
Vania berjalan menghampiri Xena yang sedang duduk dikursi samping ranjang Alea.
"Aku sudah mentransfer hasil penjualan cincinnya kerekeningmu",ucapnya membuat Xena yang sudah setengah tertidur langsung terbangun dengan sedikit terkejut.
"Oh... aku belum memeriksanya",jawab Xena dengan mengambil ponselnya lalu memeriksa saldonya.
Xena langsung membelalakkan matanya saat melihat jumlah saldo uang yang masuk kerekeningnya.
"Vania....ini... uang dari mana?,kenapa jumlahnya sebanyak ini?,aku hanya menyuruhmu menjual cincinku bukan merampok pemilik toko perhiasannya?!".
"Bukan aku yang merampok toko perhiasan tapi kamu yang sudah merampok berondongmu itu",balas Vania yang membuat Xena mengerutkam keningnya tidak mengerti.
"Maksudmu? ".
"Ya... tanpa sadar ternyata siOliver brengsek itu sudah menukar keperawananmu dengan cincin senilai itu",gerutu Vania kesal.
"Vania bicara yang betul aku sedang tidak ingin bercanda!,"hardik Xena kesal.
"Aku juga tidak bercanda uang itu dari hasil menjual cincin jelekmu tadi",jawab Xena kesal.
Xena mencoba mencerna apa yang dikatakan Vania tapi masih sulit dimengertinya.
Melihat hal itu terpaksa Vania menjelaskannya hingga akhirnya Xena mengerti.
"Kamu serius bukan, ini memang uang milikku bukan hasil kamu merampok toko perhiasan".
"Sudahlah berhenti bercanda dan meributkan dari mana asal uang itu karena sekarang kita harus segera pergi dari tempat ini kalau tidak ingin pemuda brengsek itu menangkapmu dan merebut Alea darimu".
Seketika wajah Xena pucat mendengarnya.
"Apa maksudmu kenapa King harus menangkapku dan Alea bukankah aku hanya menjual... ".
"Karena kamu sudah menjual cincin itu tanpa sertifikat dan surat kepemilikan jadi aku rasa sebentar lagi pihak toko mereka akan menghubungi sibrengsek itu lalu setelah itu....".
"Vania tolong bantu aku mengurus administrasi Alea lalu setelah itu ayo kita pergi dari sini",pinta Xena dengan wajah pucat.
Vania mengangguk,tunggulah dimobil aku akan segera menemuimu".
Xena mengangguk lalu segera menggendong tubuh Alea yang masih tertidur meski demamnya sudah turun.
Vania berjalan kebagian Administrasi.
"Tolong ganti nama ibu Alea menjadi namaku dan nanti atau besok kalau ada orang yang datang mencari keterangan tentang kami bilang kami baru saja pergi dan katakan saja oada orang itu bahwa Alea punya penyakit kronis",pinta Vania dengan memberikan amplop pada petugas administrasi sebagai uang tutup mulutnya.
"Kita akan kemana sekarang? ",tanya Xena dengan memeluk Alea erat seolah khawatir akan ada yang merebut putrinya nanti dari tangannya.
"Pulang",jawab Vania dengan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
"Pulang?, kemana? ",tanya Xena bingung.
"Ketempat asal kita tentu saja lalu kemana lagi".
"Maksudmu kembali kenegara kita, tapi kenapa Vania!?",tanya Xena kesal dan cemas.
"Apa kamu lupa tempat teraman adalah tempat paling bahaya".
"Tapi kalau kita kesana King Darent dan Bianca mereka bisa menyakiti Alea Vania! ".
"Tidak akan, percayalah padaku Xena,aku akan membuat Alea aman disana meski berada dekat dengan mereka semua".
"Bagaimana caranya? ".
"Dengan mengakui Alea sebagai putriku untuk sementara sampai kita tau bagaimana situasi mereka".
"Untuk apa Vania aku tidak ingin repot melakukan itu hanya untuk menjaga Alea, aku lebih baik pergi jauh dari mereka selamanya dan kurasa itu lebih aman".
"Sampai kapan Xena?!",jawab Vania kesal dengan sikap Xena yang terlalu mudah menyerah.
"Berhenti mengatakan itu karena aku muak mendengarnya,apa kamu pikir aku tidak tau kalau kamu masih merindukan sibrengsek Oliver itu,sementara dia sama sekali tidak perduli padamu selama 3 tahun ini!".
"Itu karena aku sudah meninggalkan dia lebih dulu jadi wajar kalau dia...".
"Aku tidak perduli siapa yang lebih dulu meninggalkan atau siapa yang lebih sakit hati diantara kalian berdua,karena diantara kalian bukan hanya ada perasaan kalian tapi juga ada Alea,dia berhak tau siapa Daddynya kakeknya juga berhak hidup layak tanpa perlu kamu jungkir balik bekerja seperti sebelumnya".
"Tapi aku masih sanggup menghidupi Alea Vania".
"Benarkah bukankah kamu harus berkali kali mengemis pada pria brengsek yang menjadi bosmu itu hanya untuk membeli kebutuhan Alea".
"Iya...benar tapi sekarang aku punya uang cukup setelah menjual cincin pemberian King dan dengan uang itu...".
"Alea bukan hanya butuh uang tapi juga butuh sosok Daddy dalam hidupnya Xena kalau tidak Daddynya yang sebenarnya kurasa Darent situa bangka menyebalkan itu yang harus menggantikan posisi Daddy Alea karena semua ini dia yang memulai".
"Apa maksudmu jangan bilang kamu akan menyerahkan Alea kepada Darent karena aku tidak akan mengijinkannya!".
"Aku tidak akan memberikannya kamu pikir aku ibu macam apa,aku hanya akan membuat dia merasa sangat bersalah nanti dengan menunjukan Alea kehadapannya".
"Entahlah Vania tapi sepertinya kamu sudah merencanakan ini tapi aku harap jangan membuat Alea dalam bahaya" pinta Xena.
tentu saja tidak Xena karena bagiku Alea sudah seperti anakku sendiri meski aku tidak melahirkannya",jawab Vania dengan membelai sayang gadis berusia lebih dari dua tahun itu.
****
Sementara itu ditempat Oliver***
Oliver sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya tiba tiba seseorang menghubunginya.
Jack yang mendengar ponsel Oliver berbunyi segera menegur Oliver.
"King.. ponselmu berdering keras apa kamu akan membiarkannya terus".
"Kamu angkat Jack,kurasa itu Bianca lagi,aku sedang tidak ingin berbasa basi dengannya sekarang",jawab Oliver dengan tetap sibuk.
Mendengar perintah Oliver Jack yang menjadi Asisten Oliver sejak Oliver mengambil alih perusahaan Sander segera mengambil ponsel Oliver dan mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal.
"Ya... halo",jawab Jack.
"Selamat malam tuan Maxime saya dari toko perhiasan tempat anda pernah membeli cincin untuk istri anda tiga tahun lalu....".
Oliver yang mendengar apa yang dikatakan sipenelpon langsung menyambar ponselnya dari tangan Jack membuat Jack cukup terkejut dengan reaksi Oliver saat itu dan bermaksud bertanya tapi Oliver segera menjauh dari dekat Jack untuk terus bicara dengan sipenelpon.
"Saya tuan Maxime apa yang ingin ada katakan dan siapa anda? ",tanya Oliver dengan nada dingin.
"Saya adalah penjaga toko tempat anda pernah membeli perhiasan untuk istri anda tiga tahun yang lalu".
"Iya...aku ingat lalu kenapa? ",tanya Oliver dingin.
"Istri anda baru saja menjual perhiasan itu dari cabang toko kami dinegara M beberapa jam yang lalu".
"Deg".
Oliver sangat terkejut mendengar apa yang disampaikan orang itu padanya tapi juga senang karena apa yang sudah lama ditunggunya akhirnya muncul.
'Akhirnya aku menemukanmu sayang',batinnya dengan tersenyum smrik.
"Lalu...apa dia meninggalkan nomornya",tanya Oliver penasaran.
"Iya...dia meninggalkan nomor ponselnya pada kami sebelum pergi juga berpesan pada kami untuk mengatakan ini pada anda".
"Maksudmu Xena yang meminta kalian untuk menghubungiku begitu? ".
"Bukan Xena tapi nyonya Vania".
'Vania?, jadi selama ini dia bersama Vania,'gumam Oliver lebih kepada dirinya sendiri.