Sudden Mariage

Sudden Mariage
56



Atta terbangun disaat matahari telah meninggi. Dia tidak menemukan Ernes disampingnya, tapi dia melihat susu hangat dan roti dimeja samping tempat tidurnya. Ada secarik kertas yang ditinggalkan oleh Ernes.


'Aku sudah berangkat kerja. Jangan lupa sarapan'


Atta tersenyum membaca secarik pesan dari Ernes. Dia menjadi semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Semakin tidak bisa melupakan perasaan sukanya ke Ernes.


"Kenapa aku nggak bisa menolak dia?" gumam Atta sembari memegangi kepalanya. Namun, dia kembali tersenyum saat melihat sarapan diatas meja.


Segera Atta bergegas siap-siap ke rumah Ernes untuk menjenguk mamanya Ernes.


****


Setelah kedatangan Vanka, keadaan Gio semakin membaik. Semangat hidupnya kembali membara. Semangat untuk memulai kehidupan baru bersama anak dan istri yang sangat dia cintai.


"Pelan-pelan!" Vanka membantu Gio berjalan memasuki rumahnya.


Tapi, sebelumnya dia pergi ke kamar mamanya terlebih dahulu. Gio meminta maaf kepada papa dan mamanya karena telah membuat kedua orangnya cemas.


Gio memeluk mamanya yang hanya bisa berbaring diatas kasur. Air mata mengalir dengan begitu deras bersama dengan permintaan maafnya. "Maafin aku ma.." ucapnya.


Ines menganggukan kepalanya dengan air mata yang mengalir pula. Dia senang karena akhirnya Gio kembali bersatu dengan anak dan istrinya. Tapi dia kaget melihat kepala Gio yang diperban.


"Maafin Vanka ya ma yang udah kayak anak kecil.." Vanka juga meminta maaf kepada mertuanya yang lebih seperti ibu kandungnya.


"Iya, nak. Mama tahu kok apa yang kamu rasakan.." Ines juga memeluk Vanka dan kedua cucunya.


"Apa yang membuat kamu percaya sama Gio pada akhirnya?" tanya Ines penasaran apa yang membuat Vanka akhirnya percaya kepada Gio. Padahal sebelumnya mau seperti apapun Gio menjelaskan, Vanka tetap tidak mau mendengarkan.


"Udahlah ma jangan kepo, yang penting mereka udah kembali bersama sekarang!" Sakha memperingati istrinya agar tidak terlalu kepo dengan urusan anak-anaknya.


"Itu karena kak Atta ma. Kak Atta yang yakinin aku kalau Gio emang dijebak sama Marisa." jawab Vanka.


"Atta?"


"Iya.. Kak Atta kembali bekerja di tempatnya om Andhika, dan tidak sengaja mendengar rencana Marisa untuk menjebak Gio." imbuh Vanka.


"Atta itu emang baik banget orangnya. Tapi, kenapa dia balik kerja ditempat seperti itu?" Ines kembali khawatir. Kali ini dia mengkhawatirkan anak menantu pertamanya.


"Mungkin kak Atta ada alasan tersendiri ma.." sahut Gio.


"Mungkin juga. Tapi mama tetap khawatir.." gumam Ines.


Ines bertanya kepada Gio mengenai masalah kakaknya dengan Atta. "Kakak kamu katanya sudah lama pisah sama Atta. Kamu tahu apa permasalahannya? Kakak kamu cerita nggak sama kamu?"


"Kak Ernes sih nggak cerita. Tapi, kak Atta sempat cerita sama Vanka kemarin."


"Kenapa? Apa alasannya mereka pisah?" Ines semakin khawatir. Kali ini Sakha tidak menghentikan istrinya. Karena dia juga penasaran apa yang terjadi dengan rumah tangga putra sulungnya.


"Katanya sih karena kak Cintya.." jawab Vanka.


"Cintya? Kenapa dengan Cintya?" Ines semakin penasaran.


"Kata kak Atta, kak Cintya sengaja mengadu domba kak Atta dengan kak Ernes. Kak Cintya yang mengakibatkan ibunya kak Atta meninggal. Kak Cintya datang langsung dan memberitahu kak Atta, hanya sayangnya kak Atta tidak merekam pembicaraan itu."


"Sementara kak Ernes terus membela kak Cintya. Kak Ernes tidak percaya dengan apa yang kak Atta katakan. Itulah sebabnya mereka akhirnya saling menjauh." Vanka menjelaskan sesuai dengan apa yang dia dengar dari Atta.


Ines dan Sakha terdiam. Sama seperti Vanka, mereka tidak percaya jika Cintya berbuat seperti itu. Mereka mengenal Cintya sebagai pribadi yang baik.


Tapi, bukan berarti mereka menganggap jika Atta berbohong. Mereka juga yakin jika apa yang Atta katakan itu benar adanya. Hanya saja mereka masih ragu.


Siang itu Atta datang membawa buah-buahan untuk Ines. Kedatangan Atta tersebut membuat Ines menjadi senang. Apalagi Atta datang bersama dengan Ernes.


"Kalian udah baikan?" tanya Ines dengan sangat senang.


Atta hanya tersenyum kecil. "Ma, cepat sembuh ya!" ucap Atta sembari meraoh tangan Ines.


"Iya, nak.. Gimana kabar kamu? Kamu terlihat kurusan, kamu masih sedih dengan kepergian ibu kamu?" tanya Ines sembari meraih wajah Atta dengan lembut.


"Aku baik ma. Sedih sih masih ma, tapi aku juga harus menjalani hidup aku kan." Ines tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Mama udah makan? Mama mau aku masakin? Aku jago masak loh..." Atta menawarkan kemampuan memasaknya kepada mertuanya.


"Oh iya? Boleh tuh, mama mau makan sop ayam. Tapi jangan ada apapun yang berhubungan dengan seafood ya, mama alergi.." pinta Ines sembari mengingatkan makanan yang tidak boleh dia makan.


"Oh, iya ma, sama seperti Ernes berarti ya?" Ines kembali tersenyum.


Atta pun segera pergi ke dapur untuk memasak sop ayam permintaan mama mertuanya. Dia memang sangat suka memasak. Jadi dia sama sekali tidak keberatan melakukannya demi mama mertuanya.


Ernes bersandar di pintu dapur sembari terus menatap istrinya yang sibuk memasak didapur. Rambut Atta yang di kuncir kuda memperlihatkan tengkuk lehernya yang putih bersih. Ingin rasanya Ernes mendekati wanita itu dan mengecup lehernya yang menggoda. Tapi dia harus menahannya karena ada beberapa pembantunya yang ada di dapur.


Akan tetapi, Ernes tidak kekurangan ide. Dia meminta pelayannya untuk pergi mengerjakan sesuatu yang lain. Agar dia bisa berduaan dengan istrinya didapur itu.


Ernes berjalan mendekat dan memeluk Atta dari belakang. Dia mengecup leher belakang Atta dengan lembut. Dan itu membuat Atta menjadi kaget. Dia segera berbalik tapi Ernes mengurungnya dalam pelukan.


"Jangan kayak gini, nanti dilihat orang!" ucap Atta masih agak canggung.


"Kenapa emangnya? Kita suami istri wajar lakuin hal ini." Ernes menciumi leher Atta kembali.


"Nes.. Uhm..." Ernes mencium bibir Atta membuat Atta semakin terkejut.


"Hah..." Atta menatap Ernes dengan penuh cinta. Lelaki itu telah membuatnya benar-benar kehilangan akal. Padahal dia sudah yakin ingin berpisah tapi lelaki itu justru membuatnya semakin cinta.


Ernes juga menatapnya dengan lekat sembari tersenyum. Ernes menyentuh hidung Atta. "Dasar anak kecil!" ucapnya sambil menarik hidung Atta.


Ernes kembali memeluk Atta. Dia sangat merindukan kebersamaannya dengan Atta. Bersama dengan Atta dia bisa menjadi dirinya sendiri. Seorang presiden direktur yang sombong namun juga ingin dimanja.


"Ernes, ternyata kamu disini? Aku cariin kamu.." Ernes dan Atta kaget karena tiba-tiba ada orang yang masuk ke dapur.


"Ada Atta juga.. Hallo Ta, apa kabar?" Atta tidak menjawab karena setiap melihat Cintya, dia akan menjadi kesal.


"Tante Ines cariin kamu.." ucap Cintya kepada Ernes.


Lagi-lagi kehadiran Cintya membuat kemesraan Atta dengan Ernes harus segera berakhir. Atta mendorong Ernes menjauh dan berbalik badan. Dia melanjutkan memasaknya.


Atta segera menghidangkan makanan yang dia buat ke dalam mangkok. Sementara Ernes keluar dari dapur dan segera ke kamar mamanya.


Cintya mendekati Atta dan mengoloknya. "Ingin mengambil hati tante Ines agar tidak jadi cerai?" tanya Cintya dengan tersenyum sinis.


Namun, Atta tidak mau menanggapi Cintya yang mencoba memancing amarahnya. Dia melewati Cintya begitu saja.


Tapi, Cintya dengan sengaja menyenggol Atta sampai sop yang Atta bawa sedikit tumpah ke tangannya. "Aw.." erang Atta karena terkena sop yang masih panas.


"Sorry, aku nggak sengaja.." ucap Cintya.


Tapi Atta tetap tidak mau menanggapinya. Dia hanya melotot kemudian mencuci tangannya agar tidak terlalu terasa panas ditangannya.


Setelah itu dia meninggalkan dapur dan membawa sop itu ke kamar Ines. Sama sekali tidak mau menanggapi Cintya yang selalu sengaja membuatnya marah.