
Ernes sepertinya benar-benar marah. Dua hari sejak pertengkaran itu, dia tidak datang ke rumah sakit atau menghubungi Atta.
Melihat ponselnya tidak ada pesan dari Ernes sama sekali. Atta hanya menghela nafasnya saja. "Dia beneran marah.." gumam Atta.
Atta mempertimbangkan untuk menghubungi Ernes duluan. Tapi saat teringat Ernes yang membela Cintya. Atta pun mengurungkan niatnya. Dia menghapus kembali pesan yang sudah dia ketik.
Atta merasa tesiksa dengan perasaannya sendiri. Rasa kangen dan juga rasa bersalah membuatnya semakin bingung. Belum lagi ibunya yang masih belum sadarkan diri. Pikiran Atta benar-benar penuh dengan masalah.
Rey datang disaat dia merasa jenuh dengan apa yang dia rasakan saat ini. "Sudah makan belum?" tanya Rey.
Atta menggelengkan kepalanya. Selama dua hari ini Rey yang selalu datang untuk menghibur Atta. Selain Rey, Ulfa juga sering datang untuk mengiriminya makanan.
Bukan Ernes melainkan kedua sahabatnya yang selalu datang selama dua hari ini. Ernes bahkan sama sekali tidak sekali tidak menghubunginya hanya untuk sekedar bertanya kabar.
"Makan dulu, udah aku siapin!" ucap Rey.
Rey dan Ulfa tahu permasalahan antara Atta dengan Ernes. Itu sebabnya Rey ingin memperhatikan Atta dengan lebih. Karena hanya itu yang Atta butuhkan saat ini.
"Gomawo.." Atta masih bisa tersenyum ditengah semua permasalahan hidupnya.
Atta makan dengan baik meskipun dia berada di rumah sakit seetiap hari berkat kedua temannya yang begitu sangat peduli dengannya.
"Belum ada tanda-tanda ibu akan bangun?" tanya Rey sembari memperhatikan ibunya Atta yang masih terbaring lemah.
Atta hanya menggelengkan kepalaya saja. Kata dokter malah semakin hari kondisi ibunya semakin lemah. Dan tidak ada tanda-tanda sama sekali jika ibunya Atta akan segera bangun. Dokter bahkan sudah angkat tangan, mereka hanya menunggu mukjizat saja.
Tapi Atta, dia sama sekali tidak mau menyerah. Selagi masih ada harapan sekecil apapun itu. Atta selalu yakin jika ibunya akan sadar, entah kapan itu tapi dia sangat yakin.
Mungkin saat ini dia menyerah untuk rumah tangganya. Tapi, dia tidak akan menyerah sama sekali untuk ibunya.
"Suami kamu udah hubungi kamu?" tanya Rey lagi.
"Belum." jawab Atta dengan sedih.
"Brengs*k banget sih dia. Tahu kalau mertuanya sedang koma, tapi dia sama sekali tidak peduli." Rey merasa kesal karenanya.
"Udahlah, aku yang salah karena udah keterlaluan waktu itu. Mending kita makan. Kamu udah makan belum?" Atta mengalihkan pembicaraan.
"Udah tadi.." jawab Rey.
Sementara Ernes menyibukan dirinya dengan pekerjaan. Selama dua hari ini dia tidak istirahat dengan baik. Dia disibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk. Bahkan membuatnya harus menginap diperusahaan.
Sama seperti Atta, sebenarnya Ernes juga merasa kangen sekali dengan istri kontraknya tersebut. Sering kali dia mengecek story hanya untuk melihat story dari wanita itu. Namun ternyata Atta tidak membuat story sama sekali selama dua hari terakhir.
Akan tetapi, meskipun dia tidak berhubungan sama sekali dengan Atta. Sering kali Ryan mengabarkan perkembangan ibu mertuanya kepadanya. Ryan tahu perkembangan itu dari Ulfa yang selalu memberitahunya.
Pagi ini, pikiran Ernes dipenuhi dengan kabar terbaru dari kondisi ibu mertuanya. Ryan mengabarkan jika dokter sudah mulai angkat tangan, hanya menunggu mukjizat saja untuk kesadaran ibu mertuanya.
Tentu saja kabar itu mengejutkan Ernes. Sampai dia sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya. Bahkan saat meeting dengan bos Cintya, Ernes berulang kali harus minta izin ke toilet. Membuat bos Cintya menjadi kesal dan meminta Ernes untuk istirahat terlebih dahulu.
"Sepertinya pak Ernes lelah, silahkan istirahat dulu saja, kita terusin meetingnya besok pagi!" ucap bos Cintya sebelum pergi.
Cintya merasa aneh dengan Ernes. Tidak seperti biasanya dia seperti itu. "Kamu kenapa sih Nes? Kamu lagi ada masalah?" tanya Cintya yang masih tinggal di kafe tersebut bersama Ernes dan Ryan.
Awalnya Ernes tidk ingin cerita ke siapapun. Tapi karena menganggap Cintya sebagai teman dan orang yang bisa dipercaya. Akhirnya Ernes berceruta apa yang dia rasakan selama beberapa hari ini.
"Ibunya Atta sudah tidak ada harapan hidup." ucap Ernes.
"Sebenarnya aku dan Atta sudah dua hari tidak bertemu, kita bertengkar setelah kamu pulang malam itu."
"Bertengkar kenapa? Ya ampun Nes, aku jadi nggak enak hati karena aku kamu jadi bertengkar dengan Atta. Maafin aku!"
"Bukan karena kamu, tapi memang kita sedang kekanakan saja." Ernes tetap tidak menyalahkan Cintya atas insiden ibunya Atta. Karena memang tidak ada bukti yang mengarah ke Cintya.
"Kamu kangen sama Atta?"
Cintya tersenyum kecil. "Nes, kamu bukan anak kecil lagi, kalau kangen ya samperin dong!" ucap Cintya.
"Dan kamu bukan anak kecil, jadi jangan campur aduk masalah pribadi dengan pekerjaan!" imbub Cintya memotivasi Ernes.
"Ya, kamu bener. Nggak seharusnya aku campur aduk masalah pribadi dengan pekerjaan."
"Besok, bilang ke bos kamu, kita meeting sekalian survey ke proyek, kita kerjaan pekerjaan yang telah tertunda!" pinta Ernes kepada Cintya.
"Dan setelah itu, aku akan temui Atta untuk meminta maaf." imbuhnya.
"Gitu dong, semangat!" sahut Cintya lagi.
Ernes berterima kasih kepada Cintya karena motivasi yang Cintya berikan kepadanya. Ernes menjadi lega dan mulai berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Atta.
"Thanks ya Cin.." katanya.
"Iya.."
"Yan, kamu udah kirim vitamin untuk Atta hari ini?" tanya Ernes kepada Ryan.
Sebenarnya, meskipun Ernes tidak menemui Atta. Diam-diam dia meminta Ryan untuk mengirim vitamin untuk Atta. Dia khawatir Atta akan sakit dalam keadaan seperti sekarang.
"Sudah bos, seperti biasa, aku titip ke perawat." jawab Ryan.
"Gimana kabarnya?"
"Seperti biasa juga, nyonya selalu ditemani Ulfa dan Rey.." mendengar nama Rey yang selalu menemani Atta, wajah Ernes langsung berubah.
Perasaannya campur aduk, ada rasa khawatir di dalam hatinya, ada rasa takut juga, dan rasa kesal. Perasaan seperti itu yang belum pernah dia rasakan sama sekali sebelumnya.
"Rey siapa?" tanya Cintya.
"Temannya Atta." jawab Ernes singkat.
Cintya lalu menyadari jika Ernes sedang dilanda cemburu sekarang. "Balik aja yuk! Jangan lupa besok pagi kita meeting dan survey ke proyek!" Cintya mengingatkan lagi mengenai pekerjaan. Karena hanya pekerjaanlah yang mampu mengalihkan pikiran Ernes dari Atta.
"Iya, besok full untuk pekerjaan." Ernes tidak mau menunda pekerjaannya lagi. Dia juga harus bersikap profesional. Untuk mengganti dua hari yang mengacaukan pekerjaannya.
"Oke.." Cintya kemudian pergi.
"Bos, mau minum?" tanya Ryan.
Seketika Ernes menoleh menatap Ryan. Tidak biasanya Ryan menawarkan untuk minum bareng. Dia yakin, Ryan pasti juga sedang ada masalah.
"Kamu ada masalah?" Ernes langsung menebak.
Ryan tidak menyembunyikannya dari Ernes. Dia menganggukan kepalanya. "Beberapa hari ini Ulfa marah sama aku." jawab Ryan.
Karena merasa butuh saling cerita, keduanya pergi ke club biasa, milik Andhika. Ryan dengan gamblang menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan Ulfa.
"Ulfa lebih sensitif sekarang. Kita sering ribut hanya karena masalah kecil." ucap Ryan setelah menenggak minuman keras ditangannya.
"Dia bahkan sering menyalahkan bos karena kondisi ibunya nyonya saat ini." imbuh Ryan tanpa ada yang disembunyikan.
"Atta juga seperti itu. Tapi aku harus gimana? Aku nggak mungkin salahin Cintya hanya karena Atta tidak suka sama dia, kan?"
"Sebenarnya aku juga menyesalkan kenapa Cintya datang, tapi apa aku harus menolak niat baik dia? Cintya tuh baik, dia temen lama aku, dan aku tahu semua tentang dia. Dia tidak seperti Atta dan ibunya pikir." kata Ernes sangat yakin jika Cintya masih sama seperti Cintya yang dulu.
"Aku juga kangen, Yan.. Aku juga ingin memberikan dia pelukan supaya dia tenang dan tidak merasa sendiri." imbuh Ernes.
"Bos jatuh cinta sama nyonya?" pertanyaan Ryan tersebut membuat Ernes terdiam lama. Ernes tidak menjawab, hanya terus menenggak minuman yang ada di depannya.