
Di restaurant Jepang seberang jalan. Ernes menunggu kliennya. Bersama dengan Ryan, dia telah menyiapkan semua dokumen yang diperlukan.
"Masih lama Yan?" tanyanya sembari melihat ke arah jam tangannya.
Baru saja sepuluh menit menunggu, tapi Ernes sudah merasa lelah dan tidak sabar.
"Sudah dekat katanya bos.." jawab Ryan yang juga sedang berkomunikasi dengan assisten dari klien Ernes tersebut.
Jika bukan untuk membuka ruang untuk bisnis adiknya. Ernes sudah pergi dari tadi. Tapi demi adiknya, dia bersedia menunggu.
Meskipun Gio memiliki bisnis sendiri yang berbeda dari bisnis yang digeluti papa dan kakaknya. Namun, Ernes dan Sakha tetap memberi dukungan dan jalan untuk bisnis Gio.
Sebagai seorang pemodal. Ernes dan Sakha tentunya memiliki banyak klien yang sejalur dengan bisnis Gio. Yang tentunya bisa mereka lobby untuk bekerja sama dengan Gio juga.
Setelah dua puluh menit berlalu. Akhirnya klien Ernes tiba di tempat mereka janjian sebelumnya. Tentunya si klien lamgsung meminta maaf karena keterlambatannya.
"Maaf pak Ernes kami agak telat. Soalnya kami langsung dari kantor pusat. Pak Ernes sudah menunggu lama?" tanya klien Ernes tersebut.
"Belum lama pak." namun mata Ernes fokus kepada assisten wanita yang dibawa oleh kliennya.
"Cintya kan?" tanya Ernes.
Si klien dan Ryan langsung menoleh. Sementara assisten tersebut sudah tersenyum sedari tadi. "Pak Ernes kenal assisten baru saya?"
"Iya. Dia teman kuliah saya dulu.." jawab Ernes tidak menyangka dia bisa bertemu lagi dengan Cintya.
Karena dia mendengar kabar jika Cintya sudah pindah bersama dengan suaminya. Dan sejak saat lulus lulusan, mereka sama sekali belum ketemu lagi.
"Apa kabar?" tanya Cintya dengan tersenyum manis. Meskipun penampilannya berubah. Tapi Ernes masih bisa mengenalinya.
"Baik. Kamu sendiri?" tanya Ernes balik.
"Seperti yang kamu lihat."
Meeting pun segera dimulai dengan pembahasan rencana pembangunan hotel baru oleh klien Ernes tersebut. Ernes dan Cintya sempat saling curi pandang.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Pembahasan perencanan tersebut terbilang sangat lama. Karena bos Cintya orang yang sangat teliti. Begitu juga Ernes. Dia sebagai pemodal juga harus tahu dengan pasti keuntungan yang didapat nantinya.
Sekitar pukul 5 sore. Mereka berempat pergi ke tempat dimana hotel itu akan dibangun. Ernes ingin melihat letak hotel tersebut dan memperkirakan potensi laku atau tidaknya hotel itu nantinya.
Namun jarak ke tempat tersebut cukup jauh. Itu yang membuat meeting sangat lama. Tapi, keduanya sangat antusias dengan rencana pembangunan tersebut. Hingga tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 8 malam.
"Semoga kerja sama ini bisa mempererat jalinan hubungan kita ke depan pak.." ucap bos Cintya.
"Iya pak." jawab Ernes juga sangat antusias.
Sebelum pulang, mereka makan malam terlebih dahulu. Hanya saja ditengah acara makan malam. Bos Cintya terpaksa harus pulang duluan.
"Cin kamu gimana?"
"Aku nanti bisa naik taksi pak.."
"Biar saya yang antar pak, tenang aja.." sahut Ernes.
"Oh, terima kasih kalau gitu, pak.." bos Cintya pun pulang duluan setelah menerima telepon dari istrinya.
Sementara makan malam tersebut menyisakan Ernes, Ryan dan Cintya. Tapi Ryan juga pamit karena Ulfa sudah menunggu di depan restoran tempat mereka makan.
"Aku duluan ya bos, Ulfa udah nungguin di depan. Dia mau ajak aku rumah tantenya.." pamit Ryan yang menyisakan Ernes dan Cintya saja.
Ernes dan Cintya melanjutkan makan malam mereka sembari bercerita tentang masa lalu mereka. Ernes dan Cintya tertawa bersama saat mengenang masa kuliah dulu.
"Kamu kenapa nggak pernah hubungin aku?" tanya Ernes.
"Dilarang sama suami kamu? Anak kamu berapa sekarang?" Ernes lanjut bertanya.
Anehnya, saat Ernes bertanya mengenai anak dan suami Cintya. Tiba-tiba Cintya terdiam. Dari yang tertawa riang berubah jadi sedih.
Ernes yang melihat perubahan wajah Cintya tersebut tidak berani bertanya lebih lanjut. Mungkin Cintya memiliki masalah yang tidak bisa dia ungkap kepada orang lain mengenai anak dan suaminya.
Cukup lama Cintya terdiam. Sehingga suasana berubah menjadi canggung dan asing. Bahkan sampai ke mobil pun Cintya masih terlihat sedih.
"Maaf kalau aku tanya-tanya tadi." ucap Ernes berusaha mencairkan suasana.
"Nggak apa kok. Maaf kalau aku badmood tadi.." ucap Cintya.
"Its ok."
"Nes, kita ke taman dulu yuk! Kan kita lama banget nggak ketemu, aku masih pengen ngobrol sama kamu." pinta Cintya.
Setelah melihat ke arah jam, Ernes pun setuju untuk mereka mampir ke taman terdekat dulu. Ernes membelokan arah mobilnya di sebuah taman yang cukup indah dengan dihiasi lampu berwarna warni.
Taman yang masih ramai pengunjung baik anak-anak, remaja dan orang tua yang sedang nongkrong bersama teman dan keluarga mereka.
Cintya dan Ernes mencari bangku yang kosong untuk mereka berdua. "Mau jagung bakar?" Ernes menawari Cintya.
Cintya menganggukan kepalanya dengan cepat. Ernes pun segera memesan dua jagung bakar untuk mereka.
"Nanti diantar kesana ya!" ucap Ernes kepada sang penjual.
"Nes, aku mau jujur sama kamu." ucap Cintya tiba-tiba.
"Apa?" Ernes melihat ponselnya, dia mengecek apakah ada pesan masuk dari istrinya. Karena dari sore Atta sudah menghilang dan tidak ada kabar.
"Sebenarnya aku sudah cerai sama suamiku." Ernes langsung menoleh menatap Cintya.
"Karena aku belum juga kasih anak ke dia. Jadi dia ceraiin aku, padahal jelas-jelas dari hasil pemeriksaan, dia yang mandul." ucap Cintya dengan suara berat. Mungkin dia sangat terluka dengan perpisahannya.
"Aku harus gimana? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang." ucap Cintya.
"Orang tua kamu?"
"Papa udah meninggal lama. Dan mama meninggal setelah aku bercerai."
Ernes ingin memeluk Cintya untuk menenangkannya. Tapi seketika dia berhenti. Dia sadar jika dia harus bisa mengendalikan dirinya. Ernes pun mengurungkan niatnya.
"Yang sabar aja, berarti dia bukan pria yang baik buat kamu.." ucap Ernes.
Cintya justru malah menangis tersedu. Cintya menyenderkan kepalanya dibahu Ernes. Tentu saja tindakan Cintya tersebut membuat Ernes menjadi serba salah.
Ernes ingin mendorong Cintya, tapi dia tidak tega melihat Cintya yang sedang menangis dan pasti akan melukai hati Cintya. Tapi, dirinya juga harus sadar jika dia harus mengendalikan dirinya.
Pada akhirnya Ernes tetap berusaha menenangkan Cintya. Ernes mengelus lengan Cintya dengan lembut. "Harus kuat dan sabar. Kamu kan cantik, pasti kamu akan dapatin lelaki yang lebih baik dari mantan suami kamu." ucap Ernes dengan lembut pula.
"Makasih ya Nes.. Aku bingung mau cerita ke siapa, kamu tahu sendiri aku sudah tidak temen yang bisa dipercaya selain kamu."
"Sama-sama."
Di rumah, Atta masih belum tidur. Baru saja dia mendapat kiriman video dari seseorang. Wajah Atta pun mulai merah karena marah.
"Katanya meeting tapi malah kayak gini. Awas aja." gumamnya dengan kesal.
Dia pun segera mencari foto dia bersama Sinta dan dua teman cowoknya tadi sore. "Lihat aja pembalasanku.."
Atta menjadikan foto berempat tersebut sebagai story di wa-nya. Dengan caption 'pertemuan yang indah, aku harap kita bisa bertemu lagi ya. Ah, udah kangen aja'.
Atta tahu, caption tersebut akan membuat Ernes gelisah. "Yuk kita hitung dari lima, empat, tiga, dua, satu.."
Drrttt..
Bersamaan dengan hitungan Atta tersebut. Sebuah pesan masuk ke wa-nya.
"Apanya yang indah? Kangen siapa?" tanya Ernes melalui pesan singkat.
"Kamu bilang mau jaga mata dan pandangan, itu apa maksudnya? Sok romatis gitu.."
"*Hapus nggak!"
"Tidak ada pertemuan yang indah selain pertemuan kita*!"
Bukan hanya pesan, tapi panggilan masuk juga banyak. Sementara Atta dengan sengaja membiarkan pesan dan panggilan tersebut.
"Rasain tuh!" ucap Atta dengan kesal.
Entah kenapa perasaannya sangat aneh saat melihat video yang dikirim untuknya tersebut. Dimana dalam video tersebut, nampak Ernes dan seorang wanita yang tidak dia kenal berpelukan di sebuah taman.