Sudden Mariage

Sudden Mariage
73



Rey datang ke tempat dimana Cintya berada. Dia telah mengetahui keberadaan Cintya. Dengan alasan dia akan membawa Atta pergi dari kota itu secepatnya, akhinya Cintya memberitahu dimana dia membawa Atta. Rey juga tidak bodoh, dia segera menghubungi Ernes dan memberitahu keberadaan Atta dan Cintya saat ini.


Rey pergi ke sebuah dermaga dipinggiran kota. Disana, dia telah dijemput oleh anak buah suaminya Cintya. Untungnya, dia telah mengirim gps ponselnya ke Ernes. Dengan begitu Ernes bisa melacak keberadaannya. Juga terus menelpon Ernes agar Ernes tahu apa yang terjadi dan seperti apa kondisi ditempat tersebut.


Ryan mencari petunjuk dari gps yang terhubung ke ponsel Ernes. Dia menemukan jika tempat tersebut berada di dekat dermaga di kota tetangga. "Apa kita yakin akan kesana bos?" tanya Ryan.


Dia ragu karena kota tersebut bukanlah wilayah mereka. Takutnya jika itu hanya akan menimbulkan perselisihan antara kedua kota tetangga tersebut.


"Yakin. Aku kenal ketua kota itu." jawab Ernes dengan yakin. Ernes sudah tidak peduli dengan apapun, yang dia pedulikan hanya keselamatan Atta dan juga anaknya.


"Tapi bos..."


"Jangan banyak berpikir! Aku harus segera selamatkan anakku dan istriku, bahkan jika nyawa adala taruhannya." ucap Ernes yang sudah tidak bisa mempedulikan apa-apa lagi selain anak dan istrinya.


"Segera atur orang untuk kesana. Siapin juga helikopter jika kita tidak bisa masuk melalui darat dan laut!" pintanya.


Ryan nurut apa kata Ernes meskipun dia sebenarnya ragu dan khawatir. Menurut kabar, ketua kota tersebut masih saudara dengan mertuanya Cintya. Itu artinya mereka punya niatan untuk balas dendam kepada Ernes.


Ryan yang khawatir bosnya akan kenapa-napa, dia segera menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Ryan melakukan itu tanpa sepengetahuan Ernes karena takut melukai harga diri Ernes.


"Tuan Ernes sedang ada masalah, istrinya diculik dan disekap di kota X."


"Ya, ini kita akan segera kesana." imbuhnya.


Ernes sampai di dermaga. Dia segera menyebrang menggunakan perahu kecil yang disiapkan disana bersama dengan Ryan yang tidak mau meninggalkan Ernes sendirian. Di belakangnya ada beberapa perahu kecil juga yang dinaiki oleh anak buah Ernes yang lain.


Sesampainya dikota seberang, mereka dihadang oleh anak buah dari suaminya Cintya. Mereka hanya memperbolehkan Ernes masuk tanpa pengawalan. "Dia saja yang bisa masuk.."


"Aku juga harus masuk..." Ryan ngeyel ingin masuk juga bersama dengan Ernes.


"Nggak bisa!"


"Udah nggak apa-apa.." Ernes meminta Ryan untuk menunggunya keluar bersama dengan istrinya.


"Tunggu aku sebentar saja, aku hanya jemput Atta kok." kata Ernes kemudian ikut bersama dengan anak buah suaminya Cintya. Mereka bahkan memborgol tangan Ernes agar Ernes tidak melawan.


"Bos hati-hati!" ucap Ryan. Ryan sengaja tidak melawan karena sedang menunggu bala bantuan datang. Karena jika dia melawan sekarang, mereka kalah jumlah.


Ernes menganggukan kepalanya.


Ernes dibawa ke sebuah ruangan sempit dan juga gelap. Disana telah menunggu Cintya bersama dengan suaminya. "Selamat datang tuan Ernes Rajendra." suami Cintya menyambut Ernes dengan tertawa, merasa sudah saatnya dia balas dendam.


Ernes melayangkan pandangannya mencari-cari keberadaan Atta. Tapi dia tidak melihat Atta sama sekali. "Dimana istriku?" tanyanya.


Suami Cintya kembali tertawa. Dia seolah mengolok-olok Ernes yang bucin ke istrinya. "Tuan Ernes yang hebat, yang bisa hancurkan bisnis orang dalam semalam ternyata sangat mencintai istrinya.." ucap suami Cintya lagi sambil tertawa.


"Jangan banyak ngomong, dimana istriku?" tanya Ernes lagi.


"Tenang saja, istri kamu baik-baik saja. Aku sudah suruh dokter untuk mengobati lukanya. Maaf kalau Cintya terlalu bersemangat!" ucap suami Cintya lagi.


"Apa yang kamu mau?" tanya Ernes dengan dingin. Dia terlalu mas meladeni orang seperti itu sebenarnya. Tapi demi anak dan istrinya, Ernes harus menahannya.


"Simple, cukup tanda tangan pengalihan perusahaan papa aku yang kamu akuisi!" jawabnya tanpa basa basi lagi. Mungkin suami Cintya tahu jika Ernes tidak suka basa basi atau bertele-tele.


Ernes tersenyum sinis mendengar permintaan suami Cintya. Meskipun sebelumnya dia sudah menebaknya juga. Tapi tetap saja itu menggelikan untuknya. "Papa kamu tidak bisa bayar hutangnya, dan perusahaannya jadi jaminan. Kok enak banget minta alihkan gitu aja. Bayar dulu hutang papa kamu, baru aku akan alihkan ke kamu.." jawab Ernes dengan tanpa takut sama sekali.


Mendengar perktaan Ernes tersebut, suami Cintya menjadi murka. Dia maju dan meninju perut Ernes.


Buk!!!


Tetapi suami Cintya tidak hanya memukul satu kali namun berulang kali sampai membuat Ernes terjatuh. Cintya segera melindungi Ernes karena tidak tega melihat Ernes dipukuli seperti itu.


"Stop!!" seru Cintya.


"Kamu janji nggak akan sakiti dia.." seru Cintya.


"Kamu bela lelaki ini di depan suami kamu?" suami Cintya tertawa dengan sinis.


"Kamu janji hanya akan paksa dis tanda tangan, tidak menyakitinya.." ucap Cintya lagi.


"Kamu nggak kenapa-napa kan Nes?" tanya cintya sembari memegangi tangan Ernes bermaksud membantu Ernes untuk berdiri. Tapi Ernes menarik tangannya.


"Jangan sentuh aku!" ucapnya dengan kasar. Ernes benar-benar marah dengan apa yang telah Cintya lakukan kepada Atta sebelumnya.


"Bawa wanita itu kesini!" seru suami Cintya meminta anak buahnya untuk membawa Atta masuk.


Atta dibawa masuk dan melihat Ernes yang berdiri dengan dipegangi oleh Cintya. Tetapi lagi-lagi Ernes tidak mau di pegang oleh Cintya. Melihat istrinya, Ernes menjadi sangat senang. "Ta..." gumamnya sembari menatap Atta. Dia melihat luka disekitar wajah Atta dan hatinya menjadi sakit.


Atta juga melihat darah dibibir Ernes, dia pun menjadi sangat khawatir. Tetapi dia sadar tidak bisa membantu Ernes. Maka Atta hanya tersenyum sajakepada Ernes agar Ernes tahu bahwa dia baik-baik saja.


Melihat Atta tersenyum dengan begitu manis, Ernes pun menjadi lega, dia juga ikut tersenyum.


"Silahkan pilih, mau tanda tangan atau kamu akan kehilangan anak dan istri kamu. Meskipun sebenarnya aku tidak tega sakiti dia, karena dia manis. Tapi, kamu yang memaksaku." ucap suami Cintya masih memaksa Ernes untuk menanda tangani dokumen tersebut.


"Lunasi hutang papa kamu, perusahaan itu akan kembali ke kamu.." Ernes pun masih kekeh.


"Hajar dia!" suami Cintya meminta anak buahnya untuk menghajar Ernes di depan suaminya, karena dia tidak bisa melihat kekerasan kepada wanita, itu sebabnya dia menolong Atta dari keganasan Cintya dan juga mengobatinya. Tapi anehnya dia bisa melakukan itu kepada Cintya.


Melihat Ernes dipukuli oleh beberapa orang, Atta pun berteriak memohon agar Ernes diampuni. "Tolong hentikan!!" seru Atta tidak tega melihat lelaki yang dia cintai dihajar seperti itu tanpa melawan.


Bukan hanya Atta, Cintya pun berusaha menolong Ernes sampai dia kena pukul juga. Tapi tetap saja suaminya membiarkan itu. Akan tetapi, saat Atta hendak mendekat dan menolong Ernes. Suami Cintya menahan tangan Atta. "Biarin saja, dia lebih memilih harta dibanding dengan kamu dan anak kamu." ucapnya sembari menahan tangan Atta.


"Aku mohon lepasin dia! Aku janji akan kasih kesempatan kamu untuk lebih dekat dengan aku. Aku mohon!" ucap Atta memohon untuk Ernes.


"Atta, kamu hany boleh menjadi istriku, aku tidak akan rela kamu dekat dengan lelaki lain, apalagi dia..." seru Ernes sembari menahan sakit karena pukulan dari beberapa orang tersebut.


Atta semakin menangis mendengar perkataan Ernes juga melihat keadaan Ernes yang sudah babak belur. "Aku akan tinggalin dia, dan kita bisa dekat seperti mau kamu. Tapi ku mohon suruh mereka berhenti!!!." ucap Atta terpaksa.


"Ta, please jangan!" mohon Ernes yang semakin melemah.


Cintya membulatkan matanya mendengar perkataan Atta. Ternyata diam-diam suaminya telah mendeati Atta meminta untuk dekat. Itu sebabnya dia marah saat tahu Atta dia siksa dan bahkan mengobatinya.


"Dasar jal*ng.." Cintya yang murka pun menyerang Atta. Tapi beruntung Atta dilindungi oleh suami Cintya.


"Kamu mau apa? Aku tidak suka kamu sakiti dia!" ucapnya menahan tangan Cintya ynag hendak menyerang Atta.


"Kamu suka sama dia? Sejak kapan?" tanya Cintya dengan sengit.


"Aku hanya kagum dengan dia yang berusaha keras melindungi anaknya, mungkin belum ke tahap suka." jawab suami Cintya berterus terang.


"Kamu brengs*k." Cintya memukul lengan suaminya dengan cukup keras. Bahkan merka belum resmi cerai aja suaminya sudah mengatakan jika dia suka dengan wanita lain.


"Apa bedanya dengan kamu? Kamu juga suka kan dengan dia?" suaminya menunjuk Ernes.


{Sebentar memasuki part ending, karya ini sebentar lagi akan tamat ya, kita akan rilis judul baru diawal bulan. Selama beberapa hari ini author akan istirahat guna menyiapkan judul baru yang akan rilis. Tentunya terima kasih kepada readers semua karena selalu support hobi halu aku ini. Terima kasih, jangan lupa like, comment dan favoritkan ya, eits jangan lupa vote dan juga kasih hadiah juga, terima kasih semuanya. Salam sehat selalu.}