Sudden Mariage

Sudden Mariage
30



Ibunya Atta tinggal bersama dengan Atta dan Ernes di sebuah apartemen yang telah Ernes beli untuk Atta. Ernes juga mempersiapkan seorang perawat khusus untuk merawat ibunya Atta.


"Terima kasih nak, karena sudah begitu baik dan mau merawat ibu.." ucap ibunya Atta kepada Ernes.


"Ibu kan ibunya Atta, dan Atta istri aku. Jadi sudah menjadi kewajiban aku merawat ibu.." jawab Ernes yang membuat Susi berkaca-kaca.


Susi merasa sangat bersyukur. Bukan hanya karena anak perempuannya telah menikah. Tapi juga karena anaknya mendapat suami yang begitu baik dan menerima Atta apa adanya.


Sebagai seorang ibu, Susi tahu kisah cinta anaknya sebelumnya. Atta pernah menjalin hubungan dengan beberapa temannya dulu. Tapi, hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Karena keadaan Atta yang serba kekurangan dan memiliki ibu yang sakit-sakitan.


Susi selalu merasa bersalah kepada Atta sejak waktu itu. Namun, kini dia bersyukur karena suami Atta orang yang baik dan dari keluarga baik-baik pula.


Kenapa Susi yakin jika orang tua Ernes adalah orang baik. Buktinya mereka mau menerima Atta sebagai menantu dengan status sosial Atta.


"Terima kasih, nak.. Terima kasih karena telah mencintai anak ibu, dan mau merawat ibu yang sakit-sakitan ini.." ucap Susi lagi.


Cinta?


Ernes terdiam. Apakah dia mencintai Atta. Yang pasti, Ernes menikahi Atta karena dia merasa harus bertanggung jawab karena insiden waktu itu.


Akan tetapi semakin kesini. Ernes merasa ingin sekali melindungi Atta.


"Ibu istirahat aja! Aku dan Atta akan belanja ke supermarket sebentar.." ucap Ernes.


Ernes juga mendorong kursi roda Susi dan membantu Susi untuk berbaring di tempat tidur. Setelah itu, Ernes menemui Atta yang masih sibuk menata kamar mereka.


Ernes tersenyum tipis melihat Atta yang sibuk memasang pernak pernik di kamar mereka agar terlihat nyaman. Dia maju ke depan kemudian memeluk Atta dari belakang.


"Biarin mbak yang beresin.." ucap Ernes.


"Nggak, ini kamar aku. Aku ingin tata sendiri sesuai keinginan aku.." jawab Atta.


Lalu mata Ernes tertuju kepada sofa yang ditata rapi dengan bantal yang cukup banyak. "Kenapa banyak bantal di sofa?" tanya Ernes.


"Aku tidur di sofa, kamu di ranjang.." jawab Atta yang membuat Ernes menatap Atta dengan tajam.


"Kamu nggak mau tidur seranjang sama aku? Sudah berapa kali kita lakuin hubungan suami istri, tapi kamu nggak mau tidur seranjang sama aku?" tanya Ernes dengan marah.


"Bukan gitu, tapi-"


"Nggak mau tahu, kita harus tidur seranjang. Kamu istri aku.." seru Ernes.


Atta pun kemudian menata bantalnya diranjang. Dia takut dengan kemarahan Ernes. Tidak mau menyalahkan Ernes karena itu memang murni salahnya. Mereka sudah menikah tapi Atta masih menjaga jarak dengan Ernes.


Tapi, Atta juga sadar bahwa hubungan mereka hanyalah sandiwara.


Melihat Ernes yang mulai badmood. Atta pun mulai mendekat dan mencium pipi Ernes. "Maaf.." ucap Atta.


Ernes pun mulai mencair kembali. "Belanja kebutuhan dapur yuk!" ajak Ernes yang mulai luluh setelah mendapat kecupan manja dari Atta.


"Hayuk.."


Ernes dan Atta berbelanja kebutuhan di supermarket sekalian makan malam. Atta tenang meninggalkan ibunya di rumah karena ada pembantu dan perawat di apartemennya.


"Makan malam sekalian ya!" Atta menganggukan kepalanya. Ernes membawa Atta ke sebuah kafe tempat biasa dia nongkrong dengan teman-temannya.


Tapi, tanpa sengaja mereka berdua melihat Ulfa dan Ryan yang sedang makan bareng. Atta pun langsung mendekati keduanya. "Oh ini pacar barunya Ulfa." ucap Atta yang mengagetkan Ulfa dan juga Ryan.


Mereka berdua tidak tahu jika Ernes dan Atta ada ditempat itu juga. Melihat Ernes, Ryan pun menjadi gugup seketika.


"Bos?" sapa Ryan dengan gugup.


"Atta?" gumam Ulfa dengan kaget.


"Jadi mau disembunyiin dari kita, biar nggak dimintain pajak jadian?" tanya Atta dengan manyun.


Ulfa merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu dari Atta. Dia pun lantas memeluk Atta dan meminta maaf. "Bukannya mau disembunyiin, tapi Ryan masih belum siap bilang ke kalian.. Mian.." ucap Ulfa dengan wajah menyedihkan.


"Jangan sedih lagi, kan udah dipacarin Ryan, jangan sedih lagi!" Atta begitu mudah terbujuk oleh rayuan Ulfa. Hanya dengan sedikit wajah menyedihkan, Atta akan luluh seketika.


"Kita ikut gabung! Tapi kalian yang bayar, anggap aja pajak jadian!" ucap Ernes langsung duduk di meja yang sama dengan Ulfa dan Ryan.


Sebenarnya Ernes tahu jika Ryan sedang berkencan dengan salah seorang wanita. Karena dia sering fokus ke ponselnya saat bekerja. Juga kelihatan dari wajahnya jika dia sedang berbunga-bunga.


"Kamu orang kaya, bos, tapi minta traktir ama pegawai.." gerutu Ulfa yang tidak terima karena Ernes memalak kekasihnya.


"Ryan aja nggak keberatan." jawab Ernes sembari menatap Ryan.


"I..ya nggak apa, mereka kan teman-teman kita. Lagipula kapan lagi aku bisa traktir bos Ernes.." tutur Ryan meminta kekasihnya untuk sabar dan menjaga sikap.


Pada akhirnya mereka makan malam bersama dan ditraktir oleh Ryan.


"Gimana ceritanya kalian bisa pacaran? Bukannya kalian bertengkar terus setiap kali bertemu?" tanya Ernes penasaran kisah cinta Ulfa dan Ryan yang sama sekali tidak dia duga.


Ulfa dan Ryan saling bertatapan dengan malu-malu. Kisah mereka berawal dari..


*Flashback beberapa waktu yang lalu*


Ulfa pergi ke club malam karena merasa kesepian. Setelah Atta bertemu dengan Ernes dan memutuskan untuk menikah. Ulfa dan Atta jarang sekali bertemu. Mereka hanya memberi kabar melalui panggilan telepon atau pesan singkat.


Sementara Rey juga sibuk dengan bisnis keluarganya. Sejak saat itu, setiap kali merasa kesepian, selain pergi menunggu ibunya Atta. Ulfa biasanya akan pergi ke club malam.


Malam itu Ulfa tidak sengaja bertemu dengan Ryan yang juga ada di tempat yang sama dengannya. Atta menyapa Ryan, tapi seperti biasa. Ryan selalu cuek kepadanya.


Ulfa yang tengah mabuk berat tidak sengaja menabrak seseorang waktu dia hendak meninggalkan club tersebut.


"Punya mata nggak lo?" pemuda yang tertabrak oleh Ulfa tersebut menjadi marah. Dia memarahi Ulfa, bahkan kedua temannya memegangi tangan Ulfa.


"Lepasin!" tentu saja Ulfa meronta dengan menarik tangannya.


Namun ketiga pemuda tersebut malah hendak melecehkan Ulfa. Beruntung Ryan datang tepat waktu. Dia menghajar ketiga pemuda tersebut.


"Beraninya kalian sentuh dia!" Ryan murka dan menghajar ketiganya.


Akan tetapi, kekacauan tersebut tidak berlangsung lama. Mereka segera dilerai oleh pihak club malam.


Karena insiden tersebut, Ryan tidak tega membiarkan Ulfa pulang sendirian. Ryan juga melepas jaketnya lalu memakaikannya kepada Ulfa.


"Kamu tahu nggak kalau ini tempat bahaya? Apalagi kamu datang sendiri, mabuk lagi.." omel Ryan


"Kalau kamu mau ngomelin aku, mending kamu pulang! Aku bisa pulang sendiri.." Ulfa melepaskan jaket milik Ryan.


Tapi, Ryan menahannya kemudian dia meminta maaf. "Biar aku anter pulang!" ucapnya.


"Bisa nggak sih jangan terlalu baik ke aku?" seru Ulfa dengan marah.


"Aku tahu kamu nggak suka sama aku, kamu ilfil sama aku, makanya kamu selalu cuekin dan sering ngajak ribut aku tiap kali bertemu."


"Tapi, asal kamu tahu. Dari awal bertemu kamu di depan mini market siang itu. Aku sudah suka kamu."


"Aku suka saat kita berdebat karena hal kecil, karena dengan begitu kamu mau ngomong sama aku. Nggak peduli kamu marah, kamu cuekin aku, aku tidak kuasa membendung perasaan ini." Ulfa menyatakan cintanya kepada Ryan.


Ryan mendengar keluh kesal Ulfa hanya dengan mulut terkunci rapat. Dia sama sekali tidak menyangkal atau meminta Ulfa untuk melupakan perasaannya. Ryan tidak menjawab, hanya diam saja.


Tapi hatinya merasa tidak nyaman waktu melihat Ulfa menangis. Dia pun mempertimbangkan cukup lama untuk mengulurkan tangannya. Pada akhirnya dia menarik Ulfa ke dalam pelukannya.


Ulfa mendorong Ryan menjauh. Dia tidak ingin berharap lagi kepada Ryan. "Jangan sentuh aku! Mulai sekarang aku janji akan melupakan perasaan aku ke kamu. Tapi aku mohon jangan abaikan aku! Aku juga mau kamu sapa dan kenal dengan kamu. Aku janji tidak akan baper ke kamu lagi.." ucap Ulfa.


Ryan pun membulatkan matanya mendengar perkataan Ulfa.


(Bersambung ke part selanjutnya yak😊)