
Setelah berjuang cukup lama di rumah sakit. Akhirnya ibunya Atta diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja merasa sangat bahagia. Sudah berbulan-bulan lamanya dia berada di rumah sakit. Hari ini Susi bisa menikmati kebebasannya lagi.
"Ta, ibu kepengen jalan-jalan bentar. Pengen menikmati cahaya pagi ini!" ucap Susi.
"Iya.." Atta dan Ernes membawa Susi ke taman yang berada di dekat apartemen mereka.
Atta mendorong kursi roda ibunya sambil berkeliling di taman tersebut. Diikuti oleh Ernes yang setia menemani istri dan mertuanya. Kebetulan hari minggu jadi mereka tidak pergi ke kantor.
"Kemari Ulfa datang sama pacar barunya.." ucap Susi kepada Atta.
"Pacar baru? Sejak kapan dia punya pacar baru?" Atta bertanya-tanya. Selama beberapa waktu ini Ulfa selalu curhat tentang perasaannya ke Ryan yang selalu dicuekin oleh Ryan. Terus pacar yang mana.
"Iya, dia ganteng banget. Namanya Ian atau Rian gitu, ibu lupa.. Anaknya baik dan sopan banget.." ucap Susi mencoba mengingat nama pacarnya Ulfa.
"Dia pamit ke ibu katanya mau liburan bersama pacar barunya, jadi hari ini nggak bisa datang. Nanti kamu bilang ke dia kalau ibu sudah pulang! Kasihan kan kalau dia ke rumah sakit dan tidak bertemu ibu.." pinta Susi.
"Iya.." jawab Atta. Tapi, dia masih kepikiran tentang pacar baru Ulfa. Kenapa Ulfa tidak cerita kepada dirinya.
"Bilang ke Rey juga!" imbuh Susi.
"I..ya.." Atta melirik Ernes yang berjalan disebelahnya.
"Rey kok sampai sekarang belum punya pacar ya? Padahal dia ganteng, baik, kaya juga.."
"Mungkin dia udah punya pacar tapi di sembunyiin." jawab Atta dengan hati-hati, dia tidak mau membuat Ernes marah.
Ernes memang terlihat cuek tapi dia sangat posesif. Berkali-kali Atta telah menghadapi kemarahan Ernes karena kecemburuan yang tak beralasan. Ernes tidak suka Atta cerita tentang lelaki lain di depannya. Entah itu teman atau siapapun, Ernes sangat tidak suka.
"Maafin ibu yang bertanya tentang lelaki lain di depan kamu ya nak? Rey itu bukan orang lain untuk ibu dan Atta. Dia sudah seperti anak ibu dan kakak untuk Atta." ucap Susi tidak ingin membuat menantunya salah paham.
"Iya bu. Tapi kedepannya, aku yang akan melindungi dan menjaga kalian.." jawab Ernes dengan sangat gentleman.
Atta menatap Ernes dengan tersenyum. Tidak tahu kenapa hatinya merasa tenang setelah mendengar perkataan Ernes tersebut. Sebagai seorang wanita, tentunya Atta menginginkan sosok lelaki yang bisa mengayominya dan melindunginya.
"Kita istirahat disana!" pinta Susi sembari menunjuk sebuah bangku kosong yang berada tepat di tengah taman.
Susi ingin berjemur terlebih dahulu. Sambil menikmati udara pagi yang masih segar. Susi memejamkan matanya menghadap ke arah matahari terbit.
Perlahan sinar matahari menghangatkan tubuhnya. Sudah lama dia tidak merasakan hangatnya mentari pagi. "Ayahmu sudah tahu kalau ibu pulang hari ini?" tanya Susi masih dengan mata terpejam.
"Tadi aku udah kirim pesan ke ayah.." jawab Atta.
"Mungkin ayah kamu sedang sibuk. Hari kan hari minggu, mungkin ayah kamu sedang liburan bersama keluarganya.." nada suara Susi terdengar agak kecewa karena ayahnya Atta tidak datang ke rumah sakit untuk mengantarnya pulang.
"Mungkin buk, nggak masalah kan masih ada aku, ada Ernes juga.." Atta membesarkan hati ibunya.
"Hmm, ibu juga nggak berharap lebih dari ayah kamu.." jawab Susi dengan sok biasa saja. Padahal dari nada bicara dan raut wajahnya sudah jelas jika Susi merasa kecewa.
"Maafin aku yang telat jemput kamu!" tiba-tiba, entah darimana Dika muncul di belakang mereka.
Kayaknya Dika tahu jika mereka berada ditaman karena diberitahu oleh Atta. Buktinya Atta tersenyum saat melihat ayahnya datang.
"Mau jalan-jalan? Biar aku temenin, Atta biarin istirahat!" ucap Dika sambil mendorong kursi roda Susi.
Atta merasa senang melihat ayah dan ibunya kembali akrab. Sementara dia menunggu di bangku tersebut bersama dengan Ernes. "Ayah kamu pengertian juga, dia tahu kalau aku juga pengen berduaan dengan kamu.." ucap Ernes yang disambut senyuman manis oleh Atta.
"Ta, boleh tanya nggak?"
"Apa?"
"Kenapa namq kamu Lovata?" pertanyaan yqng sudah lama ingin Ernes tanyakan. Menurutnya nama Atta itu lucu.
"Kenapa emangnya?" tanya Atta balik.
"Nggak apa, lucu aja, unik.."
"Lovata itu improvisasi dari kata love, ibuku bucin banget sama ayah.. Makanya dia memberi aku nama Lovata, sebagai bukti cinta ibu dan ayah. Namaku cuma Lovata gitu aja nggak ada kepanjangannya.." Atta tersenyum menjelaskan tentang arti namanya.
Sebenarnya, Susi tidak secara gamblang menjelaskan artinya namanya. Hanya saja Atta bisa menebaknya sendiri. Karena ibunya memang sangat bucin dengan ayahnya. Buktinya ibunya sma sekali tidak mau mencari pengganti ayahnya.
Padahal Atta masih sangat ingat waktu dia masih duduk di sekolah dasar. Ada seorang paman yang mendekati ibunya dan melamar ibunya Tapi ibunya menolak paman tersebut.
Atta menduga jika ibunya masih sangat trauma atau mungkin masih sangat mencintai ayahnya. Setahu Atta, ayahnya adalah cinta pertama ibunya.
"Orang tua jaman dulu ternyata lebih bucin dibanding kita. Namaku juga perpaduan nama papa dan mama. Nama papaku yang asli kan Erlan, kalau mama tetap Ines." sahut Ernes dengan tersebut geli.
"Cinta pertama tuh emang sulit untuk dilupakan. Percaya atau ndak, papaku juga cinta pertama mamaku. Katanya mama sudah suka sama papa waktu dia masih kecil. Mamaku juga bucin banget tahu ke papa.." imbuh Ernes menceritakan kisah papa dan mamanya yang dia dengar dari cerita mamanya.
"Papa kamu dulu juga dingin kayak kamu gitu paling.."
"Emang, kata mama juga gitu. Papa baru menerima cinta mama setelah belasan tahun katanya.."
"Wow, tante Ines hebat banget yak bisa menjaga cinta itu selama belasan tahun.." Atta tidak menyangka jika mamanya Ernes wanita yang begitu sangat hebat dan setia.
"Mama bukan tante!" Ernes kembali memperingati Atta supaya memanggil mamanya dengan sebutan mama bukan tante.
"Iya.."
"Si Gio sama si Vanka, mereka juga sama-sama cinta pertama. Mereka saling suka saat masih awal masuk SMA. Kisah cinta mereka hebat banget waktu itu. Mereka harus menakhlukan hati mama yang waktu itu tidak setuju dengan hubungan mereka."
"Gio dijodohkan dengan orang lain tapi pada akhirnya cinta mereka yang menang. Mama sekarang bucin banget sama pasangan itu.."
Atta kembali tidak menduga jika ternyata kisah cinta Vanka dan Gio sangat dramatis. Padahal dia melihat kedekatan Vanka dengan mamanya Ernes seperti anak dan ibu kandung. Ternyata sebelumnya pernah ada insiden juga.
Tapi, harus diakui. Atta sangat suka melihat pasangan Gio dan Vanka. Mereka terlihat menyenangkan, dan vibesnya juga positif. Atta bisa melihat jika pasangan tersebut memang saling mencintai. Karena keduanya tidak segan-segan memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum.
"Aku bersyukur sih mama langsung setuju waktu aku bilang akan menikahi kamu.."
"Bagus dong, itu artinya mama sayang sama kamu.." kata Atta.
"Kalau kamu sayang nggak sama aku?" Ernes dan Atta saling bertatapan lama.