Sudden Mariage

Sudden Mariage
66



Ryan dan Ulfa bertemu di rumah sakit. Keduanya datang untuk menjenguk Atta. Setelah memutuskan hubungannya dengan Ryan beberapa hari yang lalu. Ulfa selalu cuek ke Ryan.


"Fa.." Ryan yang menyapanya duluan.


"Ya." jawabnya dengan dingin.


Sebenarnya Ryan masih belum terima dengan keputusan Ulfa. Dia meraih tangan Ulfa yang sudah duluan berjalan. "Fa, kenapa kita harus kayak gini sih?" tanya Ryan.


"Pikir aja sendiri!" jawab Ulfa dengan sewot.


"Iya aku minta maaf kalau gitu. Tapi jangan cuekin aku dong!" pinta Ryan.


Ryan masih teringat jelas akan kemarahan Ulfa yang akhirnya memutuskan hubungan mereka.


Siang itu Ulfa datang ke kantor Ernes. Dia marah ke Ernes karena menuduh Atta dengan sangat kejam. "Tuan Ernes, kamu sebenarnya masih punya hati tidak?" tanyanya dengan marah.


"Kamu menuduh Atta tanpa bukti, kamu tahu nggak, kamu suami paling kejam yang pernah aku temui!!" imbuh Ulfa masih dengan kesal.


"Karena kamu sudah berbuat kejam. Jadi aku mohon jangan lagi deketin Atta! Aku tidak rela, sahabatku dipermainkan oleh lelaki seperti anda!" Ulfa semakin marah karena Ernes hanya diam saja saat dia memarahinya. Seolah Ernes membenarkan jika dia memang bersalah.


"Fa, tahan emosi kamu!" Ryan merasa tidak enak dengan Ernes karena pacarnya telah memarahi Ernes. Dia meminta Ulfa untuk tenang, dan menuntunnya keluar.


"Kamu juga sama aja!! Belain aja dia terus!" Ulfa justru memarahi Ryan.


"Aku nggak belain siapa-siapa, tapi ini bukan urusan kita."


"Apapun yang menyangkut tentang Atta, itu akan menjadi urusanku!" Ryan berusaha menarik Ulfa agar mau keluar dari ruangan Ernes.


"Kita keluar dulu!" pintanya.


Tapi Atta malah menendang kaki Ryan dan membuat Ryan mengerang kesakitan. "Mulai hari ini kita putus! Aku nggak mau ketemu kamu lagi!" seru Ulfa dengan marah, kemudian dia berlari keluar dari ruangan Ernes.


Ryan pun kaget karena Ulfa memutuskan hubungan mereka hanya karena masalah itu. "Maaf pak, aku izin kejar dia bentar.." ucap Ryan.


Ernes hanya terdiam dan menganggukan kepalanya. Dia seperti sedang menonton sinetron di depan matanya.


"Yank,," Ryan mengejar Ulfa sampai ke parkiran kantornya.


Dia berhasil mengejar Ulfa, kemudian menarik tangan Ulfa. "Hei, jangan kayak gini dong!" pintanya.


"Bodo amat. Jangan ganggu aku lagi! Kita udah putus!" Ulfa menghempaskan tangan Ryan dengan kasar.


Ulfa kembali berlari dan masuk ke mobil. Dia pergi dan tidak lagi menghiraukan Ryan yang berusaha mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.


ON..


Ulfa menatap Ryan. Sebenarnya dia juga kangen dengan Ryan tapi dia masih sangat kesal. Dia memilih untuk terus mengabaikan Ryan.


"Cemberut aja cantik, apalagi kalau senyum.." ucap Ryan yang berjalan disamping Ulfa. Namun Ulfa tetap diam saja dan masih cuekin Ryan.


"Yank..." Ryan meraih tangan Ulfa. Tapi kali ini Ulfa diam saja.


"Jangan ngambek lagi! Kangen tauk.." ucap Ryan dengan manja dan sembari mengayun-ayunkan tangan Ulfa.


"Ih... apaan sih.. malu tau dilihatin orang.." ucap Ulfa sembari melihat ke kanan dan ke kiri.


"Biarin aja. Aku kangen banget sama kamu."


"Lihat! Kamu kayak anak kecil.." Ulfa berusaha menarik tangannya. Dia mempercepat jalannya dan Ryan tetao mengejarnya.


Di kamar rawat.


Atta membuka matanya dan melihat seorang lelaki sedang tertidur disamping ranjangnya. Dia tersenyum kecil, teringat semalam saat dia sedang dalam bahaya. Ernes datang meyelamatkannya. Meskipun dia setengah sadar malam itu, tapi dia bisa melihat dengan jelas jika lelaki itu Ernes.


Tetapi, perasaan senang itu hanya sesaat. Begitu teringat anaknya, Atta menjadi panik kembali. Dia terlalu takut jika Ernes akan mengambil anaknya nanti.


Atta berusaha bangun dan ingin buru-buru pergi dari rumah sakit. Tetapi, tanpa sengaja dia malah membangunkan Ernes.


"Kenapa Ta? Kamu butuh apa?" tanya Ernes dengan panik.


Setelah benar-benar membuka matanya. Ernes terkejut melihat Atta yang akan turun dari ranjangnya. Ernes segera mendekat. "Mau ke kamar mandi?" tanyanya sembari memegang tangan Atta.


Dan Ernes segera memapahnya ke kamar mandi. "Kamu tunggu diluar aja!" pinta Atta sedikit mendorong tubuh Ernes agar tidak ikut masuk ke kamar mandi.


"Oke, tapi hati-hati!" ucap Ernes begitu perhatian.


Lima belas menit berlalu, tapi Atta masih belum keluar dari kamar mandi. Ernes pun menjadi tidak tenang. Dia mengetuk pintu kamar mandi. "Ta, kamu baik-baik aja kan?" tanyanya khawatir.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Ernes menjadi semakin panik. Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan lebih kencang. "Ta... Atta..." serunya.


Tak lama kemudian, Atta terpaksa membuka pintu kamar mandi. Padahal di dalam, dia sedang memikirkan cara supaya bisa meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan Ernes.


Begitu Atta membuka pintu kamar mandi. Ernes melihat Atta yang baik-baik saja langsung memeluk Atta dengan erat. "Kamu nakutin aku!" ucapnya.


Atta terdiam, dia tidak membalas pelukan Ernes. Tidak mau terlena seperti waktu itu. Atta mengabaikan Ernes.


Dengan pelan Ernes menuntun Atta kembali ke ranjangnya. "Mau minum?" Ernes menawarkan air putih kepada Atta.


"Nggak." jawab Atta dingin.


"Terus mau apa? Mau makan?" tanya Ernes lagi.


"Nggak mau apa-apa. Bapak bisa pulang, aku udah nggak apa-apa!" ucap Atta dengan dingin mengusir Ernes.


"Nggak mau, aku mau nungguin istriku.." jawab Ernes masih menahan amarahnya.


Dia mendapat pesan dari dokter untuk membuat perasaan Atta tetap stabil. Karena itu berpengaruh kepada janin yang ada dikandungannya.


"Mantan istri tepatnya.." sahut Atta.


"Kita belum cerai, jadi masih istri dong.. Lagipula apa kamu beneran mau cerai dari aku?"


"Iyalah.."


"Nggak takut rugi?"


"Apanya yang rugi? Justru aku malah seneng.." Atta yang ingin mengabaikan Ernes malah justru kepancing dengan godaan Ernes.


"Yakin? Aku bisa menghangatkan tempat tidur kamu, bisa menjadi patner in the life.." jawab Ernes dengan tersenyum dan dengan tatapan nakal.


"Aku nggak butuh kamu untuk menghangatkan tempat tidurku!" seru Atta dengan kesal.


"Kamu tidak cinta sama aku. Aku juga tidak cinta sama kamu, pernikahan kita terjadi karena ibuku." lanjut Atta.


"Yakin nggak cinta sama aku?" Ernes masih tertarik untuk menggoda Atta.


"Yakin banget.." seru Atta dengan cepat.


"Tolong jangan saling ganggu lagi!" Atta memohon.


"Kalau gitu gugurin anak yang kamu kandung!" ucap Ernes yang membuat Atta kaget bukan main.


Bukan hanya karena Ernes tahu jika dia sedang hamil. Tapi juga karena permintaan Ernes yang membuatnya kaget dan kecewa.


"Nggak bisa kan? Itu karena kamu cinta sama papanya." lanjut Ernes.


"Kalau gitu, jaga anak itu baik-baik dan juga jaga papanya! Papanya juga ingin dicintai dan disayangi.." Ernes melanjutkan perkataannya. Kemudian dia menunduk dan mencium perut Atta.


"Jangan nakal diperut mama ya, nak! Papa sayang kalian, papa nggak sabar nunggu ingin ketemu kamu.." ucapnya pelan setelah mencium perut Atta.


Sementara Atta hanya terdiam melihat apa yang Ernes lakukan. Dia masih salah fokus dengan kata-kata Ernes yang ingin dicintai dan disayangi.


"Nes, aku mohon jangan ambil anakku! Dia satu-satunya alasanku untuk hidup sekarang. Kamu masih bisa punya anak lagi dengan orang lain. aku mohon!" Ernes menatap Atta dengan dalam. Dia tidak habis pikir bisa-bisa Atta kepikiran untuk ngomong seperti itu.


"Meskipun aku masih bisa punya anak lagi. Tapi dia juga anakku, aku nggak akan biarin orang lain besarin dia!"


"Tapi aku bukan orang lain, aku ibunya dia.. Aku janji nggak akan nikah lagi!" ucap Atta.


"Kalau gitu kenapa nggak kita besarin dan rawat dia sama-sama?" gantian Atta yang menatap Ernes.


"Kamu nggak mau lepasin dia dan aku nggak mau lepasin kalian.." imbuh Ernes yang semakin membuat Atta membulatkan matanya.