
"Aku cinta kamu, Lovata.."
Atta terdiam sembari menatap Ernes setelah mendengar perkataan Ernes tersebut. Tetapi, Atta masih belum percaya dengan apa yang Ernes katakan. Dia menganggap pengakuan cinta Ernes itu hanya karena dia sedang hamil.
"Udahlah, Nes.."
"Ta, kamu mau apa gimana agar kamu percaya kalau aku cinta sama kamu?" tanya Ernes lagi. Namun, Atta kembali terdiam.
Hatinya bertanya-tanya apakah Ernes mengatakan yang sebenarnya atau hanya ingin membuatnya tetap senang agar anaknya tetap sehat. Lagipula Atta tidak mau terlena seperti kemarin-kemarin. Takut akan kembali kecewa.
"Kamu aja nggak percaya sama aku, kenapa aku harus percaya sama kamu?" gumam Atta.
Ernes menatap Atta kembali dengan perasaan bersalah yang kembali hinggap di hatinya. Dia tahu jika Atta masih kecewa karena sikapnya waktu itu.
"Gimana hubungan kamu dengan Cintya, apa sudah ke tahap yang lebih serius?" tanya Atta yang membuat Ernes menatapnya dengan tajam.
Padahal dia baru saja menyatakan cintanya, tapi Atta masih saja cemburu dengan Cintya. Tapi, Ernes juga tahu sih kenapa Atta cemburu. Baru-baru ini dirinya mengetahui bahwa selama ini Cintya memang sengaja membuat Atta menjauh darinya. Selama penyelidikan Ryan telah mengetahui jika kesalahpahaman di antara Ernes dan Atta, adalah ulah Cintya.
"Ada apa dengan aku dan Cintya? Kita cuma patner kerja." jawab Ernes tidak mau terpancing oleh Atta yang tidak masuk akal.
"Masa?"
"Iya, kan istriku kamu.." ucap Ernes lagi.
Atta tidak lagi menjawab. Dia memilih untuk diam dan tidak lagi berkata. Sesampainya di rumah sakit, sekilas Ernes melihat Cintya yang berlari seperti sedang terburu-buru.Antara yakin jika itu Cintya atau bukan.
Namun, karen atidak mau membuat Atta marah. Ernes segera melupakan itu. Dia segera menuntun Atta ke ruangan dokter kandungan.
Dokter menyarankan supaya Atta tidak banyak gerak dan tetap menjaga kesehatan. Meskipun kondisi kesehatannya dan anaknya sangat baik, tapi ada baiknya jika Atta lebih menjaganya lagi.
"Nanti saya perhatikan istri saya dengan lebih, dok.." ucap Ernes sebelum mereka keluar dari ruangan tersebut.
Perjalanan pulang, Ernes meminta Atta agar tidak lagi bekerja. "Aku yang akan tanggung semua biaya hidup kamu dan si kacang polong." ucapnya.
"Jangan bantah! Lakukan demi si kacang polong!" imbuhnya.
"Nes, aku berterima kasih karena kamu perhatian dengan kacang polong. Tapi, jangan terlalu baik aja ke aku."
"Takut baper?" tanya Ernes dengan tersenyum senang.
Atta kembali terdiam. Tetapi Ernes malah meraih tangannya dan menciumnya dengan lembut. Ernes ingin sekali menunjukan jika dia bener-bener mencintai Atta. "Aku bukan hanya lakukan demi kacang polong, tapi juga demi kamu. Karena aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu." Ernes gantian menarik pipi Atta dengan gemas.
"Nes, aku bukan orang bodoh yang kemarin lagi, jadi jangan lagi rayu aku, aku tetap keputusanku berpisah dengan kamu.." ucap Atta. Dia tidak lagi memiliki harapan kepada Ernes. Lebih baik dia mengakhiri semuanya dan menjalai hidup seperti dulu.
"Aku ajak kamu periksa hari ini karena aku merasa kamu juga pelu tahu tentang kesehataan kacang polong." imbuh Atta.
Ernes hanya terpaku tanpa berkata. Dia tahu dari nada suara Atta jika Atta memang masih sangat kecewa dengan apa yang telah dia lakukan kepada Atta. Meskipun begitu, tetapi Ernes tetp tidak akan menyerah untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Ta, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku bagi sama kamu. Ada banyak yang ingin aku ceritakan ke kamu. Kapan kamu punya waktu?" tanyanya.
Atta menatap Ernes, dia melihat raut wajah Ernes yang kusut. Sepertinya banyak sekali beban yang dia rasakan. Dia menjadi kasihan. "Hari ini ada waktu. Aku libur hari ini." jawab Atta.
Ernes tersenyum, kemudian melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang sangat romantis. Tempat yang berada di sekitar bukit dengan lampu yang sangat indah. Atta mengerutkan keningnya, darimana Ernes tahu seperti itu. Tempat itu sebuah kafe yang belum lama buka.
"Kamu sering ajak Cintya kesini?" maka muncullah pemikiran negatif Atta terhadap Ernes.
Ernes yang gemas karena Atta selalu mencurigainya dengan Cintya, dia pun menyentil pelan kening Atta. "Cintya mulu pikirannya, jangan-jangan kamu yang suka sama Cintya?" tanya Ernes dengan konyol.
"Masa jeruk makan jeruk.." Atta memukul pelan lengan Ernes.
Ernes lalu meminta Atta untuk duduk di salah satu kursi yang ada ditempat tersebut. "Mau makan apa?" tanya Ernes.
"Apa aja deh, asal jangan seafood ya, mual kalau makan seafood.." Ernes pun kembali tersenyum.
"Sama kayak papanya dong.." gumamnya dengan senang.
Ernes segera pergi tapi anehnya dia malah pergi ke arah panggung kecil untuk live music. Ernes memainkan gitar yang ada. "Teruntuk istri dan calon anakku. Aku tahu, aku bukan orang baik, tapi aku akan beusaha menjadi suami dan papa terbaik untuk kalian. Aku cinta kalian, anak dn istriku." Ernes berkata sembari diiringi lantunan gitar yang dia mainkan sendiri.
Atta tak pernah menyangka jika Ernes bisa seromantis itu. Bahkan Ernes menyatakan perasaannya di depan banyak orang. Diam-diam dia tersenyum karena merasa sangat bahagia. Tetapi dia kembali menyembunyikan senyumannya.
Saat Ernes kembali pun dia pura-pura bersikap biasa saja. Padahal dia merasa sangat bahagia. Atta seperti ingin menguji seberapa seriusnya Ernes kepadanya. "Katanya mau cerita?" tanya Atta agar tidak kelihatan jika dia sedang menyembunyikan rasa bahagia.
"Ternyata Cintya masih punya suami dan ibunya juga masih hidup.." Atta membulatkan matanya mendengar perkataan Ernes.
"Aku minta maaf karena nggak pecaya sama kamu.." ucap Ernes lagi.
"Jadi kamu udah tahu kalau Cintya yang sengaja membuat kita menjauh?" Ernes menganggukan kepalanya.
"Syukur deh.." Atta merasa lega karena akhirnya Ernes tahu kebenarannya.
"Itu sebabnya kamu merasa bersalah kemudian bohongin perasaan kamu sendiri?" imbuhnya.
"Aku tidak pernah bohong tentang perasaanku. Kalau bilang cinta, itu memang kenyataannya seperti itu.." sahut Ernes.
Faktanya, dia memang tidak pernah membohongi perasaannya sendiri. Karena Ernes memang yakin jika dia mencintai Atta. Entah sejak kapan pastinya, tapi mungkin sejak dia bertemu dengan Atta dengan penampilan norak malam itu.
"Aiko? Cintya?"
"Aiko sepupuku, kalau Cintya kita memang hanya patner kerja saja.." entah kenapa Ernes masih begitu sangat sabar menghadapi sikap kekanakan istrinya.
Ernes kembali menceritakan apa yang terjadi beberapa hari ini. Atta pun merasa kasihan dengan Ernes. Apalagi Atta tahu jika Ernes tipe orang yang tidak bisa mencurahkan perasaannya kepada sembarangan orang.
"Jadi, jangan tinggalkan aku! Aku merasa kesepian saat kamu nggak ada disampingku." ucap Ernes dengan wajah yang sangat menyedihkan.
"Kan kamu punya papa dan mama dan juga adik yang sayang banget sama kamu. Kamu udah nggak butuh aku." ucap Atta.
"Sangat butuh , aku sangat butuh kamu." sahut Ernes dengan cepat. Atta tidak bisa berkata apa lagi, dia merasa iba dengan Ernes. Tapi dia masih ingin melihat seberapa seriusnya Ernes kepadanya.