Sudden Mariage

Sudden Mariage
32



Marisa masih terus mengejar Gio. Bahkan terang-terangan menunjukan cintanya padahal dia sendiri juga tahu jika Gio telah berkeluarga.


Siang itu, Marisa mendatangi kantor Gui dengan alasan mengantarkan temannya yang ingin melakukan tour perjalanan ke luar negeri. Apa yang dilakukan Marisa tersebut bukan sekali dua kali, tapi dia sering membawa temannya yang ingin tour ke luar negeri ke perusahaan Gio.


Gio memulai bisnis tour and travel sejak dia selesai kuliah. Dengan bantuan modal dan juga bisnis yang dia lakoni bersama Vanka sebelumnya. Bisnis tour and travel milik Gio berkembang dengan pesat.


"Gi, ada temenku yang ingin tour ke Jepang, dan aku bawa mereka kesini." ucap Marisa seperti biasa.


"Makasih." jawab Gio singkat.


Gio dan teman Marisa pun mulai melakukan diskusi untuk perjalanan yang akan mereka jalani. Sementara Marisa menatap Gio dengan tersenyum senang.


Sudah sejak lama, perasaan Marisa ke Gio tidaklah berubah. Bahkan Marisa juga pernah menikah, tapi pernikahan itu gagal. Karena, yang Marisa cintai adalah Gio.


Entah apa yang membuat Marisa sangat terobesesi dengan Gio. Meskipun dia tahu Gio sudah memiliki istri dan juga anak. Tapi tetap saja Marisa tidak peduli.


"Turunkan pandangan mata kamu ke suami aku!" tiba-tiba Vanka datang dan menegur Marisa yang terus menatap Gio.


"Ngapain disini?" tanya Vanka dengan sewot.


Marisa hanya menggerakan kepalanya saja dan Vanka sudah paham. "Oh, makasih kalau gitu. Tapi jangan pernah berpikir suami aku akan kasih hatinya untuk kamu!" ucap Vanka.


Vanka juga tahu jika Marisa sering mempromosikan bisnis suaminya ke teman-temannya. Dia pun tidak keberatan karena sama saja Marisa sudah membantu pekerjaannya dengan Gio.


Namun, satu hal yang Vanka takutkan. Jika Marisa akan menggunakan cara itu untuk merebut Gio darinya.


Mendengar perkataan Vanka, Marisa hanya diam. Dia sudah sangat sering mendengar perkataan Vanka tersebut. Tapi faktanya, Marisa memang sangat mendambakan mendapat hati Gio.


Setelah beberapa saat. Akhirnya teman Marisa tersebut setuju untuk menggunakan jasa tour and travel milik Gio.


Dan Gio pun harus mengucapkan terima kasih kepada Marisa karena sering mempromosikan bisnisnya tanpa diminta. Namun, meskipun begitu, Gio juga tahu batasannya berterima kasih kepada Marisa.


"Kita makan siang bareng! Kebetulan Vanka bawa makanan banyak!" ucap Gio.


"Yuk makan bareng, anggap aja sebagai ucapan terima kasih kami!" pinta Vanka juga.


"Nggak usah makasih." Marisa menolak ajakan Vanka dan juga Gio.


"Lain kali kalau ajak makan siang, kita berdua aja!" Marisa mendekat dan membisikan sesuatu kepada Gio. Setelah itu Marisa pamit dari kantor Gio.


Sementara tanpa Gio sadar, Vanka sudah melotot dan memasang wajah seram di sebelahnya. "Mau makan berduaan biar dikira pasangan?" tanya Vanka dengan sengit.


"Oke, mulai besok aku nggak akan kesini bawain makan siang. Atau mulai sekarang kita nggak usah ketemu aja.." Vanka cemburu dengan Marisa.


"Yank ah, jangan gitu dong.. Aku nggak pergi sama orang lain, aku lebih suka kamu bawain makanan kesini setiap hari.." Gio menarik Vanka ke dalam pelukannya.


"Kamu tahu nggak kalau aku selalu kangen sama kamu. Yank, jangan pernah tinggalin aku!" lirih Gio.


Vanka pun tersenyum kecil. Kemudian dia mempererat pelukannya kepada suaminya.


"Kadang aku takut, jika kamu akan berpaling.." lirih Vanka.


"Itu nggak akan terjadi. Di dunia ini, cuma cinta kamu, mama, dan anak-anak yang aku mau." Gio menatap Vanka kemudian mengecup bibir Vanka dengan sangat lembut.


Gio ingin menunjukan kepada Vanka jika dia benar-benar sangat mencintai istrinya tersebut. Sejak kenal dengan Vanka, Gio tidak menginginkan cinta dari orang lain.


"Kamu cinta pertama, dan harus menjadi cinta terakhir aku.. Aku cinta sama kamu, Jovanka.." ucap Gio.


Vanka kembali tersenyum kemudian memeluk Gio dengan lebih erat seakan tidak ingin melepaskannya. Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.


"Kamu punya pelet apa sih, sampai Marisa begitu tergila-gila sama kamu?" Vanka mendorong dan memukul pelan lengan suaminya tapi dengan tersenyum kecil.


"Tapi, sayangnya yang aku cinta dan mau hanya kamu.." Gio menarik hidung Vanka dengan gemas.


"Anak-anak kemana?" tanya Gio.


"Ikut mama ke kantor papa."


"Kamu pulang bareng aku aja ya! Kan anak-anak udah ada yang jagain. Akhir pekan ke tempat tinggal kak Ernes yuk!" ajak Gio.


Baru beberapa hari Gio tidak bertemu dengan Ernes. Tapi Gio sudah kangen saja sama kakaknya itu.


"Hayuk.. Anak-anak juga kangen sama pamannya." tentu saja Vanka dengan senang hati menyetujui rencana suaminya.


Sama seperti Gio dan anaknya. Vanka juga merasa kangen dengan kakak ipar yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri tersebut.


Gio memeluk Vanka kembali dengan erat. Dia tidak mengizinkan istrinya pergi darinya walau hanya setengah meter.


****


Di kantor Ernes.


"Ta, nanti malam pak Bams ulang tahun, kita diajak makan bareng. Kamu bisa kan?" tanya Sinta.


"Kamu selalu menolak setiap kali diajak makan bareng kita.." gerutu Sinta.


"Jangan paksa Atta! Dia kan pacar pak bos, kita nggak boleh paksa dia untuk ikut sama kita!" sahut Lilis.


"Iya, nanti aku ikut makan malam kok sama kalian." karena tidak mau dianggap sombong dan angkuh. Atta pun menyetujui ajakan rekan setim-nya.


"Serius?" Sinta terlihat begitu bahagia.


"Tapi nanti pak Ernes marah.." sahut Lilis yang tidak mau membuat masalah sekecil apapun dengan bos-nya.


"Nanti aku yang jelasin ke pak Ernes. Aku kan juga ingin dekat dengan teman setim aku.." Lilis tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Yeay, akhirnya Atta ikut makam malam sama kita.." Sinta melompat kegirangan.


"Makasih ya Ta, udah luangkan waktu!" ucap Bams yang berulang tahun pada hari ini.


"Iya pak. Selamat tambah usia ya, semoga selalu beruntung. Doa terbaik untuk bapak.." ucap Atta.


"Semoga cepet dapet jodoh.." ucap Sinta sambil meledek Bams yang meskipun sudah kepala 4 tapi masih belum memiliki istri.


"Ish.." Bams hendak memukul Sinta. Tapi kemudian dia tersenyum. Tindakanmya tersebut hanyalah sebuah candaan semata.


"Bu Lilis kan juga belum nikah. Kenapa kalian nggak jadian aja?" Sinta gantian meledek Lilis yang juga masih belum menikah padahal usianya juga hampir kepala 4.


"Ngomong lagi! Besok kamu harus lembur untuk selesain proyek terbaru kita!" ancam Lilis yang merasa kesal karena Sinta meledeknya.


Sinta bukannya takut malah mendekat dan memeluk Lilis. "Becanda doang, biar nggak cepet tua.." ucap Sinta dengan tersenyum kecil.


Lilis tersenyum kecil pula. Dia tahu jika apa yang Sinta katakan hanya sebuah gurauan. Dan itu bukan pertama kalinya bagi Lilis dan Bams diledekin seperti itu.


"Cocok sih sebenarnya.." sahut Atta yang membuat Sinta terbahak.


"Ish anak ini, ikut-ikutan ledekin seniornya.." gerutu Lilis tapi dengan tersenyum sehingga membuat Atta ikutan tersenyum.


"Anak-anak ini suka banget ledekin orang tua.." sahut Bams yang membuat Sinta dan Atta tertawa.