
Darent terdiam mendengar apa yang dikatakan Oliver,disudut hatinya yang terdalam dia membenarkan apa yang dikatakan Oliver tapi sebagai seorang ayah dia tidak ingin disalahkan oleh putranya meski itu terdengar egois tapi dia tetap berpikir semua itu dilakukannya untuk kebaikan Oliver.
Meski Darent tau Xena marah padanya tapi dia yakin Xena mengerti alasannya karena itu dia memilih meninggalkan Oliver tanpa perlu dia bersusah payah untuk memaksanya.
Dipikiran Darent sekarang tinggal bagaimana dia akan berusaha bicara untuk bisa memberi pengertian pada Oliver agar dia mau mengerti alasannya meminta Oliver dan Xena untuk berpisah.
"Oliver dengarkan Daddy aku tau kamu marah dan menyalahkan Daddy karena sudah memisahkan kalian dengan paksa tapi..coba kamu pikirkan lagi dengan kepala dingin apa ini murni kesalahan Daddy".
Darent diam sebentar untuk menunggu reaksi Oliver saat dia bicara seperti itu,tapi setelah ditunggu beberapa saat Oliver tetap diam hanya tatapannya yang tidak lepas menatap kearah Darent membuat Darent seolah sedang diintrogasi musuh.
"Tadi Daddy mengajaknya bertemu lalu menunjukan foto kalian saat sedang bersama... ".
"Jadi Daddy selama ini sengaja menyelidiki kami... ",ucap Oliver dingin.
"Sebenarnya awalnya hanya penasaran karena kamu terlalu rapat menyembunyikan siapa perempuan yang sedang dekat denganmu lalu saat tau dia adalah....Xena... sebagai orangtuamu tentu saja Daddy sangat terkejut lalu.. ".
"Kenapa Daddy langsung menemuinya?,kenapa saat Daddy tau itu dia Daddy tidak memilih menemuiku lebih dulu dan menayakan hal itu padaku tapi memilih pergi ketempatnya,apa Daddy sengaja?!",bentak Oliver keras membuat Darent sedikit terkejut dengan reaksi Oliver barusan karena dari tadi dia hanya diam saja tapi tiba tiba sekarang dia terlihat sangat marah benar benar marah dan terluka itu terlihat jelas diwajahnya dan Darent merasa ikut sakit melihatnya.
"Oliver....itu... awalnya Daddy hanya ingin meyakinkannya saja dengan menemui Xena tapi Daddy tidak menyangka dia bereksi seperti itu lalu tiba tiba dengan sangat marah dia bilang dia bersedia meninggalkanmu karena....".
"Jadi begitu.... tanpa bertanya atau meminta persetujuanku kalian sudah memutuskan masa depanku begitu?,apa kalian merasa karena kalian berdua lebih tua dariku jadi kalian punya hak untuk itu!!!",bentak Oliver kembali dengan keras dan penuh emosi.
"Sudah kukatakan Daddy melakukannya demi... ".
"Aku marah pada Daddy juga pada Xena,aku terluka apa kalian mengerti apa yang aku rasakan sekarang bukan hanya sebuah patah hati tapi aku merasa dihianati sebagai anak dan sebagai kekasih".
"Oliver... dengarkan Daddy.. ",mohon Darent karena dia benar benar merasa sangat bersalah melihat ekspresi terluka diwajah Oliver.
"Sampai kapan Daddy akan menganggapku sebagai anak anak, bukankah sudah aku katakan,aku sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang sudah aku lakukan,aku sudah paham tentang resiko dan konsekuensi dari setiap perbuatan yang kulakukan Dad, aku tidak ingin apapun tapi coba Daddy mengerti aku ingin Daddy memandang dan menghargaiku sebagai seorang pria bukan terus menganggapku seorang anak yang harus Daddy lindungi,maaf Dad kali ini aku kecewa dengan keputusan Daddy dan aku tidak bisa menerimanya".
Darent diam mendengar apa yang dikatakan Oliver andai Oliver berteriak atau memakinya lagi dia mungkin bisa marah dan semakin mudah menyalahkan Xena atau....tapi karena Oliver berbicara dengan cara menggungkapkan kekecewaannya sebagai seorang anak dengan begitu lugas maka jujur saja kali ini Darent merasa sudah kalah telak pada putranya dengan apa yang sudah dilakukannya pada hubungan Xena dan Oliver.
Hanya rasa bersalah yang bisa dirasakannya sekarang sebagai seorang ayah.
"Jadi... apa yang akan kamu lakukan?",tanya Daren lirih seperti seorang prajurit yang kalah perang.
"Tidak ada",jawab Oliver lalu bangkit dari duduknya dengan ekspresi kecewa.
"Maksudmu kamu tidak ingin mengejarnya atau mencarinya?",tanya Darent penasaran.
"Tidak!,bukankah dia pergi karena kemauannya sendiri jadi untuk apa aku mengejarnya dan aku rasa ini yang kalian berdua inginkan bukan jadi akan aku turuti",jawab Oliver dengan berjalan gontai keluar dari ruangan Darent.
Melihat bagaimana ekspresi Oliver Darent sangat khawatir karena tidak ada lagi kemarahan diwajah itu yang ada hanya ekspresi putus asa.
Setelah Oliver keluar dari ruangannya Darent segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengikuti Oliver.
"Baik tuan Max",jawab pengawalnya yang langsung pergi untuk mengikuti Oliver.
***
Sementara itu Xena yang baru saja turun dari pesawat langsung disambut Vania dengan tatapan bingung.
Bingung karena melihat penampilan Xena yang seperti mayat hidup saat itu lalu saat melihat dirinya tiba tiba langsung memeluknya dan menangis keras membuat Vania sedikit merasa tidak nyaman dengan orang orang yang melihat mereka.
"Xena.. tenangkan dirimu.... aku tau kamu sedang sedih tapi jangan menangis disini tidak enak dengan pandangan orang tentang kita bagaimana kalau mereka berpikir..".
"Aku tidak perduli Vania.... aku....",belum selesai Xena berbicara tiba tiba tubuhnya langsung limbung tidak sadarkan diri membuat Vania sangat terkejut dan langsung meminta pertolongan pada siapa saja yang ada didekat mereka untuk membantunya membawa Xena kerumah sakit terdekat.
Sampai dirumah sakit Xena langsung ditangani pihak dokter.
"Bagaimana kondisi teman saya dokter?",tanya Vania dengan dangat khawatir karena melihat beberapa alat yang dipasang ketubuh Xena untuk memeriksa kondisinya.
"Kita bicara diluar",ajak Dokter yang menangani Xena pada Vania.
Dengan patuh Vania mengikuti sang dokter keluar dari ruang perawatan Xena.
"Saya akan jujur nona Vania,teman anda sekarang sedang hamil... "
"Hamil!!!,maksud anda ada seorang bayi dalam perut ratanya itu dokter?!",tanya Vania dengan ekspresi tidak percaya karena tiba tiba mendengar khabar seperti ini.
"I... iya nona Vania tapi... " sang dokter tampak sedikit ragu ragu mengatakannya....
"Apa ada masalah lagi?",tanya Vania ikut cemas melihat ekspresi sang dokter.
"Yang pasti untuk saat ini kondisi fisik nona Xena tidak cukup bagus untuk hamil tapi karena sudah terlanjur hamil jadi.... ".
"Tidak terlalu bagus maksud anda dia tidak seharusnya hamil begitu?",tanya Vania ikut cemas.
"Jujur saja iya''.
"Apa masalahnya sampai dia tidak boleh hamil sekarang?".
"Dalam rahimnya ternyata terdapat kista ganas, seharusnya kista dirahimnya harus diangkat lebih dulu baru setelah itu dia boleh hamil tapi karena sekarang dia sudah hamil jadi kami hanya bisa menyarankan untuk melakukan perawatan ekstra pada kondisi kehamilannya".
Kali ini Vania menjadi pucat mendengar keterangan dokter kandungan yang baru saja menangani Xena.
"A... apakah itu berbahaya dok? ",tanyanya lirih.
"Yang pasti wanita hamil dengan kista ganas harus dalam pengawasan ekstra agar kondisi janin dalam rahimnya baik baik saja",jawab sang dokter.