Sudden Mariage

Sudden Mariage
49



Pagi hari, Ernes pergi ke makam mertuanya. Dia ingin menyapa dan meminta maaf karena tidak bisa mengantar mertuanya ke peristirahatannya yang terakhir.


Ernes memanjatkan doa dia sana serta menabur bunga untuk mertuanya. "Maafin aku bu, karena aku tidak bisa mengantar ibu kemarin. Maafin aku juga karena tidak bisa menepati janjiku untuk menjaga Atta." air mata Ernes menetes pada saat itu. Dia sangat menyesali apa yang telah terjadi. Tapi nasi telah menjadi bubur.


Cukup lama Ernes berada dipusara ibu mertuanya. Air matanya tak bisa dia bendung lagi. Dia menangis diatas makam ibu mertuanya.


Tapi, tanpa dia sadari. Atta yang saat itu juga sedang kangen dengan ibunya melihat Ernes di dekat pusara ibunya. "Ngapain kesini?" tanyanya dengan ketus dan dingin.


"Aku jengukin ibu.." jawab Ernes tidak terpancing dengan Atta.


"Buat apa dijengukin? Mau pamer ke ibuku kalau kamu punya pacar dibelakang aku? Atau mau minta maaf karena telah khianati aku?" Atta tersenyum sinis. Namun jelas sekali jika dia sedang marah.


"Asal kamu tahu, ibuku meninggal karena selingkuhan kamu.." imbuh Atta masih dengan emosi.


"Ta, jangan dikira aku tidak bisa marah ya. Kamu terus nuduh aku selingkuh, emang siapa selingkuhan aku?" tanya Ernes dengan marah.


"Siapa lagi kalau bukan Cintya."


"Stop Atta! Kenapa kamu selalu nuduh Cintya yang membuat ibu kamu seperti ini?" seru Ernes semakin marah. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi.


"Itu faktanya. Cintya sendiri yang bilang ke aku kalau dia sengaja bilang ke ibuku kalau dia pacar kamu."


"Stop Atta!!!" Ernes meraung.


"Kamu konyol!! Hanya karena kamu nggak suka Cintya, kamu tuduh dia yang nggak-nggak. Kalau emang Cintya yang bilang sendiri ke kamu, mana buktinya?" Atta terbelalak.


Benar juga, Atta tidak punya bukti sama sekali. Kemarin malam, saking marahnya dia lupa tidak merekam pembicaraan mereka.


Atta pun seketika terdiam. Dia tidak punya bukti apapun wajar saja jika Ernes tidak mempercayainya.


"Nggak punya kan? Please, jangan kayak anak kecil!"


"Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku mohon, jangan kesini lagi! Karena itu hanya akan membuat ibuku sedih.." pinta Atta. Ernes tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Oke kalau itu mau kamu." Ernes yang kesal segera meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Ernes pergi, Atta menangis sejadinya di depan pusara ibundanya. Atta memeluk nisan ibunya sembari menangis. "Kenapa ibu nggak ajak aku? Aku kesepian." lirihnya dalam isak tangisnya.


****


Seminggu selepas kepergian ibunya. Atta mulai menjalani hidup normal lagi. Dia kembali bekerja di club malam milik Andhika. Awalnya Andhika menolak karena tidak enak dengan Ernes.


Akan tetapi, Atta menceritakan semuanya kepada Andhika termasuk perpisahan mereka. Andhika merasa kasihan kepada Atta. Maka, dia kembali mempekerjakan Atta sebagai staaf keamanan.


Hari ini, hari pertama Atta kembali bekerja ke club malam milik Andhika. Seperti biasa, Atta menyamar menjadi wanita jelek dan kuno.


Ketika Atta sedang patroli. Tanpa sengaja dia mendengar sebuah rencana jahat dua orang wanita. Awalnya dia tidak tertarik dengan urusan orang lain. Tapi, karena salah satu wanita itu menyebutkan nama yang dia kenal. Atta pun segera mencari tempat bersembunyi untuk menguping. Apakah orang yang dia ceritakan itu adalah orang yang dia kenal.


"Kamu deketin lelaki ini, lalu ajak dia pergi. Tapi jangan lupa kamu kasih obat ini ke minuman orang yang ini." wanita tersebut memerintahkan seseorang untuk mengikuti rencananya.


Tapi, karena Atta sedang bersembunyi, dia jadi tidak bisa melihat siapa orang yang akan dikasih obat itu.


"Ini uang muka untuk kamu, sisanya aku transfer setelah semua sukses, sampai aku bisa tidur dengan lelaki pujaanku." ucap wanita tersebut.


Namun, tiba-tiba Atta dikagetkan oleh kepala staff-nya. Kepala staff-nya menepuk pundaknya. "Kenapa kamu disini?" tanya kepala staff-nya.


"Eh, anu pak, nggak, tadi cuma lewat saja.. Aku lanjut patroli lagi.." Atta segera pergi dari tempat tersebut.


Dia tidak lagi penasaran karena merasa bukan urusan dia. Siapa tahu nama yang disebut itu juga bukan seseorang yang dia kenal, hanya sama saja namanya.


Atta kembali patroli, tapi tanpa sengaja dia melihat Ernes bersama kedua temannya sedang minum. Dia terus memperhatikan lelaki itu. Jantungnya kembali berdetak kencang. Tapi, Atta segera pergi karena tidak mau semakin terpuruk oleh rasa yang tak mungkin itu.


Ernes sedang bercengkerama dengan kedua temannya. Nampak tatapan Ernes nampak kosong. Dia hanya terus menenggak minuman yang ada di depannya.


"Jadi lo masih belum baikan juga sama istri lo?" tanya Randi salah seorang teman Ernes.


Ernes menggelengkan kepalanya. Entah apa yang membuatnya masih enggan menemui Atta. Padahal, diam-diam setiap malam dia ada di dekat rumah kontrakan Atta. Tapi dia masih enggan bertemu dengan Atta.


"Jadi apa keputusan lo? Lo mau pisah sama istri lo?" sahut Randi, teman Ernes.


"Gue belum mikir, belum bisa putusin juga. Tapi, kayaknya dia udah bisa move on dari gue.." Ernes teringat Rey yang selalu menemani Atta.


Beberapa waktu lalu, dia melihat Atta dan Rey makan malam disebuah kafe sederhana. Tapi, Atta terlihat sangat bahagia.


"Tapi lo yang terlalu gengsi, padahal lo sebenarnya belum bisa move on kan dari dia?" Ernes terdiam kembali.


Dia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah sebenarnya dia sudah jatuh cinta kepada Atta atau hanya terbiasa saja.


Saat dia menoleh, dia seperti melihat wanita yang berpenampilan kuno. Persis dengan penampilan Atta waktu pertama kali bertemu dengannya. Seketika Ernes pun tergugah. Dia bangkit dan pamit ke teman-temannya dia mau ke toilet.


"Gue ke toilet bentar.." Ernes segera berlari ke arah wanita itu pergi.


Ernes terus mencari sampai toilet wanita. Namun, dia tidak menemukan wanita tersebut. "Apa cuma bayangan aku aja?" gumamnya tidak yakin dengan apa yang dia lihat.


Ernes berjalan kembali ke tempat dimana temannya berada. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat wanita yang berpenampilan kuno seperti yang dia kejar tadi.


Ernes melihat wanita itu sedang ngobrol di lorong bersama seorang lelaki dan dia kenal lelaki itu. Seketika tangan Ernes mengepal dengan erat.


Ternyata benar, wanita berpenampilan kuno tersebut adalah Atta, istrinya. Dia sedang ngobrol dengan Rey dilorong tersebut.


Ernes semakin kesal karena Atta terlihat begitu bahagia bersama dengan Rey. Dia ingin mendekat, tapi kakinya terasa berat. Jadi Ernes hanya memperhatikan saja keduanya dengan kesal.


"Ya udah kamu lanjut kerja, aku tunggu di parkiran ya!" Rey dengan lembut membelai rambut Atta.


Dan tentunya itu membuat Ernes semakin kesal. Tapi dia tetap diam ditempatnya. Wajahnya membeku, tangannya mengepal dengan erat, jelas sekali dia sedang menahan amarah.


"Jadi dia kembali kerja disini?" gumamnya dengan kesal.


Ernes memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Karena dia takut tidak bisa menahan amarahnya. Dia kembali dengan wajah kesal dan tanpa bicara sepatah kata pun.


"Pulang yuk!" ajaknya yang masih sangat kesal saat teringat kejadian barusan.


Tanpa menunggu temannya, Ernes segera bangkit dan meninggalkan tempat tersebut. Randi dan Rafa saling berpandangan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Ernes. Tapi mereka tetap menyusul Ernes juga.