Sudden Mariage

Sudden Mariage
47



Ryan juga ikut ke apartemen untuk menahan Atta tetap tinggal. Tapi, Rey selalu menjauhkannya dari Atta. Dia tidak ada kesempatan untuk mendekati Atta yang sedang membereskan pakaiannya.


"Ryan, mending kamu pulang! Apapun yang terjadi, aku tetap pada keputusanku." ucap Atta dengan agak kesal karena Ryan terus saja menahannya.


Ryan segan untuk melawan Atta. Akhirnya dia menunggu diparkiran saja sembari terus berusaha menghubungi Ernes.


Di saat dia benar-benar emosi, tiba-tiba ada panggilan masuk. Ryan membulatkan matanya melihat siapa yang meneleponnya. Segera dia menerima panggilan masuk tersebut.


"Hallo bos, syukurlah bos bisa dihubungi sekarang.."


"Atta gimana?" tanya Ernes dari seberang telepon dengan panik, terdengar dari suaranya yang gelisah.


"Nyonya sudah kembali ke apartemen."


"Syukurlah.. Aku sudah perjalanan pulang tadi sibuk banget.." ucap Ernes.


"Nyonya membereskan barang-barangnya, dia akan pindah ke rumah kontrakan yang lama."


"Apa?" mendengar perkataan Ryan, seketika Ernes menginjak gas. Buru-buru pulang ke apartemen.


Ya, Ernes tahu jika saat ini mungkin Atta sedang marah dan salah paham kepadanya.


"Kenapa Nes?" tanya Cintya yang berada di sebelahnya.


Hari ini, Ernes menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda bersama Cintya dan bos Cintya. Juga peletakan batu pertama untuk proyek mereka.


Kebiasaan Ernes, dia akan mematikan ponselnya dan menyerahkan pekerjaan lain kepada Ryan atau sekretarisnya saat dia sedang sibuk dengan proyek penting. Karena dia ingin fokus dan tidak ingin diganggu.


"Mertuaku meninggal.." jawab Ernes merasa sedih.


"Ya ampun, terus?"


"Udah dimakamin sih, aku mau temui Atta diapartemen, dia pasti sedih banget sekarang dan pasti salah paham sama aku." jawab Ernes yang terlihat begitu sangat sedih.


"Aku ikut ya, nanti aku bantu jelasin ke Atta!" pinta Cintya.


"Nggak usah, kamu naik taksi ya? Maaf aku nggal bisa nganter sampai rumah.." Ernes menolak tawaran Cintya. Bukannya tidak mau menerima niat baik Cintya. Hanya saja Ernes tidak mau menambah masalah jika dia datang bersama dengan Cintya. Karena akar permasalahannya dengan Atta juga karena Atta yang cemburu dengan Cintya.


"Oh, iya nggak apa-apa Nes.." meskipun agak kecewa, tapi Ines tetap tersenyum di depan Ernes. Dia ingin menciptakan citra baik di depan Ernes untuk menarik simpati Ernes.


Setelah sampai di persimpangan jalan ke tempat tinggal masing-masing, Ernes segera menurunkan Cintya. Dengan buru-buru segera pergi ke apartemen untuk menemui Atta.


Ernes segera berlari dan meminta Ryan untuk memarkirkan mobilnya. "Atta sudah keluar?" tanyanya dengan buru-buru.


"Belum bos.."


"Parkirin mobilku!" Ernes segera berlari.


Begitu masuk, dia melihat Atta sedang membereskan barang-barang ibunya dibantu mbak perawat dan juga pembantunya. Sementara Rey sedang mengemas barang Atta yang lain.


"Ta, kamu mau kemana?" tanya Ernes dengan nafas ngos-ngosan.


"Pulang.." jawab Atta dingin.


"Pulang kemana? Ini rumah kamu.." namun Atta hanya diam saja. Dia tidak menghentikan aktifitasnya.


"Aku minta maaf, karena aku nggak tahu kalau ibu nggak ada.." saat Ernes bicara, perawat dan pembantu mereka langsung pergi. Mereka tahu jika majikan mereka perlu bicara berdua.


"Aku tahu kamu sibuk. Aku juga tahu kalau aku dan ibuku tidak penting untuk kamu." paruh pertama perkataan Atta, Ernes menganggukan kepalanya. Tapi begitu paruh kedua, dia pun membulatkan matanya.


Atta kembali terdiam. Selesai membereskan barang ibunya, Atta segera keluar dari kamar ibunya dan menghampiri Rey yang sudah menunggu. Ernes mengikutinya dan menahan tangannya. "Jangan pergi! Jangan tinggalin aku!" ucap Ernes memohon.


Akan tetapi, ternyata Cintya sengaja mengikuti Ernes sampai ke apartemennya. Tentu saja kehadiran Cintya membuat Atta dan Ernes menjadi kaget.


"Cin, kenapa kamu disini?" tanya Ernes dengan kesal karena Cintya tidak mendengarkan perkataannya.


"Maaf Nes, aku mikirin dari tadi setelah aku turun dari mobil kamu. Aku rasa aku perlu jelasin ke Atta." ucap Cintya dengan muka polos.


"Ta, Ernes tadi beneran sibuk. Dia matiin ponselnya supaya pekerjaan pentingnya tidak terganggu. Pekerjaannya tertunda beberapa hari belakangan, karena tercampur aduk oleh masalah pribadinya. Jadi, aku mohon kamu maafin Ernes ya!?" ucap Cintya yang justru membuat Atta semakin marah.


"Kamu kayaknya paham banget tentang Ernes. Kalian cocok deh kayaknya.." ucap Atta.


"Kamu ngomong apa sih?" Ernes tidak suka dengan perkataan Atta itu.


"Aku mau kita pisah!" ucap Atta.


Duarrr...


Ernes membulatkan matanya. Dia sama sekali tidak pernah berpikiran untuk berpisah dengan Atta. Meskipun dia sadar pernikahan itu hanyalah pernikahan terpaksa. Tapi, dia sama sekali tidak berpikiran untuk berpisah dengan Atta.


"Ta, aku bisa jelasin semua. Please, jangan kayak anak kecil dong!" pinta Ernes masih memiliki kesabaran untuk Atta.


"Tujuan aku nikahin kamu karena ibuku. Sekarang ibuku sudah nggak ada, apa yang perlu dipertahanin? Sementara aku tidak pernah mencintai kamu.."


Jleb!!


Perkataan Atta tersebut menembus ke jantung Ernes. Entah kenapa dia merasa hatinya sangat sakit saat Atta berkata dia tidak mencintainya.


"Atta, jangan kayak gini dong, tolong dipikirin lagi keputusan kamu!" Cintya mendekati Atta dan meminta Atta untuk memikirkan ulang mengenai keputusannya yang ingin berpisah dengan Ernes.


Tetapi, Atta melihat jelas jika Cintya tersenyum kepada. Senyuman itu seperti senyuman yang ingin meledek Atta. Dia pun menjadi kesal dan langsung mendorong Cintya. "Jangan dekati aku!" seru Atta dengan sekuat tenaga mendorong Cintya.


Lagi-lagi kepala Cintya membentur sesuatu. Jika waktu itu kepalanya terbentur dinding. Kali ini kepala Cintya terbentur sudut sofa yang cukup keras. Seketika dahinya berdarah karenanya.


Melihat apa yang Atta lakukan tersebut membuat Ernes menjadi marah. Dia tidak habis pikir jika Atta bisa melakukan hal tersebut hanya karena cemburu. Padahal niat Cintya datang untuk membantu mereka berbaikan.


"Atta!! Cukup ya, kamu sudah sangat keterlaluan!" seru Ernes sembari membantu Cintya berdiri.


"Kamu nggak apa Cin?" tanya Ernes dengan lembut.


"Nggak kok, Nes.." Cintya masih bisa tersenyum.


"Aku nggak nyangka kalau kamu bisa lakukan hal seperti ini.. Kamu berubah tahu nggak?" Ernes memarahi Atta.


Atta yang kesal pun menjawab,"Ya ini aku yang sebenarnya. Aku emang kasar dan tidak sebaik kamu pikir. Maka dari itu, kita akhiri semua sampai disini!" ucap Atta dengan kesal.


"Yuk, Rey!" imbuhnya kemudian berjalan meninggalkan apartemen tersebut dengan kepala tetap tegak. Meskipun matanya tidak bisa bohong. Dia sangat kecewa kepada lelaki yang telah menjadi suaminya tersebut.


"Ta, Atta..." Cintya berusaha memanggil-manggil Atta saat Atta keluar dari aparteman tersebut.


"Nes, kejar dia! Jangan sampai hubungan kalian berantakan!" pinta Cintya.


Akan tetapi, Ernes hanya diam dan tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya. "Nes, kamu harus kejar Atta!" pinta Cintya lagi.


"Biarin aja dia pergi. Kalau itu memang yang terbaik, biarin aja!" ucap Ernes dengan ekspresi muka marah.


"Aku obati luka kamu!" Ernes membawa Cintya ke sofa kemudian membalut luka didahi Cintya.