Sudden Mariage

Sudden Mariage
70



Ernes mengantar Atta ke rumah kontrakannya setelah dinner romantis. "Nggak mau ikut pulang aku aja?" tanya Ernes.


"Nggak. Makasih ya buat waktunya, besok kalau jadwal periksa si kacang polong, aku kabarin lagi.." Atta segera keluar dari mobilnya.


Ernes menganggukan kepalanya. "Kalau butuh apa-apa, kabarin aku!" ucapnya.


"Iya.." jawab Atta sembari tersenyum.


"I love you.." sahut Ernes yang membuat Atta membulatkan matanya. Tetapi, Atta tidak membalas perkataan Ernes dia segera masuk ke rumahnya.


Ernes pun segera melajukan mobilnya. Dia akan bertemu dengan Ryan karena ada sesuatu hal yang ingin Ryan sampaikan tapi tidak bisa disampaikan lewat telepon.


Setelah mobil Ernes sudah tak terlihat lagi. Tiba-tiba Rey muncul dan memanggil Atta yang hendak masuk ke dalam rumah. "Ta.."


Seketika Atta menoleh dan kaget melihat Rey. "Hai Rey, darimana?" tanya Atta saat berbalik badan dan melihat Rey berdiri di depannya.


"Dari rumah. Kamu darimana sama Ernes?" tanya Rey dengan agak kesal.


"Aku sama Ernes habis periksa perkembangan kacang polong.. Dia kan papanya, jadi wajib tahu perkembangan kacang polong." jawab Atta terus terang.


"Oh, kirain kalian baikan.."


"Ya emang baikan sih, kan demi kacang polong.." Rey seketika menatap Atta.


"Jadi kalian akan kembali bersama?" tanya Rey.


"Kalau untuk bersama kayaknya nggak deh, Rey.. Tapi, kita udah nggak marahan lagi, kita akan berbagi apapun itu demi si kacang polong.." jawab Atta.


"Oh.. Udah makan?"


"Hmm, tadi makan bareng Ernes.."


Rey menganggukan kepalanya. Dia sadar jika Atta masih mencintai Ernes. Dia pun mulai bisa mengendalikan perasaannya. Dia telah berjanji akan mendukung apapun yang membuat Atta bahagia.


"Bulan depan aku akan pindah ke luar kota.." ucap Rey yang mengagetkan Atta.


"Ke luar kota? Bulan depan?" Rey menganggukan kepalanya.


"Kenapa mendadak banget sih?" tanya Atta dengan sedih.


"Iya, aku jalani kantor cabang milik papa.." jawab Rey.


Sebenarnya, sudah sejak tiga bulan yang lalu Rey diminta untuk menjalankan kantor cabang milik papanya. Tetapi, dia masih belum mau pergi karena tidak mau berpisah dengan Atta lagi.


Namun, setelah dia memikirkan ulang. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Karena dia yakin Atta ada yang menjaga dan dia bisa pergi dengan tenang.


"Katanya dulu kamu mau tinggal disini aja. Atau jangan-jangan kamu udah punya pacar terus kamu kesana sama pacar kamu?"


"Kalau iya, selamat ya Rey.. Aku ikut seneng, karena temen-temenku akhirnya punya pasangan masing-masing.." lanjut Atta memberi selamat kepada Rey.


"Nggak, bukan itu. Aku belum punya.. Siapa sih yang mau sama aku?"


"Banyak dong. Kamu kan ganteng, kaya, baik hati juga. Pasti banyak banget yang antri pengen jadi pacar kamu.." sahut Atta.


"Tapi sayangnya aku suka sama wanita yang sudah punya pasangan." gumam Rey sembari tersenyum kecil.


"Oh ya? Siapa Rey? Kenapa nggak pernah cerita sama aku? Ulfa tahu nggak?" tanya Atta lagi dengan heboh.


"Nggak ada yang tahu. Ini kan cuma cinta dalam hati.." jawab Rey dengan cepat.


"Tapi ada baiknya kamu cari wanita yang masih single sih Rey, karena biar nggak resiko.."


"Aku juga nggak tahu kalau dia ternyata udah punya pasangan. Aku udah lama pendam rasa ini untuk dia.." Rey menatap Atta dengan lekat.


Tapi, Atta tidak peka juga jika yang dimaksud oleh Rey adalah dirinya. Entah dia beneran tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu agar hubungan mereka tidak menjadi canggung.


"Semangat Rey, aku yakin kamu akan dapat seseorang yang beneran mencintai kamu.." Atta memberi semangat untuk Rey.


****


Ernes kembali ke rumah sakit setelah mendengar penjelasan dari Ryan. Jadi sore tadi itu beneran dia melihat Cintya. "Bos pergi aja ke rumah sakit, kamar vip nomer 3. Ibunya Cintya dirawat disana." kata Ryan.


Menurutnya, dulu Cintya bukan orang yang seperti itu. Apakah benar Cintya telah berubah atau hanya karena dia dipaksa oleh seseorang.


Tok!


Tok!


Tok!


Ernes mengetuk pintu kamar rawat Cintya. Sebelumnya dia melihat beberapa orang berada di depan kamar tersebut. Orang berbaju hitam tersebut seperti seorang pengawal.


Ernes memaksa ingin masuk dan menemui Cintya. Sesuai dengan informasi yang Ryan sampaikan sebelumnya. Ernes mengakui siapa namanya dan mengatakan jika dia kekasih Cintya.


Maka, setelah pengawal itu menelepon orang yang diduga bosnya. Ernes dipersilahkan untuk masuk.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ernes segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Cintya pun terkejut ketika melihat Ernes berada di kamar itu.


"Er...Ernes..." gumamnya dengan kaget.


"Gimana keadaan mama kamu?" Cintua semakin kaget saat tahu jika Ernes telah mengetahui kebohongannya.


"Mama belum sadar.. Darimana kamu tahu kalau mamaku ada disini? Aku bahkan sudah memalsukan dokumenku dan mama." tanya Cintya sembari tersenyum kecil.


"Di kota ini, apakah ada hal yang bisa disembunyiin dari aku?" tanya Ernes balik dengan tatapan yang tajam.


"Kenapa kamu bohongin aku tentang kematian mama kamu? Apa itu yang kamu inginkan?" tanya Ernes.


Cintya membulatkan matanya. Nampak matanya berair dan hendak meledak. Dia menghancurkan alat penyadap yang dipasang di ruangan tersebut. Cintya tahu jika suaminya telah memasang penyadap disekitarnya agar dia tidak bisa lapor polisi.


"Apa kamu kira aku mau lakuin ini?" tanya Cintya dengan marah.


"Aku terpaksa lakuin ini karena untuk melindungi mama aku.." serunya sembari menangis.


Cintya segera berlari untuk mengunci pintu kamar rawat mamanya agar pengawal yang berjaga di depan kamar itu tidak bisa masuk. Setelah dia menghancurkan alat penyadap, tentunya suaminya akan segera bertindak.


"Kalau kamu tahu gimana sakitnya kehilangan orang tua, kenapa kamu lakuin itu ke Atta?" tanya Ernes dengan dingin. Dia tidak ingin sama sekali merasa kasihan kepada Cintya.


"Aku terpaksa, Nes.. Lagipula aku tidak peduli dengan orang lain yang aku peduliin cuma mamaku sehat.." jawab Cintya.


"Dan seandainya kamu nggak hancurkan bisnis mertuaku, aku juga tidak akan dipaksa untuk melakukan ini..." seru Cintya.


"Bisnis mertua kamu hancur karena ulah dia sendiri, tidak ada hubungannya sama aku."


"Jangan dasarkan rasa benci kamu kepada orang lain!!" imbuh Ernes.


"Nes, tolong aku! Bantu aku lepas dari ibl*s itu.. Bantu aku, Nes! Aku hanya ingin mamaku sehat dan selamat.." Cintya menangis dan berlutut di depan Ernes.


Ernes terdiam. Dia juga merasa kasihan kepada Cintya. Akan tetapi, dia tidak ingin Cintya kembali merusak hubungannya dengan Atta yang baru saja akan dimulai kembali. Seperti kata Atta, Cintya adalah duri di dalam daging di hubungan mereka.


Tiba-tiba pintu kamar tersebut dibuka paksa oleh suami Cintya. Melihat Cintya yang berlutut di depan Ernes dengan menangis, membuat suami Cintya menjadi marah. Dia mendekat dan langsung menarik rambut Cintya.


"Akh...Ampunn... Sakit..." erang Cintya.


Pada saat itu, mamanya Cintya telah membuka matanya karena mendengar keributan yang mengganggunya. Namun, mamanya tidak bisa berbuat apa-apa bahkan dia tidak bisa berteriak untuk menolong anaknya, hanya bisa menangis.


Lalu Ernes-lah yang menolong Cintya pada akhirnya. Ernes menahan tangan suami Cintya yang telah menampar Cintya beberapa kali. "Lepasin! Kalau kamu memang seorang lelaki, harusnya kamu tidak memukul wanita, apalagi istri kamu!" ucap Ernes sembari menahan tangan suami Cintya.


"Jangan ikut campur urusan orang lain!"


"Maaf bukan mau ikut campur. Tapi, aku tidak suka lihat laki-laki kasar dengan wanita.." Ernes tidak takut sama sekali. Bahkan di belakangnya ada sekitar lima orang yang siap melindungi suami Cintya.


"Aku paling tidak suka melihat kekerasan kepada wanita diwilayah aku.." ucap Ernes dengan nada suara yang menekankan jika disitu masih wilayah kekuasaan Ernes.


Seketika suami Cintya melepaskan jambakannya. Dia mendorong Cintya dengan cukup keras. "Tolong tinggalkan tempat ini! Karena kehadiran anda tidak diperlukan disini!" ucap suami Cintya dengan sengit.


"Oke..." jawab Ernes.


"Yan, bawa kesini!" Ernes telah mempersiapkan penjaga untuk melindungi Cintya. Setidaknya jangan sampai suami Cintya melakukan tindakan kekerasan di rumah sakit tersebut. Karena Ernes juga memiliki saham di rumah sakit tersebut.


"Kalian jaga dia, kalau mereka berani macam-macam di rumah sakit ini, lapor ke aku!" ucap Ernes sebelum melangkah meninggalkan ruangan tersebut.