
Susi kaget melihat Ernes yang tidur di sofa dalam kamarnya. Semalam waktu Ernes datang, dia sudah tertidur. Susi sempat tersenyum senang, jika dilihat dari wajahnya, Susi yakin jika Ernes itu orang yang baik. Semoga saja Ernes lelaki yang tepat untuk anaknya.
Atta keluar dari kamar mandi dan melihat ibunya sedang menatap Ernes yang masih tidur. "Ibu udah bangun? Aku ambilin sarapan ya!" tanya Atta, kemudian menyiapkan sarapan untuk ibunya.
"Kapan nak Ernes datang?" tanya Susi.
"Tadi malam,"
"Kata kamu dia sedang di luar kota?"
"..i..ya semalam baru pulang terus kesini.." jawab Atta sedikit agak gugup. Pasalnya, dia telah membohongi ibunya kemarin.
"Kalian nggak ke kantor?"
"Ini kan sabtu, buk.." Susi hanya menganggukan kepalanya saja. Lalu dia makan pagi dengan patuh.
"Ta, kapan kita pulang? Ibu udah nggak betah disini lama-lama.." tanya Susi sudah merindukan kasur di rumahnya.
"Nanti aku tanyakan ke dokter dulu! Oh ya buk, nanti aku sama Ernes mau cari apartemen, kita akan pindah karena kontrakan kita sudah habis bulan depan."
"Kenapa sih kita selalu ngerepotin nak Ernes? Kita perpanjang aja kontrak rumah kita!" Susi merasa tidak enak hati karena semua-muanya Ernes yang tanganin.
"Nggak apa-apa buk, nggak ngerepotin sama sekali kok.. Anggap aja itu mahar aku untuk Atta.." sahut Ernes yang baru saja membuka mata dan mendengar perkataan Susi.
"Tapi kamu udah baik banget sama kita, ibu nggak mau berhutang budi yang banyak sama kamu.."
"Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih karena telah membesarkan Atta dengan baik. Meskipun sebenarnya ibu melakukannya dengan ikhlas. Tapi tetap aja, ibu harus mendapat apresiasi.." ucap Ernes yang membuat Susi tersentuh.
Susi menatap Ernes dengan dalam. "Kalau nanti ibu sudah nggak ada, ibu minta kamu untuk jagain Atta ya! Dia dari kecil selalu menderita, jadi ibu mohon, bahagiain dia!" ucap Susi.
Atta merasa sangat sedih dengan apa yang ibunya katakan. Atta pun segera memeluk ibunya sembari menangis. "Ibu harus terus temenin aku sampai kapanpun. Aku tidak menderita sama sekali karena bersama dengan ibu itu suatu kebahagiaan." ucap Atta sembari menangis.
"Maafin aku yang belum bisa bahagiain ibu!" imbuh Atta.
"Kamu anak yang baik, dan ibu bahagia memiliki kamu.." Susi mengecup kening anaknya dengan lembut.
"Sarapan dulu kalau mau pergi!" Susi tidak mau semakin sedih, dia pun mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau mandi dulu atau sarapan dulu?" tanya Atta ke Ernes.
"Mandi dulu aja!" Ernes segera bergegas ke kamar mandi.
Susi menasehati anaknya untuk selalu menghormati Ernes yang akan menjadi suaminya. Memberi wejangan kepada Atta, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang istri kepada suaminya.
"Meskipun ibu tidak memiliki suami, tapi ibu tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang istri.."
Jujur, pada saat ibunya berkata seperti itu, hati Atta merasa sangat sakit. Dia tahu jika sebenarnya ibunya juga ingin bersuami, tapi akhirnya memilih untuk tidak menikah seumur hidup.
Atta sangat kesal mengingat apa yang telah ayahnya rusak dari ibunya. Selain merusak hidup ibunya, ayahnya juga telah merusak mental ibunya yang membuat ibunya menjadi trauma seumur hidupnya.
"Jadilah wanita yang kuat jadi kamu tidak akan mudah ditindas seperti ibumu ini."
"Aku udah dewasa buk, aku nggak akan biarin siapapun menindas ibu lagi, aku akan lindungi ibu!" Atta mempererat pelukannya. Di dunia ini tidak ada yang lebih penting dibanding dengan ibunya.
Susi tersenyum mendengar perkataan Atta. Susi merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu. Seperti baru saja kemarin dia menimang Atta. Sekarang anaknya itu sudah tumbuh besar dan akan segera menikah.
****
Atta dan Ernes mencari apartemen yang tidak terlalu jauh dari kantor Ernes dan letaknya strategis. Ernes tidak mempermasalahkan uang, yang terpenting nyaman dan aman untuk Atta dan ibunya. Dan setelah menikah mereka juga akan tinggal bersama.
"Kamu suka nggak sama apartemen ini?" tanya Ernes.
"Disini sudah aman dan nyaman, jangan pikirin masalah uang, ingat siapa suami kamu!" ucap Ernes sedikit membanggakan diri.
Ernes kemudian mendekati Atta dan menggigit telinga Atta. "Cuacanya cerah, kenapa kita nggak coba aja disini untuk menciptakan kesan pertama?" bisiknya mulai bergairah.
Sekitar satu jam kemudian keduanya mulai keluar dari apartemen baru mereka. "Makan dulu ya!" ajak Ernes.
"Besok aku suruh orang untuk mindahin barang-barang kamu kesini sekalian beli barang yang kita butuhkan!" kata Ernes.
"Iya.. makasih ya.."
"Bisa nggak bilang makasih terus! Bosen kalik, sekali-kali bilang cinta kek.." ucap Ernes sembari tersenyum.
Sedangkan Atta hanya tersenyum kecil sembari menggigit bibir bawahnya. Dia tahu jika Ernes hanya bercanda, tapi tetap saja dia merasa senang dan tersipu.
Begitu sampai di restoran yang masih satu lokasi dengan apartemen mewah tersebut, tiba-tiba Ernes menerima panggilan dari kliennya. Ernes meminta Atta untuk duluan pesan makanan sementara dia menerima telepon tersebut sebentar.
Untungnya Atta pernah punya pacar anak orang maya juga sebelumnya dan dia juga sering makan ditempat mewah seperti ini. Jadi Atta tidak gugup saat harus memesan makanan terlebih dulu.
Atta mencari tempat untuk makan. Saat dis sedang mencari-cari. Tidak menyangka jika Atta akan bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu. "Atta..." seru salah satu temannya yang melihat Atta duluan.
"Hah.." Atta menghela nafasnya. Sepertinya dia tidak senang bertemu dengan teman-temannya. Namun karena tidak mau dibilang sombong, Atta terpaksa mendekat ke teman-temannya.
"Hai," sapa Atta.
"Kamu kerja disini?" tanya salah satu dari ketiga teman Atta yang mengira jika Atta disini untuk kerja.
"Ya pasti kerjalah, masa makan disini mana ada duit dia, kan dia harus obati ibunya yang sakit, iya kan Ta?"
"Ha, iya.." Atta tersenyum paksa sembari menganggukan kepalanya. Itulah alasan kenapa Atta malas bertemu dengan teman-temannya.
"Aku bilang juga apa, mana ada duit dia makan direstoran semewah ini, mau jual ginjal?" ketiga teman Atta tertawa senang, sepertinya mereka merasa puas telah menghina Atta.
Bahkan salah satu dari mereka bertiga sengaja pamer barang pemberian dari pacarnya yang ternyata adalah mantan pacar Atta. Teman Atta itu seolah ingin menunjukan jika dia yang lebih pantas untuk mantan pacar Atta karena mereka selevel.
Atta hanya menghela nafasnya berulang kali. Dia berusaha keras menahan amarahnya. Tapi, saat dia berbalik, dia melihat Ernes yang berjalan mendekat. Atta pun memiliki ide untuk membalas teman-temannya tersebut.
"Sayank..." seru Atta sembari melambaikan tangannya.
"Udah pesen makanan?" tanya Ernes berjalan mendekat.
Melihat itu tentu saja ketiga teman Atta pada membulatkan matanya. Mereka ternyata salah menduga. Tambah melongo saat melihat ketampanan Ernes.
"Aku kenalin dengan temen-temen aku!" ucap Atta membawa Ernes mendekat ke meja teman-temannya.
"Kita boleh gabung ya!" ucap Ernes langsung duduk begitu saja tanpa dipersilahkan.
"Kenalin ini suamiku." ucap Atta dengan bangga.
"Hai, kenalin aku Ernes Rajendra, suaminya Atta.." tambah terkejutlah mereka.
"Ernes Rajendra bukannya penampilannya cukun ya? Tapi ini kenapa ganteng banget?" bisik salah satu teman Atta.
"Tapi kabarnya saat diluar kantor, penampilannya berubah.." bisik yang lain.
Atta tersenyum senang saat melihat wajah kaget teman-temannya. Dia pun semakin pamer kemesraan yang membuat teman-temannya dongkol. Apalagi Ernes yang begitu sangat perhatian kepadanya.
Pembalasan yang begitu epic.