Sudden Mariage

Sudden Mariage
35



Sampai sarapan pun Ernes masih menggoda Atta. Dia selalu mengolok Atta yang sedang cemburu. "Mukanya biasa aja bisa ndak sih.. Jangan cemburu terus.." ucap Ernes.


Brakk..


"Siapa yang cemburu? Aku nggak cemburu ya.." seru Atta sembari menggebrak meja makan.


"Atta... Apa itu? Kenapa teriak-teriak?" tanya Susi yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Nggak apa kok buk, cuma kaget aja tadi.." dalih Atta.


"Atta marah buk, dia cemburu.." tapi Ernes malah mengadu kepada ibu mertuanya.


"Aku nggak cemburu!!" Atta semakin kesal karena Ernes mengadu kepada ibunya. Lagipula itu hanyalah omong kosong. Dia tidak cemburu sama sekali dengan Aiko.


"Cemburu itu hal lumrah, itu tandanya Atta sayang sama kamu.." ucap Susi dengan tersenyum kecil. Susi senang melihat hubungan Atta dengan Ernes yang terlihat baik-baik saja.


"Nah denger kan, nggak apa-apa kalau cemburu, akui aja!" sahut Ernes.


"Ish, seterah..." Atta capek menghadapi Ernes yang terus menggodanya.


Atta pun segera bangkit dan berpamitan kepada ibunya. "Aku berangkat kerja dulu ya buk!" ucapnya sembari mencium tangan ibunya. Kebiasaan yang sudah sejak lama dia terapkan sebelum keluar rumah.


"Aku juga berangkat dulu, buk!" Ernes segera bangkit dan mencium tangan ibunya mertuanya juga. Dengan segera Ernes mengikuti Atta yang sudah jalan terlebih dahulu.


"Atta tungguin!" seru Ernes yang saat itu masih belum memasang dasinya dengan benar.


Namun, Atta semakin mempercepat langkahnya. Dengan setengah berlari dia berangkat duluan ke kantor. Atta sengaja tidak menunggu Ernes, tapi dia berlari menuju kantornya.


"Ish tuh anak.." Ernes pun merasa kesal karena Atta memilih untuk berjalan kaki daripada naik mobil bersama dengan dia.


Tentu saja Ernes yang lebih dulu sampai di kantor. Dia tidak masuk, tapi menunggu Atta sembari bersandar di kusen pintu mobilnya.


Tak lama kemudian Atta tiba di kantor. Seperti biasa, dia nampak ceria dan menyapa setiap orang yang bertemu dengannya.


"Pagi.." ucap Atta kepada setiap orang yang berpapasan dengannya.


Ernes sengaja menghadangnya di depan kantor. Namun, Atta masih saja mengabaikannya. "Kamu cuekin aku?" tanya Ernes sembari menangkap lengan Atta.


Atta masih terdiam. Dia bahkan tidak mau menatap Ernes. Sesaat kemudian dia meronta, menarik tangannya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatiaan karena pemandangan tersebut.


"Pasangin dasi aku!" perintah Ernes.


"Kan bisa pasang sendiri."


"Aku mau dipasangin istri aku." sahut Ernes dengan cepat.


"Jangan gini lah! Malu dilihatin banyak orang." ucap Atta masih berusaha menarik tangannya.


"Mau pasangin dasi aku, atau aku buat lebih malu lagi!" ancam Ernes.


"Jangan kayak anak kecil!" ucap Atta.


"Mau pasangin atau nggak!" Ernes menatap Atta dengan tajam. Atta pun memilih untuk mengalah. Dia memakaikan dasi untuk Ernes di depan kantor dan disaksikan banyak karyawan Ernes.


"Masih marah?" tanya Ernes sembari menatap Atta yang bahkan sama sekali tidak mau menatapnya.


"Pulang kerja kita jengukin Aiko dan anaknya!" ucap Ernes. Sementara Atta hanya menganggukan kepalanya sembari memasangkan dasi Ernes.


"Sampai kapan ngambek sama aku?" tanya Ernes lagi.


"Kalau masih diemin aku, aku teriak nih.." lanjut Ernes.


"Teriak aja!" Atta tidak tahu Ernes akan berteriak apa. Tapi dia yakin jika Ernes tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan para karyawannya.


"ATTA,, JANGAN CEMBU-" Atta sangat tidak menyangka jika Ernes beneran akan berteriak. Untungnya dengan cepat Atta menutup mulut Ernes.


"Ish, jangan bikin malu ngapa!" gerutu Atta yang dilihatin beberapa karyawan Ernes.


"Janji nggak marah lagi! Janji nggak ngambek dan diemin aku lagi! Dan yang penting, jawab telepon aku dan balas chat aku!" Ernes dan Atta saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya Atta melempar pandangannya.


"Iya.." jawabnya pelan.


"Nah gitu. Kalau gitu yuk masuk!" Ernes menggenggam tangan Atta lalu kemudian menarik tangan Atta masuk ke kantor.


Ernes seolah tidak peduli dengan pandangan dan gosip dari para karyawannya. Dia bahkan membawa Atta naik menggunakan lift khusus PresDir.


Di ruangan Ernes. Atta sama sekali tidak diperbolehkan pergi ke ruangannya. Ernes menahan Atta di ruangannya. "Ta, gimana kalau kita double date. Aku sama kamu, Ryan sama Ulfa.. Akhir pekan ini aku free.." ucap Ernes.


"Double date? Kita sama Ulfa dan Ryan?" Ernes menganggukan kepalanya pelan.


"Nggak ah.."


"Kenapa?" tanya Ernes sembari mengerutkan keningnya.


"Lah Ryan dan Ulfa saling cinta, jadi bisa mesra-mesraan. Lah kita? Emangnya kamu mau cuma lihatin Ulfa dan Ryan mesra-mesraan? Aku sih ogah.." jawab Atta menolak keras ajakan Ernes tersebut.


"Kita juga mesra-mesraan dong. Kita kan udah nikah, udah sah dan halal kalau mesra-mesraan." jawab Ernes bersikeras ingin double date.


"Nggak ya nggak. Kalau kamu mau nontonin Ulfa dan Ryan pacaran ya silahkan aja. Aku sih ogah." namun Atta tetap tidak mau.


"Bilang aja kalau kamu malu mesra-mesraan sama aku. Kamu masih ngarepin mantan kamu." ucap Ernes dengan raut wajah berubah kesal.


"Loh, kok bisa kesitu sih nyambungnya? Aku bukannya malu. Tapi sadar diri." jawab Atta.


"Takut baper?"


"...Ng..nggak si...apa yang takut baper. Enggak lah.." Atta gelagapan mendengar pertanyaan terus terang dari Ernes.


"Kalau emang nggak, buktiin!"


Atta terdiam sesaat. Dia masih mempertimbangkan apakah dia mau pergi double date atau tidak. Setelah berpikir sejenak, Atta menghembuskan nafasnya perlahan. "Oke, kita double date. Nanti aku bilang ke Ulfa." kata Atta.


Mungkin Atta juga ingin membuktikan jika dia tidak baper sama sekali dengan hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Ernes. Sekalian memastikan dan meyakin hatinya jika dia tidak baper dengan hubungan rumit tersebut.


"Aku ke ruangan aku dulu!" pamit Atta karena dia merasa tidak enak jika terlambat.


Ernes menunjuk pipinya dengan jarinya. Mengisyaratkan agar Atta mencium pipinya. "Sampai bunyi!" pinta Ernes.


"Bunyi gimana?" Atta tidak paham dengan permintaan Ernes.


"Sini aku kasih contoh.." Ernes meminta Atta untuk mendekat. Kemudian dia mengecup pipi Atta sampai terdengar bunyi 'muach'.


Atta tersenyum geli dengan tingkah kekanakan Ernes. Akan tetapi, dia melakukannya juga. "Muach.." Atta mencium pipi Ernes sampai terdengar bunyi muach.


Ernes mengisyaratkan Atta untuk mencium pipi yang satu lagi. Dengan bunyi yang sama, Atta nurut apa mau Ernes.


Lelaki yang terlihat dingin di luar tapi sangat manja. Dia yang terlihat cuek tapi sebenarnya sangat lembut dan perhatian.


"Nanti makan siang bareng!" Atta menganggukan kepalanya sebelum dia menghilang di pintu utama ruangan Ernes.


Setelah Atta tidak lagi terlihat. Ernes pun tersenyum kecil. Sembari memegangi pipi bekas kecupan Atta. Ernes tersenyum senang.


"Aku kok jadi kayak gini ya tiap dekat dengan dia. Rasanya ingin selalu dimanja." gumam Ernes seorang diri masih sambil memegangi kedua pipinya dan senyum-senyum sendirian.