
Pagi hari saat Ernes hendak pamit kerja. Atta tidak bisa menahan rasa cemburunya. Apalagi dia tahu jika Ernes akan pergi dengan Cintya. Dari bangun tidur sampai selesai sarapan, wajah Atta ditekuk terus menerus.
"Kamu sakit?" tanya Ernes sembari memegang pipi Atta dengan lembut. Tetapi, Atta hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa?" tanya Ernes lagi dengan lembut.
"Pekerjaan kamu nggak bisa dialihkan ke Ryan aja?" tanya Atta.
Ernes tersenyum kecil. "Kenapa? Kamu cemburu aku pergi dengan Cintya?" tanyanya.
Atta terdiam. Dia bingung akan menjawab apa. Masa iya dia akan terus terang bahwa dia memang cemburu.
Tetapi, diamnya Atta semakin membuat Ernes tersenyum lebar. Ya, dia menyadari jika Atta telah jatuh hati kepadanya.
Ernes menyentuh pipi Atta lagi. "Aku nggak hanya berdua saja kok. Ada Ryan dan bos-nya Cintya juga." jelasnya.
"Maaf kalau aku agak konyol. Kamu hati-hati ya!" Atta kembali tersadar akan statusnya.
"Titip mama ya!" Atta menganggukan kepalanya.
Tak lama kemudian Ryan datang menjemput bos-nya. Disusul oleh Cintya yang seharusnya bareng bos-nya tapi malah datang ke rumah Ernes.
Cintya berpakaian agak seksi kali ini. Dan itu membuat Atta semakin gelisah. Tapi, perlahan-lahan dia bisa mengatasi kegelisahannya. Lagipula ada Ryan juga, apa yang perlu dia takutkan. Kecuali jika memang ada hubungan special antara suaminya dengan Cintya. Meskipun dijaga Ryan, sudah pasti dia tidak akan berani buka mulut.
Akan tetapi, Atta percaya jika hubungan antara suaminya dengan Cintya tersebut hanyalah hubungan pekerjaan. Dia percaya seutuhnya kepada Ernes. Karena berkali-kali juga Ernes menjelaskan jika hubungan mereka hanya sebatas teman dan rekan kerja.
"Selamat pagi nyonya, apa kabar?" sapa Ryan dengan sopan.
"Baik. Gimana kabar kamu? Lama nggak lihat bareng Ulfa?" tanya Atta balik.
"Aku juga baik, nyonya." jawab Ryan tanpa berani menjawab mengenai urusan pribadinya. Di depan Ernes, dirinya ingin terlihat profesional. Meskipun sebenarnya banyak sekali keluhan yang ingin dia bagikan.
"Syukur deh. Udah sarapan belum?" Ryan hanya menganggukan kepalanya.
'Ta, nanti siang tolong ambilkan obat mama ya! Papa mau ke kantor, udah lama papa nggak ke kantor. Vanka juga harus bantuin Gio di kantor." ucap Sakha yang mendekati Atta sebelum dia berangkat kerja.
"Iya pa..."
"Papa mau ke kantor?" tanya Ernes.
"Hmm, papa udah lama nggak ngantor. Lagipula ada Atta yang akan jagain mama.." jawab Sakha.
"Ya hati-hati aja om sama orang luar, apalagi orang yang punya dendam." sahut Cintya memanaskan suasana.
"Orang luar? Maksudnya kamu? Kan disini yang orang luar itu kamu.." ujar Atta sembari tersenyum sinis.
Cintya terdiam. Apa yang Atta katakan memang benar. Diantara mereka semua hanya Cintya dan Ryan yang termasuj orang luar. Tapi, untuk Ryan dia lebih bisa ditolerir karena dia assisten pribadi Ernes. Sementara dirinya hanyalah rekan kerja.
"Udah,, udah! Buruan berangkat Nes! Supaya cepat kelar juga pekerjaannya." ucap Sakha.
Ernes lalu berangkat karena dia juga tidak mau ada keributan antara istrinya dengan Cintya. Di dalam mobil, Ernes memperingati Cintya agar tidak selalu membuat masalah dengan Atta.
"Cin, aku mohon kamu jangan terus-terusan bikin masalah dengan Atta. Hargai dia seperti kamu menghargai aku, biar bagaimanapun dia istriku." ucap Ernes yang membuat Cintya menjadi semakin kesal.
"Ya. Tapi kamu juga harus peringati dia agar tidak melawan aku!" protes Cintya.
"Kalau kamu nggak bikin gara-gara, dia juga nggak akan lawan kamu." sahut Ernes membela istrinya.
Bukan serta merta Ernes membela Atta. Itu karena memang beberapa kali Cintya yang sengaja memancing keributan lebih dulu.
"Jangan mentang-mentang dia istri kamu, jadi kamu bela dia seolah dia nggak salah.." gerutu Cintya. Dia tak menyangka jika Ernes justru akan membela Atta yang konyol itu.
"Terserah apa kata kamu. Tapi aku nggak mau lihat kamu sakiti dia lagi! Dia istriku kalau sampai dia terluka karena siapapun, termasuk kamu, aku akan balas lima kali lipat.." Ernes hanya ingin memperingati Cintya agar tidak berusaha menyakiti Atta seperti kemarin.
Cintya menjadi takut dengan ancaman Ernes. Dia lebih memilih untuk mengalah terlebih dahulu. "Iya Nes, maaf.." ucapnya sembari memegang paha Ernes.
Entah Cintya sengaja atau tidak yang jelas perlakuan Cintya tersebut telah memancing reaksi biologis dari Ernes. Tidak mau Cintya semakin melewati batas. Ernes segera mendorong Cintya menjauh.
"Jangan melewati batas! Kamu harusnya tahu kalau aku lelaki yang telah beristri." ucap Ernes.
Sementara Ryan hanya tersenyum kecil melihat trik Cintya dari kaca kecil di depannya. Mungkin itu sebabnya Cintya kekeh ingin duduk disebelah Ernes di kursi belakang.
"Berhenti di depan!" pinta Ernes.
Dengan segera Ryan menghentikan laju mobilnya. Ernes kemudian keluar dan pindah tempat duduk. Dia yang awalnya di kursi belakang, pindah ke kursi depan di sebelah Ryan.
Memang seperti itulah Ernes sejak dulu. Jika dia memang tidak suka, dia tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun untuk orang tersebut. Meskipun dia tetap bisa baik dengan orang itu. Tapi Ernes tidak mau memberikan harapan palsu.
Dia akan selalu bersikap tegas. Kalau memang tidak suka ya dia akan menjaga jarak.
Cintya menjadi canggung karena itu. Apalagi Ryan dan Ernes yang selalu mengobrol sepanjang perjalanan dan seolah mengabaikan keberadaannya.
****
Marisa belum menyerah. Dia kembali mendatangi kantor Gio bersama temannya yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri. Seperti biasa, Marisa merekomendasikan biro perjalanan milik Gio.
Jika biasanya Gio akan berterima kasih dan merasa senang. Kali ini Gio bahkan menolak calon kliennya tersebut. Dengan tegas Gio mengatakan jika dia tidak bisa melayani teman Marisa.
"Maaf, sebaiknya anda cari biro perjalanan yang lain. Nona ini bukan bagian dari karyawan kami." ucap Gio. Dia bahkan tidak mau menyebut nama Marisa.
Temannya Marisa menjadi bingung karena menolak untuk membawa mereka tour ke luar negeri. Marisa meminta temannya tersebut untuk pulang terlebih dulu.
"Ada kesalahan komunikasi antara kami. Kamu pulang dulu aja, nanti aku kabari!" pinta Marisa.
Begitu temannya pergi. Marisa mendekati Gio. "Gi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Tapi apa kamu akan menolak rejeki ini? Lebih dari 30 orang yang akan ikut tour wisata ini, apa kamu tidak sayang?" tanya Marisa.
"Maaf nona, aku tidak akan mau mengambil apapun yang berhubungan dengan nona. Jadi, silahkan pulang, pintu keluar ada disana!" ucap Gio tanpa mau melihat Marisa sedikitpun.
"Gi, jangan campur aduk pekerjaan dengan masalah pribadi!" pinta Marisa. Dia tidak bisa terima jika diabaikan oleh Gio begitu aja.
"Silahkan pulang!" ucap Gio.
"Gi.." Marisa menyentuh pundak Gio.
"Silahkan keluar! Dan jangan kurang ajar!" Gio mendorong dan membentak Marisa. Tapi tetap tidak mau melihat ke arah Marisa.
Marisa berusaha untuk berdiri kembali. Dia terlempar karena dorongan Gio. "Apa harus seperti ini? Aku tahu aku salah, tapi kamu juga menikmati malam itu.." ucap Marisa.
"Pergi! Jangan pernah muncul di depanku lagi!" Gio meraung.
"Vanka!!!" serunya mencari istrinya yang entah pergi kemana.
"Kamu boleh lupain semuanya. Tapi, aku tidak akan pernah lupain saat kamu menikmati sentuhanku, dan yang terpenting, aku sudah merasakannya walau hanya secelup.. Aku nggak akan pernah lupain itu." ucap Marisa lagi.
Gio semakin marah, apalagi Vanka yang tidak segera muncul. Bahkan Gio sampai melempar gelas kopi yang ada di meja kerjanya. Gio juga meninju meja kaca didepannya sampai tangannya berdarah.
"Gio.." Marisa menjadi khawatir melihat tangan Gio yang berdarah.
Dia mendekat tapi Gio terus memintanya untuk pergi. Sampai akhirnya Marisa terpaksa meninggalkan tempat itu karena tidak mau membuat Gio semakin menyakiti dirinya sendiri.
Setelah Marisa pergi, Gio terduduk di kursi kerjanya. Sejujurnya setelah kejadian malam itu, Gio selalu bermimpi bercinta dengan Marisa. Itu sebabnya saat Marisa mengungkit masalah malam itu, dia akan tidak terkendali.
Dia sendiri juga bingung kenapa dia selalu memimpikan hal tidak masuk akal tersebut. Disisi lain, dia mencintai istrinya dan tidak mau berpisah dengan istrinya. Tapi kenapa mimpi itu selalu mengganggunya.
Tak berselang lama. Vanka masuk ke ruangan suaminya. Dia melihat ruangan Gio yang berantakan. Dan juga melihat Gio yang melamun dengan tangan berdarah.
"Gio kamu kenapa?" tanya Vanka dengan panik.
"Van.." Gio seketika tersadar dari lamunannya, kemudian memeluk Vanka dengan erat.
"Van, aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku!" ucapnya membuat Vanka mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa?" tanya Vanka dengan lembut.
Tapi Gio tidak menjawab hanya semakin mempererat pelukannya. Dan Vanka tidak memaksa suaminya untuk menjawab. Dia merasakan tubuh Gio yang gemetar. Vanka pun membalas pelukan Gio tersebut dengan erat pula.
"Aku juga cinta sama kamu." ucapnya.