SUGAR MAMMY

SUGAR MAMMY
64. Kemarahan Oliver.



Setelah Xena pergi dari tempat itu Darent baru pergi dari Restoran dan segera menghubungi asistennya dikantor.


"Ya tuan Maxime",jawabnya pada Darent.


"Dimana Oliver sekarang?",tanyanya dengan nada khawatir pada asistennya itu.


"Tuan muda masih sibuk dengan pekerjaannya sekarang,apa ada yang harus saya sampaikan atau....".


"Buat dia sangat sibuk hari ini sampai dia lupa waktu",perintah Darent pada sang asisten yang membuat asistennya sedikit bingung dengan perintah Darent tapi tetap melaksanakannya.


"Baik tuan Maxime saya akan menyuruh tuan muda untuk memeriksa laporan keuangan selama tiga bulan terakhir ini agar dia sibuk".


"Iya lakukan... kalau kamu berhasil mengalihkan perhatiannya hari ini akan kutambah bonusmu bulan depan",ucap Darent yang membuat sang asisten langsung senang mendengarnya.


***


"Tok... tok... "


"Masuk!",perintah Oliver pada asisten sang Daddy.


"Tuan Maxime menyuruh agar anda hari ini menyelesaikan semua laporan keuangan selama 3 bulan kedepan untuk... ".


"Apakah harus hari ini juga selesainya?",tanya Oliver dengan dahi berkerut dan tatapan tidak percaya melihat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya sekarang.


"Iya tuan muda".


"Bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu sudah kukatakan aku tidak ingin semua orang tau siapa aku sekarang",gerutu Oliver sedikit kesal bukan hanya pada asisten Daddynya tapi pada banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya hari ini sampai dia sama sekali tidak sempat mengirim pesan pada Xena untuk menanyakan bagaimana kondisinya sekarang.


"Maaf saya hanya... ".


"Sudahlah...lupakan saja,sekarang kamu boleh keluar aku akan mencoba menyelesaikannya",jawab Oliver pada asisten Daddynya itu.


tapi setelah asisten sang daddy pergi Oliver masih belum juga menyentuh tumpukan berkas didepannya dan memilih menyandarkan tubuhnya dikursi lalu secara iseng mengambil ponselnya mulai memeriksa pesan pesan dari Xena yang membuatnya senyum senyum sendiri membaca pesan cinta perempuan itu.


"Kurasa dia sudah mulai bisa mengungkapkan perasaannya secara terbuka",gumam Oliver dengan mulai memencet nomor ponsel Xena tapi Oliver terkejut saat mendengar suara operator ponsel yang menjawab lalu dia mencobanya lagi dan hasilnya tetap sama.


Mengetahui itu Oliver segera memeriksa ponselnya dan mengecek nomor Xena kapan terakhir kali dia aktif lalu betapa terkejutnya Oliver saat tau nomornya sudah diblokir Xena bahkan sudah masuk daftar blacklist perempuan itu.


Dengan tangan gemetar Oliver meraih kunci mobilnya dan berjalan setengah berlari keluar dari ruangannya karena dia tau sesuatu yang buruk sudah terjadi saat dia lengah atau sengaja dibuat lengah.


Asisten Darent terkejut melihat Oliver tiba tiba berlari keluar dari ruangannya .Ingat dengan pesan Darent padanya untuk sebisa mungkin menahan Oliver dikantornya siasisten segera mencegah langkah Oliver yang sudah hampir masuk kedalam mobilnya.


"Tuan muda anda akan pergi kemana?, bukankah tuan Max meminta anda untuk..".


"Menyingkir!, atau kutabrak dirimu nanti!",bentak Oliver keras membuat beberapa orang langsung menoleh kearah mereka tapi bukannya menyingkir Asisten Darent masih tetap berusaha menahan tubuh Oliver dengan memeluk tubuhnya melihat asisten Daddynya melakukan itu tanpa berpikir lagi Oliver berbalik lalu segera melayangkan pukulannya kearah sang asisten hingga membuat sang asisten hampir terjatuh tapi tidak melepaskan tubuh Oliver.


Melihat Oliver yang emosi Asisten Darent segera meminta petugas keamanan untuk membantunya menahan Oliver agar jangan sampai pergi.


"Maaf tuan muda kami hanya menjalankan perintah dari tuan Darent,kami tidak bermaksud melakukan ini pada anda",ucap sang asisten ditemani beberapa pengawal dan petugas keamanan kantor yang menjaga Oliver didalam kantor Darent.


Oliver hanya diam dengan menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah karena sempat terkena pukulan saat berusaha masuk kedalam mobilnya tadi.


Cukup lama Oliver diam untuk menenangkan kemarahannya baru setelah dia merasa mulai bisa menguasai dirinya dia menatap semua orang diruangan itu satu persatu yang hampir berjumlah sepuluh orang dan dia tau meski dia bisa kabur tapi semuanya pasti sudah terlambat karena sepertinya sang Daddy sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna.


"Aku ingin bertemu pria tua itu",ucap Oliver dingin pada mereka semua.


"Itu... tuan muda...".


"Tinggalkan kami berdua biarkan kami bicara berdua! ",perintah Darent dari depan pintu ruangannya yang segera diangguki oleh semua anak buahnya dengan meninggalkan tempat itu.


Darent duduk diseberang Oliver disofa ruang kerjanya dengan menatap Oliver yang juga menatap kearahnya dengan tatapan sedingin es.


"Apakah lukamu sakit?",tanya Darent dengan memperhatikan luka cukup lebar disudut bibir Oliver.


"Iya.. sangat sakit",jawab Oliver yang membuat Darent langsung mengerutkan keningnya dan berusaha menyentuh luka dibibir Oliver yang memang terlihat cukup parah tapi sebelum tangan Darent berhasil menyentuhnya Oliver sudah menepis tangan Darent dengan keras membuat Darent merasa kecewa.


"Aku hanya ingin memeriksanya maaf",jawab Darent.


"Bukan disana yang sakit tapi disini apa Daddy tau bagaimana rasanya sekarang",ucap Oliver lirih tapi dingin dengan menunjuk kearah jantungnya yang terasa sangat sakit sekarang.


Darent terdiam mendengar ucapan Oliver ada sedikit rasa bersalah karena telah melakukan hal itu pada putra semata wayangnya, tapi sebagai seorang ayah dia yakin bahwa yang dilakukannya sekarang adalah yang terbaik untuk Oliver.


Dia tidak ingin masa depan Oliver hancur hanya karena hubungan tidak sehat dengan perempuan yang lebih pantas menjadi ibunya.


"Kenapa Daddy melakukannya?",tanya Oliver dengan tatapan setajam pisau kearah Darent.


"Apa maksudmu?!",tanya Darent dengan kening berkerut mendengar pertanyaan Oliver.


"Apa yang Daddy lakukan padanya?",tanya Oliver tetap dengan tatapannya pada Darent.


"Daddy hanya meminta dia meninggalkanmu itu saja dan asal kamu tau Daddy melakukan ini demi kebaikanmu karena dia tidak pantas untukmu harusnya kamu sadar itu,andai kamu menjalin hunbungan dengan putri tirinya Daddy pasti tidak akan menghalanginya tapi ini... kenapa harus dengan Xena perempuan yang lebih pantas menjadi pengganti Mommymu daripada kekasihmu!! ", jelas Darent mulai kesal pada Oliver yang seolah sedang menghakiminya sekarang.


"Tapi aku mencintainya,bukan... tapi kami saling mencintai dan aku sedang berusaha membuat dia bisa menerima diriku, tapi Daddy malah merusak semua usahaku hanya karena sikap egois Daddy".


"Apa kamu tidak mengerti Daddy melakukan ini demi kebaikanmu mungkin kamu sekarang marah pada Daddy tapi Daddy yakin sebentar lagi kamu pasti akan berterimakasih dengan apa yang sudah Daddy lakukan ini".


"Benarkah?!",bagaimana kalau tidak,bagaimana kalau itu malah membuat hubungan kita semakin buruk atau membuat aku berubah....".


"Stop Oliver jangan mengancamku,aku ini Daddymu!".


"Apa Daddy pikir itu akan membuat perasaanku pada Xena berubah",jawab Oliver sinis lebih kepada dirinya dari pada keDarent karena dia merasa ternyata kekuasaan sang Daddy masih bisa membuat Xena memilih meninggalkannya sementara perasaan cintanya pada perempuan itu seolah terlupakan.