
Setelah selesai membahas pekerjaan. Cintya meminta Ernes untuk menemaninya makan siang. Kebetulan keduanya memang belum makan siang. Jam istirahat juga masih tersisa setengah jam.
"Boleh, kita makan di kafe depan aja!" pinta Ernes. Dia sengaja mengajak Cintya di kafe depan kantornya agar supaya bertemu dengan Atta. Dengan begitu dia bisa memantau Atta dengan teman Sinta.
Keduanya segera menuju kafe yang dimaksud. Dan benar saja, Atta dan Sinta masih berada di kafe tersebut bersama dua orang lelaki yang sama seperti di dalam foto Atta semalam.
Salah satu dari lelaki tersebut duduk dekat dengan Atta. Dari caranya menatap Atta bisa dipastikan jika lelaki tersebut menyukai Atta.
"Sayank, kamu masih disini?" tanya Ernes yang tiba-tiba muncul dan berjalan mendekat ke meja Atta.
Tentu saja kemunculan Ernes tersebut membuat kedua lelaki tersebut menjadi terkejut. Apalagi Ernes memanggil 'sayank'. Kedua saling berpandangan dan saling bertanya-tanya. Siapa yang dipanggil 'sayank'. Apakah Sinta atau Atta.
"Itu bos kita." ucap Sinta.
"Suami aku." ucap Atta yang semakin membuat kedua lelaki tersebut keget bukan main.
"Hai, udah selesai meetingnya?" sapa balik Atta saat Ernes sudah mulai dekat.
"Hmm, Cintya ngajak makan siang. Boleh kita gabung sekalian?" tanya Ernes ingin selalu dekat dengan Atta.
"Boleh kok pak, silahkan." Sinta tentu tidak berani menolak permintaan bos-nya.
"Kita makan bareng mereka aja ya Cin, biar seru banyak yang diajak ngobrol.." Cintya hanya menganggukan kepalanya.
Sebenarnya Cintya hanya ingin makan berdua dengan Ernes seperti tadi malam. Tapi, tidak mungkin kan dia memaksa makan berdua saja apalagi ada istrinya Ernes.
Jadi, Cintya memilih untuk gabung saja dengan mereka.
Atta memperkenalkan Ernes kepada teman-teman barunya. "Ini suami aku sekaligus bos aku dan Sinta.." perkataan Atta tersebut membuat Ernes merasa senang.
"Dan ini klien suami aku, bu Cintya.." Atta juga memperkenalkan Cintya agar tidak canggung nantinya.
Mereka berkenalan masing-masing. Baik Cintya dan lelaki yang suka dengan Atta terus memperhatikan Atta dan Ernes yang sedang mengumbar kemesraan. Keduanya saling suap menyuapi.
Bukan hanya mereka berdua. Tapi juga Sinta yang baru melihat sisi lain dari bos dinginnya. Ternyata keceriaan Atta mampu meruntuhkan gunung es.
"Diem." Atta meminta Ernes diam, sementara dia mencari tissue untuk mengelap sisa makanan yang menempel disudut bibir Ernes.
"Makan kayak anak kecil.." gumam Atta.
"Betapa beruntungnya si sopir ini, karena majikannya begitu peduli.." ucap Ernes mulai konyol lagi.
Sementara Atta tidak bisa menahan ketawa saat dia mendengar perkataan Ernes sembari menyeka sisa makanan disudut bibir Ernes. "Makanya sadar diri jangan sok jadi playboy! Kurang baik apa lagi coba si tuan putri ini.." Atta memuji dirinya sendiri.
Ernes pun ikutan tertawa mendengar perkataan Atta yang memuji dirinya sendiri. Dia bahkan mendorong kepala Atta pelan saking gemesnya.
Pemandangan tersebut terasa indah bagi Sinta tapi terasa menjengkelkan bagi Cintya dan lelaki yang suka dengan Atta.
Atta melirik Cintya yang terlihat kesal. Sepertinya Atta dengan sengaja membuat Cintya kesal. Atta menjadi semakin yakin jika Cintya memiliki perasaan yang lebih untuk suaminya.
"Nanti jadi kan jengukin Aiko?" tanya Atta.
"Hmm, bareng sama mama dan Vanka juga." jawab Ernes.
"Aiko kenapa Nes?" tanya Cintya tiba-tiba.
Atta pun memicingkan matanya. Apakah Cintya juga mengenal Aiko.
"Aku boleh ikut nggak? Sekalian mau ketemu tante Ines, udah lama nggak ketemu, kangen.." imbuh Cintya yang kembali membuat Atta memicingkan matanya.
"Gio masih sama pacarnya yang dulu?"
"Awet yak mereka.." Ernes menganggukan kepalanya.
"Dulu Cintya sering main ke rumah, jadi dia kenal sama mama dan Gio.." ucap Ernes sepertinya ingin menjelaskan kepada Atta.
"Iya, dulu kita sempat dekat, Ernes sering ajak aku ke rumahnya. Ernes kan sama sekali tidak punya teman wanita selain aku. Kalau Aiko kan sepupunya." entah apa maksud Cintya menjelaskan semuanya ke Atta.
"Ernes dulu tuh pemalu.." imbuh Cintya seolah ingin memberitahu jika dia lebih mengenal Ernes dibanding Atta.
"Tapi untungnya sekarang dia nggak lagi pemalu tapi malu-maluin..." Atta tetap berusaha tenang. Dia menyenggol lengan Ernes sembari mengoloknya.
"Enak aja. Aku kan imbangin kamu."
"Jadi aku malu-maluin gitu?" tanya Atta dengan kesal.
"Nggak, siapa yang bilang. Kamu nggak malu-maluin tapi kamu tuh cantik.." Ernes dengan cepat mengecup pipi Atta.
Sama seperti Atta, sepertinya Ernes sengaja membuat lelaki yang suka dengan Atta itu menjadi kesal. Karena lelaki itu sedari tadi melirik Atta terus-terusan.
Karena merasa canggung, kedua lelaki itu akhirnya pamit. "Kapan-kapan ketemu lagi ya, Ta!" ucap lelaki itu.
"Atta sibuk nggak punya waktu untuk main!" Ernes menyahut. Dia mempertegas statusnya sebagai suami Atta.
Lelaki itu hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi dari kafe tersebut.
....
Kembali ke kantor karena jam istirahat sudah habis. Tapi, Ernes dengan sengaja menahan Atta di ruangannya. "Gimana rasanya disukai lelaki lain padahal kamu sudah punya suami?" tanya Ernes.
"Ngomong apa sih.. Aku mau kamu jelasin siapa Cintya sebenarnya! Jangan ngalihin pembicaraan deh.."
"Jelasin gimana? Dia klien aku dan teman lama aku."
"Dulu kalian pacaran?" Atta penasaran bagaimana Cintya bisa dekat dengan Ernes dan mengenal keluarga Ernes. Kalau bukan hubungan special apa mungkin Cintya diajak ke rumahnya. Apalagi Ernes tidak punya teman wanita lain.
Ernes terdiam, membuat Atta menjadi kesal. "Oh jadi bener dia pacar kamu. Hebat ya, bisa-bisanya peluk-pelukan sama mantan di taman yang indah. Pasti mantan special.." sindir Atta.
"Jadi kangen mantan.." imbuh Atta jelas sedang memprovokasi Ernes.
Seketika Ernes menatap Atta dengan tajam. Tanpa berkata lagi Ernes segera menyambar bibir Atta. "Uhm.."
Dengan sengaja mendorong Atta ke meja kerjanya. Membuka jas yang ia kenakan. Masih dengan tetap mencium paksa Atta. Ciuman itu semakin kuat, berpindah ke leher dan turun lagi sampai di gundukan daging kenyal.
Segera melepas kancing baju Atta dan menggigit diarea empuk tersebut. Memainkannya dengan lidah membuat Atta merasa geli.
Semakin turun sampai ke perut. Ernes mengangkat tubuh Atta ke atas meja. Lalu mengangkat kedua kaki Atta. Kemudian menyelipkan kepalanya diantara kedua kaki tersebut.
"Aduh..." seru Atta ketika sesuatu menyentuh diarea sensitifnya.
Tangannya mencengkeram rambut Ernes dan semakin menekan kepala Ernes.
Tubuh Atta menggeliat. Saat itu rok-nya sudah berada diatas. Sedangkan masih bermain-main diarea tersebut menggunakan lidahnya.
Sesaat kemudian Ernes mengangkat tubuh Atta dan membawanya ke kamar. Dilemparlah Atta ke kasur. Dengan segera membuka baju dan celananya. Menarik Atta agar dalam posisi duduk. Kemudian mengarahkan sesuatu yang keras ke mulut Atta. Sedikit menggoyangkan tubuhnya sembari memegangi kepala Atta. Semakin lama semakin cepat. Hingga memuntahkan semua ke mulut Atta.
Tidak sampai disitu aja. Ernes yang dilanda cemburu pun melakukannya hingga tiga kali membuat Atta kelelahan. Ernes ingin melakukannya lagi, tapi melihat Atta yang kelelahan dirinya mengurungkan niatnya.
Atta sangat tidak menyangka jika Ernes bisa sebrutal itu. Atta pun tertidur karena merasa sangat lelah. Dia merasa kekuatannya telah habis untuk melawan Ernes.