
Masalah Gio dan Vanka telah sampai ke telinga Ernes. Mamanya menghubunginya dan meminta Ernes untuk pulang. Ines tahu jika Ernes dan Vanka juga lumayan dekat. Siapa tahu Vanka akan luluh jika Ernes menasehatinya.
"Iya ma, aku pulang sekarang!" Ernes segera membereskan dokumen di meja kerjanya.
"Yan, aku mau pulang dulu, mama sakit katanya. Kamu urus semuanya dulu ya!" ucap Ernes terburu-buru.
"Iya bos."
Ernes segera pergi ke rumah orang tuanya. Selama seminggu lebih atau tepatnya setelah berkonflik dengan Atta, dia tidak pulang ke apartemen atau ke rumah orang tuanya. Dia lebih memilih tinggal di kantor.
Sesampainya di rumah, Ernes segera berlari ke kamar mamanya. Infus telah terpasang ditangan mamanya. Mamanya juga terus menangis.
"Ada apa sih ma? Kenapa Gio dan Vanka mau pisah?" tanya Ernes yang baru tahu masalah rumah tangganya.
"Adik kamu dijebak oleh Marisa."
"Marisa yang suka sama Gio itu?" Sakha menganggukan kepalanya. Sakha kemudian menceritakan semuanya kepada Ernes, karena saat itu Ines hanya bisa menangis saja.
"Vanka minta cerai.." ucap Sakha dengan lemas. Dia menatap istrinya yang terus terusan menangis. Dan tidak pernah menyangka jika rumah tangga anaknya akan seperti ini.
"Gio pasti depresi banget saat ini. Dia cinta banget sama Vanka." ucap Ernes.
"Makanya mama dan papa hubungin kamu. Kita tahu kamu cukup dekat dengan Vanka, jadi tolong adik kamu!" Sakha memohon kepada Ernes.
"Iya pa, nanti aku coba ke rumah Vanka dan coba ngomong sama dia."
"Vanka sepertinya benar-benar marah. Ayah dan mamanya juga tidak bisa menahan dia." Sakha terlihat begitu sedih.
"Mama nggak mau menantu lain, pa. Mama maunya Vanka. Dia udah kayak anak mama sendiri." ucap Ines sembari menangis.
"Kalau sampai pisah, Gio pasti akan frustasi." imbuh Ines yang membuat Sakha ikutan sedih.
"Atta mana? Sudah lama mama nggak ketemu Atta.."
"Atta.. e... Atta ada ma, dia masih sibuk dengan pekerjaan.." Ernes sengaja berbohong supaya papa dan mamanya tidak semakin sedih. Permasalahan adiknya membuat mamanya sampai jatuh sakit. Ernes tidak ingin menambahkan lagi kesedihan untuk orang tuanya.
"Dia kerja di perusahaan kamu, bisa-bisanya kamu kasih dia pekerjaan yang banyak.." omel Ines.
"Ernes memang suami Atta, tapi biar bagaimanapun dia atasan Atta. Jangan campur aduk masalah pribadi dengan pekerjaan." sahut Sakha yang tidak mau anaknya terpojok oleh omelan mamanya.
"Hah, terserah. Tapi nanti malam kamu harus bawa Atta kesini!" Ernes terdiam. Dia semakin bingung, karena tidak mungkin dia membawa Atta ke rumah orang tuanya saat ini.
"Ma, pa, sebenarnya aku dan Atta juga udah hampir dua minggu berpisah." Ernes mengatakan yang sebenarnya kepada mama dan papanya.
"Apa??" pastinya Sakha dan Ines langsung kaget bukan main.
"Aku udah nggak tinggal bareng dia. Aku tinggal dikantor dan dia kembali ke rumah kontrakan yang dulu." Sakha dan Ines kembali terkejut dengan pengakuan anak sulung mereka.
Seketika pecahlah tangisan Ines. Dia tidak menyangka jika rumah tangga kedua anaknya harus seperti ini. Sakha memeluk istrinya dan menenangkannya.
"Mama jangan banyak pikiran!" ucap Sakha.
"Kenapa nasib anak-anak kita kayak gini, pa?" tanya Ines sembari menangis dalam dekapan suaminya.
"Maafin aku, ma, pa.." gumam Ernes merasa sedih juga melihat mamanya menangis. Tapi dia juga tidak mau membohongi papa dan mamanya.
Ernes segera ke kamarnya. Kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Kamar itu masih bersih dan rapi. Sepertinya selalu dibersihkan oleh pelayan di rumahnya.
Ernes melemparkan tubuhnya ke kasur empuk itu. Sebenarnya dia juga merasa sangat lelah. Sudah hampir dua minggu dia tidak istirahat dengan baik. Dia juga pusing dengan masalah yang datang bersamaan ini. Masalahnya dengan Atta belum selesai. Kini adiknya yang menghadapi masalah yang sama.
Ernes menatap langit-langit kamarnya sembari memijit pelipisnya. Memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk membantu adiknya. Dia tahu jika adiknya sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Dan takut jika adiknya akan menjadi gila atau kehilangan harapan dalam hidupnya setelah berpisah dengan istrinya.
Kringgg!!
Ernes terperangah saat mendengar ponselnya berbunyi. Ternyata dia ketiduran saat sedang memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk membantu adiknya.
Ernes segera meraih ponselnya dengan mata yang masih terpejam. "Ya?"
"Apa? Dimana dia sekarang?" Ernes langsung melompat dari tempat tidurnya.
"Rumah sakit Harapan."
"Aku segera kesana!" Ernes langsung mematikan teleponnya kemudian berlari mencari papanya.
Dia melihat mamanya sudah tertidur sementara papanya masih melamun di samping tempat tidur. Sakha seperti memiliki banyak pikiran. Dia terus merokok sampai banyak sekali putung rokok diasbak. Untungnya dia menyalakan pembersih udara jadi asapnya tidak mengganggu Ines.
"Pa.."
"Kenapa Nes?"
"Kita bicara diluar aja!" Sakha segera mematikan rokoknya kemudian keluar dari kamar.
"Pa, aku mau ke rumah sakit, Gio berantem di club-nya om Andhika, dia terluka parah dan saat ini dibawa ke rumah sakit." Sakha semakin terkejut mendengar informasi dari Ernes.
"Papa jaga mama aja, pastiin mama jangan sampai dengar masalah ini!" Ernes takut mamanya akan semakin sedih.
"Biar aku yang urus Gio.." Sakha menganggukan kepalanya.
"Jaga adik kamu ya! Nanti kalau papa ada waktu papa ke rumah sakit juga."
"Iya pa. Aku pergi dulu.." Ernes segera berlari ke rumah sakit untuk mengurus adiknya.
Di rumah sakit, Ernes bertemu dengan Andhika selaku pemilik hiburan malam tersebut. Ernes bertanya apa yang terjadi dengan adiknya.
"Gio berantem, beberapa hari belakangan dia sering datang dan pulang dengan mabuk berat." ucap Andhika.
"Dia lagi ada masalah dengan istrinya om." jawab Ernes.
"Makasih ya om udah bawa Gio kesini.."
"Iya. Nanti om urus semuanya.."
"Makasih om." Andhika kemudian meninggalkan rumah sakit karena dirasa Gio sudah aman sekarang.
Selang beberapa saat, Refan keluar dari Unit Gawat Darurat. Dia mengatakan jika Gio telah melewati masa kritis. "Gio udah melewati masa kritis dan sudah bangun, hanya saja dia masih belum bisa diajak bicara. Dia hanya diam saja dan terus memanggil nama istrinya.." jelas Refan.
"Istrinya kemana?"
"Gio lagi ada masalah dengan istrinya, om. Makasih om udah rawat Gio dengan baik."
"Kamu harus bawa istri Gio kesini! Om rasa hanya dia satu-satunya harapan Gio agar kembali semangat." saran Refan kepada Ernes.
"Iya om, aku usahain."
"Ya udah, om ke ruangan om dulu! Perawat akan segera memindahkan Gio ke kamar rawat."
"Sekali lagi, terima kasih, om.." hanya itu yang bisa Ernes katakan.
Untungnya pemilik club dan dokter di rumah sakit adalah sahabat dari om-nya, Alfarezi. Jadi tentu saja mereka akan melakukan yang terbaik untuk adiknya.
Ernes duduk sambil memengangi kepalanya dengan kedua tangannya. Di otaknya terlintas banyak sekali masalah yang harus dia hadapi. Belum lagi masalahnya dengan Atta yang tak kunjung menemui titik temu.
Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Besok siang kita ketemu di mall, aku kangen sama Kiano dan Keysha!" ternyata dia menelepon Vanka dan mengajaknya bertemu.