
Ernes terus menatap foto usg yang berukuran kecil tersebut. Setelah Gio keluar dari kamarnya, Ernes tidak lagi bisa memejamkan matanya. Padahal dia sedang tidak enak badan sebelumnya dan ingin tidur.
Dia menyentuh foto tersebut. Dan sangat yakin jika itu memang anaknya, darah dagingnya. Matanya bahkan berkaca-kaca, perasaannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Papa janji akan kasih kamu cinta yang tiada batas, nak.." gumamnya kemudian mencium foto tersebut.
Ernes teringat perkataan Rafa dan Randi dulu. Bahwa saat dia memiliki anak sendiri, rasanya akan berbeda dengan anak yang bukan anak kandungnya sendiri. Dan benar saja, Ernes tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Yang jelas, dia sangat bahagia saat ini.
....
Di tempat lain. Atta bertemu dengan Rey di taman dekat rumah Atta. Seperti yang Rey bilang melalui telepon tadi. Atta melihat banyak sekali balon yang ada ditempat itu. Dia merasa terkejut dan senang melihat balon yang dipasang.
"Ini ada apa Rey? Ada yang ulang tahun? Seingatku ini bukan hari ulang tahun kamu kan?" tanya Atta.
"Emang bukan. Ini aku persiapkan untuk kamu." Atta membulatkan matanya karena terkejut.
"Aku?" tanyanya.
"Iya, kamu suka nggak?" tanya Rey lagi.
"Suka, suka banget.."
"Ta, ada yang ingin aku katakan ke kamu.." Atta dan Rey duduk dibangku yang ada di samping mereka.
"Ta, sebenarnya aku su-"
"Hoek... Hoek.." tiba-tiba Atta merasa mual yang sangat hebat.
"Kamu kenapa Ta? Kamu sakit?" Rey menjadi khawatir, dia tidak melanjutkan perkataannya karena sangat khawatir dengan keadaan Atta.
Atta masih nampak mual-mual dan ingin sekali muntah, wajahnya juga berubah pucat. "Kamu sakit?" tanya Rey lagi.
Atta menggelengkan kepalanya. "Nggak.. Hoek.."
"Kita ke rumah sakit ya?" Rey semakin khawatir.
"Nggak usah.. Rey, aku hamil.." ucap Atta.
Seketika Rey mata Rey membesar. Seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sekali lagi dia ingin mengkonfirmasi jika yang dia dengar itu salah. "Ka...mu hamil?"
"Iya Rey.. Aku hamil, sudah 10 minggu.." namun, apa yang dia dengar itu tidaklah salah. Atta benar-benar sedang hamil.
Wajah Rey seketika berubah, antara senang, kecewa, dan sedih. Sia-sia dia telah mempersiapkan semua ini. Padahal dia ingin menyatakan cintanya ke Atta. Tapi, setelah mendengar kabar bahwa Atta sedang hamil. Dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Atta.
"Nggak kok, nggak jadi. Terus apa rencana kamu selanjutnya? Kamu mau rawat anak ini dan kembali sama Ernes?" tanya Rey.
"Aku akan tetap rawat anak ini, biar bagaimanapun dia anak aku. Tapi, aku tetap akan ceraiin Ernes." jawab Atta.
"Ernes tahu kalau kamu hamil?" Atta menggelengkan kepalanya.
"Belum. Kalau bisa dia jangan sampai tahu.."
"Kenapa?"
"Aku takut dia akan ambil anak ini dariku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku sudah tidak punya semangat dalam hidup. Tapi sekarang, aku punya alasan untuk semangat kembali, yaitu dengan kehadiran dia.." Atta mengelus lembut perutnya.
"Kalau dia sampai direbut Ernes, lebih baik aku mati aja.." imbuh Atta.
Hidupnya yang hancur kembali bergairah dengan kehadiran anak yang dia kandung. Maka dari itu, Atta tidak ingin anaknya direbut oleh Ernes. Atta takut, mengingat Ernes yang memiliki uang dan kuasa.
"Tapi, jika kamu terus berada di kota ini, lambat laun Ernes akan tahu mengenai anak ini." ucap Rey.
Atta terdiam. Apa yang Rey katakan benar adanya. Apakah dia harus meninggalkan kota ini agar Ernes tidak merebut anaknya. Tapi kota ini tempat kelahirannya, tempat dimana ibunya dimakamkan pula. Atta menjadi dilema.
"Kenapa nggak minjem uang aku aja sih untuk urus perceraian kamu?" tanya Rey. Dia bersedia membiayai semua biaya perceraian Atta dengan Ernes.
"Enggak, jangan! Aku nggak mau libatin kamu dalam masalahku. Aku akan urus semua sendiri, kamu nggak perlu ikut campur!" Atta ingat ancaman Ernes tadi. Dia tidak akan membiarkan Rey terkena imbas dari permasalahannya dengan Ernes.
"Kamu takut Ernes akan melakukan hal buruk padaku?" tebak Rey.
Dikota itu, Ernes, papanya dan om-nya memiliki kuasa yang sangat besar. Siapa yang menyinggung mereka, tidak akan lama untuk mengalami kehancuran.
"Pokoknya kamu jangan ikut campur!" pinta Atta kepada Rey.
"Iya deh, aku nggak ikut campur. Aku hanya akan dukung kamu." Rey menenangkan Atta dengan cara menyentuh kepala Atta dengan lembut.
"Kamu nggak kerja?" tanya Rey.
Atta segera melihat ke arah jam, kemudian dia menjadi tergesa-gesa. Atta meminta Rey untuk segera mengantarnya ke tempat kerja. "Rey tolong anterin aku sekarang!" pintanya.
"Yuk!" Rey pun segera mengantar Atta ke tempat kerjanya.
....
Di saat Atta sedang patroli, ada beberapa orang yang berusaha menggodanya. Atta sadar jika dia sedang tidak menyamar sekarang, karena dia terburu-buru tadi.
Beberapa orang tersebut meminta Atta untuk menemaninya minum. "Ayolah cantik temenin kita minum, nanti aku kasih uang yang banyak!" salah satu dari mereka bahkan menarik tangan Atta.
"Tolong jangan kurang ajar!" ucap Atta sedikit marah.
"Jangan sombong jadi wanita! Kamu kerja disini untuk apa? Untuk cari uang kan? Ayo temenin kita minum, nanti kamu akan dapat uang yang banyak.." ucap mereka lagi.
Atta masih berusaha untuk melepaskan dirinya. "Kalau kalian masih kurang ajar, saya akan laporkan ke om Andhika!" ancam Atta.
Tapi beberapa orang mabuk tersebut malah tertawa mendengar perkataan Atta. "Kamu pekerja disini, tugas kamu melayani kami!" ucapnya lagi.
Atta yang kesal kemudian menendang kaki orang yang menahan tangannya. Orang tersebut kesakitan. "Rasain!" ucap Atta dengan kesal.
"Akh... sial..." erang orang tersebut.
"Hei, kamu berani kurang ajar ya.. Kamu hanya pekerja disini, jangan tidak sopan!" salah satu dari mereka yang berbadan tambun menarik tangan Atta dengan paksa. Lelaki itu juga hendak memukul Atta.
Tapi, ada seseorang yang menahan tangan lelaki yang hendak memukul Atta tersebut. "Sekali kamu sentuh istriku, kamu tidak akan punya tangan lagi!" ternyata Ernes yang menolong Atta.
Ernes memang sengaja datang ke tempat kerja Atta untuk menemui Atta. Tapi siapa sangka dia akan melihat hal tersebut.
Ernes langsung memeluk Atta yang gemetar karena ketakutan. "Nggak apa-apa, ada aku disini!" ucap Ernes dengan lembut.
"Kamu siapa berani ikut campur?" salah satu dari mereka tidak terima dengan perlakuan Ernes.
"Ernes Rajendra, anaknya Erlan dan keponakan Alfarezi.." jawab Ernes dengan cepat.
Orang-orang yang mengganggu Atta tersebut kemudian menciut. Apalagi setelah mendengar nama Alfarezi. Mereka segera mundur dan membiarkan Ernes membawa pergi Atta.
Tubuh Atta gemetar dan lemas. Meskipun dia berani melawan tadi. Tapi dia tetap hanyalah seorang wanita. Dia sangat takut jika para lelaki mabuk itu akan melakukan hal yang tidak dia inginkan.
Ernes langsung mengangkat Atta karena Atta hampir pingsan pada saat itu. Dengan segera membawa Atta ke rumah sakit. Selain khawatir dengan keadaan Atta, Ernes juga khawatir dengan anak yang dikandung Atta.
Ernes menyentuh wajah Atta dengan lembut saat Atta sudah berada di dalam mobilnya. "Jangan terjadi apa-apa ya!" gumamnya sembari mengelus pipi Atta dengan lembut.
Atta masih setengah sadar, dia menggenggam tangan Ernes. "Aku takut.." lirihnya.
"Jangan takut! Ada aku disini! Aku tidak akan biarin terjadi apa-apa sama kamu.." ucap Ernes dengan lembut.
Atta terus menggenggam tangan Ernes. Entah kenapa, dia merasa sangat nyaman dan tenang sekarang. Dia seperti tidak mau melepaskan tangan tersebut.