Sudden Mariage

Sudden Mariage
57



Ernes melihat tangan Atta yang agak merah. Dia mulai bertanya karena khawatir. "Tangan kamu kenapa?" tanya Ernes sembari mendekati Atta.


"Oh ini? Tadi ada anj*ng yang tidak sengaja menabrak aku, jadi sop-nya tumpah dikit dan kena tanganku.." jawab Atta sembari melirik Cintya yang baru saja masuk ke kamar mamanya Ernes.


"Anj*ng? Anj*ng siapa? Kita nggak punya anj*ng.." Ernes bingung dengan apa yang Atta katakan. Namun, setelah Atta mengisyaratkan melalui matanya, Ernes barulah paham siapa yang dimaksud oleh Atta sebagai anj*ng yang menabraknya.


Sementara Cintya merasa kesal karena dikatai anj*ng oleh Atta. Dia pun menatap Atta dengan tajam.


Tiba-tiba Ernes menerima sebuah panggilan telepon. Dia pun izin menerimanya. "Aku angkat telepon bentar.." pamitnya ke Atta.


Atta hendak menyuapi Ines tapi langsung diserobot oleh Cintya. "Biar aku yang suapin.." Cintya merebut sop yang pegang oleh Atta.


Sakha dan Ines saling berpandangan melihat apa yang Cintya lakukan. Namun mereka hanya diam, masih canggung untuk menegur Cintya.


Sedangkan Atta hanya memutar bola matanya melihat apa yang Cintya lakukan. Dia masih terlalu malas untuk meladeni Cintya.


Atta hanya melihat saat Cintya menyuapi Ines. Dengan tersenyum sinis melihat Cintya yang sepertinya cari perhatian ke mama mertuanya.


Tak lama kemudian Ernes masuk kembali bersama dengan Kiano. "Tante.." seru Kiano segera berlari ke arah Atta. Kemudian bocah lelaki itu langsung memeluk Atta.


"Hai jagoan tante.. Baru pulang sekolah?" Atta yang tadinya badmood kembali ceria dengan kehadiran Kiano.


"Iya.."


"Kak," sapa Vanka dan Gio.


"Gio, Vanka.. Gio udah sembuh?" Atta meminta Keysha dari gendongan Vanka. Dia sangat suka sekali dengan anak-anak. Apalagi Kiano dan Keysha sangan menggemaskan.


"Cantiknya tante.. muah.." Atta mencium pipi Keysha yang gembul.


"Udah mendingan kak. Makasih ya kak karena kakak, aku dan Vanka bisa baikan." ucap Gio.


Atta hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya saja. Dan kembali menciumi pipi Keysha dengan gemas. Akan tetapi, apa yang Atta lakukan itu membuat Kiano menjadi cemburu.


Bocah kecil itu menarik baju Atta pelan. "Aku juga mau dicium.." ucapnya.


Apa yang Kiano lakukan tersebut, sontak membuat semua orang tertawa, kecuali Cintya yang merasa tak suka karena Atta bisa sedekat itu dengan keponakan Ernes.


Atta segera berjongkok kemudian mencium pipi Kiano kanan dan kiri. Kiano pun melompat kegirangan karenanya.


"Ki, gantian dong! Paman juga mau dicium tante.." sahut Ernes yang membuat mereka tertawa kembali.


"Apaan sih.." gumam Atta malu-malu.


Lagi-lagi Cintya merasa tidak suka dengan kebahagiaan itu.


"Ta, kamu nggak usah pulang! Kamu tidur disini aja!" sahut Sakha.


"Iya Ta, mama mau dimasakin lagi. Masakan kamu enak.." ucap Ines juga tidak mau ditinggal oleh Atta.


"Tapi aku harus kerja, ma.." Ines segera menatap Ernes.


"Aku mintakan izin ke om Andhika." Ernes sangat peka dengan kode dari mamanya. Hanya tatapan matanya saja Ernes langsung tahu maksud dari tatapan itu.


"Aku baru kerja belum ada seminggu, nggak enak kalau izin.."


"Kalau gitu keluar dari pekerjaan kamu! Aku masih bisa nafkahin kamu.." Ernes kembali memperjelas statusnya sebagai suami Atta.


"Ya udah iya, aku hari ini nggak berangkat kerja." Atta mengalah karena tidak mau ribut dengan Ernes di depan keluarga Ernes. Apalagi di depan Cintya, karena pasti itu akan membuat Cintya senang. Pastinya itulah yang Cintya harapkan.


"Asyik, nanti aku mau bobok sama tante.." Kiano yang melompat kegirangan saat tahu jika Atta akan menginap.


"No! Tante bobok sama paman. Kamu bobok sama mama dan papa.." Ernes bertingkah kekanakan. Dia tidak mau kalah dari keponakannya.


Seketika raut wajah Kiano menjadi sedih. Tapi, dia juga tidak berani membantah pamannya. Selama ini pamannya memang selalu memanjakan dia dan adiknya. Namun, ada saatnya Ernes bersikap galak dan tegas kepada kedua bocah itu.


Itulah sebabnya, meskipun Kiano terkesan manja. Tapi dia juga tidak berani membantah apa kata pamannya.


"Jangan dengerin paman! Nanti Kiano boleh kok bobok sama tante.." ucap Atta menghibur Kiano.


"Oh gitu, oke deh.." Atta menyentuh kepala Kiano dengan lembut.


"Cin, kamu nggak balik kerja?" tanya Ines yang membuat Cintya membulatkan matanya.


"Eh, maksud tante bukan mau usir kamu. Tapi... tapi ini kan masih jam kerja. Kamu nggak dimarahin bos kamu?" Ines meralat perkataannya. Takutnya Cintya akan salah paham.


"Nggak tante, aku ada pekerjaan dengan Ernes, mau ke proyek kita hari ini.." jawab Cintya.


"Oh iya, sampai lupa.." sahut Ernes menepuk jidat. Sebelumnya dia memang memiliki jadwal pergi ke proyek untuk survey kembali. Tapi ternyata dia lupa.


Ernes melirik ke arah jam tangannya. "Cin, besok aja ya pergi ya!" ucapnya membatalakan jadwal pekerjaannya.


"Besok pagi aku free, kita bisa kesana besok pagi aja." imbuh Ernes.


"Kamu gimana sih Nes? Kan kamu sendiri yang buat jadwal." Cintya agak kecewa dan marah dengan Ernes.


"Maaf, tapi hari ini aku nggak bisa. Lagipula ini udah mau sore.."


"Baru jam setengah 3 Ernes.."


"Aku nggak bisa, kalau kamu mau pergi sekarang, biar ditemenin Ryan!"


Cintya menahan amarahnya karena tidak mau membuat Ernes marah dan merusak hubungan baik mereka. "Yaudah besok pagi aja nggak apa-apa.." ucapnya.


Disisi lain Atta tersenyum sinis. Dia sangat tahu jika Cintya ingin pergi bersama dengan Ernes. Makanya saat dia diminta pergi dengan Ryan, Cintya langsung berubah pikiran dan mengalah.


Cintya tahu jika dia sedang ditertawakan oleh Atta. Dia pun menatap Atta dengan tajam. "Awas aja kamu.." batinnya.


"Makasih untuk pengertiannya.."


Malam harinya, Atta tidur dikamar Ernes bersama sang pemilik kamar. Pertama kalinya dia tidur di kamar Ernes. Atta melihat kesekeliling kamar. Ada beberapa foto masa kecil Ernes sampai masa sekarang.


"Ini kamu dan Aiko?" tanya Atta.


"Hmm.."


Atta kembali melihat kesekeliling, dia menemukan sebuah foto yang dipotong sebagian. Atta memicingkan matanya, penasaran foto siapa yang dibuang itu. Dia pun langsung bertanya karena tidak mau lama-lama penasaran.


"Ini foto kamu sama mantan kamu?" tanya Atta sembari menunjuk foto yang dia curigai tersebut.


Ernes menoleh dan menatap foto yang berlatar belakang pemandangan gunung. "Bukan, itu foto aku sama Cintya sebenarnya."


"Tapi kenapa kamu potong?"


"Yang setengahnya dibawa Cintya. Dulu Cintya pernah nyatain cintanya ke aku, jadi aku kasih foto bagian dia ke dia. Aku nggak mau dia mikir aku simpen fotonya lalu mengira kalau aku suka sama dia."


"Emang nggak suka? Kayaknya dia masih suka sama kamu.."


"Bisa bahas yang lain nggak? Aku malas berantem hanya karena masalah itu-itu aja." ucap Ernes.


"Sama. Tapi Cintya tuh seperti duri dalam daging. Tadi aja dia sengaja tabrak aku sampai sop panas itu mengenai tangan aku." Atta agak kesal karena masalah Cintya itu tidak ada habisnya.


"Udah diobatin?" Ernes segera mengecek tangan Atta yang masih kelihat memerah.


Dia segera mencari salep dan mengoleskannya ke tangan Atta yang merah. Ernes juga meniup pelan tangan Atta.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Atta berdetak dengan sangat cepat. Seperti hatinya mau melompat keluar. Mungkin juga Ernes mendengar detak jantungnya.


Padahal apa yang Ernes lakukan itu sangat biasa. Tapi bagi Atta, itu membuatnya tersentuh. Mereka telah melakukan hal yang lebih intim. Tapi tindakan kecil itulah yang mampu membuat hati Atta berdebar tak karuan.


Itu pastinya karena dia telah jatuh cinta kepada lelaki itu.