
Dika marah kepada Tanti karena telah sembarangan menuduh Atta. Dika juga kesal karena dia begitu mudah terhasut oleh perkataan Tanti. Akibatnya dia kembali berselisih dengan Atta.
"Mas kok jadi marah sama aku?" tanya Tanti.
"Aku mana tahu kalau pacarnya Atta itu adalah Ernes anaknya pak Erlan." imbuh Tanti juga masih bingung dan tak percaya jika Atta akan menikah dengan seorang anak konglomerat yang juga seorang pengusaha sukses.
"Selama ini apa bener kamu hanya kasih uang ke mereka 300 ribu?" tanya Dika dengan melotot.
"Jawab!" seru Dika yang membuat Tanti menjadi takut.
"Iya bener. Itu karena mereka nggak seharusnya menerima uang kamu. Aku istri sah kamu-"
"Tapi Atta anak aku. Dia juga punya hak menerima biaya hidup dari aku." sahut Dika dengan melotot.
"Anak kamu bukan hanya dia, Angel juga anak kamu."
"Apa selama ini aku nggak biayai Angel? Apa selama ini aku nggak peduliin dia?" tanya Dika dengan marah. Dia tidak membeda-bedakan anak.
Angel lahir tiga tahun setelah Atta lahir. Anak yang dinantikan oleh Dika dan Tanti selama 7 tahun lamanya. Dan Dika tidak membedakan kedua anaknya. Dia menyayangi mereka sama. Hanya saja, Angel lebih beruntung karena ayahnya selalu ada untuk dia karena dia lahir dalam hubungan yang sah.
Sedangkan Atta, karena ibunya menolak dinikahi oleh ayahnya setelah ayahnya ketahuan bohong. Itu sebabnya Atta lahir diluar nikah dan tidak bisa merasakan kasih sayang ayahnya secara utuh. Tapi Dika juga menyayangi Atta, karena dia juga anak kandungnya.
"Tan, tolong jangan bikin hubunganku dengan anakku semakin rumit!" mohon Dika.
"Kenapa aku yang kamu salahin? Seandainya kamu nggak selingkuh dulu, anak jal*ng itu nggak akan lahir."
Plakk!
Dika marah karena anaknya dikatai oleh Tanti. Dika menampar Tanti agar Tanti tersadar jika anak yang dia katai itu adalah darah dagingnya. Sebagai seorang ayah, tentu saja Dika tidak terima dengan hinaan Tanti ke Atta.
"Jangan pernah hina anak aku!" ucap Tanti sembari melotot.
Tanti tidak menyangka jika suaminya akan menampar dirinya demi membela anak har*m itu. Tanti yang kaget hanya mematung di tempat sembari memegangi pipi bekas tamparan Dika. Sebenarnya pipinya tidak begitu sakit, tapi hatinya yang terluka.
Sedangkan Dika langsung meninggalkan Tanti dan menuju ke kamarnya. Sepertinya dia juga terkejut dengan apa yang dia lakukan.
Angel yang bersembunyi saat ayah dan mamanya bertengkar, kemudian muncul setelah ayahnya masuk ke kamar. "Ma.." lirihnya berjalan mendekati mamanya yang masih memegangi pipinya.
"Atta punya pacar? Dan itu Ernes Rajendra?" tanya Angel masih ragu dengan apa yang dia dengar tadi.
Angel itu memiliki sifat sama dengan mamanya. Dia hanya ingin mendekati lelaki kaya saja. Dia samlai cari-cari daftar serta informasi anak konglomerat dan anak pengusaha kaya. Supaya dia bisa mengenal dan mudah mendekati mereka.
"Iya, mama juga nggak tahu dari mana mereka bisa kenal." jawab Tanti pelan.
"Ayah tadi marah karena itu?" tanya Angel lagi.
"Nggak. Ayah kamu hanya kaget aja karena tiba-tiba Atta akan menikah dengan Ernes, dan mereka tidak mengijinkan ayah kamu untuk hadir." jawab Tanti yang membuat Angel terkejut kembali.
"Nikah? Atta mau nikah dengan Ernes?" tanya Angel kaget. Sementara Tanti hanya menganggukan kepalanya saja.
"Ma, mama harus segera bertindak, jangan biarin Atta nikah dengan Ernes. Nanti dia makin kurang ajar ke mama.." sama seperti mamanya, Angel juga pintar menghasut orang lain.
"Benar juga, kalau dia nikah dengan anak sultan, nantai dia semakin kurang ajar sama kita. Tidak bisa dibiarin!" Tanti tersadar dengan lerkataan Angel. Dia pun memikirkan cara untuk menggagalkan niatan Atta yang akan menikahi Ernes.
"Mama harus segera pikirkan ide." gumam Tanti.
"Nah bagus ma!" Angel tersenyum penuh kemenangan. Dia jelas tahu apa yangada di dalam pikiran mamanya.
Ernes mengantar Atta kerja. Sebenarnya Ernes sudah melarang Atta berangkat, tapi Atta masih saja bersikeras ingin berangkat kerja.
Di dalam mobil, Atta mengucapkan terima kasih karena Ernes sudah membelanya tadi. Selama ini belum pernah ada yang membela Atta dan ibunya seperti yang Ernes lakukan tadi. Karena itulah dia merasa terharu sekali.
"Makasih ya kamu udah bela aku dan ibu tadi.." ucap Atta.
"Ya, itu tugasku untuk membela istri dan mertuaku." jawab Ernes dengan santai. Dia tidak sadar bahwa perkataannya tersebht membuat hati Atta menjadi gimana gitu.
"Selama ini tidak ada orang yang membela kami. Mereka selalu menyalahkan karena aku anak diluar nikah." Atta tersenyum pahit jika mengingat kejadian dulu. Seolah dia dan ibunya tak pantas untuk dihargai.
"Aku pernah tanya sama ibu, kenapa dia mau lahirin aku tapi tidak mau dinikahi oleh ayah." Atta mengingat kembali kejadian di masa lalu.
"Kamu tahu apa jawaban ibuku?" Ernes menggelengkan kepalanya pelan.
"Ibu bilang.. Ibu telah melakukan kesalahan dengan merusak rumah tangga seseorang, meskipun ibu tidak tahu jika ayah kamu sudah beristri. Maka dari itu ibu tidak mau melakukan kesalahan lagu dengan membuang kamu, biar bagaimanapun kamu anak ibu dan kamu tidak bersalah. Ibu tak masalah jika tidak memiliki suami, yang terpenting ibu memiliki kamu, anak ibu, hidup ibu.." Atta menangis ketika menceritakan hal tersebut. Dia tahu ibunya sangat mencintai dirinya.
Mendengar suara Atta yang serak. Seketika Ernes menoleh dan melihat air mata Atta yang sudah membasahi pipinya. Dia pun langsung mengambil tisu kemudian mengusap air mata Atta.
"Eh,, maaf aku cengeng banget.." Atta meraih tisu tersebut kemudian mengusap air matanya sendiri. Dia tidak nyaman jika Ernes yang melakukannya.
"Kamu pasti sayang banget sama ibu kamu?"
"Jelaslah, pertanyaan macam apa itu?" Atta tersenyum geli mendengar pertanyaan Ernes yang konyol. Semua orang sudah pasti sayang dengan ibu mereka. Kenapa musti ditanya lagi.
"Ibu kamu tahu kalau kamu kerja di tempat hiburan malam?" tanya Ernes lagi.
"Nggaklah, bisa marah ibuku kalau tahu aku kerja ditempat seperti itu. Ibu tahunya aku kerja di pabfik dengan jatah shift malam." jawab Atta.
"Ah,, kenapa aku ceritain ke kamu sih. Pasti itu kamu jadiin alasan untuk mengancam aku lagi.. Udah ketebak.." gerutu Atta.
"Kamu lulusan apa?"
"S1 manajemen."
"Nah cocok, di kantor aku ada lowongan pekerjaan. Keluar dari kerjaan kamu, besok mulai kerja di perusahaan aku!" pinta Ernes. Sejujurnya, Ernes tidak tenang membiarkan Atta bekerja di tempat hiburan seperti itu. Meskipun dia merubah penampilannya, tapi napsu itu tidak punya mata.
"Aku nggak enaklah sama bos aku.."
"Nanti aku yang bilang. Bos kamu namanya Andhika kan?" Atta menganggukan kepalanya.
"Kenal?" tanya Atta.
"Hmm, dia sahabatnya om aku. Biar aku bilang ke om aku. Bos kamu tuh nggak mungkin berani bantah perintah om aku."
"Tapi aku pertimbangin dulu!"
"Nggak usah ditimbqng-timbang segala. Kamu jstri aku, harus nurut apa kata suami!" Ernes kembali mengancam Atta dengan statusnya.
"Kan cuma nikah kontrak.."
"Tetap aja kamu istri aku. Emang nggak mau balas dendam sama orang-orang yang pernah sakiti kamu dan ibu kamu?" Atta memicingkan matanya.
Benar juga, aku harus mereka yang hina aku dan ibuku. Atta pun memutuskan untuk nurut apa kata Ernes. "Asalkan kamu bantu akubalas dendam, aku akan turuti semua mau kamu.." ucapnya.
"Bisa diatur."