Sudden Mariage

Sudden Mariage
31



*Flashback*


Ryan membulatkan matanya mendengar perkataan Ulfa. Ulfa berjanji akan melupakan perasaan sukanya kepada Ryan. Namun, Ulfa masih tetap ingin berteman dengan Ryan.


Ulfa berpikir bahwa Ryan selalu mengabaikannya karena perasaan sukanya kepada Ryan.


Tapi anehnya, Ryan merasa tidak suka dengan apa yang Ulfa katakan. Meskipun kesal, Ryan tetap membawa Ulfa pergi dari tempat tersebut. Ryan memapah Ulfa yang mabuk berat.


"Lepasin aku!" Ulfa terus saja menolak pertolongan Ryan. Tapi tenaganya tidak cukup untuk melawan Ryan.


"Diem bisa nggak sih!" seru Ryan dengan kesal. Tapi dia sadar, memarahi orang mabuk sama saja menggarami lautan. Tidak ada gunanya.


Sepanjang perjalanan, Ryan mendengar umpatan Ulfa kepada dirinya. Dalam keadaan mabuk Ulfa mengatakan mengenaj perasaannya kepada Ryan. Dia juga mengeluh betapa sulitnya mendapat perhatian Ryan. Selama ini sebenarnya dia sangat senang waktu berdrbat dan berantem dengan Ryan.


"Karena hanya itulah kesempatanku buat ngobrol dengan kamu. Ngeselin banget tahu nggak kamu.." seru Ulfa dengan kesal.


Ryan yang tengah beralih menggendong Ulfa hanya tersenyum kecil mendengar umpatan Ulfa kepada dirinya.


"Turunin aku!" Ulfa kembali menggila. Dia meronta minta diturunkan oleh Ryan. Tapi Ryan menolak. Dia khawatir ketiga berandal*n tadi masih mengejar Ulfa.


"Kalau kamu nggak mau turunin aku. Jangan salahin aku kalau aku akan terus menyukai kamu!" seru Ulfa dengan frustasi.


"Itu yang aku mau.." jawab Ryan yang membuat Ulfa membulatkan matanya.


"Maksud kamu?" tanya Ulfa penasaran.


"Kamu dilarang berhenti suka sama aku!"


"Karena?"


".... Karena aku juga suka sama kamu." senyuman Ulfa pun mengembang mendengar perkataan Ryan yang membuatnya nersa sangat bahagia.


"Jadi kamu suka sama aku?" tanya Ulfa dengan sangat bahagia.


"Hmm.. sekarang cepat bilang dimana rumah kamu!" pinta Ryan. Dia akan mengantar Ulfa sampai ke rumahnya.


"Aku nggak mau pulang. Aku lagi kesel sama papa.." jawab Ulfa.


"Terus kamu mau kemana?"


"Ke rumah kamu.." jawab Ulfa dengan cepat.


"Ke rumah aku?" tanya Ryan dengan kaget.


"Iya. Kamu nggak mau ajak aku ke rumah kamu? Ya udah turunin aku disini!" Ulfa kembali meronta.


"Kamu tenang dulu!"


Pada akhirnya Ryan membawa Ulfa ke tempat tinggalnya. Ryan tinggal sendirian disebuah apartemen sederhana.


"Aku tinggal disiji, sendirian." ucap Ryan.


"Kamu masih belum terlambat jika mau menjauhi aku!" nada suara Ryan terkesan dia insecure dengan keadaannya. Dia tahu betul siapa Ulfa, apakah dia pantas bersanding dengan Ulfa yang seorang tuan putri. Tapi perasaannya sukanya tumbuh sebelum dia tahu identitas Ulfa yang sebenarnya.


Mendengar perkataan Ryan. Ulfa langsung mendorong Ryan sampai Ryan terjatuh di sofa dengan posisi Ulfa berada diatasnya.


"Kamu pikir cintaku ke kamu mandang status sosial kamu?" tanya Ulfa sembari membuka kancing baju bagian atas.


"Aku cinta sama kamu tulus.." imbuh Ulfa.


"Yakin kamu nggak akan nyesel?" tanya Ryan terus menatap Ulfa yang berusaha membuka bajunya sendiri.


"Nggak." jawab Ulfa dengan cepat. Secepat sambaran bibir Ryan.


Malam itu menjadi awal kisah cinta mereka. Malam yang panjang dan menyenangkan bagi keduanya.


*ON*


Ulfa tersenyum senang. Dia tidak pernah menyesal sama sekali setelah melewati malam indah bersama dengan Ryan, lelaki yang membuatnya jatuh cinta.


"Makanya dia sering senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini.." sahut Ernes membuat Ryan tersenyum malu.


"Ah bos bisa aja.." Ryan mencoba menyangkal.


"Boleh pacaran, aku nggak akan larang. Tapi harus tetap fokus dengan pekerjaan!" Ryan menganggukan kepalanya.


"Oh ya, ibu udah nggak lagi di rumah sakit, dia udah pulang ke apartemen, tinggal bareng aku dan Ernes.." ucap Atta.


"Oh, kalian udah tinggal bareng nih?"


"Kita udah nikah." sahut Ernes dengan cepat.


"Udah tahu. Atta dan Ryan udah kasih tahu aku."


Setelah makan malam bersama, Ulfa dan Ryan mampir ke apartemen Atta dan Ernes. Kebetulan ibunya Atta juga belum tidur. Dia sangat senang melihat Ulfa datang menjenguknya.


"Aku kangen sama ibu.." ucap Ulfa.


"Udah punya pacar mana ada waktu buat kangenin ibu.." sindir Atta.


"Hei, jangan salah. Meskipun aku udah punya pacar bahkan punya suami, ibu akan tetap jadi ibu aku, aku akan selalu kangen sama ibu.." ucap Ulfa.


Ulfa kemudian memeluk ibunya Atta dengan manja. "Atta nakal buk.." ucapnya.


Susi tersenyum mendengar aduan manja Ulfa. Bukan pertama kalinya Ulfa bermanja kepadanya. "Iya nanti ibu jewer telinganya Atta.." ucap Susi sembari mengelus punggung Ulfa dengan lembut.


Sementara Ulfa menjulurkan lidahnya kepada Atta. Dia meledek Atta yang tidak dibela oleh ibunya. Namun, Atta tidak pernah marah karena hal tersebut. Dia tahu jika semua itu hanyalah bercanda.


"Kamu udah makan belum?"


"Udah bareng Atta tadi.."


"Kamu pacarnya Ulfa?"


"Iya tante, aku juga assistennya pak Ernes.." jawab Ryan dengan sopan.


"Tolong jagain Ulfa ya! Dia anak ibu yang lain selain Atta. Jangan sakiti dia, sayangi dia!" pinta ibunya Atta.


"Iya tante.." Ryan berjanji kepada ibunya Atta.


"Kalau kamu berani sakiti dia. Kamu harus hadapi ibu! Ibu adalah pengganti orang tuanya, jadi ibu yang bertanggung jawab untuk kebahagiaannya. " imbuh Susi.


Ulfa pun memeluk Susi dengan erat. Semenjak orang tuanya bercerai, Ulfa sudah tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi. Beruntung ada Susi yang memberinya kasih sayang seorang ibu yang Ulfa inginkan.


Setelah Susi tertidur. Kedua pasangan tersebut minum untuk merayakan pernikahan Atta dengan Ernes.


"Pak Ernes, aku harap kamu bisa membuat Atta bahagia. Bisa memberi kasih sayang yang tulus untuk Atta!" ucap Ulfa yang sudah mulai mabuk.


"Dari kecil dia nggak pernah akur dengan ayahnya. Dia sering dihina hanya karena anak diluar nikah, bahkan oleh istri ayahnya. Dia dijauhi teman lelakinya karena itu semua, padahal teman lelakinya itu awalnya suka sama Atta." imbuh Ulfa.


"Lalu ada seorang lelaki yang tidak peduli siapa Atta. Tapi ternyata dia sama saja. Dia nyakitin Atta dan selingkuh dengan teman Atta. Brengs*k banget tuh orang.." lanjut Ulfa dengan marah.


"Ulfa diam!" seru Atta. Dia sudah tidak ingin membahas apapun tentang masa lalunya yang menyakitkan.


Sedangkan Ernes mendengarkan seksama apa yang Ulfa katakan. Dia juga menatap Atta dengan tajam. Jadi selama ini Atta pernah punya pacar. Kenapa Atta tidak pernah cerita.


Ernes pun menjadi kesal karenanya. Dia bahkan tidak tahu apapun tentang Atta.


Atta yang merasa jika Ernes sedang kesal berusaha untuk membuat Ernes senang. Dia bertingkah manja ke Ernes. "Jangan dengerin Ulfa, dia sedang mabuk." bisik Atta sebelum dia mengecup pipi Ernes.


Ernes tersenyum tipis sembari menatap Atta yang gelendotan dengannya. Namun, dia masih sangat penasaran seperti apa lelaki yang pernah menjadi pacar Atta tersebut.