Sudden Mariage

Sudden Mariage
39



Mood Atta kembali ceria. Perasaannya menjadi lega setelah mendengar penjelasan Ernes. Padahal dari semalam dia sudah kesal terus. Moodnya benar-benar hancur sampai pagi tadi. Tapi, kini dia sudah kembali ceria lagi.


"Silahkan tuan putri yang suka cemburuan!" Ernes membukakan pintu untuk Atta sembari menggoda Atta.


"Terima kasih sopir yang sok playboy!" Atta membalas ledekan Ernes tersebut.


Ernes bukan marah saat dikatai sopir. Dia malah justru tertawa mendengar ledekan Atta. Bersama Atta, dia lebih banyak tertawa. Mungkin karena pada dasarnya Ernes juga suka bercanda.


"Besok kalau aku meeting diluar atau pergi tanpa kamu, aku pasang pengumuman dipunggung aku. 'Sudah punya istri' atau 'milik Lovata' gitu kali yak.." ucap Ernes dengan konyol.


"Idih malu-maluin..." Atta menolak ide konyol Ernes. Tapi dia tersenyum mendengar ide konyol tersebut.


Sikap positif Atta ternyata secara tidak sengaja menular ke Ernes. Karena seringnya bersama, energi positif Atta memberi pengaruh untuk Ernes.


"Pagi..." secara tiba-tiba Ernes menyapa karyawan yang bertemu dengannya. Seperti yang biasanya Atta lakukan.


"Pagi pak..." keramahan Ernes membuat karyawannya terkejut tapi merasa senang. Bos yang biasa dingin kini berubah menjadi sangat ramah dan bahkan menyapa karyawannya duluan.


Atta yang berjalan disampingnya juga ikutan tersenyum senang. Dia yang biasanya selalu meronta saat Ernes menggenggam tangannya di kantor. Kali ini Atta tidak meronta lagi. Tapi dia juga menggenggam tangan Ernes di depan teman-temannya. Atta tidak lagi malu-malu.


"Aiko sudah dibawa pulang. Kita jengukin di rumah aja ya!" Atta menganggukan kepalanya.


"Nanti makan siang bareng!" pinta Ernes.


"Nggak bisa, aku udah janjian makan sama Sinta dan temennya."


"Cowok yang kemarin?" sahut Ernes.


"Tidak boleh!"


"Kamu boleh ikut, nanti aku kenalin ke mereka kalau kamu suami aku." ucap Atta dengan cepat.


"Setuju.." sahut Ernes dengan cepat pula.


Pagi ini Ernes punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka dari itu dia tidak menahan Atta di ruangannya seperti biasanya.


....


Cintya diutus oleh bosnya untuk menemui Ernes di kantornya untuk memberikan kontrak kerja sama mereka. Tentu saja Cintya merasa sangat senang karena dia memang memiliki keinginan untuk berkunjung ke kantor Ernes.


Cintya sengaja datang setengah jam sebelum jam makan siang. Dengan harapan jika Ernes akan mengajaknya makan siang bersama.


Kedatangan Cintya ke kantor Ernes membuat beberapa karyawan Ernes terpana. Tubuh Cintya yang indah berbalut kemeja dengan blazer batik yang rapi, mengenakan rok selutut membuatnya terlihat begitu anggun. Bibir tipis dengan lipstick merah merona dan riasan yang cukup terang membuat orang-orang terpukau.


"Selamat siang, saya mau ketemu pak Ernes.." ucap Cintya dengan lembut kepada resepsionis di kantor Ernes.


"Apakah ibu sudah ada janji dengan pak PresDir?"


"Sudah. Bilang aja, Cintya.."


"Baik. Tolong tunggu sebentar!"


Si resepsionis segera menghubungi ruangan PresDir mereka. "Iya pak."


"Silahkan naik lift yang sebelah kiri ke lantai 18. Ruangan PresDir ada di sebelah kanan!" ucap resepsionis dengan sopan pula.


Cintya segera bergegas ke lantai yang resepsionis itu beri tahu. Cintya datang dengan penuh semangat.


Begitu sampai, dia disambut oleh Ryan yang sudah menunggunya di depan lift. "Sebelah sini bu!" ucap Ryan menunjuk ke ruangan Ernes.


"Hai Nes,," sapanya begitu masuk ke ruangan Ernes.


"Akhirnya sampai ke ruangan PresDir Ernes juga." ucap Cintya sembari memperhatikan ke sekeliling ruangan Ernes.


"Ternyata kamu sukses banget ya.." imbuh Cintya.


"Nes, kok panas banget ya? Boleh aku buka blazer aku?" tanya Cintya.


"Panas? Padahal AC juga nyala. Buka aja kalau kegerahan!" jawab Ernes.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya. "Aku mau ralat poin yang ini dan ini!"


"Oh oke.."


Disaat Ernes dan Cintya masih sibuk membahas kontrak kerja sama mereka. Tiba-tiba Atta membuka pintu ruangan Ernes. Karena jam makan siang sudah lewat dan Ernes juga belum muncul. Terpaksa Atta ke ruangan Ernes karena Ernes juga tidak membaca pesannya.


"Kenapa nggak segera turun?" tanya Atta.


Tapi, seketika Atta membulatkan matanya melihat Ernes bersama dengan seorang wanita di ruangannya. "Oh maaf, aku nggak tahu kalau pak Ernes masih sibuk. Kalau gitu aku keluar dulu!" Atta merasa canggung karena merasa telah mengganggu Ernes yang maaih bekerja.


"Atta, kenalin ini teman aku!" seru Ernes aegera berlari dan menahan Atta sebelum Atta ngambek lagi.


"Ini temen aku yang semalam di taman bareng aku.." ucap Ernes lagi.


"Kenalin Cin, ini istriku, Atta." seketika Cintya membulatkan matanya. Dia tidak tahu jika Ernes telah menikah. Karena tidak ada di berita manapun jika Ernes sudah menikah.


"Kamu sudah punya istri?" tanya Cintya masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Sudah. Ini istri aku, kita belum lama nikah dan tidak mengadakan acara apapun juga." jawab Ernes.


"Atta." Atta mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan dirinya.


Sementara Cintya yang masih terkejut hanya terdiam cukup lama. Dengan terus memperhatikan Atta dari ujung kaki hingga rambut. Menurutnya, dari segi penampilan, Atta tidak lebih baik darinya. Tapi memang harus diakui jika Atta itu cantik meskipun hanya berdandan tipis saja. Wajah Atta yang nampak seperti selalu tersenyum menambah kecantikan Atta.


"Hai, aku Cintya, teman kuliah Ernes.." Cintya dengan segera tersadar. Dia mengulurkan tangannya juga menyambut tangan Atta.


"Kamu masih sibuk? Kalau gitu aku duluan makan siangnya.." ucap Atta, kemudian dia mengecup pipi Ernes dengan mesra di depan Cintya.


Ernes tersenyum senang karena Atta telah berinisiatif menciumnya tanpa perlu diminta. Ernes hanya menganggukan kepalanya pelan sembari terus tersenyum.


"Tunggu bentar!" Ernes menahan Atta saat hendak keluar dari ruangannya. Dengan segera Ernes mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya.


"Nih untuk kamu.." Ernes memberikan sebuah kartu mirip atm kepada Atta.


"Sandinya tanggal pernikahan kita.." ternyata benar, Ernes memberi kartu atm untuk Atta.


"Nanti uang jajan kamu akan aku transfer setiap bulannya ke kartu ini.." imbuh Ernes.


"Makasih.." Atta kembali mengecup pipi Ernes dengan lembut.


Cintya tidak tahan melihat kemesraan Ernes dengan istrinya. Dia mengalihkan pandangannya setiap kali Atta mencium Ernes. Dia juga berpikir jika Ernes sudah jauh berbeda dengan Ernes yang dulu dan juga rumor yang beredar.


Cintya melihat Ernes tuh sama seperti lelaki pada umumnya. Dia terlihat manja dan lembut di depan orang yang dia cintai. Dan itu yang tidak pernah Cintya lihat waktu mereka masih dekat dulu.


"Jangan abaikan telepon dan chat aku!" seru Ernes saat Atta berjalan keluar dari ruangan Ernes.


"Oke..."


"Maaf ya, istriku emang agak kekanakan tapi dia lucu.." ucap Ernes yang mengagetkan lamunan Cintya.


"Heh,, nggak apa kok. Kamu kayaknya sayang banget sama istri kamu.." perkataan Cintya tersebut membuat Ernes terdiam sesaat.


Apakah dia sayang, atau hanya karena terbiasa.


Tapi, Ernes tidak mungkin mengatakan tidak. Dia hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"Tadi kita sampai mana?" tanya Ernes ingin segera membahas kembali pekerjaan agar segera selesai.


"Poin yang ini.."