
Ernes menjelaskan hubungannya dengan Cintya kepada Atta saat perjalanan ke rumah Aiko. Ernes sama sekali tidak menutupi apapun. Dia juga mengatakan mengenai Cintya yang pernah membully-nya sampai akhirnya Cintya menyatakan cintanya ke Ernes.
"Kenapa kamu tolak? Dia kan cantik.." tanya Atta dengan sewot.
"Kamu pikir seorang lelaki suka sama wanita itu karena cantik aja?"
"Kan faktanya emang gitu. Lelaki tuh selalu mandang dari fisik terlebih dulu." sahut Atta dengan cepat.
"Bener juga sih. Tapi aku pengecualian."
"Idih nggak ada pengecualian, kamu sama aja.."
"Beda dong. Buktinya aku mau nikahin kamu meskipun penampilan kamu culun dan norak.." Ernes mengingatkan lagi pada pertemuan pertama mereka malam itu.
"Ish.." Atta mengunci rapat mulutnya.
Harus diakui, pertemuan malam itu memang pertemuan yang tidak pernah terduga. Pertemuan pertama tapi membuat Atta dan Ernes melakukan hubungan hubungan suami istri dan pada akhirnya mereka mendadak menikah.
"Tapi aku berterima kasih ke kamu, kalau nggak ada kamu malam itu, entah apa yang terjadi sama aku, karena obat itu sangat bahaya." ucap Ernes.
"Hmm, jadi kamu harus bersikap baik sama aku!" kata Atta yang membuat Ernes tertawa kecil melihat kegemesan Atta.
"Siap tuan putri." jawab Ernes juga membuat Atta tertawa.
Sesampainya di rumah Aiko. Ernes mengulurkan tangannya dan dengan segera Atta menyambut tangan itu. Dengan saling bergenggaman tangan, keduanya melangkah memasuki rumah Aiko.
Dari halaman rumah Aiko, sayu terdengar suara tangisan bayi. Tak tahu kenapa hati Atta berdesir mendengar tangisan bayi tersebut. Atta semakin mempererat genggamannya.
"Kayaknya semua ada disini." ucap Ernes saat melihat mobil papanya terparkir di halaman rumah Aiko.
"Siapa? Papa sama mama?" Ernes menganggukan kepalanya.
Dan benar saja. Ternyata papa dan mamanya Ernes juga ada di rumah Aiko. Mamanya sedang heboh mengganti popok anaknya Aiko.
"Paman..." seru Kiano ketika melihat Ernes juga datang. Sudah agak lama semenjak Ernes nikah. Kiano dan Keysha belum bertemu dengan papa besarnya. Tentunya mereka sangat rindu dengan papa besarnya atau pamannya.
"Paman..." dibelakangnya ada Keysha yang juge berlari menyongsong Ernes.
Ernes berjongkok dan membuka tangannya. Dia juga sangat merindukan kedua keponakannya tersebut. "Kiano, Keysha.. Paman kangen banget sama kalian." Ernes langsung memeluk keduanya dengan erat.
"Om Ernes..." Cio juga mendekat dan kepengen dipeluk Ernes.
"Cio..Sini sayank, om juga kangen sama kamu.." kini Ernes memeluk ketiga bocah yang nampak senang bertemu dengan Ernes.
"Tante gendong.." Keysha juga senang melihat Atta. Dia segera menarik baju Atta dan minta gendong.
"Ugh... Cantiknya tante..." Atta dengan senang mengangkat Keysha ke dalam gendongannya. Atta juga suka dengan anak-anak. Jadi dia tidak merasa risi dengan kemanjaan Keysha dan Kiano juga Cio.
Setelah selesai memasangkan popok untuk bayi Aiko. Ines segera berlari mendekati Ernes dan Atta. Dia juga sangat kengen dengan anak sulungnya dan juga menantunya.
Ines memeluk keduanya dengan bahagia. Lalu memperkenalkan Atta ke Alfarezi dan juga Kimora. Karena mereka belum sempat kenalan sebelumnya.
"Ini Atta, istrinya Ernes."
"Ini Om Alfa adiknya papa, dan ini istrinya, tante Kimora."
"Hallo tante, om, aku Atta.."
"Akhirnya Ernes nikah juga..." sahut Kimora merasa bersyukur karena keponakannya tersebut menikah juga.
"Iya tante, udah sold out.." sahut Gio yang membuat semuanya tertawa.
"Mulutnya.." Ernes mendorong pelan kepala adiknya. Tapi, dia juga ikutan tertawa dengan candaan adiknya.
"Buruan nyusul ya. Adik-adik kamu udah pada punya anak semua." ucap Alfarezi.
"Bener tuh. Aiko aja udah 2, Gio udah 2,-"
"Mau 3 ma.." sahut Gio memotong perkataan mamanya.
"Ha? Vanka hamil?"
"Nggak ma.." sahut Vanka sambil memukul lengan suaminya yang sembarangan bicara.
"Baru proses ma.." Gio menjawab sembari tertawa.
"Oh kirain. Terus si Defan juga udah punya anak. Kamu kapan?"
"Sabar napa ma, kan juga baru diproses.." jawab Ernes dengan santai.
Bukan sekali dua kali mamanya mendesak dia untuk segera memiliki anak. Sebelum dia punya istri pun mamanya selalu mendesaknya agar segera memiliki anak. Makanya Ernes menanggapi itu dengan santai pula.
"Iya ma, kan Ernes baru aja nikah. Sabar napa.." sahut Sakha pula.
Lagi asyik-asyiknya bersendau gurau. Tetiba pembantu Aiko mengatakan jika ada teman Aiko yang hendak menjenguk Aiko juga.
"Siapa mbak?" tanya Aiko mengerutkan keningnya.
Kehadiran wanita tersebut tentu saja membuat semua orang menjadi terkejut. Terutama Ines dan Sakha. "Cintya?" gumam Ines saat melihat wanita tersebut.
"Hallo tante, aku kangen banget sama tante.." Cintya mulai mendekati Ines dan memeluknya. Tapi, dengan sengaja Cintya mendorong Atta yang berada disebelah Ines.
Cintya melakukannya dengan cukup lembut. Sehingga yang lain mengira jika Atta mundur karena tidak mau menghalangi Cintya dan Ines yang sedang kangen-kangenan.
"Kamu kemana aja Cin?" tanya Ines dengan senang. Dulu, mereka cukup dekat karena Ernes sering mengajak Cintya pulang.
"Aku ke luar kota tante..." Ines dan Cintya bercerita dengan bahagia serta saling melepas rindu.
"Oh iya, kenalin ini Atta, istrinya Ernes.."
"Kita udah kenal kok tan."
"Oh ya?" Atta dan Cintya menganggukan kepalanya bersamaan.
Tak hanya dengan Ines. Tapi Cintya juga terlihat akrab dengan Gio dan Vanka serta dengan Aiko dan Defan. Mereka menceritakan masa lalu mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Perjuangan kamu akhirnya nggak sia-sia ya, kalian akhirnya menikah." ucap Cintya kepada Gio.
"Iya kak."
Atta hanya terdiam di sudut sofa. Dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka. Dia pun menatap bayi Aiko dan mendekati bayi Aiko yang dipangku oleh Kimora.
"Boleh aku pangku nggak tan?" tanya Atta.
"Boleh." Kimora segera menyerahkan cucunya ke pangkuan Atta.
Atta nampak bahagia melihat bayi Aiko.
Melihat Atta yang tidak ada disebelahnya. Ernes segera melayangkan pandangannya. Dia melihat Atta yang sedang memangku bayinya Aiko.
Ernes segera beranjak dan mendekati istrinya. "Kamu kepengen punya bayi?" tanya Ernes.
"Siapa sih yang nggak kepengen punya anak? Tapi untung sekarang belum kepikiran."
"Kenapa?"
"Karena aku mau punya anak dari lelaki yang mencintai aku."
"Karena, kalau dia mencintai aku, dia pasti juga akan mencintai anakku." lanjut Atta yang membuat Ernes terdiam, tapi menatap Atta dengan tajam.
"Lihat, kalian kelihatan pantas sekali. Pokoknya buruan diproses! Mama udah nggak sabar pengen gendong anak kalian!" seru Ines mulai konyol lagi.
"Oh ya Cin, katanya kamu sudah nikah, udah punya anak belum?" tanya Ines kepada Cintya.
Seketika raut wajah Cintya berubah menjadi sedih. "Belum tante. Kita sudah cerai." jawab Cintya dengan sedih.
"Maafin tante. Tante nggak tahu. Maafin tante ya!" Ines menjadi merasa bersalah. Dia memeluk Cintya yang terlihat sangat sedih.
Atta tersenyum kecil sembari memutar bola matanya. Sejak bertemu dengan Cintya. Atta melihat dengan jelas jika Cintya berusaha mendekati Ernes dan mengambil hati saudara-saudara Ernes, terutama mamanya Ernes. Tadi saja dia dengan sengaja mendorong Atta.
Saat perjalanan pulang. Atta menceritakan apa yang Cintya lakukan kepadanya tadi. Tapi sayangnya, Ernes tidak percaya dengan cerita Atta.
"Masa sih? Mungkin karena kamu sedang sensi aja sama dia, jadinya kamu mikir berlebihan gitu.." kata Ernes yang membuat Atta kesal.
"Jadi kamu lebih percaya dengan orang lain daripada istri kamu? Kalau gitu kenapa kita nggak cerai aja terus kamu nikahin temen kamu itu." Atta mulai merasa kesal lagi.
"Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka ya kamu bahas perceraian."
"Aku bukan bela dia, tapi aku kenal dia, nggak mungkin dia kayak gitu.."
"Udahlah, aku capek harus berantem terus cuma masalah dia terus. Dewasa dikit yak!" Ernes dengan lembut menyentuh kepala Atta.
Tapi sepertinya Atta masih kesal. Dia berusaha menyingkirkan tangan Ernes yang menyentuhkan. Bahkan dia tidak lagi mau bicara setibanya mereka di apartemen.
Selesai mandi, Atta juga langsung naik ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut.
Ernes tahu jika istrinya marah lagi. Dia pun mendekati Atta dan memeluknya dari belakang. "Maaf deh kalau aku bikin kamu marah. Kamu mau aku gimana?" tanya Ernes dengan lembut.
Semenjak bertemu dengan Atta. Ernes menjadi sosok yang berbeda. Dia tidak bisa sama sekali marah dengan Atta. Meskipun Atta sering bertingkah konyol, dan kekanakan. Tapi Ernes akan selalu memakluminya.
"Jangan deket-deket sama mantan kamu itu!" jawab Atta.
"Bukan mantan, kita cuma temen. Kita deket juga karena pekerjaan, nggak lebih.."
"Kamu nggak perlu khawatir, aku tahu statusku kok. Aku lelaki yang sudah punya istri, dan aku hanya milik Lovata.." ucap Ernes.
Atta tidak bisa menyembunyikan tawanya. Mendengar perkataan Ernes tersebut membuat Atta menjadi tertawa.
"Apaan sih.." ucap sembari membalikan badannya. Pada akhirnya Atta pun tertidur dalam pelukan hangat suaminya. Keduanya tidur sambil berpelukan sepanjang malam.
Atta tersenyum kecil. Meskipun ia tahu semua hanya lelucon. Tapi entah kenapa hati Atta merasa bahagia.