
Ernes menjadi tidak fokus dengan pekerjaannya. Dia selalu teringat wajah dingin Atta. Dia juga bingung kenapa Atta tiba-tiba berubah.
Ernes terus melamun sampai dia tidak sadar jika hari semakin petang. "Bos nggak pulang?" tanya Ryan yang sedari tadi hanya terdiam melihat bosnya ngomel sendirian.
Ernes seketika melihat ke arah jam di ponselnya. "Kenapa nggak bilang kalau udah jam segini? semua karyawan udah pulang?" tanya Ernes sembari membereskan meja kerjanya.
"Bu Atta maksud bos?" Ryan tahu apa maksud pertanyaan Ernes.
"Hmm,"
"Sudah daritadi bos." Ernes langsung menghentikan kegiatannya. Dia semakin bingung dengan perilaku Atta. Biasanya dia akan ke ruangannya setelah jam kerja selesai. Tapi kenapa dia malah pulang duluan.
"Dia kenapa sih sebenarnya?" gumam Ernes seorang diri.
Ernes langsung menuju rumah sakit. Dia yakin jika Atta pasti ke langsung ke rumah sakit. Makanya Ernes langsung bergegas pergi kesana.
Di dalam mobil, Ernes bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Atta. Kenapa Atta mengabaikan dirinya.
Namun ditengah perjalanan, Ernes putar balik. "Kenapa aku panik sih? Biarin aja kalau dia marah. Kenapa aku jadi bingung kayak gini. Mending pulang aja.." gumamnya.
Ernes mengurungkan niat pergi ke rumah sakit menemui Atta. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Bodo amat dengan kemarahan Atta yang tak jelas.
Sesampainya di rumah. Amarahnya mereda saat melihat kelucuan keponakannya. Ernes selalu senang dengan keponakannya yang menggemaskan. Apalagi saat mereka bermanja kepadanya.
"Nes, kamu nggak ajak Atta ke rumah?" tanya Ines, saat melihat Ernes sedang terjerat dengan kedua keponakannya.
"Enggak ma. Kapan-kapan aja!"
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? seperti apa konsep yang kalian inginkan?" Ernes terdiam.
"Mama nggak usah mikirin itu. Aku dan Atta sepakar nikah sederhana aja. Hanya keluarga kita dan ibunya Atta aja." jawab Ernes.
"Tapi nak, kamu nggak mau nikah kayak adik kamu dulu?"
"Nggak ma. Yang penting sah kalau bagi aku."
"Udah ma, kita nurut aja apa kata Ernes!" Sakha menengahi istri dan anaknya agar tidak terjadi keributan dan perdebatan.
"Iya pa.." Ines telah berjanji tidak akan mencampuri urusan anak-anaknya lagi.
"Papa sama mama mau ke rumah om Alfa, Chika udah melahirkan katanya. Kamu ikut atau di rumah?" tanya Ines.
"Serius? Cewek atau cowok ma?" Ernes bertanya dengan bahagia.
"Cewek katanya."
"Gio sama Vanka juga ikut?" Sakha dan Ines menganggukan kepalanya.
"Aku juga ikut, tunggu sebentar aku ganti baju dulu.." Ernes segera berlari ke kamarnya.
Setelah semua siap, mereka sekeluarga bergegas ke rumah Alfarezi. Istrinya Defan melahirkan dan mereka sangat bahagia karena keluarga mereka bertambah lagi.
"Defan udah punya anak. Lo kapan kak?" tanya Gio ke kakaknya yang fokus dengan ponselnya.
Ernes memeriksa ponselnya siapa tahu Atta menghubunginya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Tidak ada pesan maupun panggilan dari Atta. Bahkan chat Ernes aja hanya di read oleh Atta.
"Gue ntar aja. Lo aja yang nambah lagi!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Gue sih maunya gitu, tapi Vanka masih belum mau.. maunya cuma bikin aja.." ucap Gio yang membuat Vanka malu sekali. Apalagi Gio bilang seperti itu di depan orang tuanya.
Vanka langsung mencubit kaki Gio dan mempelototinya. Sementara Gio hanya tersenyum tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Nambah aja Van, biar rumah tambah rame.."
"Gantian kakak dong. Aku cukup dua aja. Dua anak cukup." jawab Vanka.
"Ni juga baru proses.." jawab Ernes yang membuat orang tua yang ada di dalam mobil tersebut membulatkan matanya.
Sakha dan Ines pun saling menatap sembari tersenyum. Mereka tahu jika Ernes pasti keceplosan. Karena mereka tahu jika Ernes tidak pernah membahas hal seperti itu dengan keluarganya.
"Eh cie...." tapi Gio yang menjadi heboh.
"Bentar lagi nambah cucu, ma.." ucap Gio sambil tersenyum dan melirik Ernes.
"Apaan sih, tadi cuma bercanda aja.." elak Ernes yang mulai sadar jika dia telah keceplosan.
"Hmm, mama udah nggak sabar.." sahut Ines.
Ernes tidak menjawab. Dia hanya terus fokus dengan ponselnya. Sampai di rumah Alfarezi pun dia terus fokus dengan ponselnya.
"Hai, Nes, katanya kamu nikah? Syukurlah akhirnya kamu bertemu dengan jodoh kamu.." ucap Alfarezi.
"Om tahu dari siapa?"
"Mama kamu heboh banget kemarin, dia bilang kalau kamu mau nikah. Dia bahagia banget akhirnya kamu mau menikah. Mama kamu takut kalau kamu suka dengan sejenis kamu.." jawab Alfarezi menceritakan kehebohan Ines kemarin.
"Mama emang gitu, suka berlebihan."
"Tapi jujur, om juga punya ketakutan yang sama kayak mama kamu." ucap Alfarezi.
"Om ada-ada aja.. Aku straight kali om.."
Alfarezi tertawa sembari meminta maaf kepada keponakannya karena telah memiliki pikiran yang negatif terhadapnya.
"Nggak apa om.."
"Siapa aja pasti punya pikiran kayak gitu kali, om.. Kak Ernes kan pikirannya hanya kerja kerja dan kerja. Mana nggak pernah deket sama wanita. Pernah deket sama wanita waktu kuliah, dan wanita itu suka sama kak Ernes, eh, ditolak.." sahut Gio.
"Berisik lo.."
Alfarezi tertawa mendengar cerita Gio yang membuat Ernes sempat mengomel. Kemudian dia menoleh ke arah Sakha. Alfarezi ingat betul jika dia dan kakaknya tidak sedekat Gio dan Ernes. Bahkan mereka dulu pernah saling menyakiti satu sama lain. Dan butuh waktu lama untuk Alfarezi menerima kakaknya.
Alfarezi juga tersenyum ketika melihat Gio dan Ernes yang saling mengolok. Menurut Alfarezi, watak Gio itu mirip dengan dirinya. Dingin tapi mudah bergaul dan ceria. Sedangkan menurut Alfarezi, bahwa Ernes itu mirip sekali dengan Sakha. Berwatak dingin tapi lembut, gila kerja dan cuek.
Karena sudah semakin malam. Keluarga Sakha pun pamit pulang. Namun, Ernes tidak ikut pulang dengan orang tua dan adiknya. "Ma, aku nggak pulang malam ini, aku mau temenin Atta di rumah sakit." pamitnya kepada mamanya.
"Lo mau naik apa?" tanya Gio.
"Gue naik taksi aja. Lo pulang duluan aja sama mama dan papa." jawab Ernes kemudian masuk ke taksi yang kebetulan lewat.
Sepertinya Ernes sudah tidak bisa menahan amarahnya. Berulang kali dia menghubungi Atta tapi tidak digubris sama sekali oleh Atta. Ernes pun menjadi kesal, apalagi jika teringat wajah dingin Atta di kantor tadi siang.
Sesampainya di rumah sakit, Ernes segera berlari ke ruangan dimana ibunya Atta dirawat. Saat dia melihat dari kaca pintu, Ernes melihat Atta yang sedang mainan hape. Ernes pun semakin kesal dibuatnya.
Ernes mencoba menelepon Atta. Dia ingin tahu apa yang akan Atta lakukan jika tidak menerima panggilannya. Ernes membulatkan matanya dengan marah. Dia melihat jika Atta menatap ponselnya yang berdering tapi Atta tidak mau menerima panggilannya.
Karena marah, Ernes pun langsung membuka kamar rawat Susi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tentunya apa yang Ernes lakukan itu membuat Atta kaget saat melihat Ernes berdiri di depannya dan terus meneleponnya.
"Kenapa kesini?" tanya Atta tanpa berani menatap Ernes yang menatapnya tajam.
"Ikut aku, kita bicara diluar!" pinta Ernes.
Mau tak mau Atta pun mengikuti Ernes sampai di taman tengah rumah sakit. "Kamu kenapa? Aku ada salah apa sama kamu? Kenapa kamu cuekin aku dan abaikan aku?" tanya Ernes dengan agak marah.
"Nggak enak kan dicuekin? Itu yang aku rasain saat kamu abaikan aku tadi siang." Ernes mengerutkan keningnya mendengar perkataan Atta.
Sampai akhirnya dia sadar apa yang membuat Atta marah kepada. "Jadi kamu marah karena masalah tadi?" tanya Ernes sudah bisa tertawa.
"Kamu cemburu?" pertanyaan Ernes itu membuat Atta jadi gugup.
"Nggak, siapa juga yang cemburu." Atta menyangkal tuduhan Ernes.
"Emang dia siapa? Mantan pacar kamu?" Atta penasaran.
"Bukan. Dia sepupu aku, orang yang special buat aku.."
"Ha? apa? kamu ngomong apa sih? Dia sepupu kamu terus apa?" Atta tidak bisa mendengar perkataan terakhir Ernes.
"Nggak apa, dia sepupu aku, anak kecil tadi itu anaknya. Maaf kalau aku cuekin kamu tadi, aku hanya khawatir aja sama dia, kamu tahu sendiri dia sedang hamil, suaminya sibuk dan dia minta aku temenin makan."
"Kamu mau maafin aku kan? Udah jangan cemburu lagi!" Ernes menarik tangan Atta yang tidak mau duduk disebelahnya.
"Ciee yang cemburu..." Ernes menggoda Atta.
"Enggak, siapa juga yang cemburu.." Atta menjadi kesal kemudian memukul paha Ernes beberapa kali.
Ernes pun tertawa kemudian memeluk Atta yang sudah tidak marah lagi. Atta pun diam-diam tersenyum dalam pelukan Ernes. Dia merasa lega karena Ernes telah menjelaskan semuanya.