Sudden Mariage

Sudden Mariage
46



Langit seolah sedang murung, karena sampai jam 9 pagi matahari sepertinya enggan bersinar. Kabut mendung menyelimuti, mengiringi kepergian Susi ke peristirahatannya yang terakhir.


Sekitar pukul 8.30 pagi, dokter menyatakan jika ibunya Atta yang telah berjuang dengan penyakitnya harus berpulang untuk selamanya. Tangisan pecah di dalam ruangan tersebut.


Tangisan seorang anak yang kehilangan ibunya untuk selamanya. Kepergiaan ibunya tersebut, tentunya membuat Atta terpukul.


Selama ini dia hanya tinggal bersama dengan ibunya, tanpa seorang ayah. Dan kini, ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Atta tidak bisa menahan tangisannya.


Rasa penyesalan jelas memenuhi pikiran. Ya, dia merasa belum bisa membahagiakan ibunya, tapi ibunya telah lebih dulu pergi. Tangisan tanpa suara yang membuat dadanya terasa sesak.


"Atta, kamu harus kuat!" Ulfa memeluk sahabatnya yang terlihat sangat terpukul dan terpuruk. Ulfa tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu.


"Ibu udah nggak sakit lagi." imbuhnya juga dengan air mata yang berlinang. Susi adalah ibu kedua untuknya. Saat dia tidak mendapat kasih sayang seorang ibu. Susi memberikan kasih sayang itu.


Tentu saja Ulfa juga sangat kehilangan. Dia terus memeluk Atta yang sudah tak mampu lagi berdiri. Lututnya serasa kendor dan tak kuat untuk menopang tubuhnya.


"Kuatkan diri kamu! Ibu sudah tenang, dia tidak sakit lagi." ucap Rey yang masih menemani Atta setiap harinya.


Rey juga merasa kehilangan sosok seorang ibu. Meskipun bukan ibu kandung, tapi Susi sudah seperti ibu kandung bagi Rey dan Ulfa.


Meskipun terlihat lebih tegar, tapi Rey tetap tidak bisa membendung air mata kesedihan. Matanya merah dan berair, menandakan betapa kuatnya dia menahan air matanya agar tidak jatuh.


Dia sedih, tapi dia ingin terlihat kuat dan tegar untuk memberikan dukungan penuh untuk Atta. Rey memeluk Atta dengan erat dan juga Ulfa.


"Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi..." ucap Atta sembari menangis tersedu.


"Hei, siapa bilang kamu udah nggak punya siapa-siapa? Masih ada aku, ada Rey juga.." Ulfa protes karena Atta tidak menganggap mereka ada.


"Iya Ta, jangan bilang gitu! Masih ada aku sama Ulfa yang akan selalu ada untuk kamu.." Ulfa menganggukan kepalanya, dia sangat setuju dengan apa yang Rey katakan.


"Terima kasih.." gumam Atta.


Setelah menyelesaikan prosedur rumah sakit. Ibunya Atta langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum yang sama dengan nenek dan kakeknya Atta.


Semua yang kenal Atta hadir di pemakaman tersebut, kecuali Ernes yang sampai siang belum bisa dihubungi. Ryan berusaha terus menerus untuk menghubungi Ernes tapi ponsel Ernes tidak bisa dihubungi. Akibatnya, dia harus kena omel Ulfa.


"Bos kamu itu emang brengs*k, tahu mertuanya meninggal malah nggak bisa dihubungin!" seru Ulfa sangat marah.


"Bos kan nggak tahu kalau akan terjadi hal kayak gini. Rencananya setelah pekerjaan yang sempat tertunda kemarin selesai, bos akan temui nyonya." Ulfa semakin kesal karena Ryan terus saja membela Ernes.


Bukan hanya Ryan yang terus menghubungi Ernes. Tapi juga Ines dan Sakha yang terus berusaha menghubungi Ernes. Namun sayang, ponsel Ernes tidak dapat dihubungi.


"Ryan, Ernes kemana?" tanya Ines.


"Kenapa nomernya nggak bisa dihubungi?" Ines menjadi semakin cemas dan khawatir.


"Anu.. anu nyonya, pak Ernes ke luar kota untuk selesaiin beberapa pekerjaan yang tertunda."


"Aku suruh handle pekerjaan di kantor, nyonya." jawab Ryan yang menjadi serba salah.


Ines kesal, tapi dia tidak melampiaskan amarahnya ke Ryan yang tidak salah apa-apa, karena dia hanya menuruti perintah. Ines segera mendekati Atta dan memeluknya, memberi semangat untuk Atta.


"Aku udah nggak punya siapa-siapa, ma.." lirih Atta disela tangisannya di depan makam ibunya.


"Kamu masih punya mama, papa, Vanka, Gio, Kiano, Keysha, dan Ernes.. Kamu masih memiliki kita.." ucap Ines juga menangis. Dia tahu betul betapa sayangnya Atta kepada ibunya. Tentu saja saat ini Atta sangat sedih sekali.


Mendengar nama suaminya. Atta segera menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan Ernes. Sayangnya, dia tidak menemukan lelaki yang telah menjadi suaminya selama dua bulan tersebut.


Tidak menemukan suaminya berada. Hati Atta semakin tersayat. Apa sebegitu marahnya Ernes sampai bahkan dia tidak mau menghadiri pemakaman ibu mertuanya.


Atta bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum kecil. Ya, dia tahu jika dia hanyalah istri kontrak. Dia sadar posisinya di hidup Ernes bukanlah siapa-siapa.


Hanya sialnya, dia telah merasa nyaman berada disebelah Ernes. Dan mungkin dia sudah kecanduan dengan kasih sayang Ernes. Ernes yang akan selalu memeluknya saat dia terpuruk. Ernes yang selalu mensupport dirinya apapun keadaannya.


Akan tetapi, Atta harus sadar diri jika dia tidak bisa terus-terus memelihara perasaan itu. Jangan sampai jatuh cinta kepada lelaki yang tidak akan mungkin bisa dia gapai. Terlalu banyak perbedaan yang mencolok antara mereka.


"Ernes masih meeting penting, nanti setelah selesai dia akan langsung kesini." kata Ines tidak ingin membuat Atta semakin sedih karena Ernes tidak bisa dihubungin sama sekali.


Atta hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Dia tidak berani berharap lebih ke Ernes. Takutnya dia akan terluka jika telah sadar.


Sementara Ryan masih belum menyerah untuk menghubungi Ernes. Dia bahkan mencoba menghubungi Cintya tapi sama saja, Cintya tidak menerima panggilannya.


"Kenapa mesti dimatiin sih bos ponselnya.." gerutu Ryan. Meskipun sebenarnya Ryan juga tahu jika itu adalah kebiasaan bos-nya.


Ernes akan mematikan ponselnya dan mengalihkan pekerjaan lain ke Ryan saat dia sedang rapat penting. Tapi tetap saja Ryan merasa kesal. Belum lagi Ulfa yang marah dan mengomel terus bahkan mengancam mengakhiri hubungan mereka.


"Ayo dong angkat Cintya!" gumam Ryan masih sangat kesal. Padahal dia juga sudah mengirim pesan ke Cintya. Tapi tetap saja Cintya tidak mengangkat teleponnya.


Sampai pelayat meninggalkan pemakaman satu per satu, tetap saja Ernes belum menyalakan ponselnya. Ryan benar-benar frustasi dibuatnya.


"Nyonya mau pulang ke apartemen, biar aku anter!" ucap Ryan, dia memiliki tanggung jawab untuk menjaga Atta. Perintah itu dia terima langsung dari Ernes.


"Iya, aku cuma mau beresin barang-barang aku dan ibuku saja kok. Nggak usah repot-repot, aku dianter temen aku." setelah berpikir cukup lama, Atta memutuskan untuk meninggalkan aparteman tersebut.


Dia ingin kembali ke rumah kontrakannya dulu. Dan, menjalani kehidupan seperti dulu.


"Beres-beres barang? Tapi nyonya, kata bos Ernes, nyonya-"


"Jangan panggil aku nyonya lagi! Aku bukan nyonya kamu lagi mulai sekarang!" Ryan semakin bingung karena Ernes masih saja belum bisa dihubungi.


Dengan diantar Rey, Atta segera membereskan barangnya dan juga ibunya. Dia ingin menjalani hidup seperti dulu.