
Ryan masuk ke ruangan Ernes dengan panik. Dia baru aja dapat kabar dari anak buah yang diatur untuk melindungi Atta jika Atta tidak bisa ditemukan. "Bos, gawat bos." ucap Ryan dengan panik.
"Kenapa?" tanya Ernes masih dengan santai.
"Nyonya.... nyonya hilang bos..." Ernes langsung melompat drai kursi kerjanya.
"Apa maksud kamu?" tanya Ernes.
"Nyonya tidak bisa dihubungi, dan tidak ditemukan." jawab Ryan dengan takut-takut. Dia takut bos-nya murka karena tugas melindungi Atta adalah tugasnya.
"Coba ceritakan gimana itu bisa terjadi!!" raung Ernes dalam ruangannya.
"Katanya tadi pagi nyonya pergi sama teman lelakinya, yang namanya Rey.. Tapi entah bagaimana nyonya tidak dapat ditemukan, tidak bisa dihubungi juga.." jawab Ryan masih dengan takut-takut.
"Rey...." gumam Ernes dengan marah kemudian dia bangkit segera meninggalkan ruangannya.
Sementara Ryan terus mengikuti Ernes dan tetap meminta anak buahnya untuk terus mencari Atta.
"Kamu sudah cari ke tempat suami Cintya?" tanya Ernes juga curiga jika Atta dibawa oleh mereka.
"Sudah bos, tapi disana tidak ada siapa-siapa." Ernes semakin panik dibuatnya. Dia berusaha menghubungi Atta tapi teleponnya tidak bisa dihubungi. Ernes juga menghubungi Cintya, tapi sama saja, Cintya tidak bisa dihubungi.
"Brengs*k.." umpat Ernes dengan marah.
"Cari dimana Rey berada!" perintahnya.
"Rey ada di kantor orang tuanya bos, kita sudah cari dia." jawab Ryan.
"Apakah kita perlu hubungi tuan Alfarezi atau tuan Boy?" tanya Ryan. Dia tahu kekuatan dua orang tersebut.
"Nanti dulu aja, aku takut kabar ini sampai ke mama dan akan buat mama khawatir. Kita cari sendiri dulu aja." Ernes ingin menemuka istrinyasendiri tanpa bantuan orang lain, dengan begitu dia bisa membuat Atta percaya kepadanya. Jika dia benar-benar mencintai Atta.
Namun tujuan awalnya dia akan menemui Rey terlebih dulu. Ernes yakin ada yang salah dengan Rey. Mungkin benar jika dia sahabat Atta, tapi dia juga memiliki perasaan ke Atta yang tidak terbalas.
Ernes menemui Rey di kantor papanya. Sebagai pengusaha besar Ernes tentunya tahu apa itu sopan santun. Dia datang dengan baik-baik dan disambut baik oleh papanya Rey. "Ada apa tuan Ernes datang ke perusahaan kami?" tanya papanya Rey yang kebetulan bertemu di lobby perusahaan saat dia hendak keluar.
"Tadi ada meeting dekat sini kemudian mampir, kebetulan anak bapak teman baik istri saya.." jawab Ernes.
"Iatri pak Ernes teman baik Rey?" Ernes menganggukan kepalanya.
"Ulfa?" tanyanya lagi. Karena dari kedua teman wanita Rey hanya Ulfa yang memenuhi syarat menjadi istri Ernes jika dilihat dari segi manapun.
"Lovata." papanya Rey membulatkan matanya, dia bahkan tidak pernah membayangkan Atta bisa menjadi menantunya apalagi menjadi istri Ernes.
"Lo...vata?" Ernes menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Boleh saya masuk?"
"Oh silahkan!"
"Antar pak Ernes ke ruangan pak Rey!" pintanya pada salah satu karyawannya.
Papanya Rey berpikir jika hubungan antara anaknya dengan Ernes bisa menguntungkan perusahaannya. Apalagi Ernes salah satu pemodal terkenal dalam dunia bisnis selain Sakha.
"Dimana istriku?" tanya Ernes tanpa basa basi.
"Mana aku tahu kok tanya aku, kan kamu suaminya.." jawab Rey dengan tenang.
"Jangan buat kesabaran aku habis. Katanya kamu suka sama Atta, tapi kamu malah bikin Atta dalam bahaya kayak gini, kamu harusnya tidak pernah jadi sahabatnya Atta.." raung Ernes. Ernes bahkan mendekat dan hendak memukul Rey. Untungnya Ryan langsung menahan bosnya agar tidak buat keributan di perusahaan tersebut.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu katakan. Kamu kehilngan istri kamu tapi kamu nyalahin orang lain, harusnya kamu mikir, kamu sudah becus tidak menjadi suami Atta.." Rey berkata dengan sengit. Sembari menepuk-nepuk bajunya yang dicengkeram oleh Ernes.
Ernes yang marah kemudian menunjukan sebuah rekaman video yang dkirim oleh nomer tidak dikenal saat dia perjalanan ke kantor papanya Rey. Di dalam video tersebut terlihat Cintya sedang menyiksa seorang wanita yang diikat tubuhnya. Wanita tersebut adalah Atta.
Dan kenapa Ernes yakin jika Rey terlibat karena dalam rekaman tersebut juga terdengar jelas jika Cintya menertawakan Atta yang telah dikhianati oleh sahabatnya. Bahkan Rey dengan tega mendorong Atta kepada Cintya.
Rey membulatkan matanya melihat adegan dalam video tersebut. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. SEbelumnya, Cintya berjanji hanya menakuti Atta tanpa menyiksanya. Itu sebabnya Rey setuju untuk bekerja sama dengan Cintya.
Beberapa hari yang lalu Cintya datang menemuinya menawarkan kerja sama untuk memisahkan Atta dengan Ernes. Cintya berkata jika dia hanya akan menakuti Atta dan memaksa Atta untuk meninggalkan Ernes dengan pertaruhan anak yang dia kandung. Tapi Cintya sama sekali tidak bilang kalau dia akan menyiksa Atta samapi seperti itu. Bahkan memaksa Atta untuk meminum obat penggugur kandungan.
"Maaf aku nggak mau.." kata Rey.
"Kamu tega lihat wanita yang kamu sukai menderita? Ernes tidak suka dengan Atta, dia hanya karena anaknya. Ernes suka sama sepupunya dari dulu dan sampai sekarang dia masih suka. Setelah anaknya Atta lahi, Ernes akan merebutnya dan membuat hidup Atta menderita." ucap Cintya memprovokasi Rey.
"Aku nggak percaya sama kamu.."
"Terserah kalau kamu nggak mau percaya. Tapi kamu bisa lihat saat dia tahu Atta hamil, dia langsung mendekat, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak percaya dengan Atta sebelumnya.."
Rey menjadi terintimidasi karena perkataan Cintya related dengan apa yang Atta alami. Apalagi saat teringat tangisan Atta untuk anaknya, takut anaknya akan diambil oleh Ernes.
"Lagipula, setelah Ernes hancur, kamu sudah bisa lindungi Atta, bisa deketin Atta tanpa takut Ernes lagi. Karena niat kita sama, sama-sama ingin hancurkan Ernes."
"Bukannya kamu suka sama Ernes?" tanya Rey.
Cintya terbahak mendengar pertanyaan Rey. Seolah apa yang Rey katakan itu sangatlah menggelikan. "Kamu tahu kenapa aku kembali mendekati dia? Karena dia sudah hancurkan kebahagiaanku bersama suamiku.." jawab Cintya.
Rey melihat kebenciaan dari sorot mata Cintya. Dan cukup menyakinkan dia untuk mau bekerja sama dengan Cintya. "Aku setuju, asal jangan pernah sakiti dia. Setelah itu aku akan bawa dia pergi dari kota ini." jawab Rey.
"Setuju.." Cintya tersenyum mendengar perkataan Rey.
ON
Rey menangis melihat Atta yang babak belur berusaha melindungi anak yang dia kandung dengan sekuat tenaga. "Maafkan aku Ta.." llirihnya.
"Dimana Atta?" tanya Ernes sekali lagi.
"Aku bawa ke rumah besar yang ada di pinggiran kota.."
"Nggak ada, aku sudah cari kesana.." Ryan juga tidak bisa menahan amarahnya.
"Tapi aku beneran membawa dia kesana.." jawab Rey sudah berlinang air mata.
"Hubungi Cintya dan tanya dimana dia berada! Kalau dalam setengah jam tidak ketemu. Kamu akan tahu akibatnya, kamu, keluarga kamu, keluarga teman kamu, saudara kamu tidak akan bisa menanggung kemarahanku!!" ucap Ernes sebelum pergi dari ruangan Rey.
"Kita cari Atta lagi!" ucapnya kepada Ryan.