Sudden Mariage

Sudden Mariage
62



Ernes kembali ke rumah sakit, karena Gio memberitahu jika mamanya telah sadar. Dia pun segera bergegas ke rumah sakit. Ernes merasa senang karena mamanya telah sadar. Tapi, dia juga bingung karena mamanya ingin bertemu dengan Atta.


Sejak dia sadar yang dicari Ines hanya Vanka dan Atta. Karena Vanka selalu ada di ruangan itu, jadi dia merasa agak lega. Tapi selalu mencari Atta.


"Jangan cari Atta lagi!" ucap Ernes.


"Kenapa kamu jahat sama Atta? Mama yakin bukan Atta bukan sengaja mau sakiti mama. Dia anak baik dan tulus.." ucap Ines menjadi kesal dengan Ernes yang sembarangan menuduh Atta.


Ernes hanya diam, dia tidak mau berdebat dengan mamanya. Karena sejujurnya dia juga menyesal telah menuduh Atta seperti itu. Semakin kesal ketika teringat obrolannya dengan Rey tadi.


"Besok mama udah pulang. Mama mohon segera bawa Atta ketemu mama! Mama nggak mau tahu!" lanjut Ines merengek seperti anak kecil.


Ernes semakin tertekan karenanya. Dia pun memutuskan untuk bicara dengan Atta. Siapa tahu jika Atta masih mau menemui mamanya.


"Ernes!!!" seru Ines.


"Iya ma, nanti aku minta dia ketemu mama.." jawab Ernes tidak bisa menolak permintaan mamanya. Apalagi mamanya sudah merengek seperti itu.


Ernes pergi ke rumah Atta. Tapi Atta tidak ada di rumah. Dia mencari ke tempat kerja Atta, dan ternyata Atta baru saja sampai di tempat kerjanya bersama dengan Rey. Ernes turun dari mobilnya, dari jauh Ernes menatap Atta. Ada kerinduan yang mengganggu dalam hatinya.


Akan tetapi, hatinya mulai gelisah tatkala melihat Atta bersama dengan Rey. Belum lagi dia masih teringat ancaman dan pengakuan Rey. Ernes melangkahkan kakinya, namun seketika dia berhenti. Baru dua langkah kemudian dia mundur lagi.


Melihat Atta bisa tertawa lepas dengan Rey membuat hatinya canggung. Mungkin benar jika sebenarnya Atta bisa lebih bahagia tanpa dia. Ernes tetap diam di tempatnya.


"Aku kembali kerja dulu!" pamit Atta kepada Rey.


Rey menganggukan kepalanya. Atta berjalan ke arah Ernes berdiri. Dari kejauhan Rey menatap keduanya dengan penasaran apa yang akan terjadi antara keduanya.


Atta berjalan dengan tegak. Sepertinya dia tidak menganggap kehadiran Ernes. Padahal dalam hatinya sangat berdebar sekali. Apalagi Ernes terus menatapnya. Tapi, dia kembali ingat apa yang Ernes katakan waktu itu dan itu membuatnya menjadi marah.


Dia melewati Ernes begitu saja bahkan tidak mau melihat Ernes. Meskipun begitu, ekor matanya sedikit melirik suaminya tersebut.


Tidak terima dicuekin Atta. Ernes segera meraih tangan Atta tepat disebelahnya. Tetapi, dengan cepat Atta menepis tangan Ernes. Seolah dia tidak mau disentuh oleh Ernes.


Tentu saja itu membuat Ernes menjadi kesal. Sembari menahan amarahnya, Ernes mengatakan maksud dan tujuannya menemui Atta. "Mama ingin bertemu kamu!" ucap Ernes.


Tapi Atta terus melangkah tanpa menghiraukan perkataan Ernes. "Kalau mau marah sama aku silahkan! Tapi please temui mama aku, dia ingin sekali ketemu kamu!" seru Ernes dengan kesal.


Atta sempat menghentikan langkahnya sebentar, tapi kemudian dia kembali mengabaikan Ernes. Tentunya Ernes menjadi kesal, dia bahkan hendak mengejar Atta. Tetapi, dengan cepat Rey menghentikannya. "Jangan ganggu dia lagi!" ucap Rey menahan tangan Ernes.


Ernes menjadi semakin kesal, dengan cepat dia menghempaskan tangan Rey. "Aku nggak akan ganggu dia kalau bukan karena mamaku.." ucap Ernes kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan marah.


****


Ryan kembali ke rumah yang Cintya datangi kemarin. Dia menyamar sebagai salah satu penjaga rumah tersebut. Sebelumnya dia telah berhasil menculik salah satu dari mereka kemudian menyamar dengan memakai bros yang menjadi ciri khas dari para penjaga tersebut.


Ryan juga memakai kumis palsu agar tidak mudah dikenali. Benar saja, tidak ada yang mengenali dirinya. Mereka hanya mengenali teman mereka dari bros khusus yang mereka kenakan.


"Hei kamu, tolong antar ini ke bos di dalam!" salah satu dari penjaga itu meminta Ryan untuk mengantar sesuatu ke bos mereka. Nah, itu kesempatan Ryan untuk masuk dan melihat ke dalam rumah tersebut.


Ryan melihat ke sekitar, rumah itu nampak sepi hanya ada dua orang pembantu yang kelihatan. Ryan melihat ke sekitar, aura rumah itu nampak sunyi. Ryan segera mendekat ke lelaki yang nampak sedang merilekskan dirinya.


"Pesanan bos.." ucap Ryan.


"Oke.."


"Hei, kamu ke lantai dua! Panggil nyonya! Bilang kalau waktunya habis!" perintah lelaki itu.


Entah apa yang dimaksud oleh lelaki itu, tapi Ryan tetap mengikuti perintah lelaki itu. Dia segera naik ke lantai 2. Lantai itu ada beberapa kamar, namun hanya satu kamu yang dijaga.


Ryan mendekat dan mengatakan jika dia mendapat perintah untuk memanggil nyonya mereka. Penjaga tersebut kemudian mengizinkan Ryan untuk masuk ke dalam kamar.


Nasib baik mengikuti Ryan. Usaha penyamarannya bisa dikatakan berjalan dengan mudah dan lancar. Ryan membuka kamar tersebut. Dia melihat Cintya yang sedang menyuapi seorang wanita paruh baya. Kelihatannya Cintya sangat menyayangi wanita tersebut. Karena dia menyuapi dengan hati-hati.


"Ma, aku pasti akan segera bawa mama pergi dari sini!" Ryan mendengar perkataan Cintya kepada wanita paruh baya yang terlihat sedang sakit tersebut.


Mama?


Bukankah Cintya sudah tidak memiliki orang tua?


Ryan mulai berpikir, tapi tak lama dia tersadar. Dia harus segera memanggil Cintya. Jadi Ryan mulai tahu jika 'nyonya' yang dimaksud lelaki tadi adalah Cintya. Apa jangan-jangan lelaki itu suami Cintya.


"Maaf, nyonya dipanggil bos!" ucap Ryan dengan mengubah suaranya karena dia tidak mau Cintya mengenalinya.


"Ya." jawab Cintya.


Setelah berpamitan dengan wanita yang dipanggil mama tersebut. Cintya segera turun untuk bertemu dengan lelaki itu.


"Kapan kamu akan ambil dokumen penting Ernes Rajendra?" tanya lelaki itu ketika Cintya mendekat.


Ryan sempat membulatkan matanya mendengar pertanyaan lelaki tersebut. Dia kembali bertanya-tanya. Kenapa lelaki itu ingin mengambil dokumen milik bosnya. Dia sengaja memperlambat langkahnya.


"Sabar! Aku harus ambil hati Ernes dulu baru bisa setir dia." jawab Cintya yang membuat Ryan kembali kaget.


"Aku tidak peduli dengan perasaan kamu ke Ernes Rajendra. Yang harus kamu ingat, mama kamu masih ditanganku, jika kamu gagal kamu tahu apa yang terjadi." ucap lelaki itu sedikit mengancam.


"Aku tahu.." jawab Cintya tertunduk.


"Bentar lagi aku udah bisa dapetin hatinya. Kemarin tertunda karena ternyata dia memiliki istri. Tapi sekarang dia akan berpisah jadi ini kesempatan yang baik." lanjut Cintya.


"Aku kasih kamu waktu satu bulan!" Cintya menganggukan kepalanya.


"Begitu aku dapat dokumen penting itu dan berhasil hancurin Ernes Rajendra. Aku akan bebasin kamu dan mama kamu, aku juga akan pertimbangkan untuk perceraian kita.." imbuh lelaki itu.


"Ernes Rajendra, kamu siap-siap hancur.." gumam lelaki itu sepertinya memiliki dendam yang dalam kepada Ernes.


Namun Ryan tidak bisa lama-lama ditempat itu. Dia harus segera pergi sebelum penjaga yang dia sekap bisa kembali dan itu akan berbahaya untuknya. Dia juga harus segera melapor ke Ernes juga.