Sudden Mariage

Sudden Mariage
20



Sepanjang malam Atta tidak bisa tidur karena pikirannya terus saja tidak bisa dia kendalikan. Dia baru tertidur saat subuh.


Ernes yang baru membuka matanya melihat Atta tidur disampingnya menjadi tersenyum. Dengan lembut Ernes menyentuh kepala Atta. "Pagi.." ucapnya saat Atta tanpa sengaja malah terbangun.


"Pagi.. Gimana? Kamu masih gatal atau sesak nafas?" tanya Atta dengan cemas.


Ernes pun tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Kamu nungguin aku semalaman?" tanya Ernes.


"Hmm, kamu kenapa bod*h sih? Udah tahu kamu alergi seafood tapi kenapa mau aja aku paksa makan makanan yang aku masak?" tanya Atta kembali meneteskan matanya.


Ernes menarik Atta mendekat kemudian memeluknya. Senyumannya mengembang, "aku nggak apa-apa kok. Jangan nangis lagi!" ucapnya dengan lembut.


"Kamu bod*h.." Atta semakin terisak sambil memukul dada Ernes pelan.


"Aku mau ke rumah sakit dulu sebelum ke kantor." ucap Atta. Semalam dia tidak melihat ibunya, dia takut ibunya akan khawatir.


"Aku nggak bisa anterin, aku harus anter Cio ke sekolah!" kata Ernes.


"Nggak apa-apa." Atta tersenyum begitu manis. Membuat Ernes merasa bahagia.


Aiko tiba-tiba mengetuk pintu. Dia memberitahu jika sarapan telah siap. Aiko menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Aiko tidak masuk ke kamar itu karena takut mengganggu. Dia hanya menonggolkan kepalanya saja. "Sarapan udah siap.." kata Aiko.


"Ya ampun Ai, kenapa jadi kamu yang masak untuk kita? Harusnya kamu nggak boleh capek-capek.." ucap Atta menghampiri Aiko yang hanya berdiri di depan kamar.


"Nggak apa-apa, itung-itung olahraga.. Yuk sarapan dulu sebelum berangkat kerja!" ajak Aiko.


Atta dan Ernes pun segera bangun dan menuju meja makan. Atta menatap kagum dengan masakan yang terhidang. Ternyata Aiko juga pinter memasak. Tapi kayaknya lebih hebatan Aiko daripada Atta.


"Kamu pinter banget masak. Udah cantik, baik, pinter masak lagi.. Kurang apa lagi coba?" puji Atta saat merasakan masakan Aiko yang begitu lezat.


"Ah bisa aja.." Aiko tersipu malu mendengar pujian Atta.


"Cio kok belum ganti baju? Hari ini sekolah libur?" tanya Ernes.


"Nggak om, tapi kata mama, aku disuruh libur dulu.." Ernes memicingkan matanya sembari melirik Aiko.


"Aku sengaja larang dia ke sekolah, karena pasti Rakha cari dia ke sekolah. Aku masih belum mau ketemu dia.." Ernes akhirnya mengerti, dia hanya menganggukan kepalanya saja tanpa bertanya lebih lanjut.


Selesai makan, Atta yang bertugas cuci piring. Dia tidak tega membiarkan wanita hamil bekerja. Lantas, Atta meminta Aiko untuk istirahat dan menenangkan pikirannya.


"Semoga masalah kamu segera menemui titik terang ya, Ai.."


"Iya Ta.." setelah itu Atta dan Ernes pamit.


Karena tidak jadi mengantar Cio ke sekolah. Ernes pun menemani Atta ke rumah sakit. "Kamu pulang aja, nanti ketemu lagi di kantor!" ucap Atta begitu keluar dari mobil Ernes.


"Iya. Salam buat ibu.." Atta tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.


Setelah memastikan mobil Ernes tidak lagi kelihatan. Atta segera bergegas ke kamar rawat ibunya. Dengan hati senang Atta berjalan menuju ruangan ibunya.


Namun, langkahnya terhenti tepat di depan kamar rawat ibunya. Dia melihat dari kaca yang ada dipintu seorang lelaki paruh baya sedang menyuapi ibunya sarapan.


Lelaki itu tak lain dan tak bukan, ayahnya sendiri. Entah sejak kapan ayahnya ada di ruangan ibunya. Yang pasti Atta melihat jika sebenarnya ayahnya memiliki cinta untuk ibunya.


Atta mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia memberi waktu untuk ayah dan ibunya saling ngobrol. Dan Atta menunggu di depan ruangan ibunya.


Di dalam, Dika mengungkapkan kebahagiaannya karena Atta akan segera menikah. Sembari menyuapi Susi, dia bercerita betapa bahagianya dia karena anaknya telah bertemu dengan jodohnya.


"Aku seneng banget karena anakku tumbuh dengan baik. Terima kasih ya, karena kamu telah merawatnya dengan baik." kata Dika kepada Susi.


"Itu sudah jadi kewajibanku membesarkan dan merawat dia dengan baik." jawab Susi masih sangat dingin kepada Dika.


Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terpengaruh dengan apa yang Dika lakukan. Dia tidak mau kembali terjerumus ke dalam masa lalu yang belum kelar sama sekarang.


"Maafin aku.."


"Udahlah mas, mending mas pulang aja! Aku nggak mau Tanti ngamuk disini lagi!" Susi harus mengusir Dika karena tidak mau membuat Tanti marah dan bikin masalah lagi. Susi hanya ingin tenang.


"Setelah kamu selesai makan, aku akan segera berangkat ke kantor." Dika masih tetap kekeh ingin menyuapi Susi.


Setelah Susi menghabiskan sarapannya. Dika segera berpamitan, tapi dia sempat menyerahkan uang di dalam amplop cokelat kepada Susi. "Terima ini untuk biaya pernikahan Atta. Dia anakku, aku masih punya kewajiban untuk menafkahi dia!" ucap Dika.


"Nggak perlu mas, Atta pasti akan menolak juga. Sebaiknya kamu berikan kepada Angel dan Tanti saja!" Susi tentu saja menolak uang pemberian Dika.


Sudah berapa kali dia dipermalukan karena uang seperti itu. Kali ini Susi tidak ingin anaknya dipermalukan kembali.


"Tolong terima!" Dika memaksa Susi agar mau menerima uang tersebut.


"Mas bawa pulang aja!" ucap Susi masih bersikeras menolak.


Sampai akhirnya Atta masuk secara tiba-tiba dan mengagetkan Susi dan Dika. "Bawa pulang aja uang ayah! Aku hanya ingin ayah hadir di pernikahan aku dan memberi restu untuk aku!" ucap Atta yang membuat Dika berkaca-kaca.


Dika bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa terharunya. Dia meneteskan air matanya saat Atta meminta restunya. "Tentu, tentu ayah akan restui kamu, dan akan selalu doain kamu supaya kamu selalu bahagia, nak!" ucap Dika sembari memeluk Atta.


Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa memeluk putrinya tersebut. Dan setelah sekian lama pula, dia akhirnya mendengar Atta memanggilnya ayah.


Jantung Dika serasa mau melompat saking bahagianya. Terlebih lagi Atta yang tidak menolak pelukannya. "Ayah sayang kamu, nak.." ucap Dika yang membuat Atta ikutan berkaca-kaca.


Atta selalu merasa jika tidak ada istri ayahnya. Mereka bisa menjadi ayah dan anak yang baik. Tapi, setiap kali ada Tanti di dekat ayahnya. Mereka bisa menjadi musuh yang sengit.


****


Rakha menghubungi Ernes untuk bertanya mengenai Aiko yang kabur dari rumah. Bahkan Rakha sampai mendatangi kantor Ernes untuk meminta bantuannya. Rakha tahu jika Aiko lebih dekat dengan Ernes dibanding orang lain.


"Jadi kamu kesini cariin Aiko yang pergi dari rumah? Emang ada masalah apa kok Aiko sampai pergi?" Ernes pura-pura tidak tahu mengenai masalah mereka. Dia ingin tahu apakah Rakha akan jujur kepadanya atau tidak.


"... Aku yang bodoh, Nes.. Aku udah sakiti dia.." ternyata Rakha tidak bisa berbohong dari Ernes.


"Sakiti gimana?" Ernes masih berpura-pura.


"Aku tergoda dengan wanita lain.." jawab Rakha dengan nada bicara lesu, sepertinya dia telah menyesal melakukan hal tersebut kepada Aiko.


Brakkk!


"Kenapa kamu sebrengs*k itu?" tanya Ernes dengan marah.


"Aku udah berkali-kali bilang, jagain Aiko! Tapi kenapa kamu sakiti dia?" Ernes yang marah langsung meraih kerah baju Rakha.


"Aku nyesel, Nes.. Aku nggak mau kehilangan dia. Aku nyesel.." Rakha menangis karena merasa bersalah dan menyesal.


Menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Aiko sudah terluka dan kecewa. Entah, apakah Aiko masih bisa memaafkan Rakha atau tidak.