
Atta pergi dari rumah Ernes dengan marah. Dia berjalan sampai ke depan komplek rumah Ernes. Di perjalanan, Atta tidak sengaja bertemu dengan Gio dan Vanka yang baru saja pulang dari kantor.
Gio menghentikan mobilnya dan menawari Atta tumpangan. "Kak Atta dari jengukin mama?" tanya Gio.
"Iya Gi,"
"Kak Atta mau pulang? Biar kita anter ya!" sahut Vanka yang berada di dalam mobil yang sama dengan Gio.
Tanpa menunggu jawaban Atta. Gio segera memutar mobilnya. Atta yang merasa sungkan akhirnya naik ke mobil Gio.
Begitu masuk ke mobil, dia disambut heboh oleh Kiano dan Keysha. "Tante mau kemana? Kenapa nggak sama paman?" tanya Kiano.
"Tante mau pulang sayank. Paman lagi sakit." jawab Atta dengan lembut.
"Kalau gitu kita main di mall dulu ya pa, sama tante!" pinta Kiano.
"Tante harus pulang, dan harus kerja. Besok kalau tante libur, kita ajak tante main.." jawab Gio tidak ingin mengganggu privasi Atta dengan rengekan anaknya.
"Tante..." Kiano menatap Atta dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak bisa menolak rengekan bocah lelaki tersebut. Atta menganggukan kepalanya, "iya kita main, tante kerjanya masih nanti kok.." jawaban Atta tersebut disambut riang oleh Kiano.
Gio segera melajukan mobilnya menuju mall tempat biasa mereka hangout. Sekalian Gio ingin membujuk Atta agar kembali baikan dengan kakaknya.
Sambil menunggu Kiano dan Keysha main. Atta, Gio, dan Vanka mengobrol serius. Gio meminta Atta untuk memaafkan perkataan kakaknya waktu itu.
"Aku yakin kak Ernes bukan sengaja ingin menyakiti hati kak Atta. Mungkin karena dia sedang panik dan khawatir dengan keadaan mama aja." ucap Gio.
"Gi, aku udah nggak marah kok karena tuduhan Ernes waktu itu. Pertimbanganku untuk berpisah, karena rumah tangga kami terlalu rapuh."
"Kamu pasti sudah tahu kan alasan kenapa kami menikah?" Gio menganggukan kepalanya. Ya, Gio tahu semuanya karena kakaknya cerita semua kepadanya.
"Lagipula, semenjak kedatangan Cintya kakak kamu sudah mulai berubah. Dia tidak lagi percaya sama aku. Dan semakin dekat dengan Cintya, aku seperti orang ketiga diantara mereka." Atta mulai mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku juga seorang yang memiliki perasaan Gi, Van.. Aku nggak suka lihat kedekatan mereka. Apa aku salah Gi? Apa aku salah Van?" Atta mulai berkaca-kaca.
"Nggak kak. Kak Atta nggak salah! Wajar kalau kak Atta cemburu dengan kedekatan kak Ernes dan kak Cintya. Kalau aku boleh menebak, kak Atta jatuh cinta sama kak Ernes?" jawab Vanka sekalian memastikan perasaan Atta kepada kakak iparnya.
Di depan sepasang suami istri itu, Atta tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia mengakui jika dia telah jatuh cinta kepada Ernes. "Ya, aku akui, aku telah jatuh cinta sama Ernes. Aku sudah menahan perasaanku, karena aku yakin tak akan terbalas. Tapi aku semakin hanyut dalam perasaan ini. Aku harus bagaimana?" Atta mulai menangis.
Air mata yang sudah lama dia tahan, akhirnya pecah juga. Vanka maju dan memeluk Atta. "Kak, kalau kak Atta cinta sama kak Ernes, kenapa kak Atta minta cerai?" tanya Vanka.
"Karena untuk apa mengurung orang yang tidak cinta dengan kita? Aku berhak bahagia dan dia lebih berhak untuk bahagia. Aku tidak pernah menyesali perasaanku ke dia, hanya saja aku ingin kebahagiaan diantara kita. Dan bahagia itu tidak untuk bersama." jawab Atta masih menangis sesegukan.
"Tapi kak, sebagai adik kak Ernes, aku tahu jika kak Ernes sebenarnya tertarik dengan kak Atta. Hanya saja mungkin dia belum menyadarinya.." sahut Gio.
"Aku tahu siapa yang Ernes cintai. Jadi jangan bikin aku geer, Gi.."
Kringgg!!
Kringg!!!
Tiba-tiba ponsel Atta berbunyi. Dia segera mencari ponselnya didalam tas. "Aku angkat telepon bentar! pamitnya, tapi tanpa sengaja menjatuhkan isi tasnya.
"Ya Rey, ada apa?" tanya Atta sembari membereskan barangnya yang jatuh.
"Bisa kita ketemu sekarang? Ada hal penting yang ingin aku katakan!" ucap Rey dari seberang telepon.
"Sekarang banget?"
"Iya, aku tunggu kamu ditaman dekat rumah kamu! Buruan datang!"
Tuttt..
"Hallo Rey,, Rey!!" ternyata Rey sudah mematikan teleponnya.
Atta yang terburu-buru segera bangkit. "Maaf ya Van, Gi, aku harus segera balik, ada sesuatu yang penting.." pamitnya.
"Kiano.. Keysha.. tante pulang dulu! Kapan-kapan main lagi!!" ucap Atta sembari pergi dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati kak!" seru Vanka.
Vanka dan Gio menatap kepergian Atta dengan menghela nafas panjang. Namun, mereka fokus dengan nama yang Atta sebut.
"Rey itu siapa ya Van? Kayaknya deket banget sama kak Atta?" tanya Gio.
"Aku juga nggak tahu. Kapan-kapan kita tanya aja kalau penasaran!" jawab Atta.
Setelah melihat tantenya pergi dengan terburu-buru, Kiano dan Keysha mendekati papa dan mamanya. "Tante mau kemana sih pa?"
"Tante mau kerja sayank.. Yuk kita pulang, kapan-kapan main lagi!" Gio segera menggandeng tangan Kiano dan menggendong Keysha.
Ketika membuka amplop tersebut, Vanka sempat terkejut menemukan selembar foto usg. Karena penasaran, Vanka membuka kertas yang ada di dalam amplop itu juga.
Dan, Vanka kembali terkejut saat mengetahui jika kertas tersebut adalah kertas hasil pemeriksaan milik Atta. Dan dikertas itu juga menyatakan jika Atta sedang hampir 10 pekan.
"Gi! Lihat ini!" Vanka menunjukan kertas dan foto usg tersebut kepada suaminya.
"Itu apa Van?" tanyanya belum paham.
"Ini hasil pemeriksaan kak Atta. Kak Atta hamil Gi, ini foto usg-nya.." Vanka merasa ingin melompat karena merasa sangat bahagia.
"Kak Atta hamil?" Gio juga terkejut mendengar kabar tersebut.
"Iya, kalau dari hasil pemeriksaannya sih, sudah memasuki pekan ke 10.." jawab Vanka benar-benar sangat bahagia mengetahui kehamilan Atta.
"Kita harus segera kasih tahu kak Ernes!" ujar Gio.
"Tapi, aku rasa kak Atta sengaja sembunyiin ini dari kita. Mungkin kak Atta juga masih belum mau kasih tahu kak Ernes. Apa sebaiknya kita sembunyiin dulu juga?" Vanka ragu untuk memberitahu kabar gembira tersebut kepada kakak iparnya.
"Justru ini akan membantu kita supaya kak Atta dan kak Ernes bisa kembali bersama." jawab Gio.
"Kak Ernes pasti sangat bahagia dengan kabar ini, dia juga menginginkan anak.." imbuh Gio.
"Benar juga, kita bisa satukan mereka lagi. Kak Atta sudah membantu kita kemarin, sekarang giliran kita yang bantu kak Atta!" kata Vanka mulai yakin.
"Tenang aja, nanti biar aku yang bilang ke kak Ernes!"
"Sekarang kita pulang dulu yuk!" Gio segera mengajak anak dan istrinya pulang terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah, dia segera mencari kakaknya. Pertama dia mencari ke kamar mamanya, karena tiap pulang kerja, kakaknya langsung ke kamar mamanya sampai malam.
"Kak Ernes belum pulang ma?" tanya Gio.
"Kakak kamu dikamar, katanya nggak enak badan." Gio segera berlari ke kamar kakaknya begitu mamanya selesai bicara.
Gio masuk ke kamar kakaknya yang tidak terkunci. Dia melihat kakaknya yang sedang berbaring sembari main hape.
"Kebiasaan, kalau masuk nggak mau ketuk pintu!" Ernes mengomel adiknya yang main nyelonong masuk ke kamarnya.
Gio hanya tersenyum diomeli oleh kakaknya. Dia melihat wajah Ernes yang agak pucat. "Lo sakit?" Gio menempelkan tangannya ke dahi Ernes untuk memastikan suhu tubuh Ernes.
"Hmm, agak nggak enak badan. Kenapa?"
"Pasti karena kangen kak Atta.." Gio menggoda kakaknya.
"Nggak, ngapain juga kangenin dia.."
"Nih, obat untuk kakak!" Gio memberikan amplop yang dia temukan kepada kakaknya.
"Ini apa?" tanya Ernes mengerutkan keningnya.
"Obat untuk lo.." jawab Gio.
Ernes yang semakin penasaran segera membuka amplop berisi kertas hasil pemeriksaan dan sebuah foto usg. Mata Ernes membulat tatkala melihat isi amplop tersebut. Semakin kaget saat membaca kertas hasil pemeriksaan tersebut.
"Lovata? Ini punya Atta?" Gio tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
"Atta hamil?" tanya Ernes masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya. Kak Atta hamil, dan ini foto calon anak lo.." Gio menunjuk foto usg tersebut.
Tangan Ernes gemetar saat melihat foto usg tersebut. Cairan bening sudah menumpuk disudut matanya. Disentuhnya foto tersebut.
"Kak, sekarang lo tahu kalau kak Atta hamil. Apa kalian beneran akan berpisah? Terus gimana nasib anak ini?" tanya Gio dengan serius.
"Siapa bilang gue mau pisah? Itu kan maunya Atta, kalau gue sih nggak mau.." jawab Ernes sembari terus menatap foto usg tersebut.
"Jadi?"
"Jadi gue bakal kejar dia. Gue nggak mau anak gue lahir kekurangan kasih sayang papa dan mamanya. Ini anak gue, kelangsungan hidup gue.." ucap Ernes.
Gio menjadi tersenyum senang. Awalnya dia mengira jika akan sulit membujuk kakaknya. Tapi ternyata tebakannya benar, kakaknya memang tertarik dengan Atta.
"Kakak suka sama kak Atta? Atau hanya demi anak lo?" tanya Gio ingin memastikan.
"Nggak tahu. Yang jelas, gue nggak rela dia sama orang lain. Dan gue nggak akan biarin anak gue dirawat orang lain." jawaban ambigu Ernes tersebut membuat Gio tersenyum.
Ya, Gio yakin jika kakaknya juga cinta sama Atta.
"Kalau gitu lo harus kejar kakak ipar gue! Gue nggak mau kakak ipar yang lain! Gue cuma mau kak Atta, begitu juga papa dan mama nggak mau menantu lain, maunya cuma Vanka dan kak Atta!" Gio menyemangati kakaknya yang mengatakan akan mengejar istrinya kembali.