
Ernes menjemput Atta yang akan makan malam bersama dengan papa dan mamanya. Kali ini sepertinya orang tua Ernes ingin membahas tentang pernikahan mereka.
Makan malam tersebut dengan cukup hangat dan harmonis. Atta sudah semakin akrab dengan kedua keponakan Ernes dan juga dengan Vanka, adik ipar Ernes.
Keysha sudah semakin lengket dengan Atta, bahkan dia sudah tidak mau dengan pamannya. "Oh gitu, sekarang nggak mau sama paman? Oke, nanti paman beli es krim sama kakak, kamu nggak diajak.." ucap Ernes yang cemburu dengan kedekatan Atta dan Keysha.
"Aku nanti beli es krim sama tante.. Iya kan tante?" Atta hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
"Tante kan istrinya paman, jadi tante pergi sama paman dong.." Ernes tidak mau mengalah dari keponakannya.
"Nggak boleh! Tante sama aku, nggak boleh sama paman!" Keysha pun akhirnya menangis karena Ernes menggodanya.
"Huwaa... paman nakal.. paman nakal.." seru Keysha sembari menangis.
"Aku nggak mau temenan sama paman..." ucap Keysha lagi.
"Iya, kita jangan temenan sama paman yak?" Atta membujuk agar Keysha berhenti menangis.
"Paman minta maaf ya, Keysha sangat marah sama paman. Nanti paman ajak deh beli es krim sama kakak Kiano.." Ernes juga sibuk membujuk keponakannya agar berhenti menangis.
"Janji Keysha diajak?" tanya Keysha dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Ernes pun dengan segera mengangkat Keysha dari pangkuan Atta. "Iya dong, kan Keysha keponakan paman yang palin cantik dan pinter, pasti dong diajak.." ucap Ernes menyenangkan hati keponakannya.
"Tante diajak nggak?"
"Coba tanya tante, mau nggak diajak jalan-jalan ke mall!"
"Tante mau kan jalan-jalan ke mall beli es krim sama Keysha?" Atta tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Udah Keysha sini sama mama, jangan ganggu tante sama paman!" sahut Vanka yang merasa tidak enak karena anaknya terlalu lengket dengan Ernes dan Atta.
"Besok kita ke mall bareng-bareng, sama papa, mama, tante dan paman. Sekarang Keysha dan kakak Kiano bobok dulu!" pinta Vanka sembari melambaikan tangannya kepada Kiano dan keysha yang masih lengket dengan Atta dan Ernes.
Ernes pun segera menurunkan Keysha dari gendongannya. "Bobok dulu sama papa dan mama, besok kita ke mall bareng!" ucap Ernes.
Keysha pun langsung berlari ke mamanya. "Pamit sama tante dan paman dulu!" pinta Vanka.
"Selamat malam paman, tante, aku bobok dulu.." seru Keysha dan Kiano bersamaan.
"Sama opa dan oma!"
"Malem oma, opa, aku mau bobok dulu!"
"Iya sayank.. met bobok ya!" kata Ines dengan sangat senang.
Setelah kedua bocah tersebut masuk ke kamar bersama papa dan mama mereka. Ines pun bertanya mengenai persiapan pernikahan Ernes dan Atta.
"Udah hampir selesai sih ma berkas-berkasnya. Mungkin lusa aku dan Atta udah dapat buku nikah." jawab Ernes santai.
"Kalian yakin nggak mau dirayain?" tanya Ines yang sebenarnya sangat ingin mengadakan pesta pernikahan yang megah dan mewah untuk putra sulungnya.
"Iya tante.. Nggak perlu dirayain segala. Yang penting keluarga tahu kalau aku sama Ernes sudah menikah." jawab Atta.
"Iya ma, meminimkan pemberitaan yang beredar juga. Aku nggak mau keluarga kita jadi bahan omongan orang.." sahut Ernes yang memang tidak suka dengan perayaan semacam itu. Dia sangat tidak suka menjadi bahan perhatian banyak orang.
"Ya udah kalau gitu. Kalau masalah tempat tinggal?"
"Kita sudah beli apartemen yang tidak begitu jauh jaraknya dari kantor ma."
Meskipun Ernes sangat mandiri. Tapi sebagai orang tua, Sakha juga mengkhawatirkan kehidupan anak-anaknya.
"Next time pa, tapi aku sama Atta lebih nyaman tinggal diapartemen, nanti rencananya kita tinggal sama ibunya Atta juga." ucap Ernes.
"Ya nggak apa-apa, kalau nggak ikut kalian mau ikut siapa lagi? Kan Atta anak satu-satunya. Malah bagus kalau kalian punya pemikiran seperti itu." ucap Ines yang merasa senang karena anaknya memiliki jiwa peduli yang sangat kuat.
"Bener kata mama, jangan jadikan orang tua sebagai beban!" sahut Sakha.
"Jangan sampa kayak papa dan mama, belum bisa bahagiakan orang tua kita, tapi mereka lebih dulu pergi.."
.....
Ernes memberitahu Atta untuk berangkat ke kantor sendiri dulu. Semalam Ernes juga sudah bilang ke Atta. Tapi dia ingin memastikan sekali lagi aja. Pagi itu Ernes akan mengantar Aiko pulang le rumah orang tuanya.
Atta tidak keberatan sama sekali. Justru dia merasa lebih nyaman pulang pergi ke kantor sendiri tanpa Ernes. Sebelum berangkat ke kantor. Atta terlebih dulu sarapan di rumah makan depan rumah sakit.
Setiap pagi Atta selalu sarapan di tempat yang sama. Namun, kali ini ada yang berbeda. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Rey, senior sekaligus temannya.
Atta juga terkejut melihat Rey yang juga sedang sarapan di tempat yang sama dengan dirinya. "Hai Rey??" sapa Atta dengan senang karena bisa bertemu dengan temannya.
"Hallo, Ta..."
"Pagi-pagi sudah disini emang mau kemana?" tanya Atta.
"Aku ada jadwal check up jam 8, tapi aku kesini sarapan dulu. Kamu sering makan disini?"
"Hmm, hampir tiap hari."
"Gimana keadaan ibu kamu? Kemarin waktu aku sama Ulfa jengukin ibu kamu, dia bilang bosen di rumah sakit terus." ucap Rey menceritakan apa yang terjadi saat dirinya dan Ulfa menunggu ibunya Atta.
"Iya, tapi kata dokter harus nunggu hasil operasinya dulu selama kurang lebih dua minggu."
"Kasihan juga sebenarnya, hampir enam bulan ibu dirawat di rumah sakit, pasti ibu sangat merindukan dunia luar. Tapi mau gimana lagi, dokter masih belum ngizinin." kata Atta dengan sedih. Dia sendiri juga sangat paham jika ibunya pasti sangat jenuh karena sudah berbulan-bulan tinggal di rumah sakit.
"Ya nurut apa kata dokter aja sih!"
"Tenang aja, kalau aku ada waktu, aku akan sering temenin ibu kamu agar nggak jenuh." ucap Rey yang membuat Atta tersenyum kecil.
"Makasih ya Rey, kamu memang baik banget, nggak pernah berubah dari dulu.." puji Atta.
Tapi memang, lelaki bernama Rey tersebut sangatlah baik kepada Atta dan Ulfa. Dia yang selalu menjaga dan melindungi Atta dan Ulfa pada waktu sekolah dulu.
Meskipun Rey satu tingkat lebih dulu dari Atta dan Ulfa. Tapi ketiganya sangatlah akrab sampai sekarang ini.
"Aku kan kenal ibu kamu juga dari dulu, aku sudah anggap ibu kamu seperti ibu aku sendiri.." ucap Rey.
"Masih ingat nggak waktu aku nangis karena orang tuaku lupa hari ulang tahunku? Ibu kamu yang ucapin dan masak untuk aku. Setelah itu setiap tahun saat aku dan Ulfa ulang tahun, kita selalu ke rumah kamu, dan ibu kamu masakin makanan yang banyak untuk kita." Rey teringat pada kenangan tempo dulu yang menbuatnya ingin membalas kebaikan orang tua Atta.
"Bagi ibu, kamu dan Ulfa juga sudah seperti anak ibu sendiri.." ucap Atta tersenyum sembari mengingat masa lalu yang indah itu.
"Maka dari itu. Ini waktunya aku berbakti kepada ibuku.."
"Makasih Rey..." Atta hampir menangis karena terharu.
Tidak punya harta bukan berarti tidak punya kasih sayang dan cinta. Itulah yang Susi berikan kepada Rey dan Ulfa yang notabene-nya anak-anak broken home.