Sudden Mariage

Sudden Mariage
67



Sesaat Atta terharu dengan perkataan Ernes. Tapi, dia memilih untuk menganggap omongan itu sebagai angin lalu. Dia tidak mau terlena seperti kemarin. Dan pada akhirnya dia akan kecewa lagi.


"Tolong lepasin aku! Kita bisa rawat dia bareng, tapi tidak untuk bersama." ucap Atta.


"Kamu mau pisahin aku dari anak aku?" tanya Ernes.


"Bukan gitu. Tapi aku akan kasih tahu dia siapa papanya, tapi kita jalan masing-masing.." Ernes semakin menatapnya tajam.


"Karena nggak bisa lanjutkan rumah tangga ini. Jangan hanya karena anak, kita harus pura-pura menjalani rumah tangga seperti ini! Sebuah rumah tangga, harus didasari rasa cinta, kesetiaan, dan kepercayaan serta kejujuran. Dan rumah tangga ini tidak ada dasar itu.." lanjut Atta.


"Aku mau pulang. Terima kasih karena sudah menolong aku semalam.. Aku akan jaga anak ini baik-baik kok, karena dia juga darah dagingku." Atta segera pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Ernes yang mematung.


Cinta?


Kepercayaan?


Ernes memikirkan perkataan Atta tersebut sebagai sebuah sindiran untuknya. Ya, memang harus dia akui. Dari beberapa hal yang Atta sebut sebagai dasar berumah tangga. Dua hal tersebut yang masih terasa semu.


Sebenarnya Ernes juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah dia mencintai Atta, atau hanya karena anak yang Atta kandung yang membuatnya tidak mau melepaskan Atta.


Masalah kepercayaan, dia sadar jika dia masih sering tidak percaya dengan Atta. Terakhir, dia menuduh Atta ingin mencelakai mamanya karena Atta ingin balas dendam kepadanya.


Meskipun dia telah menyesalinya tapi itu sudah membuat Atta merasa sangat sakit hati. Yang tentunya yang membuat Atta enggan melanjutkan rumah tangga mereka dan bersikekeh untuk minta cerai. Karena keberadaan Cintya yang ambigu di dalam hubungan rumah tangga mereka.


Akan tetapi, saat dia masih melamun. Tiba-tiba Ryan datang. "Bos, bos nggak apa-apa?" tanya Ryan.


"Nggak, emang kenapa?" tanya Ernes.


"Aku ketemu nyonya di depan. Sepertinya sedang terburu-buru. Aku kira nyonya kabur karena berantem dengan bos." jawab Ryan.


"Bukan berantem, tapi lebih tepatnya dia ngambek. Apa wanita memang sesusah itu sih? Bikin pusing.." ucap Ernes sembari mengambil jaketnya yang dia taruh di sofa.


"Gimana tugas kamu?" tanya Ernes berjalan keluar dari kamar tersebut.


"Informasinya sih wanita itu memang ibunya Cintya, dan lelaki itu masih suami Cintya. Mereka menikah karena paksaan dari papanya Cintya. Lelaki itu anak dari salah satu musuh kita yang pernah kita hancurin usahanya. Tapi mengenai siapa orang tuanya, aku masih selidiki sih.." jawab Ryan.


"Bagus. Laporkan secepatnya!"


"Siap."


"Oh ya, atur orang untuk lindungi Atta. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan Atta dan anaknya!" perintah Ernes.


"Laksanakan bos.."


Ernes dan Ryan segera pergi ke kantor. Sebelumnya, mereka pergi ke bagian administrasi rumah sakit untuk membayar biaya perawatan Atta. Tetapi, ternyata Atta sudah membayarnya sendiri sebelum meninggalkan rumah sakit.


"Ish, wanita ini bener-bener..." gumam Ernes.


.....


Sementara saat Atta meninggalkan kamar rawatnya. Dia bertemu dengan Ulfa yang hendak menjenguknya. Seperti orang yang dikejar-kejar, Atta segera menarik Ulfa untuk meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Kenapa sih Ta?" tanya Ulfa.


"Nyonya kok udah keluar? Bos Ernes kemana?" tanya Ryan yang memang sedang bersama dengan Ulfa saat itu.


"Masih dikamar.." Atta terus menarik tangan Ulfa.


"Mau kemana sih?"


"Pokoknya ayo buruan!"


"Pelan-pelan, kamu sedang hamil sekarang!" Ulfa memperingatkan agar Atta berhati-hati.


Di taman itu, Atta menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Ulfa. Juga mengenai Ernes yang masih tidak mau bercerai.


"Emang kamu udah yakin dengan perceraian ini?" tanya Ulfa yang masih ragu dengan keputusan Atta. Karena dia tahu Atta mencintai Ernes.


"Ya. Aku ingin berumah tangga atas dasar cinta." jawab Atta.


"Tapi dari cerita kamu barusan, aku rasa Ernes sebenarnya juga cinta sama kamu."


"Nggak mungkinlah. Jangan bikin aku geer deh.."


"Jadi geer nih.." Ulfa malah menggoda Atta.


"Ish, nyebelin.." wajah Atta telah memerah karena godaan Ulfa.


Ulfa terbahak ketika melihat wajah Atta memerah. Dia kemudian memeluk sahabatnya itu. "Ta, jangan terlalu banyak pikiran! Kamu juga harus ingat anak yang kamu kandung!" ucap Ulfa.


Atta tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Aku akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan sungkan minta bantuan ke aku!" lanjut Ulfa.


"Iya, makasih ya Fa.." Atta juga memeluk Ulfa.


Selain Rey yang juga selalu siap sedia. Dia masih memiliki Ulfa yang juga tak kalah baiknya. Ulfa juga sangat menyayangi Atta. Bahkan dia rela putus dari Ryan yang adalah assisten pribadi suaminya Atta.


Meskipun Atta tidak pernah mengharapkan hal tersebut. Tapi Ulfa ingin menunjukan solidaritasnya.


"Ryan gimana? Kamu betah nahan kangen?" tanya Atta.


Ulfa langsung mendorong pelan Atta dari pelukannya. "Nj*r, jangan ngeledek deh!" ucapnya.


"Tadi dia bilang kangen, rayu aku juga. Ihh gemesin..." Ulfa kegirangan saat mengingat pertemuannya dengan Ryan di rumah sakit tadi.


"Nggak usah sok-sokan deh, ntar kalau Ryan diambil orang mewek deh.."


"Eh si anj*r, kan aku cuma mau tunjukin solidaritas ke kamu.." Ulfa mendorong kepala Atta pelan.


"Fa, aku nggak perlu kamu seperti itu. Nggak perlu kamu korbanin perasaan kamu seperti itu untuk aku. Karena aku tahu jika kamu sangat sayang sama aku." ucap Atta.


"Ta..." Ulfa kembali memeluk Atta.


"Jangan sampai persahabatan kita ini justru membuat kamu mengorbankan perasaan kamu sendiri! Kita juga berhak bahagia dengan pasangan kita. Aku juga nggak masalah kamu sama Ryan, dia lelaki yang baik.." ucap Atta lagi.


Ulfa tidak berkata apa-apa. Dia hanya memepererat pelukannya.


Tak lama, mereka kemudian menuju rumah Atta. Sedangkan Ulfa tidak mau berangkat ke kantor. Dia ingin menemani Atta seharian.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Atta.


"Nggak. Seharian ini aku akan jadi pelayan kamu. Aku akan melayani semua kebutuhan kamu." jawab Ulfa.


"Nggak perlu lah, aku udah biasa apa-apa sendiri.." Atta menjadi tidak enak hati karena Ulfa harus bolos kerja demi menemani dia.


"Hussstt.. Aku nggak mau ditolak! Kamu harus nurut!" sahut Ulfa dengan cepat.


"Fa, jangan repot-repot lah!"


"Aku nggak repot sama sekali. Aku emang malas pergi ke kantor. Bosen.." memang seperti itulah Ulfa. Dia seorang anak bos yang selalu malas pergi ke kantor. Dia pergi ke kantor hanya sebagai aktifitas saja agar papanya tidak marah.


"Dasar, tuan putri pemalas.." begitulah Atta sering meledeknya.


"Baiklah nona rajin, biarkan tuan putri pemalas ini melayani nona.." ucap Ulfa.


Setelah itu mereka tertawa bersama. Persahabatan mereka sesederhana itu. Meskipun sering saling meledek, tapi tidak ada yang saling menjatuhkan. Mereka akan saling support satu sama lain. Itu yang membuat persahabatan mereka bertahan begitu lama.