Sudden Mariage

Sudden Mariage
22



"Mama minta kamu makan malam di rumah nanti.." kata Ernes saat dia dan Atta kembali ke kantor.


"Mau aja Ta, nanti biar aku yang jaga ibu di rumah sakit!" sahut Ulfa yang ternyata belum pergi. Dia sengaja mengikuti Atta dan Ernes ke kantor Ernes.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Atta kepada Ulfa karena merasa tidak enak membiarkan Ulfa menunggu ibunya di rumah sakit, sedangkan dia keluar makan malam dengan Ernes dan keluarganya.


Ulfa memeluk Atta dari belakang. "Nggak apa-apa, kamu lupa? ibu kan juga orang tua aku. Jadi aku merasa punya tanggung jawab menjaga dia." ucap Ulfa yang membuat Atta sangat tersentuh.


Dengan tersenyum kecil Atta mengelus tangan Ulfa yang ada di lehernya. "Makasih ya.." ucap Atta pelan.


Atta sangat bersyukur memiliki teman seperti Ulfa. Meskipun dia anak orang kaya, tapi dia sama sekali tidak risih bergaul dengan Atta yang dari kalangan bawah.


"Nanti aku akan temenin Ulfa.." sahut Rey yang juga mengikuti Atta dan Ernes.


"Gomawo.." Rey hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.


Ernes memutar bola matanya. Entah kenapa dia tidak menyukai Rey. Padahal Rey juga tidak ngapa-ngapain. Dia sopan dan juga kelihatannya baik.


"Terima kasih karena sudah mengantar kami.. Kalian berdua pulang hati-hati!" ucap Ernes sembari menggenggam tangan Atta.


"Lah, aku mau ikut masuk, pengen ketemu Ryan.." ucap Ulfa dengan tersenyum senang.


"Ini waktunya kerja bukan main-main!" Atta mendorong kepala Ulfa pelan. Di pikiran Ulfa hanya ada main-main saja. Dia sama sekali tidak serius dalam hal pekerjaan.


"Aku kan ada kerja sama juga dengan perusahaan suami kamu, jadi boleh dong aku main sebentar kesini.." Ulfa masih saja ngeyel.


"Nggak. Ulfa, kamu harus lebih serius mulai saat ini kalau kamu mau dekat sama Ryan! Ryan tuh terbiasa disiplin dan serius dalam hal pekerjaan." tegur Atta agar Ulfa lebih bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan juga urusan pribadi.


Selama ini Ulfa bisa seenaknya karena dia bekerja di kantor papanya sendiri. Tapi berbeda untuk saat ini, itu kantor Ernes dan Atta tidak ingin Ulfa bermain-main di kantor orang lain.


"Ryan tidak suka orang yang tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi." imbuh Atta asal bicara. Padahal dia sama sekali tidak tahu watak asli Ryan seperti apa. Atta hanya asal bicara dan menebak saja.


Mendengar perkataan Atta, seketika Ulfa mengurungkan niatnya untuk main ke kantor Ernes. Dia tidak ingin Ryan akan menjadi ilfil padanya.


"Oke kalau gitu aku balik ke kantor dulu.." ucap Ulfa dengan bersemangat. Sepertinya dia ingin merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.


"Iya, hati-hati!" Atta merasa senang karena Ulfa masih tetap sama seperti Ulfa beberapa tahun lalu. Ulfa yang selalu nurut apa kata Atta dan tidak pernah marah saat Atta menasehatinya.


"Oke aku balim dulu, jangan lupa, salam untuk Ryan.." Atta tersenyum kecil kemudian menganggukan kepalanya.


Sedangkan Rey hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya pelan sebelum dia pergi bersama dengan Ulfa.


Begitu keduanya menghilang. Atta mengajak Ernes untuk segera masuk ke kantor. "Yuk masuk!" ucapnya.


"Ta, kamu darimana tentang karakter Ryan?" Ernes masih bertanya-tanya, kenapa Atta bisa tahu betul karakter Ryan seperti apa.


"Kalian udah kenal duluan?" tanya Ernes mulai mencurigai Atta dengan Ryan.


"Nggaklah.." sanggah Atta. Karena memang dia baru kenal Ryan dari Ernes.


"Aku hanya asal bicara aja. Cuma menebak aja."


"Tapi tebakan kamu benar banget. Masa iya kebetulan?" Ernes masih saja curiga.


Atta terdiam sejenak.


"Aku bisa menebak karakter Ryan dan juga karakter kamu, karena aku pernah punya temen yang sangat mirip dengan kepribadian kalian." jawab Atta sambil menghela nafas berkali-kali.


Sepertinya ada sesuatu yang pernah Atta alami bersama dengan teman yang dia ceritakan tersebut. Karena terlihat jelas perubahan raut wajah Atta.


"Emm, mari kita bekerja, dan bilangin ke tante Ines, nanti aku pasti datang makan malam bersama!" Atta segera mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau semakin tenggelam di dalam masa lalu.


"Mama! Bukan tante.." Ernes menyentil pelan hidung Atta dengan jari telunjuknya.


Atta hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Kemudian dia kembali ke meja kerjanya, sementara Ernes kembali ke kantornya. Mereka harus bisa profesional, waktunya bekerja ya harus kerja.


Pulang dari kantor, Ernes mampir ke apartemen untuk melihat Aiko dan Cio juga membawakan mereka makanan. Ernes datang saat Aiko sedang menangis sembari memeluk anaknya yang terlelap.


"Ai," seketika Aiko menoleh dan menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun.


"Nes, kamu kesini? Atta mana?" tanya Aiko masih berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Atta ke rumah sakit tengukin ibunya. Kamu udah makan?" Aiko menganggukan kepalanya.


"Udah tadi masak sayur yang kamu beli kemarin." jawab Aiko.


"Aku bawa makanan kesukaan kamu dan Cio.." Ernes meletakan makanan tersebut di meja.


Aiko bangkit kemudian berjalan menuju ruang tamu bersama dengan Ernes. Selama hampir setengah jam Aiko dan Ernes hanya diam. Sesekali Ernes menatap Aiko yang terlihat sangat sedih.


"Ai, apa kamu bahagia dengan Rakha selama ini?" tanya Ernes.


"Jujur iya. Tapi aku tidak terima dengan pengkhianatan dia, itu yang membuat aku sedih sampai saat ini." air mata Aiko menetes tapi dengan cepat dia menghapusnya.


"Maaf aku cengeng banget.." ucap Aiko berusaha untuk tersenyum.


Ernes pun dengan segera menarik Aiko ke dalam pelukannya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya memeluk dan mengecup kening Aiko dengan lembut.


Pada saat itu, Aiko langsung menangis sejadi-jadinya. Dia tahu, selama ini hanya Ernes yang bisa memahami dirinya. Aiko juga memeluk Ernes dan menangis dalam pelukan Ernes.


Cukup lama Aiko menangis sampai sesegukan. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Aiko hanya menangis dan Ernes hanya berusaha memberikan pelukannya untuk Aiko menumpahkan kesedihannya.


"Maafin aku.." lirih Ernes.


"Andai aku dulu tidak menyerah, kamu pasti tidak akan terluka seperti ini.." imbuh Ernes.


"Andai.. hiks.. kita bukan saudara.. aku pasti.. hiks.. tidak akan tolak kamu.." ucap Aiko sesegukan.


Tapi, sesaat kemudian Aiko bangkit dan mengusap air matanya. "Aku bahagia punya saudara seperti kamu.. Semoga kamu selalu bahagia ya sama Atta. Dia orangnya baik kok, aku yakin dia bisa bahagiain kamu." ucap Aiko tidak mau semakin terlarut dalam rasa yang terlarang dengan Ernes.


Dia sadar jika hubungannya dengan Ernes hanya bisa menjadi saudara. Aiko tidak ingin memberi Ernes harapan lagi, karena dia sadar jika perasaan Ernes itu salah.


"Ai, bagaimana aku bisa bahagia kalau kamu seperti ini? Maafin aku yang masih sulit untuk melepaskan perasaanku ke kamu. Aku tahu perasaan ini salah, tapi aku juga tidak punya kuasa menahannya, perasaan ini mengalir begitu saja.." ucap Ernes sembari menatap Aiko.


"Nes, ingat kamu akan menikah dengan Atta. Jangan sakiti dia! Perasaan kamu ke aku itu hanya perasaan seorang saudara." Aiko ingin Ernes segera tersadar.


"Kita punya kebahagiaan masing-masing. Aku dengan keluarga kecil aku, kamu dengan keluarga kecil kamu!" imbuh Aiko.


"Maafin aku Ai, yang tidak bisa mengendalikan perasaan aku ke kamu." lirih Ernes.


"Tanamkan dalam hati kamu, jika kita adalah saudara. Rasa sayang kita hanya sebatas sayang terhadap saudara. Aku janji akan selalu bahagia." Ernes tersenyum kecil mendengar perkataan Aiko.


"Tadi Rakha ke kantor aku. Dia tanya dimana kamu dan Cio."


"Terus kamu jawab apa?"


"Aku jawab aku tidak tahu."


"Ai, kalau saran aku sih kamu selesaiin urusan kamu sama Rakha terlebih dulu. Aku lihat dia juga sangat menyesal." Ernes memberikan saran untuk Aiko agar mau menemui suaminya terlebih dulu untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Tapi bukan aku mau usir kamu ya.. Aku cuma kasih saran aja, kalau kamu masih mau disini, aku juga nggak keberatan, yang penting kamu baik-baik aja.." imbuh Ernes yang langsung menjelaskan karena takut Aiko akan salah paham.


Aiko tersenyum kecil. "Aku juga udah mikirin kok, Nes. Besok pagi aku akan ke rumah papa aja, biar nanti aku bicarain sama papa dan mama bagaimana baiknya." jawab Aiko.


"Besok sebelum ke kantor, aku anterin kamu!" Aiko menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


Selain ingin menyelesaikan masalahnya. Aiko juga ingin menjaga jarak dengan Ernes. Dia tidak ingin membuat Ernes berharap lagi padanya. Dan tidak mau merusak hubungan Ernes dengan Atta.