
Xena melangkah masuk kedalam kantor Sander dan langsung menuju ruangannya tapi belum sampai diruangannya Asistennya langsung menghampirinya.
"Ada apa Maya?",tanya Xena dengan menghentikan langkahnya untuk berbicara dengan asistennya.
"Saya sudah melakukan seperti apa yang anda perintahkan kemarin nyonya Xena".
"Lalu? ".
"Lalu.....",Maya tampak ragu ragu untuk bicara soal Bianca pada Xena.
"Katakan saja....",ucap Xena dengan menyentuh pundak Maya lembut.
"Nona Bianca memang mau saat saya menyuruhnya untuk mempelajari berkas berkas perusahaan tapi dia meminta untuk berada satu ruangan dengan anda dan saat saya suruh untuk menggunakan ruangan lain dia menolaknya nyonya Xena dia malah bilang.... ".
"Biarkan saja Maya, itu lebih baik jadi dia bisa melihat sendiri bagaimana aku bekerja memimpin perusahaan ini selama ini".
Mendengar jawaban Xena Maya sang asisten jadi sedikit lega.
"Sekarang kembalilah ketempatmu biar aku yang menangani Bianca",perintah Xena pada Maya yang dijawab anggukan oleh Maya dengan pergi meninggalkan Xena yang langsung menarik nafas keras setelah itu.
'Sepertinya hari hari beratku segera dimulai', gumamnya sebelum kembali berjalan keruangannya.
***
Hari ini Xena memang sampai dikantor lebih siang dari biasanya bukan karena tingkah Oliver selama diApartemen tadi tapi karena dia merasa tidak punya semangat bekerja untuk pertama kali setelah selama hampir 10 tahun bekerja diperusahaan Sander.
Mungkin karena saat ini dia merasa sekeras apapun dia bekerja tempatnya berusaha keras itu tetap bukan miliknya dan dia merasa lelah dengan semua itu.
***
"Kriet....",
Xena membuka pintu ruang kerjanya dan sedikit terkejut melihat Bianca sudah berada dikantornya jam segini,juga sedang duduk dimeja kerjanya bersikap seolah dia direkturnya.
Melihat itu Xena tetap berjalan masuk dengan langkah tenang tidak panik atau kesal seperti biasanya membuat Bianca heran melihat ekspresi yang ditunjukan Xena saat itu.
"Kenapa kamu baru datang kekantor dijam segini apa kamu selalu seperti ini atau sengaja untuk menghindariku!",pancing Bianca untuk membuat Xena marah.
Tapi bukannya marah Xena malah tetap berjalan mendekat kearah Bianca dan meletakkan tasnya dimeja kerjanya.
"Duduklah disofa dulu hari ini sebelum mejamu siap",pinta Xena dengan menyuruh Bianca pindah dari kursi kerjanya.
Bianca ingin menolak tapi melihat sikap Xena yang terlalu tenang membuatnya jadi ikut terdiam dengan heran tapi juga mengikuti keinginan Xena untuk pindah kesofa.
"Aku ingin bekerja diruangan ini apa Maya sudah mengatakan itu padamu? ",ucapnya dengan menatap kearah Xena yang sudah mulai langsung bekerja setelah duduk.
"Iya...".
"Kamu tidak marah?",tanyanya penasaran.
Xena menggeleng sambil mulai sibuk bekerja.
"Kenapa?",tanyanya lagi tidak puas dengan jawaban tidak perduli Xena.
Bukannya menjawab rasa penasaran Bianca,Xena malah bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa berkas kearah Bianca.
"Periksa laporan ini sekarang",perintahnya pada Bianca dengan meletakkan beberapa map dihadapan Bianca.
"Kalau kamu ingin mengambil alih perusahaan dariku kamu harus cepat belajar",ucapnya yang membuat Bianca sedikit kesal mendengarnya.
"Perusahaan ini milikku meski kamu tidak ingin menyerahkannya aku tetap akan mengambilnya setelah aku berusia 21 tahun nanti".
"Itu tidak lama jadi mulai sekarang kamu harus bekerja 2 kali lipat lebih keras agar bisa memimpin perusahaan ini".
"Apa maksudmu?! ",hardik Bianca kesal.
"Tidak ada tapi aku senang kamu memilih satu ruangan denganku karena itu membuatku mudah untuk menilai kelayakanmu menjadi pimpinan perusahaan".
"Beraninya kamu ingin melakukan itu!",teriak Bianca dengan berdiri dan bermaksud menghampiri Xena Karena kesal tapi langkahnya segera tertahan setelah mendengar ucapan tegas Xena.
"Aku memang bukan pemilik saham mayoritas diperusahaan ini tapi statusku membuatku punya hak diatasmu Bianca,aku senang kamu punya niat untuk mengambil alih perusahaan ini karena sebenarnya aku sudah lelah jadi sebaiknya selama aku masih mau berbaik hati menjadi pembimbingmu cepatlah belajar jangan hanya mengeluh dan memaki tanpa hasil".
"Brengsek!,aku pasti akan membuktikan kemampuanku padamu secepatnya",gerutunya dengan kesal dan mulai kembali duduk disofa lalu mulai membuka berkas yang diserahkan Xena tadi padanya.
Xena hanya tersenyum melihat bagaimana ekspresi Bianca saat itu tapi tidak perduli dan memilih menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Selama sehari satu ruangan dengan Bianca Xena merasa sedikit tenang karena ternyata hanya diawal saja Bianca melawannya tapi setelah beberapa saat dia mulai mau menuruti ucapannya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya membuat Xena merasa lega hari itu.
"Aku senang melihatmu seperti ini",ucap Xena dengan merapikan barang barangnya dimeja bersiap untuk pulang.
"Aku sengaja melakukannya agar kamu berhenti sombong dihadapanku",jawab Bianca ketus.
"Aku sombong karena aku mampu jadi buktikan padaku kalau kamu juga punya kemampuan itu mulai sekarang".
"Itu pasti",jawab bianca dengan berjalan keluar dari ruangan Xena yang tidak lama diikuti Xena dibelakangnya lalu mereka sama sama berjalan menuju area parkir kantor,tapi saat Xena akan masuk mobil tiba tiba ponselnya berdering.
"Ya.. King... ",jawabnya dengan lembut mendengar siapa yang menelponnya.
"Kamu sudah selesai bekerja sayang?",tanya Oliver dari seberang telpon.
"Sudah... kenapa? ".
"Temui aku direstoran....".
Oliver menyebutkan nama testoran tempat dia menunggu Xena.
"Baiklah aku kesana sekarang...oh iya tolong pesankan makan malam untukku ya karena aku ingin langsung makan saat tiba nanti".
"Baiklah aku akan melakukannya... ".
Setelah mematikan panggilan Xena segera masuk kedalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan tempat itu setelah melihat mobil Bianca sudah pergi lebih dulu meninggalkan area parkir kantor.
Xena sengaja melakukannya karena khawatir Bianca akan mengikutinya,bagaimanapun dia yakin kalau sampai Bianca tau dia punya hubungan istimewa dengan Oliver sekarang akan sulit bagi Xena untuk mengendalikan Bianca karena sekarang dia benar benar sudah mulai berpikir untuk perlahan meninggalkan keluarga Sander dan ingin membangun hidupnya dengan Oliver meski dia tau itu penuh resiko nanti tapi jujur saja perasaannya pada Oliver sulit untuk dicegah.Apalagi dengan sikap dan perbuatan Oliver yang selalu manis membuatnya benar benar seperti melupakan perbedaan mereka dan hidupnya sudah mulai dipenuhi oleh pemuda itu.
Dia merasa Oliver sudah membuat tatanan teratur hidupnya selama ini hilang tapi jujur saja dia suka dengan semua itu dia merasa hidupnya menjadi penuh warna dan beban beratnya akan terasa hilang saat bersama pemuda itu.
"Sayang....",sapa Oliver saat melihat Xena berjalan kearah mejanya dengan senyum manisnya.
"Duduklah",perintah Oliver yang dijawab Xena dengan anggukan dan langsung terlihat senang saat melihat didepannya sudah ada makanan yang dipesankan Oliver untuknya dan setangkai mawar merah yang berada didekat piringnya.
"King... ini",ucap Xena dengan pandangan terharu dengan sikap manis Oliver itu.
"Hanya penghargaan kecil karena kamu sudah bekerja keras hari ini",jawabnya dengan meraih tangan Xena dan mengecupnya.