
Atta berjalan menuju ruangan Ernes. Tangannya terus dia remas. Dia merasa gugup. Tapi, entah gugup atau takut. Hari ini dia akan makan malam bersama rekan setim-nya. Entah Ernes mengizinkan atau tidak. Yang pasti Atta akan berusaha membujuk Ernes agar mengijinkannya. Karena Atta sudah janji tadi.
Dengan langkah ragu Atta masuk ke ruangan Ernes setelah Ryan mengizinkannya masuk. Tangannya terasa dingin dan sedikit gemetar.
Perlahan dia mendekat ke meja kerja suaminya. "Masih sibuk?" tanyanya pelan.
"Ini udah mau selesai. Kenapa? Mau ajak kemana?" tanya Ernes tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop kerjanya.
"Aku minta izin makan diluar sama temen-temen tim aku.." lirih Atta dengan takut. Bahkan dia sama sekali tidak memandang Ernes, hanya melirik sembari menundukan kepalanya.
Benar saja, seketika Ernes menghentikan pekerjaannya. Dia menatap Atta dengan tajam. "Pak Bams ulang tahun dan aku udah janji.." lanjut Atta dengan cepat sebelum Ernes mengomel.
"Nggak." jawab Ernes singkap, padat, dan jelas.
"Tapi aku udah janji. Sekali ini aja, please!" Atta memohon agar Ernes mengizinkannya. Dia sudah janji dan tidak mau mengecewakan teman-teman kerjanya.
"Nggak." Ernes tidak goyah.
"Tolonglah, pak Bams ulang tahun, aku udah janji tadi, mereka pasti akan kecewa kalau aku nggak jadi datang.." Atta masih menahan amarahnya.
"Bukan urusan aku." kata Ernes dengan cepart membuat Atta semakin kesal.
Atta pun segera mendekat kemudian mengecup bibir Ernes dengan lembut. "Izinin aku pergi ya?" ucapnya pelan sembari menatap Ernes dengan penuh kelembutan.
Mata Ernes berkedip pelan, bibirnya mengembang. Namun, dia masih tetap saja berkata, "Tidak."
"Kecuali kalau aku ikut." imbuh Ernes.
"Tapi ini acara karyawan, mereka akan canggung dengan kehadiran kamu." ucap Atta lagi.
"Kamu pilih dimusuhin teman setim kamu, atau biarin aku ikut. Kamu tinggal pilih." tutur Ernes.
Atta terdiam. Dia berpikir untuk beberapa saat. "Hah.." Atta menghela nafasnya. Sepertinya dia telah memutuskan apa yang hendak dia pilih.
"Oke kamu ikut. Tapi kamu harus janji bersikap biasa aja, jangan bikin canggung suasana!" akhirnya Atta menyerah. Namun dia memiliki persyaratan untuk Ernes.
"Oke." jawab Ernes dengan cepat. Sepertinya Ernes tidak keberatan sama sekali dengan syarat yang diajukan oleh Atta.
Setelah Ernes menyelesaikan pekerjaannya. Mereka segera menuju tempat dimana teman-teman Atta menunggunya.
Atta meminta maaf kepada teman-temannya karena mengajak Ernes ke perayaan kecil tersebut. "Maafin aku.." lirih Atta.
"Pak Bams, selamat ulang tahun." ucap Ernes tiba-tiba.
Tentu saja Bams dan yang lainnya termasuk Atta menjadi terkejut. Mereka menatap Ernes dengan seksama. Terutama Bams yang tidak menyangka akan mendapat ucapan ulang tahun dari bos-nya.
Saking terkejutnya, Bams sampai bengong beberapa saat. Sampai akhirnya lengannya disenggol oleh Lilis yang duduk di sebelahnya.
"Eh... iya pak, terima kasih.." jawab Bams dengan gugup.
"Boleh aku ikut makan malam?" tanya Ernes.
"Tentu saja, silahkan duduk pak Ernes!" ucap Bams mempersilahkan Ernes untuk duduk.
Bams menceritakan betapa senangnya dia mendapat ucapan selamat dari bos-nya. Sudah hampir 4 tahun Bams bekerja di perusahaan Ernes. Tapi baru pertama kali dia mendapat ucapan dari Ernes. Dan baru pertama kali juga makan semeja dengan Ernes.
"Ini pertama kalinya kita makan malam dengan bos. Saya merasa senang sekali." ucap Bams.
"Di luar jam kerja panggil aku Ernes saja. Di kantor aku bos kalian, tapi di luar jam kerja, aku suaminya Atta." ucap Ernes mencoba dekat dengan teman-teman Atta.
"Ternyata rumor kalau pak Ernes itu dingin bak gunung es berjalan tidaklah benar." bisik Sinta kepada Lilis.
Lilis menyenggolnya, mengisyaratkan Sinta agar diam saja.
Sementara Atta masih menatap Ernes dengan tersenyum senang. Tidak menyangka jika ternyata Ernes bisa dengan mudah berbaur dengan orang lain. Padahal sebelumnya Atta berpikir jika Ernes akan merasa risi atau mencela perayaan kecil karyawannya tersebut.
Ernes benar-benar berbaur dengan teman-teman Atta tanpa sekat. Bahkan Ernes terlihat akrab dengan Bams. Dan pastinya itu membuat Atta semakin bahagia.
"Aku mau ke toilet bentar!" pamit Atta.
Atta berjalan ke toilet seorang diri. Sinta dan Lilis sudah mabuk sementara dirinya masih belum begitu mabuk.
Tapi, saat dia berjalan menuju toilet tanpa sengaja dia melihat mantan pacarnya bersama teman sekelasnya dulu. Mereka sedang ribut di dekat toilet.
"Aku nggak suka kamu overthinking terus ke aku.." seru si wanita.
"Dia cuma teman aku." seru si wanita dengan marah.
"Tapi kamu cuekin aku terus." si cowok tak kalah tinggi suaranya.
"Dulu waktu kamu pacaran dengan Lovata, kamu nggak seperti ini.. Kamu terkesan cuek dan membuat Lovata harus berusaha keras untuk kamu. Kamu bilang Lovata lebay dan kamu nggak suka cewek lebay, lalu kamu putusin dia." si wanita mengingatkan si cowok dengan masa lalunya.
"Itu hanya alasan aku aja supaya putus dari dia." ucap si lelaki.
Duar..
Atta membulatkan matanya mendengar jawaban si lelaki. Ternyata memang dari awal mantan pacar Atta tersebut tidak tulus kepada Atta.
"Sebenarnya aku sama seperti orang lain, ingin dimanja dan sayangi. Atta memberi aku semua itu. Tapi, karena aku suka sama kamu, aku jadiin perhatian Atta itu sebagai alasan untuk putusin dia saat kamu bilang suka aku, dulu." lanjut si lelaki.
Tentunya perkataan lelaki itu membuat hati Atta menjadi sakit kembali. Dulu dia berpikir jika kandasnya hubungan dia dengan pacarnya itu karena dia yang terlalu posesif dan membuat pacarnya itu tidak nyaman dan ilfil.
Selama bertahun-tahun Atta dihinggapi rasa bersalah. Dan dia berubah menjadi wanita yang cuek dan tidak peka.
Tapi ternyata, semua itu hanyalah alasan mantan pacarnya yang sama sekali tidak mencintainya. Kemudian menjadikan semua itu sebagai alasan untuk memutuskan hubungan.
Atta ingin segera pergi tapi kakinya seakan berat untuk melangkah. Hatinya terasa sakit. Ternyata, setelah sekian lama perasaan sakit itu masih tertinggal di dalam hatinya.
Saat Atta tidak sadar dan sedang mengatur perasaannya. Tanpa sengaja si wanita menoleh dan melihat Atta yang berdiri di dekat tembok.
Si wanita awalnya ragu kalau itu Atta. Tapi, begitu dia mendekat dan melihat jelas wajah Atta. Si wanita yakin jika itu adalah Atta. Teman sekelasnya dulu sekaligus mantan pacar dari pacarnya sekarang.
"Lovata?" ucapnya mendekati Atta yang bersembunyi di dekat tembok.
Atta pun menjadi kaget dan dengan senyum polos dia menyapa wanita tersebut sambil mengangkat tangannya. "Hai, Ros, apa kabar?" tanya Atta.
"Kamu sudah lama berdiri disini?" tanya si wanita tersebut.
"E... e.. enggak, aku baru saja kok. Permisi dulu mau ke toilet.." Atta segera pamit karena tidak mau dicurigai.
"Maafin aku karena udah rebut Sandi dari kamu!" saat Atta melangkah, tetiba wanita bernama Rosa tersebut meminta maaf kepada Atta.
Mau tak mau Atta menghentikan langkahnya. Dia berbalik sembari tersenyum. "Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu udah ambil sampah dari hidup aku.." ucap Atta sembari melirik Sandi yang berdiri tidak jauh darinya.
"Jaga ucapan kamu!" Sandi tidak terima dikatakai Atta sebagai sampah.
"Kenyataannya kamu memang sampah, pecundang.." ucap Atta lagi.
"Kamu yang pecundang, kamu sampah yang aku buang, kamu wanita lebay.." ucap Sandi.
"Untungnya aku bisa lepas dari pencundang kayak kamu. Selama ini aku berpikir dan merasa bersalah dengan hubungan kita. Tapi hari ini aku merasa senang karena sudah dijauhkan dari sampah kayak kamu.." ucap Atta menyulut amarah Sandi.
"Brengs*k, jaga ucapan kamu, jal*ng!" Sandi maju dan hendak memukul Atta.
Namun, dari arah belakang, seseorang menangkap tangannya kemudian mendorongnya menjauh. "Jangan pernah sentuh istriku!" ucap seseorang itu yang ternyata adalah Ernes.
Dia sedang mencari Atta karena Atta pamit ke toilet begitu sangat lama. Tapi tahunya dia melihat seorang lelaki hendak memukul Atta. Tentu saja Ernes menahan tangan Sandi.
"Sedikit aja sentuh istriku, aku pastikan kamu tidak akan lagi memiliki tangan!" ancam Ernes kepada Sandi.
Sandi yang tidak terima dengan ancaman Ernes pun berusaha mendorong Ernes. Dia menantang Ernes untuk duel. Keributan pun tidak bisa terhindarkan.
Sandi dan Ernes saling adu jotos, sampai akhirnya pemilik bar muncul dan melerai mereka. Karena Rosa dan Atta saja tidak sanggup menahan perkelahian keduanya.
"Hapus dia daftar pelanggan di tempat sini, om!" pinta Ernes kepada Andhika sang pemilik bar tersebut.
"Ada apa?" tanya Andhika ingin tahu kronologinya.
"Dia mau pukul istriku.." jawab Ernes.
Andhika terbelalak. Sejak kapan Ernes punya istri. Dan istrinya tersebut adalah mantan pegawai Andhika di club malam lainnya. "Kalian sudah nikah?" tanyanya memastikan.
"Sudah pak." Andhika percaya dengan perkataan Atta. Maka dari itu Andhika segera memblacklist Sandi dan Rosa dari daftar pelanggan di bar miliknya.
"Aku pasti akan bikin kamu menyesal, lihat saja!" seru Sandi tidak terima jika dia di blacklist dari daftar pelanggan.
"Di tunggu.." ucap Ernes dengan tersenyum meledek.