Sudden Mariage

Sudden Mariage
14



"Itu yang namanya Ernes ya?" gumam Ulfa ketika dia ikut papanya meeting.


Kemudian fokus Ulfa beralih kepada lelaki ada di samping Ernes. Dia lelaki yang sama yang pernah bertabrakan dengan dirinya. Lelaki yang membuatnya merasa telah menemukan jodohnya.


Ulfa terus menatap lelaki itu dengan tersenyum senang. Mungkin dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ryan.


"Meskipun dingin tapi dia cakep banget anj*r.." gumam Ulfa kegirangan.


"Kamu kenapa?" tanya papanya pelan.


"Heh? Nggak apa kok pa.." jawab Ulfa kaget karena ternyata papanya terus memperhatikannya.


Meeting pun berjalan lancar. Dan dari meeting tersebut, Ulfa jadi tahu nama lelaki itu, dan juga ternyata lelaki yang dia sukai itu adalah assisten pribadi Ernes. Dia pun berniat untuk bertanya kepada Atta dan meminta bantuan agar bisa mengenal Ryan lebih dekat.


"Terima kasih pak Ernes, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar." ucap papanya Ulfa.


"Iya."


"Gimana kalau makan siang dulu!"


"Maaf saya masih ada kerjaan." seperti itulah Ernes. Dia di kenal sangat dingin dan kaku oleh para rekan bisnisnya.


"Oh, tentu saja pak Ernes masih punya banyak kerjaan, pak Ernes pasti sibuk sekali." ucap papanya Ulfa menutupi rasa malu karena penolakan Ernes.


Sedangkan di belakang, Ulfa terus melirik ke arah Ryan yang berwajah sama dengan bos-nya. Dingin.


Ulfa menjadi grogi sendiri saat dekat dengan Ryan. "Emm.. kita pernah ketemu kan?" tanyanya setelah mengumpulkan keberanian.


"Dia depan mini market." imbuh Ulfa menjelaskan tempat mereka bertemu.


Ryan hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ryan bahkan tidak berkata apapun atau menjawab.


"Kayaknya kita memang jodoh deh karena bertemu lagi.." ucap Ulfa dengan tingkat kepercayaan diri yang tingkat.


"Saya pamit.." Ryan segera berlari ke mobil karena Ernes sudah menunggunya.


Ulfa menatap Ryan dengan tersenyum senang. Entah kenapa justru semakin suka dengan Ryan, meskipun Ryan bersikap dingin padanya.


"Ah,, akhirnya aku bertemu dengan jodohku.." senyumannya semakin melebar.


"Fa, menurut kamu pak Ernes itu gimana?" tanya papanya Ulfa.


Ulfa pun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan papanya. "Pak Ernes?"


"Iya, menurut kamu dia gimana? Tampan kan?" tanya papanya lagi.


"Emm, biasa saja sih. Penampilannya agak norak dan culun. Lebih ganteng assistennya malah.. Emang kenapa sih pa?" tanya Ulfa balik. Tumben papanya nanya kayak gitu.


"Nggak, papa cuma mikir aja kalau kamu sama pak Ernes pasti perusahaan kita akan semakin kuat."


"Papa jangan ngaco deh! Papa tahu aku paling nggak suka dijodoh-jodohin. Udah ah, aku laper mau makan siang." Ulfa segera meninggalkan papanya. Tidak mau mendengar omong kosong papanya.


"Kamu dimana?" Ulfa menghubungi Atta melalui telepon.


"Di kantor lah. Kenapa? Kangen?" tanya Atta menggoda Ulfa.


"Hmm, aku pengen cerita.. Tadi laki kamu meeting di kantor papa aku. Aku kesana sekarang, kita ketemu di kafe depan kantor kamu!" Ulfa segera menuju kantor Atta setelah mematikan teleponnya.


Kantor Ernes.


Atta membereskan meja kerjanya sebelum pergi makan siang. Saat dia berjalan menuju kafe yang dimaksud Ulfa. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Ernes yang baru saja sampai kantor bersama dengan Ryan.


"Mau kemana?" tanya Ernes.


"Makan siang di depan."


"Aku ikut." Ernes balik badan.


"Aku udah ada janji sama temen aku. Kamu nggak bisa ikut." Atta menolak.


"Teman kamu laki atau perempuan?" tanya Ernes dengan marah. Kenapa dia nggak boleh ikut kalau hanya janjian dengan teman. Ernes menduga jika Atta main belakang.


"Perempuan." jawab Atta cepat, tidak ingin membuat Ernes salah paham.


"Pokoknya aku ikut!" Ernes memaksa, tapi Atta tetap saja menolak dengan alasan temannya pasti akan canggung kalau mereka bertiga.


Tapi, Ernes tak kurang akal juga. Dia mengajak Ryan untuk menemaninya makan siang. Dengan begitu teman Atta tidak akan merasa canggung.


Atta tidak bisa menolak secara frontal karena dia takut Ernes justru akan salah paham. Akhirnya dia membiarkan Ernes dan Ryan untuk makan siang bersama dengannya dan Ulfa.


"Kamu tadi meeting diluar?" tanya Atta sembari menunggu Ulfa datang.


Sayangnya tebakan Ernes itu keliru. Atta tahu dari Ulfa kalau Ernes meeting di perusahaan papanya Ulfa. "Nggak, temen aku anak dari pemilik perusahaan tempat kamu meeting tadi.."


"Ulfa..." bersamaan dengan itu, Ulfa tiba di kafe tersebut.


Ulfa pun sempat terkejut saat melihat Ernes dan Ryan ada di meja yang sama dengan Atta. Tapi, sesaat kemudian dia tersenyum senang. Ulfa semakin yakin jika dia dan Ryan ditakdir satu sama lain.


"Hai..." Ulfa menyapa Atta dengan senang.


"Kenalin ini..."


"Suaminya Atta." sahut Ernes dengan cepat.


"I..iya calon suami aku yang pernah aku ceritain.." Ernes mengerutkan keningnya kemudian menatap Atta.


"Kamu ceritain aku ke temen kamu?" tanya Ernes tersenyum senang.


"Ini Ryan, assistennya pak Ernes.." Atta pura-pura tidak mendengar pertanyaan Ernes.


"Hai kita ketemu lagi. Kayaknya benar deh kalau kita tuh jodoh.." ucap Ulfa tanpa basa basi.


"Eh, kamu ngomong apa sih.. Maaf Ulfa memang suka ceplas ceplos kalau bicara.." sahut Atta merasa tidak enak dengan Ryan yang terlihat tertekan.


"Ngomong-ngomong, kalian pernah ketemu sebelumnya?" tanya Atta penasaran dengan apa yang Ulfa katakan tadi.


"Iya." jawab Ulfa.


"Belum." jawab Ryan.


"Hei tuan, bukankah kita baru saja ketemu di kantor papa aku ya? Terus sebelumnya kita juga pernah ketemu di depan mini market depan itu? Apa anda lupa?" Ulfa merasa kesal karena Ryan menyangkal pernah bertemu dengan Ulfa sebelumnya.


"Itu kebetulan." jawab Ryan dengan dingin.


"Oke kebetulan. Tapi apa perlu sampai menyangkal seperti itu? Kalau kamu memang ditakdirkan untuk aku, kamu bisa apa?" cerocos Ulfa.


"Hanya beberapa kali bertemu bukan berarti kita berjodoh." Ryan mulai terpancing untuk melawan Ulfa.


Atta ingin melerai mereka. Tapi dia ditahan oleh Ernes. Sehingga mereka berdua hanya menonton saja saat keduanya saling berdebat.


"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin."


"Tapi bukan berarti kita berjodoh."


"Kita tidak tahu ke depannya." Ulfa masih ngotot.


"Tapi aku yakin bukan kamu jodohku. Karena jodoh tuh cerminan diri sendiri." ucap Ryan yang semakin membuat Ulfa menjadi kesal.


"Jadi maksud kamu, aku tidak pantas gitu untuk kamu?" Ulfa sampai menggebrak meja dan membuat beberapa pengunjung kaget.


"Kalau aku yang kayak gini tidak pantas untuk kamu, terus kamu mau wanita yang seperti apa?" seru Ulfa dengan kesal.


"Fa, kamu jangan bikin malu, anj*r.." Atta memperingati Ulfa agar menahan emosinya. Atta menatap sekitar dan meminta maaf karena membuat gaduh.


"Gedeg banget nj*r.." Ulfa mulai menenangkan dirinya.


"Nggak usah bahas itu lagi! Mari kita makan, aku lapar!" sahut Ernes menghentikan perdebatan antara Ryan dengan Ulfa.


Mereka berempat pun akhirnya makan siang dengan damai. Meskipun Ulfa kesal dengan Ryan, tapi itu tidak merubah perasaannya. Dia tetap senang bisa makan bersama dengan Ryan.


Saat Ernes menyuapi Atta, Ulfa menjadi kesal kembali. "Bisa nggak jangan pamer!" ucapnya dengan kesal.


"Kenapa? iri? Suruh nyuapin Ryan tuh.." sahut Ernes.


"Nggak mau!"


"Nggak mau!" Ulfa dan Ryan menjawab secara bersamaan.


"Idih siapa juga yang mau.." ucap Ulfa.


"Aku juga ogah." ucap Ryan tanpa ekspresi sama sekali.


"Ish..." Ulfa pun kembali kesal.


"Lihat aja, kamu akan jatuh cinta sama aku.." ucap Ulfa dengan percaya diri.


"Mimpi."


"Lihat aja.."