Sudden Mariage

Sudden Mariage
44



Sore hari, tanpa ada angin dan hujan. Tiba-tiba Cintya datang ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya Atta. Dia baru pulang dari kantor katanya. "Aku dengar dari Ernes kalau ibu kamu sakit. Boleh aku menjenguk?" tanya Cintya pelan.


Atta masih kaget sehingga dia hanya terdiam. Namun, tentu saja Atta tidak menolak niat baik Cintya. Dia mempersilahkan Cintya untuk mendekat dan memperkenalkan Cintya kepada ibunya.


Sekalian Atta akan menjelaskan kepada ibunya siapa Cintya sebenarnya sehingga ibunya tidak lagi akan salah paham kepada Ernes. "Buk, ini Cintya teman aku dan Ernes." ucap Atta kepada ibunya yang pada saat itu terbelalak melihat kedatangan Cintya.


"Dia hanya teman aku buk. Tanya saja ke orangnya langsung! Aku hanya mencintai Atta." ucap Ernes sembari menggenggam tangan Atta.


Serius, pada saat itu hati Atta berdebar tidak karuan. Dia tahu ungkapan cinta itu hanyalah sandiwara. Tapi entah kenapa hatinya merasa tersentuh dan berdebar.


Cintya memicingkan matanya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Cintya yang kebingungan, Ernes pun menjelaskan semuanya mengenai kesalahpahaman ibu mertuanya.


"Jadi ibu mertuaku salah paham tentang hubungan kita. Karena malam itu kita sempat ngobrol di taman, dan adik tiri Atta merekam kita. Ibu mertuaku mengira kalau kamu pacar aku." Ernes menjelaskan secara gamblang kepada Cintya dan di depan ibu mertuanya.


Cintya tertawa kecil mendengar penjelasan Ernes. "Oh masalah itu?"


Cintya berjalan mendekat ke ibunya Atta. "Aku sama Ernes itu kenal dari kuliah, kita berteman saja kok. Ibu nggak perlu khawatir! Ernes tuh setia kok." ucap Cintya.


"Nah, ibu denger sendiri kan? Jadi ibu jangan banyak pikiran lagi!" sahut Atta mendekati ibunya yang terus saja terdiam.


"Iya bu, aku sama Ernes cuma temenan kok." Cintya mendekati Ernes dan memegang tangan Ernes.


Susi melihat itu mulai membulatkan matanya. Meskipun Cintya bilang jika dia dan Ernes hanya berteman. Akan tetapi gelagat Cintya menunjukan jika dia memang memiliki hubungan special dengan menantunya.


Ernes dengan segera melepas tangan Cintya dan segera mendekati ibu mertuanya. Ernes meminta agar ibu mertuanya mempercayai dirinya. Sekali lagi Ernes mengatakan jika dia sangat mencintai Atta.


"Aku janji akan jaga Atta dan tidak akan pernah aku sakiti. Aku janji, bu.." ujar Ernes.


Susi masih diam. Dia masih meragukan hubungan antara Ernes dengan Cintya. Apalagi gelagat Cintya yang mencurigakan. Terlihat juga jika wajah Cintya berubah saat Ernes berjanji kepadanya untuk selalu setia kepada anaknya.


Seperti yang dilihat oleh Susi. Mendengar Ernes berkata seperti itu Cintya pun tersenyum kecut. Tapi dia harus segera tersenyum kembali untuk menutupi kecemburuannya.


"Ehem.." Cintya berdehem untuk memberitahu keberadaannya. Kemudian dia berpamitan kepada Atta, Ernes, dan juga ibunya Atta.


"Aku pamit dulu ya.." ucapnya.


"Makasih ya Cin, udah mau jengukin ibu aku." Cintya tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Iya, yang sabar ya! Merawat orang tua itu harus banyak-banyak bersabar."


"Aku pamit dulu ya, buk.." Cintya mendekat dan memeluk ibunya Atta.


"Sebenarnya aku pacarnya Ernes, dia memaksaku untuk berpura-pura didepan ibu.." Cintya membisikan sesuatu ke ibunya Atta yang membuat ibunya Atta langsung histeris dan dengan sekuat tenaga mendorong Cintya sampai terjatuh.


"Haaa..." seru Susi sembari mendorong Cintya.


Cintya pun terjatuh karena dorongan itu cukup kuat. "Akh..." Cintya membentur dinding karena dorongan tersebut.


Tentu saja itu membuat Atta dan Ernes menjadi terkejut bukan main. Susi berteriak dengan histeris sembari memegangi kepalanya. "Akh..." teriak Susi sekuat tenaga.


"Ibu kenapa?" tanya Atta yang tidak tahu apa yang terjadi kepada ibunya. Tapi Atta tidak mendapat jawaban dari ibunya yang hanya bisa berteriak sembari memegangi kepalanya.


Ernes segera berlari memanggil dokter. Dengan panik Ernes berlari mencari dokter yang menangani ibunya Atta. Dia bahkan tidak menghiraukan Cintya yang jatuh akibat dorongan ibunya Atta.


Ernes segera menarik dokter menuju ruangan rawat ibunya Atta. Meminta agar dokter segera melakukan tindakan untuk ibu mertuanya. Tapi sayang, saat Ernes dan dokter sampai. Ibunya Atta sudah pingsan duluan.


Atta pun menjadi histeris karena. Dengan segera Ernes mendekati Atta dan memeluknya. Ernes ingin Atta untuk tenang terlebih dahulu.


Dokter memeriksa keadaan ibunya Atta. Hasilnya menyatakan jika ibunya Atta dalam masa kritis. Tekanan darahnya naik dengan drastis membuat kepalanya terasa sakit.


Dokter memindahkan ibunya Atta ke ruang ICCU untuk mendapat tindakan lebih lanjut. Atta terus saja menangis dan Ernes selalu memeluknya untuk menenangkan dirinya.


"Aku takut, Nes. Takut.." ucap Atta masih menangis. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada ibunya.


"Ada aku disini.." kata Ernes.


Cukup lama mereka saling berpelukan. Sampai dokter selesai melakukan tindakn dan mengatakan jika ibunya Atta mengalami koma. Atta kembali tak bisa mengendalikan dirinya. Dia menangis dan memaksa ingin masuk ke ruangan tersebut. Tapi dokter masih belum memperbolehkannya.


"Tunggu sampai dipindah kamar!" ucap dokter.


Tak lama kemudian, Atta mulai tenang. Masih dengan dipeluk Ernes, Atta lebih bisa mengendalikan emosinya. Sementara Ernes tidak melepaskan pelukannya sama sekali.


Sampai akhirnya mereka berdua sadar jika Cintya juga ada ditempat itu. Ernes menoleh dan melihat Cintya duduk tidak jauh darinya dan Atta.


"Cin, gimana keadaan kamu?" tanya Ernes yang baru ingat jika tadi Cintya sempat terjatuh karena dorongan ibunya Atta.


Atta segera menoleh. Dia melihat Cintya yang tidak meninggalkan rumah sakit sedari tadi. "Maafin ibu aku ya!" ucap Atta merasa bersalah.


Namun, meskipun Atta merasa bersalah kepada Cintya. Dia juga masih penasaran, apa yang membuat ibunya sampai histeris seperti tadi.


"Nggak apa kok. Aku baik-baik saja. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba ibu kamu berteriak. Aku baru mau meluk dia." Cintya berlagak sedih seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Aw.." Cintya tiba-tiba memegangi kepalanya.


"Kenapa Cin?" tanya Ernes khawatir.


"Nggak apa, cuma tiba-tiba pusing aja. Mungkin karena tadi kebentur dinding jadi agak pusing sekarang." jawab Cintya ingin mencari perhatian Ernes.


"Kamu anter Cintya periksa!" sahut Atta merasa bersalah kembali.


"Nggak usah, nggak usah, cuma pusing dikit kok."


"Udah nggak apa. Kamu anterin Cintya gih!" Atta meminta Ernes untuk membawa Cintya periksa. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan akibat benturan tersebut.


Karena Atta memaksa, Ernes pun segera mengantar Cintya untuk periksa. "Aku anter Cintya bentar." pamit Ernes.


Atta masih merasa aneh kenapa ibunya tiba-tiba bisa histeris seperti itu. Dia curiga jika kehadiran Cintya lah yang memicu penyakit darah tinggi ibunya menjadi kambuh.


Ibunya Atta dipindah ke ruangan lain. Disana, Atta maupun Ernes bisa dengan leluasa menjenguk ibunya yang masih belum sadarkan diri.


Setelah mengantar Cintya, Ernes menemani Atta di ruangan tersebut. "Cintya sudah diperiksa? Apa kata dokter?"


"Kepalanya agak memar, dia hanya butuh istirahat saja."


"Nes, aku curiga penyakit ibu ini kambuh karena Cintya." seketika Ernes menatap Atta.


"Maksud kamu?"


"Mungkin saja ibu menahan sedari tadi waktu Cintya datang. Ibu kan nggak suka sama dia."


"Tapi Cintya datang dengan maksud baik, bahkan dia sampai terluka, apakah itu adil untuk menuduh dia seperti itu?" Ernes tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Atta.


"Aku nggak nuduh. Hanya saja ini aneh, sebelumnya ibu baik-baik saja, tapi waktu Cintya datang ibu jadi seperti ini."


"Stop Atta!" Ernes berseru karena dia merasa Atta tidak masuk akal.


"Aku tahu kamu sedih sekarang. Tapi tolong, jangan limpahkan kekesalan kamu kepada orang yang tidak bersalah. Cintya datang dengan niat baik, tapi kamu malah tuduh dia yang mengakibatkan semua ini." lanjut Ernes dengan kesal.


Atta membulatkan matanya saat Ernes berseru dengan sedikit marah. "Oh, jadi kamu lebih bela dia?" Atta tersenyum pahit.


"Silahkan pergi dari sini! Aku bisa jaga ibu aku sendiri!" seru Atta dengan hati terluka.


Bukannya dia ingin menuduh tanpa bukti. Tapi ini semua aneh dan janggal.


"Ta, jangan kayak anak kecil!" Ernes menyadari jika Atta sedang marah.


"Pergi! Pergi!" Atta meraung dalam ruangan tersebut.


Ernes yang juga merasa kesal berubah menjadi marah karena Atta mengusirnya. Ernes pun dengan marah segera keluar dari ruangan tersebut.


Tapi sebelum pergi, Ernes sempat berkata dengan marah kepada Atta. "Selama beberapa hari ini aku selalu ngalah sama kamu. Tapi kali ini kamu udah sangat keterlaluan. Oke kalau kamu ingin aku pergi. Aku nggak akan pernah kesini lagi." ucap Ernes.


Blam!!


Saat Ernes menutup pintu kembali. Atta mulai menangis. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Atta agak menyesal karena tindakannya mengusir Ernes. Tapi dia merasa marah saat teringat Ernes membela Cintya di depannya.


"Ahh..." seru Atta, entah kesal kepada siapa yang pasti dia kesal dengan dirinya sendiri.