
Ernes pergi ke rumah Atta. Sebenarnya dia masih terpukul dengan kebohongan Cintya. Selama ini dia berusaha percaya dengan Cintya, bahkan sampai mengecewakan istrinya. Karena Ernes merasa mengenal Cintya lebih dekat. Tapi ternyata dia lupa, dulu Cintya pernah membully-nya, pernah berbuat jahat kepadanya.
Tok!!
Tok!!
Ernes mengetuk pintu rumah Atta. Dan begitu Atta membuka pintu, Ernes langsung saja memeluk Atta tanpa peringatan. Semakin erat dia memeluk Atta, dan semakin sakit hati yang dia rasakan.
"Kamu kenapa?" tanya Atta yang bingung dengan apa yang Ernes lakukan.
Namun, Ernes hanya diam saja. Dia semakin erat memeluk Atta. Melihat Ernes yang seperti itu, Atta pun tanpa sengaja membalas pelukan Ernes. Dia merasa jika Ernes benar-benar butuh pelukan dan dukungan. Tanpa bertanya lagi, Atta pun memeluk Ernes dengan erat pula.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ernes mulai membaik. "Aku boleh nggak tidur sama kamu dan kacang polong?" lirihnya.
Atta menganggukan kepalanya. Dia yakin jika Ernes sedang dalam masalah saat ini. Sebelumnya, dia belum pernah melihat Ernes seperti itu. Atta segera membawa Ernes masuk ke dalam. Dia juga menyiapkan minuman dan baju ganti untuk Ernes.
"Ini minum dulu biar lebih enakan!" ucap Atta sembari mengulurkan segelas minuman hangat untuk Ernes.
"Makasih ya..." jawab Ernes sembari tersenyum kecil. Kemudian dia mulai menenggak minuman tersebut sampai habis.
"Ta, ternyata Cintya beneran bohongin aku.." ucapnya sembari meletakkan gelas minuman yang dia pegang.
"Mamanya masih hidup, dan dia sengaja deketin aku karena ingin balas dendam." lanjut Ernes.
"Jadi kamu kecewa Cintya deketin kamu bukan karena dia suka sama kamu?" tanya Atta dengan ketus. Dia cemburu karena Ernes membicarakan tentang Cintya kepadanya.
"Bukan gitu maksudnya. Tapi, aku nggak mengira jika dia bisa lakuin ini ke aku. Padahal aku nganggep dia kayak saudaraku sendiri." Ernes menatap Atta yang sepertinya sedang dilanda cemburu.
Ernes juga tidak menyangka jika Cintya akan berbohong tentang kematian mamanya. Setega itu dia kepada orang tuanya.
Atta memilih untuk diam. Dia tidak mau mengutarakan pendapat apapun. Takutnya dikira dia menjelekan Cintya hanya karena dia tidak menyukai Cintya.
Ernes kemudian menarik Atta ke dalam pelukannya. "Maafin aku karena tidak percaya dengan kamu.." ucapnya dengan penuh penyesalan.
Ernes menitikkan air matanya. Dia benar-benar menyesal karena telah menuduh Atta yang tidak-tidak. Bahkan lebih percaya dengan apa yang Cintya katakan.
"Ta, aku cinta sama kamu." imbuh Ernes.
Atta masih saja diam. Dia bingung apa yang akan dia katakan. Tapi, dia membalas pelukan Ernes. Atta memeluk Ernes dengan erat seperti Ernes memeluknya.
"Papa juga cinta sama kamu, nak.." gumam Ernes sembari mengelus perut Atta.
"Kita tidur aja yuk!" ajak Atta.
Ernes dan Atta tidur satu ranjang lagi setelah lama terpisah. Ernes tersenyum dan menatap Atta terus menerus. Tentunya itu membuat Atta menjadi salah tingkah. "Jangan natap kayak gitu terus! Kalau nggak, aku tidur disofa aja.." ucap Atta tanpa berani menatap Ernes balik.
Ernes malah tersenyum melihat wajah Atta yang mulai memerah. "Aku kangen tahu nggak tidur bareng kayak gini.." ucap Ernes.
"Besok ke makam ibu yuk!" ajak Ernes.
"Ayah nggak pernah datang temui kamu?" Atta menggelengkan kepalanya.
"Ibu tiri kamu pasti yang bikin masalah."
"Aku nggak berharap ayah datang temui aku kok, aku bahagia hidup seperti ini. Udah terbiasa hidup tanpa seorang ayah." meskipun terlihat tegar, tapi mata tidak bohong jika dia sangat terluka dengan apa yang ayahnya lakukan.
Ernes menyentuh wajah Atta dengan lembut. "Jangan sedih! Aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan selalu menemani kamu dalam suka dan duka." ucapnya.
Tetapi Atta tidak mau berharap kepada siapapun termasuk kepada Ernes. Sudah sering sekali dia dikecewakan oleh Ernes, jadi dia tidak berani untuk berharap lebih lagi.
Ernes menyadari keraguan Atta. Dia segera mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Atta dengan cepat dan tanpa peringatan. Ciuman membara tersebut berlanjut sampai ke leher Atta. Dengan cepat Atta mendorong Ernes agar tidak semakin kesana-sana.
"Aku ngantuk.." lirihnya.
Ernes segera menghentikan cumb*annya. Dia beralih memeluk Atta dengan erat. "Selamat malam sayank, selamat malam kacang polong kesayangan papa.." ucapnya sembari mengecup kening Atta dengan lembut.
Setelah mendengar dengkuran Ernes, Atta pun perlahan membuka matanya. Dia menatap secara dekat wajah Ernes. Lelaki yang masih secara resmi menjadi suaminya. Dia tersenyum kecil melihat wajah suaminya yang terlihat sangat ganteng dan tampan.
Harus diakui jika Ernes memang memiliki wajah yang sangat menawan. Meskipun dia merubah penampilannya menjadi culun, tetapi wajah tampannya tetap saja terlihat menawan. Maka tidak heran jika banyak wanita yang menyukainya.
Atta terus menatap wajah tampan itu dengan tersenyum bahagia. Wajah dingin tapi sangat menawan. Cukup lama Atta menatap wajah itu secara dekat, hanya berjarak lima centimeter saja.
****
Di club malam.
Marisa mabuk bersama teman-temannya. Sudah beberapa hari terakhir dia mabuk sepertinya. Tapi hebatnya, dia masih bisa menahan hawa napsunya terhadap lawan jenis. Padahal saat dia mabuk, sering sekali beberapa lelaki mendekatinya dan mengajaknya untuk staycation. Namun, Marisa selalu menolaknya bahkan tidak ada yang berani memaksanya.
"Mar, kenapa lo nggak cari suami lagi?" tanya salah satu teman Marisa.
"Nggak. Gue hanya akan menikah dengan lelaki yang gue cintai, dan lelaki itu hanya Gio.." jawab Marisa.
"Apa nggak ada lelaki lain selain Gio? Padahal banyak cowok yang suka sama lo. Kenapa mesti Gio, lelaki yang sudah beristri?" temannya juga merasa kasihan sebenarnya kepada Marisa yang begitu terobsesi dengan Gio.
Bahkan Marisa rela berpisah dengan suaminya karena Marisa tidak bisa melupakan Gio.
"Nggak ada lelaki yang seperti Gio. Tapi sekarang dia benci sama aku, dia nggak mau ketemu aku.." ucap Marisa dengan sedih, bahkan Marisa sampai menangis.
Alasan kenapa dia mabuk-mabukan akhir-akhir ini karena untuk mengurangin rasa sedih karena Gio tidak mau bertemu dengan dia sama sekali. Bahkan saat tidak sengaja bertemu, Gio sama sekali tidak mau menyapa Marisa.
Mengingat itu, Marisa menjadi sedih kembali. Dia segera berlari keluar dari club malam tersebut sembari menangis. Seperti biasa, Marisa pergi ke kamar yang ada dilantai 3.
Di kamar itulah dia bisa mulai merasa tenang. Di kamar itu dia selalu teringat apa yang terjadi malam itu. Dimana dia bisa bercumb* dengan Gio dan merasakan kepunyaan Gio walau hanya secelup. Sampai saat ini Marisa belum melupakan kejadian malam itu. Baginya, malam itu malam yang sangat indah.
"Gio,, aku cinta kamu.." gumamnya sembari menatap foto Gio yang ada diponselnya.
Bahkan Marisa meraba-raba tubuhnya sendiri dan membayangkan, seolah-olah Gio yang melakukannya. "Gio.. ah..." seperti itulah yang Marisa lakukan setiap malam apalagi saat dia kangen dengan Gio.