Sudden Mariage

Sudden Mariage
60



Di rumah sakit, Atta berulang kali meminta maaf kepada Sakha dan juga Gio. Dia merasa sangat bersalah karena insiden ini mengakibatkan Ines harus dilarikan ke rumah sakit.


"Maafin aku pa, tapi aku beneran tidak tahu obat itu.." ucapnya sembari menangis.


"Iya Ta. Udah jangan nangis lagi! Untungnya mama nggak telat dibawa ke rumah sakitnya.." ucap Sakha tidak mau menghakimi Atta atas apa yang terjadi dengan istrinya.


Refan memanggil Atta untuk bertanya mengenai perihal obat yang Atta beli di apotik. Pasalnya, Ines dilarikan ke rumah sakit karena Atta menebus obat yang salah.


"Silahkan duduk!" ucap Refan.


"Langsung saja ya. Darimana kamu dapat obat itu?" tanya Refan to the point.


"Aku nggak tahu kalau obat itu salah, om. Aku hanya tebus obat yang diresepkan untuk mama.." jawab Atta.


"Tapi obat itu om yang resepin, dan om tidak mungkin resepin obat itu, karena itu obat berbahaya." ucap Refan. Sebagai seorang dokter, apalagi dokter keluarga Sakha dan Alfarezi, dia pasti sangat teliti. Tidak mungkin meresepkan obat yang berbahaya untuk kesehatan seperti itu.


"Jadi om ngira aku sengaja kasih obat itu ke mama?" Atta benar-benar merasa kecewa. Dia merasa telah dituduh oleh semua orang.


"Bukan gitu maksud om." Refan menjadi canggung karena Atta merasa dia telah menuduhnya. Tapi, memang Atta yang menebus obat untuk Ines.


"Nggak apa kok om kalau semua orang nggak percaya sama aku. Mau aku jelasin seperti apapun, kan emang aku yang tebus obat untuk mama.." Atta menyimpan kesakitannya sendiri. Mau menuduh siapa, emang kenyataannya dia yang menebus obat itu.


Sewaktu dari apotik, Atta juga sudah yakin jika obat itu benar. Tapi kenapa ada obat berbahaya di dalam kantong plastik yang sama dengan obat yang dia tebus.


Atta keluar dari ruangan Refan dengan masih berpikir keras. Darimana obat itu, dan kenapa bisa ada di dalam kantong plastik yang sama. Terus dia memikirkan hal tersebut.


"Kak.." Vanka mendekati Atta yang sedang mematung seorang diri.


"Van," dia tersenyum kecil saat Vanka duduk disampingnya.


Vanka melihat kesedihan yang begitu dalam dari raut wajah Atta. Dia kemudian meraih tangan Atta untuk menberikan Atta semangat, juga untuk mengatakan jika dia percaya sepenuhnya kepada Atta.


"Kak.." ucap Vanka lagi.


Atta menatap Vanka, kemudian menyentuh tangan Vanka yang sedang menggenggam tangannya. "Kakak nggak apa-apa kok.." ucap Atta dengan suara serak. Dia terus saja menangis sambil membuat suaranya serak.


"Kakak yang teledor." imbuhnya.


"Mama udah sadar?" Vanka menggelengkan kepalanya.


Ines memang telah melewati masa kritis tapi dia belum juga sadar. Air mata Atta kembali menetes. Atta juga menyenderkan kepalanya dibahu Vanka. "Van, menurut kamu, aku menantu yang nggak becus nggak sih?" tanyanya pelan.


Atta merasa gagal menjadi menantu yang menjaga mertuanya. "Kakak nggak gagal kok. Kakak menantu kesayangan mama.." ucap Vanka menyemangati Atta.


"Tapi menantu kesayangan ini tidak bisa menjaga mertuanya dengan baik dan hampir mencelakainya." ucap Atta sembari tersenyum sinis.


"Kak..." Vanka memeluk Atta karena tidak mau melihat Atta terpuruk karena merasa bersalah.


Tak lama kemudian Ernes datang dengan tergesa-gesa. Dia ingin tahu apa yang terjadi. Setelah menerima kabar dari papanya, Ernes segera kembali dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Melihat Ernes berlari dengan tergesa-gesa, Atta dan Vanka segera menyusul. "Gimana keadaan mama?" tanya Ernes dengan panik.


"Mama udah melewati masa kritis, tapi mama belum juga sadar.." jawab Gio yang juga terus menangis disamping ranjang mamanya.


"Kenapa bisa kayak gini?" tanya Ernes lagi.


Namun, tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Ernes. Gio dan Sakha hanya diam, begitu juga Vanka. Karena mereka tidak mau semakin membuat Atta kecewa dan bersedih.


"Maaf, aku yang salah. Aku salah tebus obat mama." Atta maju dan memberitahu apa yang terjadi. Karena dia tahu kediaman adik ipar dan mertua karena tidak ingin membuatnya sedih.


"Salah tebus? Bukannya obat itu diresepin oleh om Refan, jadi om Refan yang harus tanggung jawab dong!" ucap Ernes yang belum paham apa yang terjadi.


"Aku harus bicara sama om Refan.." imbuhnya.


Atta menahan tangan Ernes yang hendak pergi menemui Refan. "Om Refan nggak salah resepin obat. Hanya saja..."


"Hanya apa?" Ernes semakin penasaran.


"Jadi mama minum obat berbahaya itu?" Atta menganggukan kepalanya.


"Kamu ceroboh banget sih Ta. Harusnya kamu cek dulu obat itu." Ernes menjadi kesal karena menganggap Atta ceroboh dan mengakibatkan mamanya seperti ini.


"Ini mama aku lho, mertua kamu.." imbuh Ernes dengan wajah kecewa.


"Aku cek sebelumnya, dan apoteker tidak akan berani macem-macemin resep apalagi itu untuk keluarga kamu."


"Jadi darimana obat itu? Kamu yang sengaja kasih ke mama?"


Jleb!


Atta membulatkan matanya mendengar perkataan Ernes. Dia tahu Ernes sedang marah, tapi tak pernah menyangka jika Ernes bisa menuduhnya seperti itu.


"Kamu nuduh aku yang celakai mama?" tanya Atta masih tak percaya jika Ernes menuduhnya melakukan dengan sengaja.


"Terus siapa?"


"Kamu kan yang tebus obat mama? Kamu juga yang bertugas menjaga mama dan memberi mama obat?"


"Nes, jangan cepat mengambil kesimpulan seperti itu. Atta nggak mungkin lakuin itu.." Sakha juga masih tidak percaya jika Atta sengaja. Dia percaya jika menantunya itu anak baik dan tulus.


"Lalu siapa pa yang kasih obat itu? Papa? Gio? Atau Vanka?" Ernes semakin tidak masuk akal.


Tapi, perkataan Ernes itu membuat Sakha terdiam. Seharian ini memang Atta yang mengurus segala sesuatunya untuk Ines. Pengakuan dari pembantu di rumahnya juga Atta yang memberi obat Ines. Karena Ines tidak mau orang lain, dia hanya mau dilayani oleh Atta.


"Terserah kamu mau nuduh aku yang sengaja celakai mama atau apapun. Yang jelas nggak pernah sedikit terlintas dalam benakku untuk mencelakai mama." sahut Atta yang merasakan hatinya sakit sekali.


"Kamu sengaja lakuin itu ke mama aku karena kamu masih dendam atas meninggalnya ibu kamu, kan?" tanya Ernes dengan sengit.


"Ernes, jangan tidak masuk akal deh!!" seru Atta karena merasa Ernes telah sangat tidak masuk akal.


"Kamu masih salahin aku atas meninggalnya ibu kamu, jadi kamu juga lakuin ini ke mama aku." Atta menatap Ernes dengan tajam. Atta bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang Ernes katakan.


Atta tidak lagi mau berdebat dengan Ernes yang tidak masuk akal. Dia pamit pulang kepada papa mertuanya. "Pa, aku pulang aja. Maafin aku, tapi aku benar-benar nggak ada niat untuk mencelakai mama. Karena semua orang tidak ada yang percaya sama aku, lebih baik aku pergi saja.." ucap Atta menahan rasa sakit dalam hatinya.


Atta segera berlari keluar dengan menahan air mata yang hampir jatuh. Dia juga melewati Cintya yang juga ada ditempat itu bersama dengan Ryan. "Tunggu!" Ernes mengejarnya sampai depan ruangan rawat mamanya.


"Kamu mau pergi begitu saja setelah apa yang kamu lakukan ke mama aku?" tanya Ernes sambil menatap Atta tajam.


"Kamu mau aku bagaimana?" tanya Atta balik.


"Kenapa kamu tega lakuin ini ke mama aku? Kalau kamu marah dengan kematian ibu kamu, kamu lampiasin ke aku, jangan ke mama aku! Lampiasin dendam kamu ke aku!" ucap Ernes yang semakin membuat hati Atta tertusuk.


"Memang lebih baik kita nggak pernah bersama!" ucap Atta dengan hati yang begitu sakit. Atta segera menarik tangannya dan berlari meninggalkan rumah sakit itu.


Hatinya benar-benar sakit karena bukan hanya orang lain yang tidak percaya dengan dia. Tapi juga suaminya sendiri yang tidak percaya dengan dia.


Atta tidak pulang ke rumah melainkan merenung di taman dekat rumah kontrakannya. Cukup lama Atta berdiam diri disana. Dia menangis mengingat betapa kejam perkataan Ernes kepadanya.


"Ta.." tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang.


Atta menoleh dan melihay Rey berdiri tidak jauh darinya duduk. "Rey.." Atta tersenyum dan dengan cepat menghapus air matanya.


Rey duduk disamping Atta yang terlihat sangat sedih. "Are you ok?" tanya Rey.


Atta menatap jauh ke depan cukup lama, setelah kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Not ok.." lirihnya.


Rey menepuk pundaknya pelan. Rey mengisyaratkan jika bahunya ada untuk Atta. Melihat isyarat Rey tersebut, Atta pun tersenyum kecil. "Boleh pinjam punggung kamu?" tanyanya.


Rey segera memberikan punggungnya untuk Atta. Segera Atta menempelkan kepalanya dipunggung Rey. Barulah saat itu Atta menangis sejadinya di balik punggung Rey.


Atta menumpahkan semua sakit hatinya dalam tangisan itu. Cukup lama dia menangis. Sementara Rey hanya terus diam dan membiarkan Atta menumpahkan semua kesedihannya.