SUGAR MAMMY

SUGAR MAMMY
73. Dimana Dia?!.



Oliver langsung tersenyum smrik mendengarnya.


"Kirimkan nomor telpon nyonya Vania padaku",pintanya pada penjaga toko yang menghubunginya saat itu.


"Baik tuan Maxime".


"Ting!".


Sebuah pesan masuk keponsel Oliver,segera Oliver menghubungi nomor ponsel Vania yang dikirim penjaga toko padanya tapi sudah beberapa kali dia menghubunginya, nomor Vania terdengar terus dijawab operator yang menandakan nomornya sedang berada diluar jangkauan.


"Brengsek!! ",maki Oliver kesal lalu memanggil Jack.


"Jack pesankan tiket pesawat untuk kenegara M sekarang juga!",perintahnya dengan kesal.


Mendengar perintah Oliver Jack sedikit terkejut karena menurut jadwal,Oliver tidak punya skedule untuk pergi kenegara M dalam waktu dekat apalagi hari ini.


"Jack!! cepat lakukan atau kamu sudah bosan bekerja denganku!!",bentak Oliver dengan kesal.


"Maaf King tapi setahuku kamu tidak punya jadwal untuk pergi kenegara M lalu untuk apa kamu pergi kesana?".


"Untuk menjemput istriku",jawab Oliver dengan tersenyum smrik kearah Jack.


"Istrimu...maksudmu Bianca bukankah kalian...".


"Kapan aku menikah dengan Bianca brengsek!".


"Lalu kalau bukan Bianca?,jadi? ".


"Tentu saja Xena,berhenti bertanya dan lakukan perintahku aku akan segera keBandara sekarang",jawab Oliver dengan berjalan pergi dari kantornya.


Jack masih ingin bertanya pada Oliver tentang kebenaran ucapannya tapi terpaksa membatalkan niatnya dan memilih menyimpan rasa penasarannya sampai Oliver mau menceritakan sendiri padanya nanti dan sekarang memilih melaksanakan perintah Oliver untuk memesankan tiket pesawat kenegara M.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam dengan pesawat akhirnya Oliver mendarat diBandara kota M.


Sampai disana hari sudah menjelang pagi, hal pertama yang dilakukan Oliver adalah menghubungi nomor Vania.


Setelah beberapa kali menghubungi akhirnya Oliver berhasil tersambung .


"Halo... " jawab Vania dengan suara parau khas bangun tidur.


"Halo Vania ini aku King",ucap Oliver yang membuat Vania hampir saja terloncat karena terkejut mendengar suara pemuda itu menelponnya secepat ini dan mendengar bagaimana nada suara Oliver yang dingin Vania merasa sedikit gentar,tapi karena ini hanya sambungan telpon jadi dia bisa menutupinya.


"King?".


"Iya.... aku King dimana Xena sekarang?",tanyanya tanpa basa basi membuat Vania yang semula gentar menjadi kesal.


"Xena?, aku tidak tau?!",jawabnya ketus.


"Vania stop, aku tau dia bersamamu,dimana kamu tinggal aku akan datang kesana untuk menjemputnya sekarang!".


"Sekarang?,kenapa baru sekarang kamu berpikir untuk menjemput Xena?!,kenapa tidak dari tiga tahun yang lalu?, apa kamu tidak tau berapa banyak penderitaan yang sudah dilewatinya karena mu dalam kurun waktu selama itu dan sekarang kamu baru berpikir untuk menjemputnya!".


"Kurasa aku tidak berhak menjelaskan padamu kenapa aku baru menjemputnya sekarang bukan tiga tahun yang lalu".


"King aku sangat marah padamu mewakili Xena sekarang!! ".


"Aku tidak Perduli vania".


Vania ingin sekali mencakar wajah Oliver andai saat itu mereka berbicara saling berhadapan karena mendengar nada dingin dari suara Oliver.


"Tapi aku perduli karena aku melihat bagaimana dia menderita karenamu".


"Aku tidak memintanya melakukan itu, aku hanya memintanya menungguku layak berdiri disampingnya jadi...


jangan menyalahkan aku karena aku tidak mencarinya dulu".


"Dasar pemuda brengsek untung saja sekarang aku tidak berada didepanmu kalau saja kita berhadapan aku pasti sudah mencakar wajah tampanmu itu'', maki Vania.


Oliver bukannya marah mendengar makian Vania tapi dia malah tertawa keras membuat marah dan kesal Vania menjadi berkurang.


"Beraninya kamu mentertawakan aku brengsek! ".


"Tentu saja, karena aku tau kamu tidak akan pernah bisa melakukannya".


"Tidak".


"Lalu? ".


"Karena hanya Xena yang boleh melakukannya padaku jadi lupakan saja keinginanmu itu Vania dan katakan dimana Xena sekarang kalau kamu ingin membalas rasa kesalmu padaku".


"Brengsek kamu menantangku King! ".


"Aku sekarang berada dinegara M katakan dimana alamat kalian sekarang dan aku akan langsung...".


"Aku sudah pergi dari negara M".


"Maksudmu? ",tanya Oliver dengan nada kecewa mendengar apa yang dikatakan Vania.


"Aku kembali tadi malam dari negara M bersama... ".


"Jadi kamu sudah kembali kesana bersama Xena? ",tanya Oliver dengan nada lega.


"Bukan".


"Bukan?, ayolah Vania berhenti berbohong kamu pikir aku anak kecil yang bisa dengan mudah kamu bohongi".


"Aku tidak berbohong aku kembali kenegara ini bersama putriku,apa kamu tidak percaya".


"Putrimu? ".


"Iya... dia putriku dengan... ".


"Mari kita bertemu dan bicara empat mata",pinta Oliver pada Vania.


"Untuk apa?,bukankah sudah kubilang aku kembali bersama putriku apa kamu masih berpikir aku berbohong dan...".


"Aku akan kembali sore ini, jadi mari kita bertemu besok setelah aku sampai".


Vania terdiam seolah sedang berpikir apakah akan menyetujui usul Oliver atau tidak.


"Aku hanya ingin bicara denganmu bukan memaksamu mengatakan keberadaan Xena dan kurasa kamu juga ingin bicara denganku karena itu kamu sengaja meninggalkan nomormu untuk bisa kuhubungi bukan".


Vania menghela nafas sebelum akhirnya menyetujui usul Oliver untuk bertemu karena memang itu tujuan awalnya meninggalkan nomornya ditoko perhiasan kemarin agar dia bisa bertemu Oliver. Tapi Vania tidak menyangka Oliver akan langsung terbang kenegara M saat itu juga setelah mereka menelponnya.


"Baiklah mari kita bertemu besok kalau kamu kembali".


Setelah mereka mencapai kesepakatan Oliver mematikan panggilannya dan menarik nafas keras.


"Sepertinya kamu masih suka main petak umpet denganku sayang jadi mari sekarang kita bermain",gumamnya lalu pergi ketoko perhiasan tempat dimana Vania menjual cincin Xena.


***


"Selamat datang tuan ada yang bisa saya bantu?",tanya penjaga toko perhiasan berkelas itu pada Oliver.


"Saya ingin mengambil barang yang dititipkan istri saya kemarin pada kalian".


"Barang...?",penjaga toko itu tampak bingung karena merasa tidak ada seorang perempuan yang sudah menitipkan barangnya ketoko mereka.


"Sebuah cincin kawin, apa kalian sudah lupa?,bukankah kalian yang menghubungi aku untuk mengambil benda itu tadi malam".


"Oh... maaf tuan...jadi anda adalah tuan....".


"Maxime! ".


"Oh maaf tuan Maxime saya akan segera mengambilkan cincin kawin milik istri anda sekarang",jawab penjaga toko dengan rasa gugup karena ditatap Oliver dengan pandangan dingin.


Tak berapa lama penjaga toko itu keluar dari ruangan penyimpanan dan kembali menemui Oliver.


"Ini cincin kawin milik istri anda tuan",ucap penjaga toko itu pada Oliver.


Oliver mengambil benda itu dari tangan sipenjaga toko lalu mengamatinya cukup lama karena saat dia menyentuh benda kecil itu kelebatan kebersamaannya dengan Xena terputar kembali dimemorinya dan membuatnya terasa semakin rindu pada Xena.


"Tuan Maxime istri anda bilang dia menjual benda ini untuk biaya berobat anak anda apa anda.... ".


"Berapa kalian memberikan uang pada istriku?,aku akan membayarnya kembali beserta kelebihannya".


Penjaga itu menyebutkan jumlah uang yang kemarin ditransfernya kerekening Xena pada Oliver.