Sudden Mariage

Sudden Mariage
51



Vanka yang marah, membawa pergi kedua anaknya dari rumah mertuanya. Vanka menggendong Keysha dan menggandeng Kiano. Vanka membangunkan kedua anaknya perlahan agar tidak membangunkan orang rumah.


"Kita mau kemana ma?" tanya Kiano sembari mengusap matanya. Dia masih sangat mengantuk karena itu juga masih larut malam.


"Kita ke rumah kakek dan nenek ya! Mama kangen sama kakek dan nenek.." ucap Vanka menahan air matanya. Dia tidak ingin anaknya khawatir.


"Papa nggak diajak?" tanya Kiano lagi.


Vanka tersenyum pahit. Hatinya terasa sangat sakit teringat apa yang dia lihat. Tapi dia harus tetap tegar di depan anaknya. "Papa masih ada pekerjaan, nanti papa nyusul." ucapnya kembali menahan air matanya.


"Kiano bobok lagi aja!" Vanka pergi ke rumah orang tuanya dengan menggunakan taksi.


"Iya ma.." jawab Kiano yang belum mengerti apa yang terjadi. Bahkan dia tidak bertanya kenapa mereka pergi tanpa papanya dan itu larut malam.


Vanka membawa kedua anaknya kembali ke rumah kedua orang tuanya. Sebelumnya, Vanka menghubungi assisten rumah tangga orang tuanya. Dia meminta dibukakan pintu tapi jangan sampai kedua orang tuanya tahu kalau dia datang pas larut malam.


Begitu sampai di rumah orang tuanya. Vanka dengan dibantu assisten rumah tangganya berhasil masuk tanpa mengganggu istirahat kedua orang tuanya.


"Makasih ya mbak.." ucap Vanka.


"Iya non.."


Vanka segera menyelimuti kedua anaknya yang tertidur dengan sangat lelap. Tiba-tiba air matanya kembali mengalir dengan deras. Hatinya sakit sekali.


Vanka berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya. Takutnya jika anaknya bangun dan melihatnya menangis. Itu akan membuat anaknya sedih.


Dan menangis tanpa suara itu sangatlah menyakitkan. Dia merasa dadanya semakin sesak dan sulit untuk bernafas.


Sedangkan Gio berusaha mengejar Vanka dengan melawan rasa tak nyaman dalam tubuhnya. Dia juga berusaha menghubungi Vanka tapi ponsel Vanka dimatikan.


"Kenapa dimatiin sih.. Arghh.." Gio meraung sendirian. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya pada rumah tangganya.


Tapi, tetap saja dia harus menjelaskan kepada istrinya apa yang sebenarnya terjadi. Bukan keinginannya untuk berkhianat karena dia memang tidak mengkhianati cinta istrinya. Hanya saja Marisa yang terlalu terobsesi dengannya dan membuat Marisa melakukan hal gila ini.


Gio segera berlari ke kamarnya saat melihat mobil Vanka terparkir di halaman rumahnya. Tapi dia tidak menemukan istrinya di kamar. Bukan hanya istrinya, tapi dia juga tidak menemukan anak-anaknya.


Gio mencari ke semua ruangan. Tapi tetap tidak menemukan anak dan istrinya. Gio menjadi heboh karena dia berteriak memanggil para pelayan di rumahnya.


"Mbak!!!" serunya yang mengagetkan para pelayannya.


Kelima pelayan yang ada di rumahnya segera bangun dan menghadap majikan mereka. "Kalian lihat kemana nyonya Vanka bersama Kiano dan Keysha?" tanya Gio.


"Tidak tuan.." jawab mereka serentak. Karena mereka memang tidak melihat Vanka dan anak-anaknya pergi.


"Siapa yang berjaga di depan malam ini? Panggil kesini!" Gio meminta salah seorang pelayannya untuk memanggil satpam rumah yang berjaga malam ini.


Segera pak satpam menghadap Gio. Dia juga tidak melihat Vanka dan anak-anaknya pergi. "Saya lihat nyonya Vanka pulang, tapi tidak lihat nyonya pergi lagi, karena saya baru saja dari toilet." ucap pak satpam.


Gio kemudian menyuruh mereka kembali. Dia segera mengecek cctv rumah. Dan jelas sekali terlihat jika Vanka pergi bersama anak-anaknya menggunakan taksi.


Gio segera melacak plat mobil taksi tersebut. Dia bertanya kepada sopir taksi tersebut kemana dia mengantar Vanka dan anak-anaknya.


Sopit taksi tersebut menyebut sebuah alamat rumah yang tentu saja Gio sangat hafal dengan alama tersebut. Sebelumnya, Gio juga sudah menebak jika istrinya pasti pulang ke rumah irang tuanya.


Sebelum pergi ke rumah mertuanya. Gio mandi terlebih dulu untuk mengurangi efek dari obat yang Marisa berikan. Dalam guyuran air, Gio tiba-tiba teringat tubuh indah Marisa tanpa busana tadi. Juga teringat saat miliknya sempat masuk ke milik Marisa.


Tapi, sesaat kemudian, dia teringat wajah marah dan kecewa Vanka pada waktu itu. Gio segera menyelesaikan mandinya dan menyelesaikan kebutuhannya yang belum sempat keluar.


Setelah itu dia segera bergegas ke rumah orang tua Vanka. Sesampainya di rumah mertuanya. Gio melihat kondisi rumah yang sunyi. Dia urung untuk turun dari mobil, takut mengganggu istirahat mertuanya. Akan tetapi, dia memilih untuk menunggu di mobil sampai pagi. Barulah dia akan turun dan bertanya kepada mertuanya.


Gio masih berusaha menghubungi ponsel istrinya. Tapi tetap saja, Vanka masih mematikan ponselnya. Gio menangis sembari menatap foto keluarga kecilnya yang dia jadikan wallpaper di hape-nya.


Gio juga mengirim beberapa ungkapan cinta untuk istrinya melalui pesan singkat. Dia yakin jika Vanka sudah menghidupkan ponselnya. Pesan itu akan sampai ke Vanka.


Dia pun sampai ketiduran di dalam mobil.


Menjelang subuh, Vanka yang masih belum bisa tidur. Memilih untuk ke dapur membantu assisten rumah tangga orang tuanya membuat sarapan. Setidaknya itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam.


Saat ayah dan mamanya hendak sarapan. Mereka terkejut melihat Vanka yang sedang menyajikan sarapan. "Vanka? Kapan kamu datang?" tanya mamanya yang sudah kangen dengan anak perempuannya. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka ketemu.


"Tadi malam ma." jawab Vanka dengan tersenyum.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya ayahnya.


"Kiano sama Keysha. Mereka masih tidur."


"Gio?" seketika tangan Vanka gemetar. Mendengar nama suaminya, hatinya kembali tertusuk. Pandangannya kosong dengan wajah yang marah bercampur sedih.


"Aku mau cerai, yah, ma.." jawaban Vanka tersebut tentu saja membuat ayah dan mamanya menjadi kaget bukan main.


Mamanya segera mendekati Vanka. "Ada apa?" tanya mamanya.


Maka kembali pecahlah tangisan Vanka. Vanka menangis tersedu dalam pelukan mamanya. Dia bahkan sulit untuk berkata, hanya terus menangis.


"Kenapa kalian mau cerai? Ada masalah apa?" tanya ayahnya juga penasaran.


"Gio berkhianat yah.." ayah dan mamany kembali terkejut dengan jawaban Vanka.


Mereka tidak percaya dengan apa yang Vanka katakan. Bukan tidak percaya dengan anaknya. Tapi mereka bisa melihat betapa cinta dan sayangnya Gio kepada anak bungsunya tersebut.


"Kamu yakin?"


"Yakin, aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Gio selingkuh dengan wanita lain." seru Vanka masih dengan menangis.


"Tapi kamu harus pikirin lagi keputusan kamu. Pikirin juga anak-anak kamu!" mamanya memberi nasehat.


"Aku udah pikirin ma. Aku mau minta cerai dari dia. Aku nggak mau hidup dengan seorang pengkhianat. Lebih baik aku hidup sendiri dengan anak-anak aku, daripada hidup bersama dengan pengkhianat." jawab Vanka dengan yakin.


"Nak..."


"Selama ini aku udah berusaha jadi istri yang baik, aku rela memberikan seluruh hati, jiwa dan ragaku untuk melayani dia. Tapi kenapa dia jahat sama aku, yah? Kenapa?" Vanka memeluk ayahnya dengan erat. Dia menangis dalam pelukan ayahnya.


Ayahnya tidak berkata apapun. Dia hanya memeluk dan mengelus rambut anaknya. Memberikan pundaknya untuk anak bungsunya.


Kemudian, tiba-tiba Gio masuk dan melihat Vanka yang menangis dalam pelukan ayahnya. "Van,," ucapnya.


Seketika Vanka menoleh dan melihat Gio berdiri tidak jauh darinya. "Kenapa kamu kesini? Pergi! Aku tidak mau ketemu kamu lagi! Aku akan urus perceraian kita!" ucap Vanka yang membuat Gio kaget.


Gio pun mendekati Vanka tapi Vanka tidak mau melepaskan pelukannya dari ayahnya. "Yah, suruh dia pergi! Aku nggak mau ketemu dia! Aku nggak mau, yah!" pinta Vanka sembari menangis.


"Van, aku bisa jelasin semuanya." Gio juga menangis saat itu.


"Jelasin semua disidang perceraian kita!"


"Aku nggak mau cerai, sampai kapanpun aku nggak akan mau cerai dari kamu! Aku cinta banget sama kamu, Vanka.." Gio mendekati Vanka tapi Vanka menolak.


Vanka menangis dan memohon ayahnya agar mengusir Gio dari rumahnya. "Tolong usir dia, yah! Aku nggak mau ketemu dia, nggak mau.." Vanka menangis sembari berlutut di depan ayahnya.


Gio berusaha menyentuh Vanka tapi Vanka terus menolak. Dia terus menangis sembari memohon agar ayah dan mamanya mengusir Gio.


"Vanka, aku cinta sama kamu.." Gio masih berusaha menyentuh dan bahkan memeluk Vanka.


Tapi Vanka terus menolak dan meronta. Dia sama sekali tidak mau disentuh oleh suaminya. Melihat kegaduhan ini, mamanya Vanka meminta Gio untuk pergi.


"Gi, kamu pulang aja dulu! Tunggu sampai Vanka tenang!" ucap mamanya Vanka.


"Tapi aku nggak mau cerai, ma. Aku cinta banget sama Vanka. Aku nggak akan bisa hidup tanpa dia." Gio ikutan menangis. Hatinya sakit saat melihat istrinya menangis seperti itu.


"Iya, mama tahu. Tapi untuk sementara waktu, biarin Vanka tenang dulu. Nanti kita bicarakan lagi. Mama dan ayah akan bantu supaya kalian tidak bercerai." kata mamanya Vanka.


Gio sebenarnya tidak ingin pergi tanpa anak dan istrinya. Tapi, saat dia melihat Vanka yang histeris. Gio akhirnya pergi dari rumah mertuanya.


Sebelumnya dia sempat mendekati Vanka terlebih dulu sebelum pergi. Vanka masih tidak mau melihatnya. Vanka memeluk ayahnya dengan terisak. "Aku kasih tahu sekali lagi. Aku cinta sama kamu, sampai kapanpun. Dan aku tidak akan pernah mau cerai dari kamu. Aku akan pertahankan rumah tangga kita." ucap Gio.


"Jika pada akhirnya kita harus berpisah. Lebih baik aku mati." imbuh Gio.


Namun, Vanka sedikitpun tidak tergoyahkan. Dia tetap tidak mau menatap suaminya.


"Aku berangkat kerja dulu." Gio berpamitan sembari menyentuh kepala Vanka dengan lembut.


Tapi dengan cepat Vanka menepis tangan Gio. Dia tidak mau sama sekali disentuh oleh suaminya lagi. Hatinya yang hancur, membuatnya sakit setiap kali melihat Gio.