnya kedua majikan kalian itu adalah orang-orang kejam tanpa hati nurani?" ujar Sara berusaha memberitahu watak asli dari Hedrick dan Veeno.


"Apa maksud perkatakan mu ini, Miss. Sara? Kejam dari mananya? Kami telah bertahun-tahun melayani Mr. Hedrick dan Mr. Veeno, mereka sama sekali tidak jahat," kata Amy pura-pura tidak tahu.


"Hah? Tidak jahat? Lalu, apa dengan menyekap dan melecehkan seorang gadis ini adalah perbuatan baik? Mereka itu cuman berpura-pura saja. Aslinya mereka adalah iblis berhati kejam!"


"Sudah! Aku tidak mau mendengar hal yang menjelekkan tuan muda kami lagi!" potong Tina dengan nada cukup tinggi.


"Aku juga setuju. Mr. Hedrick dan Mr. Veeno tidak mungkin melakukan persis seperti yang kau katakan. Jangan membual. Mungkin karna kau lah yang salah sampai Mr. Hedrick menyekapmu disini."


"Apa yang Hedrick dan Veeno lakukan sampai kedua pelayan mereka ini bisa begitu percaya dan setia padanya?" pikir Sara.


"Apa yang telah kau lakukan padanya?" tanya Tina.


"Bagaimana bisa Mr. Hedrick menjadikanmu sebagai tahanan nya?" sambung Amy.


"Apa kau merupakan cewek matrek? Karna tuan muda tidak suka dengan wanita seperti ini."


"Tidak suka? Andai waktu itu aku tidak tergiur untuk memanfaatkan Hedrick, sudah pasti aku tidak akan berakhir seperti ini," batin Sara. Ia tertunduk dan menyesal atas perbuatannya yang tidak menyangka akan mendatangkan bahaya. "Hoam..."


Entah mengapa tiba-tiba Sara dilanda rasa kantuk yang berat. Ia berusaha untuk menjaga matanya tetap terbuka tapi rasa kantung itu berhasil mengalahkannya. Sara seketika terbaring tidak sadarkan diri. Tina dan Amy yang melihat itu hanya saling membalas senyum antara satu sama lain.sebenarnya mereka telah memberi obat tidur di minuman Sara. Setelah obat itu berkerja dan Sara sudah tertidur lelap, mereka mengangkat tubuh Sara lalu mengikatnya di kursi. Sambil menunggu Sara sadar mereka menyiapkan sedikit alat main mereka. Alat-alat tersebut di dapat dari ruang penyiksaan tempat dimana Dassy di eksekusi.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε