Sudden Mariage

Sudden Mariage
34



Atta segera berlari menuju kamar mandi. Dan Ernes sengaja menunggunya. Sebelumnya, Andhika bertanya sekali lagi apakah Ernes dan Atta beneran sudah menikah.


"Kamu beneran sudah menikah dengan Lovata?" tanya Andhika masih penasaran.


"Iya om." Andhika hanya menganggukan kepalanya saja. Kemudian dia meninggalkan Ernes sendiri di depan toilet wanita.


Tak lama kemudian Atta keluar dari toilet. Dia masih aja terkejut karena mengira Ernes sudah kembali. Siapa sangka Ernes ternyata menunggunya di depan toilet.


"Ka..kamu masih disini?" tanya Atta dengan kaget.


"Aku pikir kamu sudah kembali.." imbuhnya.


"Kamu nangisin lelaki tadi? Dia mantan pacar kamu kan?" tanya Ernes dengan marah saat melihat mata Atta yang sembab.


"Eng... enggak, aku nggak nangisin dia. Aku mabuk terus muntah tadi, aku nggak nangis kok." jawab Atta dengan takut.


"Kita harus segera kembali, yang lain pasti masih nungguin kita." kata Atta segera berjalan menuju ruangan tadi.


"Temen-temen kamu sudah pulang semua. Mereka sudah pada mabuk.." jawab Ernes.


Jadi itu alasan kenapa Ernes menyusul Atta. Selain khawatir karena Atta terlalu lama ke toilet. Ternyata juga karena teman-teman Atta yang lain sudah pulang.


"Oh, kalau gitu kita pulang juga!" ucap Atta.


Namun, Ernes justru menahan tangan Atta. Dia merasa sangat kesal, tidak tahu apa penyebabnya. Yang pasti hati Ernes merasa sangat kesal dan ingin marah.


"Kamu nggak punya niat buat jelasin siapa laki-laki tadi?" tanya Ernes dengan sewot.


"Dia.. e.. dia teman sekolah aku dulu. Nggak ada yang harus dijelasin tentang dia."


"Tapi aku butuh penjelasan."


"Nggak ada yang perlu dijelasin.."


Kriiingggg...


Kriiinggg...


Ponsel Ernes berbunyi tiba-tiba membuat Atta bisa bernafas lega. Atta tahu jika suaminya tidak mencintainya, tapi dia juga tahu jika suaminya orang yang sangat cemburuan.


"Ya.."


"..."


"Oh iya om, aku segera kesana.." Ernes segera mematikan teleponnya.


"Kenapa?" tanya Atta ikut penasaran.


"Aiko harus dioperasi malam ini, karena ketubannya bocor, jadi bayinya harus segera dikeluarin." jawab Ernes kelihatan begitu panik.


"Aku anterin kamu pulang dulu, habis itu aku baru ke rumah sakit." Ernes segera menarik tangan Atta.


"Aku ikut.." Atta ingin ikut ke rumah sakit menjenguk Aiko juga.


"Kamu sedang mabuk sekarang. Besok aja kamu jengukin Aiko-nya." namun, Ernes melarangnya untuk ikut.


"Aku anterin kamu pulang."


Sesampainya di apartemen, Ernes tidak turun karena dia harus segera ke rumah sakit. Dia menurunkan Atta di parkiran apartemen dan membiarkan Atta masuk sendirian.


Dengan lembut Ernes menyentuh kepala Atta. "Kamu istirahat aja! Besok pulang kerja kita jengukin Aiko bareng.." ucapnya.


Atta tidak menjawab. Dia hanya menganggukan kepalanya saja. Atta segera membuka pintu mobil. Dan hendak keluar dari mobil. Tapi tiba-tiba Ernes menahan tangannya.


"Ada yang ketinggalan.." katanya.


Atta segera menatap Ernes sembari tersenyum. "Selamat malam, hati-hati dijalan." ucap Atta, lalu kemudian dia keluar dari mobil Ernes begitu aja tanpa berbalik lagi.


Sementara Ernes merasa kesal karena Atta sangat tidak peka. Dia terus menatap Atta yang berjalan tanpa menoleh. "Ck, kenapa sih?" gumam Ernes.


Setelah memastikan Atta masuk ke apartemen. Ernes segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sementara Atta masuk ke apartemen dengan perasaan kesal. "Kenapa aku nggak boleh ikut? Apa dia khawatir aku ganggu dia dengan Aiko? Ih nyebelin.." gumam Atta seorang diri.


Atta kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur. Dia melihat ponselnya banyak sekali pesan dan panggilan masuk dari Ernes.


"Serah.." Atta tidak berniat membalas pesan Ernes tapi malah melempar ponselnya ke meja. Sementara dirinya bersiap untuk tidur.


Tapi ponselnya terus saja berdering. Sampai akhirnya Atta memilih untuk mematikan teleponnya agar tidak mengganggunya tidur. Atta sedang kesal, jadi dia tidak mau menerima telepon dari Ernes sama sekali.


Di rumah sakit.


Tindakan Atta tersebut membuat Ernes menjadi kesal. Tapi dia tetap berusaha tenang di depan keluarganya.


"Kamu telepon siapa?" tanya Sakha yang juga berada di rumah sakit setelah mendapat kabar dari adiknya.


"Atta pa, tapi nggak diangkat. Mungkin dia udah tidur.." jawab Ernes menyembunyikan amarahnya.


"Mungkin, dia pasti capek lagipula ini kan sudah malam juga."


Alfarezi, Ernes, Rakha dan Sakha masih harap-harap cemas di depan ruang operasi. Sementara para wanita menunggu kabar dari rumah.


Terlihat raut wajah cemas bercampur sedih dari Alfarezi. Sebagai seorang kakak, Sakha segera mendekati adiknya dan menenangkannya. "Aiko akan baik-baik saja.." ucap Sakha sembari menepuk pundak adiknya.


"Amin.." jawab Alfarezi.


"Akhir pekan kita jengukin papa dan mama yuk, Lan!" ajak Alfarezi. Mungkin sudah sangat lama mereka tidak menjenguk orang tua mereka bersama.


"Boleh. Ajak anak-anak juga, supaya mereka tidak lupa sama kakek dan neneknya!" pinta Sakha.


Alfarezi pun menganggukan kepalanya.


Sekitar pukul 2 dini hari. Tangisan anak Aiko membelah kegelapan malam. Tangisan dari ruang operasi membuat mereka yang menunggu diluar menjadi bahagia.


"Sudah lahir, Al.. Selamat ya.." ucap Sakha kepada adiknya.


Alfarezi meneteskan air mata tanda bahagia. Karena dia kembali diberi anugrah dengan lahirnya cucu ketiganya.


Menjelang subuh Ernes pamit pulang karena anak Aiko juga sudah lahir, dan Aiko sendiri juga sehat. Sebenarnya Ernes sudah tidak sabar ingin ketemu istrinya yang sedari tadi tidak mau membalas chat-nya dan tidak mau mengangkat teleponnya.


Ernes segera menghampiri Atta ke kamar. Dia melihat Atta masih terlelap. Ernes pun kemudian mengambil ponsel yang berada di meja samping tempat tidurnya.


"Ck, dimatiin ternyata.." gumam Ernes sembari tersenyum kecut.


Melihat Atta yang sangat nyenyak, Ernes hanya menatapnya lama. "Kenapa aku semakin nyaman sama dia.." ucapnya sembari menyentuh wajah Atta dengan lembut.


Tapi sesaat kemudian, "nggak, nggak, pasti ini karena aku terbiasa aja.." Ernes menarik tangannya kembali.


Daripada pusing dengan perasaannya sendiri. Ernes kemudian ganti baju dan memilih untuk tidur.


Pagi harinya, Atta berteriak karena kaget. Kenapa tiba-tiba ada orang yang ada disebelahnya. "Ah...." teriak Atta yang membuat Ernes terbangun.


"Bisa nggak sih jangan berisik! Aku masih ngantuk.." ucap Ernes masih dengan memejamkan matanya dan menguap.


"Kapan kamu pulang? Katanya kamu nggak pulang.." tanya Atta masih dengan kaget.


"Kamu maunya aku nggak pulang?" tanya Ernes balik.


"Nggak gitu, kan kamu bilang nggak pulang karena nungguin Aiko."


"Istriku ngambek jadi aku pulang.." Atta menggigit bibir bawahnya mendengar perkataan Ernes.


"Aku.. aku nggak ngambek kok." Atta mengelak.


"Nggak ngambek tapi dichat nggak balas, hape dimatiin."


"Kenapa? Kamu masih nangisin mantan pacar kamu? Kamu takut aku tahu kalau kamu masih nangisin dia?" Ernes kembali menuduh Atta masih kepikiran dengan mantan pacarnya.


Atta pun menjadi kesal karena tuduhan Ernes itu. Dia pun segera beranjak dari tempat tidur. "Terserah.. Aku kira malah kamu nggak merasa terganggu, jadi aku matiin hape aku.." ucap Atta sembari berjalan menuju kamar mandi.


"Tuh beneran ngambek kan.."


"Kalau aku bilang nggak ya nggak!!!" teriak Atta kemudian membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras.


Ernes bukannya marah melihat Atta membanting pintu kamar mandi. Tapi dia malah tersenyum dan semakin yakin jika Atta sedang cemburu. Ernes merasa Atta lucu saat seperti itu.