
"Nanti jadi kan?" tanya Ernes kepada Atta.
"Hmm, terserah kamu aja." jawab Atta sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Mau kemana?" tanya Ulfa, kepo.
"Rahasia.." jawab Ernes yang membuat Ulfa mencak-mencak.
"Heh, tuan muda Ernes Rajendra.. Asal kamu tahu aja, sebelum Atta kenal sama kamu, dia kemana-mana selalu sama aku. Jadi jangan sok-sok an main rahasia-rahasiaan deh." ucapnya dengan kesal.
"Itu sebelum dia punya suami. Sekarang dia kemana-mana harus sama aku." jawab Ernes dengan santai. Dia tidak menanggapi amarah Ulfa dengan berlebih.
"Mau kemana sih Ta?" Ulfa gantian bertanya kepada Atta. Dia yakin jika Atta pasti akan memberitahunya. Karena tidak ada rahasia-rahasiaan diantara mereka.
"Mau cari-"
"Aaa jangan kasih tahu!" Ernes dengan cepat menutup mulut Atta agar tidak memberitahu Ulfa kemana mereka akan pergi.
"Pak Ernes, kenapa kamu ngeselin banget? Sama kayak assisten kamu, ngeselin!!!" seru Ulfa sangat kesal.
"Kamu juga Ta, main rahasia-rahasiaan ya sama aku sekarang.." Ulfa memojokan Atta.
"Kamu nggak kembali ke kantor?" tanya Ernes mengalihkan pembicaraan.
Ulfa kemudian melihat jam tangannya. Lalu kembali heboh lah dia. "Gawat, aku ada meeting bentar lagi.. Aku pamit dulu ya Ta," ucap Ulfa sembari berlari keluar dari kafe tersebut.
"Hati-hati Ulfa!!" seru Atta dengan khawatir, dia tahu sahabatnya itu orang yang ceroboh.
"Kenapa senyum Ryan? tadi aja dicuekin.." ucap Ernes yang membuat Ryan kaget.
"Nggak ada yang senyum kali bos." sangkal Ryan.
Lalu mereka bertiga kembali ke kantor. Ketika keluar dari kafe tersebut. Mereka melihat Ulfa yang ternyata masih di area parkir kafe tersebut. Dan sepertinya dia sedang ada masalah. Karena dia mondar mandir dan terlihat kesal.
Atta pun berlari mendekati Ulfa. "Kenapa Fa?" tanya Atta.
"Ban mobil aku bocor. Ini aku lagi telepon sopir tapi belum diangkat juga." Ulfa terlihat sedang menelepon seseorang. Tapi dia kemudian marah karena yang ditelepon tidak menjawab panggilannya.
Ulfa juga terlihat panik sembari terus melihat ke arah jam tangannya. Sekali lagi dia mencoba menelepon tapi kembali tidak diangkat.
"Anter dia, Yan!"
"Tapi bos?"
"Ini perintah!"
"Karena dia sahabat istriku, jadi kamu harus baik sama dia juga!" imbuh Ernes yang tidak bisa dibantah oleh Ryan.
"Baik bos.." Ryan akhirnya berbesar hati mengantar Ulfa ke tempat meetingnya.
"Makasih Ryan.." ucap Atta.
Ryan hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum saja.
Begitu Ryan dan Ulfa pergi. Ernes kemudian menggandeng tangan Atta kembali ke kantor. "Gimana kalau kita cari apartemen sekarang aja!" ajak Ernes.
"Tapi ini kan masih jam kerja, nggak mau ah, nanti aku di bilang nggak profesional." Atta menolak ajakan Ernes.
"Kamu kerja di tempat suami kamu, ngapain sih mikirin omongan orang lain?" tanya Ernes dengan kesal, karena Atta masalih saja memikirkan apa pendapat orang tentang dirinya.
"Pokoknya sekarang!" Ernes memaksa.
"Anggap aja itu sebagai pekerjaan, kamu temani bos kamu cari tempat tinggal. Kalau mereka tanya bilang aja kalau kamu hanya nurut apa kata bos!" imbuh Ernes memaksa. Kebetulan siang ini dia juga senggang.
"Mumpung aku senggang ini.."
"Ya, oke.." akhirnya Atta mau juga nurut apa kata Ernes.
Saat mereka hendak menuju kantor untuk ambil mobil. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Aiko dan anaknya yang hendak menyebrang.
"Om Ernes..." seru Cio saat melihat Ernes. Cio melambaikan tangannya dari seberang jalan.
"Hai, Cio.."
"Ai, mau kemana?" tanya Ernes sembari menuntun Aiko yang sudah kesulitan berjalan karena sedang hamil besar.
"Aku tiba-tiba pengen makan di kafe itu.." Aiko menunjuk kafe yang baru saja dikunjungi oleh Ernes.
"Kenapa nggak minta dianter Rakha?"
"Dia sibuk, aku nggak mau ganggu dia. Kamu mau temenin aku nggak? Tapi kayaknya kamu habis dari sana?"
"Iya aku mau temenin kok.." Ernes kembali ke kafe tersebut sembari menggandeng Aiko dan Cio.
Sementara Atta sengaja menunggu Ernes. Dia yakin jika Ernes akan kembali ke kafe itu. Makanya saat Ernes menyebrang untuk menghampiri Aiko, Atta sengaja tidak menyusul tapi menunggu.
Atta sudah bersiap memanggil Ernes. Tapi Ernes justru mengabaikannya. Ernes kembali ke kafe tersebut bersama Aiko dan Cio. Sementara Atta tidak diajak.
Atta menatap Ernes yang menggandeng wanita hamil itu dengan hati-hati. Nampak sekali jika Ernes terlihat sangat peduli dengan wanita hamil tersebut. Atta memicingkan matanya, sembari menerka-nerka apa hubungan wanita itu dengan Ernes.
Atta merasa jika mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dan special. Buktinya begitu melihat wanita itu dan anaknya, Ernes langsung melepaskan tangan Atta yang tadi sempat dia genggam.
"Mungkin dia mantan pacarnya yang nikah sama orang lain, dan mereka masih berhubungan." gumam Atta menebak-nebak.
"Balik ke kantor ajalah, dia masih sibuk." gumam Atta seorang diri sembari menatap Ernes yang masuk ke kafe itu kembali.
Atta kembali ke kantor sendirian. Dia meneruskan pekerjaannya. Tapi, entah ada apa dengan dirinya. Atta merasa tidak fokus dengan pekerjaannya. Bahkan dia sempat ditegur Lilis karena salah bikin laporan.
"Kalau sakit istirahat! Aku tidak segan memarahi kamu kalau kamu salah, meskipun aku pacarnya bos, kalau salah yang tetap salah.." ucap Lilis dengan tegas.
"Iya bu.. maaf.." ucap Atta.
"Ke kamar mandi dulu aja, cuci muka kamu biar fresh!" Atta langsung bangkit dan berjalan menuju toilet.
Di toilet, Atta mencuci mukanya. Dia menatap cermin yang ada di depannya. "Kamu kenapa sih kok nggak fokus gitu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Kamu jelas tahu bahwa hubungan kamu dan dia itu tidak pakai hati, kenapa kamu malah kayak gini? Wake up Atta!!" dia juga menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Kemudian sekali lagi dia mencuci mukanya.
"Huh..." menghela nafas berkali-kali sebelum dia kembali bekerja.
"Fokus Atta! Fokus!" gumamnya seorang diri.
Namun tiba-tiba dia berteriak karena terkejut melihat Ernes sudah berdiri di depan toilet wanita. "Ah.." teriak Atta terkejut.
Setelah dia melihat Ernes, dia pun merasa lega. Setidak bukan orang jahat yang akan sengaja mengintip. Tapi kemudian Atta mengabaikan Ernes yang sudah menunggunya di depan toilet.
Atta berjalan tanpa menghiraukan Ernes sama sekali. "Hei," Ernes menahan tangan Atta.
"Kamu kenapa sih? Aku sengaja nungguin kamu, tapi kamu malah cuek sama aku." Ernes merasa kesal karena diabaikan oleh Atta.
"Ada perlu apa, pak?" tanya Atta yang sebenarnya sangat malas bertemu dengan Ernes setelah kejadian tadi di depan kafe.
"Lain kali jangan sembarangan ninggalin ponsel! Sewaktu-waktu aku hubungin kamu bisa langsung kamu terima, jadi aku nggak perlu turun samperin kamu ke ruangan kamu!" omel Ernes sembari memberikan ponsel Atta yang tertinggal di meja kerjanya.
Beberapa menit yang lalu, Ernes mendatangi ruangan Atta karena Atta tidak menerima panggilannya. Tapi dia melihat ponsel Atta yang tertinggal di meja kerja.
Dan, Lilis memberitahu jika Atta sedang ke toilet. Makanya Ernes nungguin Atta di depan toilet karyawan.
"Ya, makasih.." Atta masih aja bersikap dingin ke Ernes. Dia bahkan langsung balik badan setelah mengambil ponselnya dari tangan Ernes.
"Kamu mau kemana? Kita jadi pergi kan?" tanya Ernes berusaha menahan Atta kembali.
"Maaf pak, pekerjaanku banyak banget. Kita pergi lain waktu aja!" ucap Atta kemudian menarik tangannya lalu berlari meninggalkan Ernes sendiri.
"Kenapa sih?" gumam Ernes sambil menatap punggung Atta yang semakin menjauh.
Ernes bingung dengan perlakuan Atta barusan. Baru hitungan jam, Atta masih bersikap baik di depannya. Tapi kenapa sekarang Ernes merasa jika sikap Atta itu sangatlah dingin. Ernes merasa jika Atta mengabaikannya.
"Hah, cewek emang gitu, bikin pusing!" gerutunya kemudian dia kembali ke ruangannya.