
Ernes membersihkan luka Cintya terlebih dahulu sebelum dia obati. Dia masih tidak menyangka jika Atta akan sekasar itu kepada orang lain. Wajah Ernes yang dingin dan serius terlihat jelas dari kedekatan.
Hati Cintya menjadi berdebar tidak menentu. Sama seperti perasaannya dulu. Diam-diam Atta tersenyum kecil. Akhirnya dia berhasil membuat hubungan Atta dan Ernes berantakan.
"Kamu nggak kejar istri kamu?" tanyanya.
"Nggak, kalau dia ingin pergi ya biarin aja." ucap Ernes dengan dingin. Tapi jelas terdengar dari suaranya jika Ernes sedang memendam amarah.
Di dalam pikiran Ernes masih terngiang-ngiang perkataan Atta yang bilang jika dia tidak mencintainya. Perkataan tersebut membuatnya tak bisa dan membuatnya kesal.
"Tapi dia pergi dengan marah.."
"Biarin aja. Mungkin dia butuh sendiri saat ini. Kehilangan ibu, sama saja kehilangan separuh dari nyawanya. Dia butuh menenangkan diri." jawab Ernes juga dengan sedih.
Entah perasaan apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Ada rasa takut kehilangan, rasa kesal, rasa marah, dan rasa kangen yang menumpuk selama beberapa hari ini.
Setelah selesai mengobati luka Cintya. Dia meminta Ryan untuk mengantar Cintya pulang. Dia ingin istirahat karena masih sangat lelah dari perjalanan ke luar kota dan karena pekerjaan seharian ini.
"Kamu diantar Ryan ya? Aku capek, nggak bisa ngantar." kata Ernes.
"Iya, kamu istirahat aja.."
"Mbak, tolong bikinin teh panas dan camilan untuk bapak, biar bapak rileks.." Cintya meminta pembantu Ernes untuk membuatkan minuman dan makanan untuk Ernes.
"Iya nona.."
Setelah Cintya pergi. Ernes masuk ke kamarnya. Dia melihat barang-barang Atta sudah kosong. Tidak tertinggal sama sekali, bahkan foto pernikahan mereka juga tidak ada.
Ernes melempar tubuh lelahnya ke kasur. Seharian ini dia tidak istirahat sama sekali karena ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan bisa segera menemui Atta.
Tapi sayangnya, apa yang dia rencanakan tidak sesuai dengan kenyataannya. Berharap berbaikan dengan Atta, tapi malah justru pertengkaran yang terjadi.
Ernes menyentuh lembut kasur itu. Kasur yang biasa mereka tempati bersama. Wangi tubuh Atta masih tercium di kasur itu. Ketika Ernes memiringkan tubuhnya. Tanpa terasa air matanya menetes.
Sama seperti Atta. Di dalam mobil Rey, tanpa terasa dia menangis. Atta menangis sesegukan di dalam perjalanan menuju rumah kontrakan lamanya.
Untuk saja rumah itu masih belum ditempati. Jadi Atta bisa kembali menempati rumah kontrakan tersebut.
Sebagai sahabat, Rey tidak melarang Atta menangis atau menanyai hal-hal lain. Dia hanya diam dan fokus mengemudikan mobilnya.
Rey tahu sesakit apa hati Atta saat ini dan sehancur apa hatinya. Baru saja dia kehilangan separuh dari nyawanya. Dan baru saja juga dia bertengkar dengan suaminya.
Rey membiarkan Atta menangis untuk meluapkan amarah di dalam hatinya saat ini. Dia tidak mau memaksa Atta untuk menjadi kuat. Tapi dia membiarkan Atta meluapkan rasa sakitnya dalam bentuk tangisan karena mungkin bibirnya tidak bisa berkata.
Rey juga membantu Atta menata barang-barangnya. "Ta, makan yuk! Kamu belum makan dari pagi.." ajak Rey.
"Aku belum lapar, Rey.."
"Btw, makasih ya karena kamu udah bantuin aku, dari pemakaman ibu sampai pindahan." ucapnya memaksa untuk tersenyum.
"Kita sudah lama berteman, nggak perlu sungkan. Selama aku bisa bantu, aku pasti bantu kamu kok.. Jadi, jangan merasa sendiri!" Atta tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
Setelah itu, Rey pamit pulang terlebih dahulu. "Aku pulang dulu, besok aku kesini lagi. Kalau butuh apa-apa ngomong aja!" pesan Rey kepada sahabatnya.
Lelaki berhidung mancung dan bermata coklat tersebut memang selalu senang jika Atta atau Ulfa mau dia membantu mereka.
Atta melanjutkan menata barang-barang pribadinya sebelum dia mandi dan beristirahat. Kembali teringat masa kecilnya, Atta menangis lagi. Baginya, rumah kontrakan tersebut tempat yang paling nyaman untuknya.
Di rumah itulah tersimpan banyak kenangan indahnya bersama ibunya. Dia hanya tinggal bersama ibunya saja sejak bayi. Tapi, dia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Karena ibunya bisa memberikannya kasih sayang ibu sekaligus ayah untuknya.
Melihat fotonya bersama dengan ibunya membuatnya kembali menangis sesegukan. "Aku kangen, bu.." gumamnya sembari memeluk erat foto tersebut.
"Kenapa ibu tinggalin aku? Kenapa ibu nggak ajak aku pergi juga? Aku sama siapa sekarang bu? Aku nggak punya siapa-siapa lagi.." lirih Atta di sela isak tangisnya.
Tokk!!
Tokk!!
Tokk!!
Namun, lamunannya seketika buyar oleh ketukan pintu rumahnya. Dengan segera Atta mengusap air matanya. Kemudian berjalan untuk membuka pintu untuk tamu yang datang.
Atta berpikir jika itu pasti Ulfa. Tapi, ternyata bukan. Sosok cantik dengan tubuh langsing memakai rok pendek berdiri di depan pintu rumahnya.
Atta membulatkan matanya melihat sosok perempuan cantik tersebut. Perempuan itu terluka dibagian dahinya. Dia tersenyum kepada Atta.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Atta dengan ketus.
Sosok perempuan cantik itu ialah Cintya. Dia membohongi Ryan yang katanya akan pulang sendiri dengan taksi. Ternyata dia pergi ke rumah Atta. Cintya tahu alamat tersebut juga dari Ryan.
Atta belum mempersilahkan Cintya masuk. Tapi Cintya sudah masuk duluan. Dia melihat kesekeliling rumah kontrakan Atta. Dia pun tersenyum kecil.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Atta sekali lagi.
"Kamu tinggal di rumah seperti ini masih percaya diri deketin Ernes?" tanya Cintya dengan tersenyum sinis.
"Kalau kamu kesini hanya ingin bahas tentang Ernes. Silahkan pergi, karena hubunganku dengan Ernes tidak ada hubungannya dengan kamu.." Atta tidak mau membahas apapun tentang Ernes saat ini.
"Kamu nggak mau tahu kenapa ibu kamu tiba-tiba marah dan menyerang aku waktu itu?" kata Cintya yang membuat Atta seketika melotot.
Dia sudah yakin jika amarah ibunya yang melonjak waktu itu pasti ada hubungannya dengan Cintya. "Aku sudah tahu, kamu kan yang buat ibuku histeris waktu apa? Apa yang kamu bisikan ke ibuku??" tanya Atta dengan marah.
Cintya tertawa dengan cukup keras Dia memuji Atta yang ternyata tidak sebodoh yang dia pikirkan. "Kamu benar hebat.. Mau tahu apa yang bilang ke ibu kamu?"
"Apa? Cepat katakan!" Atta tidak sabar untuk mendengar pengakuan Cintya.
"Aku bilang ke ibu kamu kalau aku pacarnya Ernes." Atta menjadi kalap kembali, dia menyerang Cintya lagi.
Tapi kali ini, Cintya bisa dengan mudah menghindar. Dia bahkan tertawa keras untuk mengolok-olok Atta. "Asal kamu tahu. Kemarin aku ke luar kota sama Ernes, dia nyatain cinta ke aku dan mau aku jadi selingkuhannya. Kamu pasti tahu kalau dulu kita pernah deket dan punya story. Menurut kamu, aku harus terima nggak ya?" imbuh Cintya yang membuat Atta semakin marah.
"Pergi dari rumahku! Pergi!!!" Atta meraung di dalam ruangan berukuran 5x4 meter tersebut.
Hatinya terasa sakit sekali setelah mendengar perkataan Cintya. Dia ingin percaya kepada Ernes. Namun, mengingat Ernes yang selalu belain Cintya dan bahkan membentaknya tadi. Seketika rasa percaya itu runtuh begitu saja.
Tak terasa Atta kembali menangis sembari memegangi dadanya yang terasa amat sesak. Dia sadar telah melakukan sebuah kesalahan, yaitu jatuh cinta dengan lelaki yang tidak mungkin bisa dia gapai.
Cintya meninggalkan rumah Atta dengan tersenyum senang. Dia berhasil melancarkan rencananya dan membuat rumah tangga Ernes menjadi berantakan.