Sudden Mariage

Sudden Mariage
21



"Aku nggak tahu kemana Aiko. Coba cari aja ke rumahnya!" jawab Ernes masih belum mau jujur tentang keberadaan Aiko.


"Aku takut papanya marah.."


"Kalau kamu takut kena amuk om Alfa, harusnya kamu mikir dua kali untuk selingkuh.." seru Ernes yang memang dia sangat marah kepada Rakha.


"Jika dulu kamu berani berjanji untuk selalu membahagiakan Aiko, sekarang kamu juga harus berani menghadapi om Alfa saat kamu menyakiti Aiko!" imbuh Ernes dengan ketus.


Sejatinya, seorang lelaki memang harus gentleman. Ketika dia berbuat salah, dia harus berani menanggung resikonya.


"Nes, please bantu aku!" Rakha memohon kepada Ernes.


"Aku nggak bisa ikut campur rumah tangga kalian, aku juga punya keluarga sendiri yang harus aku urus." jawab Ernes masih dengan dingin.


"Oh, aku denger kamu mau nikah?"


"Hmm, maaf aku sibuk, mending kamu cari Aiko atau kamu akan kena amuk om Alfa kalau sampai Aiko kenapa-napa!" mendengarkan perkataan Ernes, Rakha segera pamit. Dia ingin mencari anak dan istrinya sebelum mertuanya tahu apa yang terjadi. Dan juga dia khawatir karena istrinya sedang hamil besar.


Selepas Rakha keluar dari ruangannya. Ernes menghela nafasnya dalam. Dia sebenarnya kasihan dengan Rakha. Tapi, dia sangat marah saat teringat perbuatan Rakha yang telah menyakiti Aiko.


"Ryan, kasih tahu ke Atta, aku mau ajak dia makan siang bareng!" perintah Ernes kepada Ryan agar disampaikan kepada Atta.


"Laksanakan.." Ryan segera pergi mencari Atta ke meja kerjanya. Tapi sayangnya Ryan telat, Atta sudah pergi duluan.


"Pak Ryan cari siapa?" tanya Sinta yang melihat Ryan celingak celinguk di depan pintu.


"Bu Atta kemana ya?" tanya Ryan.


"Oh, Atta udah keluar duluan, katanya dia ada janji dengan temennya." jawab Sinta.


"Oh, terima kasih infonya." Ryan segera kembali ke ruangan Ernes untuk menyampaikan jika Atta sudah pergi duluan.


"Bos.. bos.. eh, bu Atta udah keluar duluan, katanya dia ketemu sama temennya." ucap Ryan.


"Siapa? Ulfa?"


"Maaf, aku nggak tahu bos.."


Ernes segera menghubungi Atta melalui telepon. Tapi tidak diterima oleh Atta. Ernes pun segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera mencari Atta.


Ernes tetap berusaha menghubungi Atta sembari mencari keberadaan Atta. Ernes mencari ke kantin perusahaan, tapi Atta tidak ada disana. Kemudian dia mencari ke kafe yang biasanya mereka makan bersama tapi juga tidak menemukan Atta disana.


"Kemana sih?" gumamnya dengan kesal karena belum juga menemukan dimana Atta.


Tapi Ernes tidak menyerah begitu saja. Dia terus mencari dan juga terus menelepon Atta. Sampai akhirnya Atta balik menghubunginya.


"Ada apa? Maaf tadi hape aku silent.." tanya Atta dari seberang telepon.


"Kamu pergi kemana? Aku cariin nggak ketemu?" Ernes merasa lega sekaligus kesal.


"Makan siang sama temen.."


"Siapa? Cowok atau cewek?"


"Ada cewek juga ada cowok.. Sama Ulfa ini-"


"Kasih tahu kamu dimana sekarang!" desak Ernes yang karena Atta pergi dengan cowok, padahal ada temen cewek juga. Tapi tetap saja, Ernes merasa kesal.


"Kafe depan taman.."


"Aku kesana sekarang.." Ernes segera mematikan teleponnya kemudian dia menuju kafe yang ada di depan taman yang dekat dengan kantornya. Ernes berlari begitu saja karena kelamaan jika dia harus balik ambil mobil dulu.


Kurang dari sepuluh menit, Ernes sudah sampai di kafe tersebut. Ernes melihat Atta yang sedang makan siang sembari ngobrol dengan Ulfa dan satu teman lakinya.


"Kalau mau pergi tuh bilang! Jangan bikin panik!" ucap Ernes yang baru saja mendekat dan mengagetkan ketiganya.


"Iya maaf," jawab Atta.


Atta lalu memperkenalkan Ernes dengan teman lelakinya. "Ini senior aku di universitas dulu, namanya Rey.." ucap Atta.


"Ini..."


"Suaminya Atta.." Ernes memperkenalkan dirinya sendiri. Tapi sikapnya masih sangat dingin. Dia bahkan tidak mau menjabat tangan Rey.


"Aku laper." kata Ernes dengan tidak senang.


"Suapin!" Atta membulatkan matanya. Dia merasa aneh dengan perilaku Ernes tersebut. Tidak biasanya dia manja seperti itu.


"Aku masih nggak enak badan karena insiden semalem.." Ernes menampakan wajah menyedihkan.


Atta yang masih merasa bersalah pun langsung nurut apa kata Ernes. Dia menjadi panik kemudian dengan cepat memeriksa badan Ernes apa demam lagi.


"Syukurlah udah nggak demam lagi.." Atta bernafas lega.


"Aku pesenin makan dulu! Mbak-"


"Nggak usah, makan punya kamu aja." Ernes menahan Atta yang hendak memanggil pelayan.


"Makan punya aku ini?" Ernes menganggukan kepalanya.


Atta pun segera menyuapi Ernes dengan penuh perhatian. Sementara Ernes terus menatap Atta yang membuat Atta menjadi malu. "Jangan lihatin aku terus!" pinta Atta.


"Nggak boleh lihat istri sendiri?" jawab Ernes yang membuat Atta kembali tersipu.


"Stop pamer kemesraan di depan jomblo deh!" sahut Ulfa yang protes dengan keuwuan Atta dengan Ernes.


"Kalau iri, di depan kamu juga cowok kan?" ucap Ernes.


"Tadi kenapa sih ngajak dia kesini segala.." gerutu Ulfa.


Tapi Ernes tidak menanggapi ucapan Ulfa. Dia kembali menatap Atta yang membuat Atta kembali tersipu. Wajahnya sampai memerah.


Sedangkan Rey, dia terus menatap Ernes yang sedang memandangi Atta sembari bermanja kepada Atta. Dari raut wajahnya seperti Rey merasa tidak suka dengan pemandangan di depannya.


"Kita makan aja Rey! Nggak usah perhatiin mereka, anggap aja mereka nggak ada!" ucap Ulfa dengan kesal karena Atta dan Ernes pamer kemesraan di depannya.


"Dapat salam dari Ryan.." ucap Ernes yang membuat Ulfa senang bukan main.


"Dia nitip salam buat aku?"


"Ah, salam balik yak.. Dia suka makan apa sih? Apa yang dia suka? Dia suka ngopi nggak? Boleh nggak ajakin dia kesini sekarang!" cerocos Ulfa.


"Bener tebakan aku, kamu suka sama assisten pribadiku.." ucap Ernes yang membuat Ulfa salah tingkah.


"Nggak, aku nggak suka sama dia. Masa iya suka sama orang angkuh.." Ulfa menyangkal.


"Oh nggak suka, ya udah, nggak usah aku kasih tahu aja ya apa kesukaan Ryan." ucap Ernes.


"Jangan dong!" sahut Ulfa dengan cepat. Ulfa yang sadar jika dia masuk dalam jebakan Ernes pun memejamkan matanya.


"Ok aku ngaku. Iya aku suka sama assisten kamu." mau tak mau Ulfa mengakui perasaannya di depan Ernes selaku bos dari Ryan.


"Jadi bantuin aku deket sama dia ya!" pinta Ulfa kepada Ernes.


"Upahnya apa?" tanya Ernes.


"Kamu udah kaya masih minta upah aja." gerutu Ulfa.


"Ini namanya bisnis, saling menguntungkan." jawab Ernes dengan santai.


"Oke, kalau kamu mau bantu aku. Aku akan kasih informasi apapun tentang Atta." ucap Ulfa.


"Oh, jadi jual pertemanan demi laki-laki nih ceritanya?" gerutu Atta merasa tak puas.


"Mian.. Ini demi jodohku.. Maklumi yak!" Ulfa menyerang Atta dengan wajah polos tanpa dosanya, serta wajah menyedihkan.


Sedangkan Atta hanya memutar bola matanya. Dia tidak bisa bilang tidak saat Ulfa sudah menunjukan wajah sedihnya.


"Deal.." sahut Ernes.


"Seterah kalian aja.." Atta ingin marah tapi ketika melihat wajah Ulfa, seketika amarahnya hilang.


Ulfa yang merasa senang kemudian mencubit kedua pipi Atta. "Sayankku ini emang paling baik.." ucap Ulfa dengan senang.


Tapi sesaat kemudian tangan Uofa di tepis oleh Ernes. "Sakit tahu nggak!" omel Ernes.


"Nj*r posesif banget.." gumam Ulfa yang mungkin hanya dia yang bisa mendengarnya.